Tur Emas ke Perut Bendigo

Rongga-rongga di perut Bendigo terus ditelusuri manusia, walau kali ini bukan untuk memburu logam mulia, melainkan melacak sejarah kejayaan kota.
Oleh Muhammad Fadli

Terperangkap 61 meter di dalam perut bumi mung-kin bukan cara yang tepat untuk memulai aktivitas wisata. Di awal musim gugur, saat daun-daun di Australia berubah kuning dan merah, saya justru melangkahkan kaki di lubang-lubang yang membentuk jaringan “rumah tikus” di barat laut Melbourne. Gelap, lembap, dan pengap, meski oksigen senantiasa dialirkan.

Fasad Katedral Sacred Heart di malam hari.

Saya berada di Central Deborah Gold Mine, sebuah bekas tambang emas di daerah Bendigo, satu dari sedikit tempat di mana orang-orang rela membayar untuk bisa memasuki terowongan dan mengotori tubuh mereka. Sejarah Bendigo adalah sejarah pertambangan emas. Turis berdatangan untuk menye-lami memori tersebut, memori yang dulu menempatkan Australia di peta dunia—bukan cuma sebagai tempat pengasingan narapidana, tapi juga tanah harapan.

“Sssh jangan beri tahu siapa pun jika Anda menemukan emas, nanti temui saya di area parkir. Hasilnya kita bagi rata,” Darryl sang pemandu berbisik dengan mimik serius. Kami tertegun sejenak, sebelum akhirnya menyadari dia sedang berkelakar. “Jangan sekali-kali berpikiran mereka (penambang) akan menyisakan emas.” Darryl tertawa. Suaranya bergema ke penjuru terowongan.

Kami merangsek kian dalam, layak-nya petualang penasaran dalam film Journey to the Center of the Earth. Seperti pengunjung lainnya, saya diwajibkan mengenakan aksesori standar pekerja tambang: aki dan helm yang dilengkapi senter. Satu-satunya yang sejak awal menjadi beban pikiran adalah, bagaimana kalau terowongan ini tiba-tiba ambruk?

Para penggali emas dulu mungkin dihantui paranoia serupa. Setiap hari. Tiap kali mereka melangkah. Tapi ketakutan itu sepertinya dikalahkan oleh ambisi untuk mengeruk uang. Logam mulia memberikan nyawa pada Bendigo, sekaligus mengubah kota ini dari sentra peternakan sapi menjadi surga tambang. Menurut pemerintah setempat, Bendigo adalah ladang emas tersubur kedua di Australia. Sejak emas ditemukan pada 1851, hasil panen di sini bernilai sekitar sembilan miliar dolar, cukup untuk membangun Jembatan Selat Sunda.

Emas itu memunculkan bank-bank yang berbaris di bulevar. Emas juga melahirkan gedung-gedung berarsitektur anggun yang membuat iri daerah-daerah tetangga. Dan emas membuat Bendigo layaknya kota Erebor yang dipenuhi dwarf dalam novel The Hobbit. Mereka giat menggali, membuka rongga demi rongga, memburu logam-logam yang berkilauan dalam gulita. Pertambangan berlangsung masif. Mesin-mesin berputar sepanjang hari hingga menghasilkan istilah “the soundtrack of Bendigo.”

Eksplorasi bawah tanah baru dimulai pada 1860, setelah penambangan di permukaan dianggap tak lagi menjanjikan. Central Deborah Gold Mine, satu-satunya bekas tambang yang kini dibuka untuk umum, memiliki kedalaman maksimum 410 meter. Jika Empire State Building ditanam di dalamnya, cuma antenanya yang terlihat di permukaan.

Kami terus menelusuri tambang. Pada satu titik Darryl memperlihatkan denah terowongan yang mencakup 17 level. “Di kota ini masih banyak terowongan lainnya. Salah satunya bahkan memiliki kedalaman lebih dari 1.000 meter,” ujarnya. Dunia bawah tanah Bendigo jauh lebih kompleks dibandingkan kotanya sendiri. Terowongan saling terkoneksi dan membentuk labirin yang membentang hampir ke semua arah. Menurut mitos, Anda bisa masuk di satu titik lalu keluar di sisi kota yang lain. >>



Comments

Related Posts

5813 Views

Book your hotel

Book your flight