Seekor kanguru dengan latar balon-balon udara dalam pergelaran Canberra Balloon Spectacular 2018. (Foto: VisitCanberra)

Oleh Cristian Rahadiansyah

Berada persis di antara Sydney dan Melbourne, Canberra berpotensi jadi titik transit dalam sirkuit populer turis. Sayang, citra miring membuatnya kerap diabaikan. Jika Sydney berkilau dan bonafide, sementara Melbourne trendi dan artistik, Canberra justru kerap dicela hampa dan hambar.

Tapi kondisinya berangsur membaik. Ibu Kota Australia ini giat berbenah. Pada 2017, lembaga City Renewal Authority didirikan untuk memoles kota. Atribut-atribut khas Australia juga sudah bermunculan—dari kedai hipster hingga festival grafiti—berkat kian dominannya populasi kaum muda. Berikut 10 alasan untuk melawat Canberra: 

Kiri-kanan: Pelataran National Museum of Australia, kompleks yang diresmikan pada 2001. (Foto: Cristian R); Salah satu pintu National Museum of Australia, bangunan berdesain dekonstruktif. (Foto: Richard Poulton/National Museum of Australia)

1. National Museum of Australia
Jika Sydney memiliki Opera House sebagai ikonnya, maka Canberra memiliki National Museum of Australia (NMA). Museum ini didesain sebagai basis untuk mengenal Australia: dari proses kelahirannya, profil para tokohnya, juga beragam artefak dan inovasinya. Gedungnya punya daya tarik tersendiri. Mengadopsi aliran dekonstruktif, NMA sarat permainan bentuk dan warna, menolak simetri dan harmoni. Wujud “ajaib” ini sempat memicu polemik. Terhampar di dekat gedung-gedung formal pemerintah federal, NMA terlihat seperti anak punk di pesta tuksedo. Saltum.

Kiri-kanan: Hidangan di Kyo Coffee. (Foto: Cristian R); Interior kedai kopi Barrio Collective. (Foto: VisitCanberra)

2. Warkop Hipster
Walau bukan produsen utama kopi, Australia tersohor sebagai motor third wave coffee movement. Semangat serupa terasa di Canberra. Di kota yang tak memiliki Starbucks ini, kedai kopi puritan menjamur, terutama di kantong-kantong hipster semacam Braddon dan Acton. Warkop populer di sini ialah Barrio Collective, ARC, serta The Cupping Room. Jika kangen rasa Indonesia, Kyo Coffee memiliki opsi menu dengan sambal. Dapurnya dipimpin ole koki Jon Priadi, eksponen kolektif seni Taring Padi asal Yogyakarta.

Salah satu bangunan yang dilapisi permainan cahaya dalam Enlighten Festival. (Foto: 5 Foot Photography-Davey Barber/VisitCanberra)

3. Festival Urban
Hajatan tahunan terbesar di Canberra ialah festival bunga Floriade. Ini salah satu alasan Ibu Kota Australia kerap dicela “garing.” Tapi itu dulu. Seiring pertumbuhan populasi anak muda, kalender wisata Canberra makin variatif dan energik. Sejak 2011, “Bush Capital” memiliki festival cahaya Enlighten. Maret 2022, Surface Festival digelar perdana. Dalam festival grafiti ini, 35 seniman menghiasi dinding-dinding kota, menyulap Canberra jadi galeri raksasa. Untuk melacak karya-karya mereka, cukup buka peta Street Art Trail.

Kiri-kanan: Area bermain anak di National Arboretum. (Foto: VisitCanberra); Pengunjung National Arboretum, perbukitan berisi 44.000 tanaman yang mewakili vegetasi Australia. (Foto: Cristian R).

4. National Arboretum
Telstra Tower, struktur terjangkung di Canberra, adalah titik strategis untuk melihat panorama kota. Tapi menara telekomunikasi ini sudah ditutup untuk umum, konon lantaran butuh renovasi. Alternatifnya ialah National Arboretum. Kalah tinggi, tapi tak kalah tampan. Lahir dari reboisasi pasca-kebakaran besar pada 2003, perbukitan ini menampung 44.000 tanaman yang merangkum keragaman vegetasi Australia. Di musim gugur dan semi, tempat ini berubah warna-warni seperti kotak krayon. Menyapu pandangan dari sini, Canberra memperlihatkan sosok romantisnya sebagai “garden city.”

Kiri-kanan: Karyawan Capital Brewing, produsen craft beer. (Foto: Kara Rosenlund/VisitCanberra); Area minum dengan latar pabrik bir Capital Brewing. (Foto: Pew Pew Studios/Capital Brewing)

5. Craft Beer
Tingkat konsumsi bir di Australia terus menurun, tapi tren craft beer justru membesar, juga menjalar. Semua negara bagian telah memiliki produsen bir artisan. Di Canberra, pemain utamanya ialah BentSpoke, yang dirintis pada 2014. Produk andalannya, Crankshaft dan Barley Griffin, bisa ditenggak di pubnya yang beralamat di daerah Braddon. Pesaingnya, Capital Brewing, menempati hanggar bekas bengkel truk. Jangan kaget jika melihat banyak tamu keluarga di sini. Ruang minum Capital dilengkapi Brodburger, kedai burger kondang dengan pecandu lintas usia.

Poster pameran artis Australia Jeffery Smart di National Gallery of Australia. (Foto: National Gallery of Australia)

6. National Gallery of Australia
Jika hanya sempat melawat satu tempat di Canberra, National Gallery of Australia (NGA) patut tercantum dalam agenda. Dalam gedung beton berdesain brutalist, institusi pelat merah ini menampung sejumlah mahakarya para maestro, termasuk Rothko, Monet, serta Pollock. Di ruang pamer temporernya, artis lokal bergantian unjuk kebolehan. Inilah alasan NGA menjadi salah satu barometer perkembangan seni di Australia. Sebelum pulang, sempatkan mampir ke Sculpture Garden, pekarangan rindang berisi patung dan instalasi, salah satunya Within Without dari James Turrell.

Kiri-kanan: Ollie Ryrie, salah satu pemilik restoran Vincent. (Foto: VisitCanberra); Hidangan di Public Bar. (Foto: VisitCanberra)

7. Wisata Kuliner
Canberra masih tertulis samar di peta kuliner. Tapi tanda-tanda perubahan mulai terbaca. Salah satu pemicunya ialah kedatangan sejumlah koki berbakat. Ambil contoh Clement Chauvin, alumni Claridges London, yang kini mengasuh Les Bistronomes. Atau Michael Muir, mantan koki Zuma Istanbul, yang memimpin restoran Nikkei Inka. Di luar nama-nama wangi itu, beragam resto sederhana sukses menjaring penggemar setia di segmen lokal, contohnya Italian & Sons, The Inn, Pialligo Estate, serta Public Bar.

Mengarungi Danau Burley Griffin di jantung Canberra dengan menaiki perahu listrik GoBoat. (Foto: GoBoat)

8. GoBoat
Ini bukan cabang Gojek. GoBoat dirintis di Kopenhagen pada 2014, lalu melebarkan sayapnya ke Australia pada 2017. Tawarannya: wisata santai mengarungi Danau Burley Griffin di jantung kota, menaiki perahu listrik yang dilengkapi meja makan. Perahu dinakhodai sendiri oleh tamu. Tipsnya simpel: untuk belok kiri, arahkan gagang mesin ke kanan, begitu pula sebaliknya. Perahu akan melewati kolong-kolong jembatan, tepian gedung parlemen dan Museum Nasional, berpapasan dengan para pendayung dan bebek.

Brindabella Hills, salah satu produsen wine di sekitar Canberra. (Foto: VisitCanberra)

9. Wine District
Dalam hal volume produksi wine, Canberra kalah jauh dibandingkan banyak tetangganya. Tapi, dalam hal kualitas, kota ini beberapa kali sukses mencuri perhatian. Riesling buatan Gallagher misalnya, sempat menjuarai International Riesling Challenge 2017. Pada 2021, giliran Syrah dari Clonakilla menembus daftar 100 wine terbaik di Australia. Para produsen nektar Canberra tersebar di Wine District, sisi utara kota. Tur melawat mereka dilayani oleh Van Du Vin. Opsi lainnya ialah naik sepeda, menyusuri trek aspal yang dibentangkan tahun lalu. Kombinasi tur gowes dan wisata wine ini memang unik. Tapi, setelah beberapa gelas Riesling, paket combo ini sangat mengetes keseimbangan.

Balon udara melayang di atas Danau Burley Griffin. (Foto: Kara Rosenluncd/VisitCanberra); Pergelaran Canberra Balloon Spectacular. (Foto: 5 Foot Photography-Davey Barber/VisitCanberra)

10. Balon Udara
Membuka musim gugur, saat dedaunan bersiap-siap rontok, puluhan balon udara beterbangan ke langit kota dalam pergelaran Canberra Balloon Spectacular. Jika ingin menaiki balon, operator Balloon Aloft menawarkan tur berdurasi 45-60 menit. Dari keranjang, Anda bisa menyaksikan panorama kota hingga perbukitan di sekelilingnya.