Warisan Berharga Arie Smit

  • Bukit Campuhan dilihat dari pondokan Arie Smit.

    Bukit Campuhan dilihat dari pondokan Arie Smit.

  • Lukisan berjudul Dreaming Boy kreasi Arie Smit.

    Lukisan berjudul Dreaming Boy kreasi Arie Smit.

  • Lukisan bertajuk Upacara Perkawinan karya Nyoman Cakra, murid pertama Arie Smit.

    Lukisan bertajuk Upacara Perkawinan karya Nyoman Cakra, murid pertama Arie Smit.

  • Aktivitas di studio Ketut Soki di Desa Penestanan.

    Aktivitas di studio Ketut Soki di Desa Penestanan.

Click image to view full size

April tahun ini, Arie Smit genap berusia satu abad. Dia tak lagi melukis, tapi warisannya bagi dunia seni rupa Bali masih lestari: warna-warna yang berloncatan di atas kanvas.

Teks oleh Wikana
Foto oleh Putu Sayoga

Di kompleks Villa Sanggingan, di sebuah ruangan yang disejukkan kipas, Arie Smit berbaring mendengkur di dipan bambu. Kepalanya diganjal tiga bantal. Badannya kurus dan pipinya tirus. “Harus dibangunkan untuk ingat makan,” ujar I Nyoman Wita, wanita yang merawat Arie sejak 20 tahun silam.

Arie Smit di masa tuanya sebelum berpulang pada Maret 2016.

Arie Smit di masa tuanya sebelum berpulang pada Maret 2016.

Sang begawan terlihat lunglai. Belum lama, prostatnya dioperasi. Setelah sebelah matanya buta, kini sebelahnya lagi ikut buta akibat diserang glukoma. Pendengarannya semakin payah. Sesekali dia dilarikan ke rumah sakit akibat sembelit.

Tapi dia sangat terawat untuk ukuran lansia tanpa keluarga. Enam staf bergiliran menjaganya. Misai dan jenggotnya tercukur rapi. Kausnya terlihat resik.

April tahun ini, Arie akan berusia 100 tahun. Perintis aliran young artists ini adalah legenda hidup di dunia seni lukis Bali. Pamornya sejajar dengan Rudolf Bonnet dan Walter Spies. Sebagian muridnya masih aktif berkarya, masih menghidupkan warisannya.

Saya masih menanti Arie terjaga dari tidurnya. Tak jauh dari dipan, salib kecil teronggok di atas meja. Kata Wita, Arie kini lebih religius. Beberapa bulan sekali, pastor datang untuk membimbingnya berdoa. Kepada Suteja Neka, sahabatnya, Arie pernah meminta dikubur secara Katolik jika kelak wafat. Padahal Neka telah menyiapkan upacara Ngaben, sebagaimana yang diberikan kepada seniornya, Rudolf Bonnet, yang jenazahnya dikremasi bersama bangsawan Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati.

Gagal berbincang dengan Arie, saya berjalan ke sisi belakang kompleks Sanggingan untuk mengunjungi studionya: bangunan dua lantai bergaya Bali yang kini lusuh. Sejumlah kacanya pecah tertembak peluru senapan angin. Lantainya kotor dan berdebu. Studio ini sudah jauh melewati masa keemasannya.

Dulu, di sinilah Arie menikmati periode tersuburnya sebagai juru sungging. “Sekitar 200 lukisan lahir di sini,” ujar Suteja Neka. Satu-satunya yang tak berubah dari studionya adalah panoramanya yang menawan.



Comments

Related Posts

7379 Views

Book your hotel

Book your flight