Mengupas Magelang yang Menawan

Sawah di Desa Ngadiharjo di sekitaran Candi Borobudur.

Dalam kawalan menara-menara agung, Magelang berkembang menjadi destinasi paling bersinar di tanah Jawa. Kita bisa menikmati situs-situs uzur warisan Wangsa Sailendra dan kaum kolonial, hotel-hotel paling premium di Jawa Tengah, serta museum yang merekam jejak para maestro seni rupa Indonesia.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Muhammad Fadli

Kiri-kanan: Mural khas Eko Nugroho menghiasi dinding lounge di OHD Museum; instalasi seni berjudul Pembuka & Penutup karya Yulhendri yang terpajang di depan lounge OHD Museum.

Berkelana di rumah dr. Oei Hong Djien, imajinasi saya seolah terbang ke lapisan-lapisan berbeda dalam hikayat seni Nusantara, juga mungkin ke ruang-ruang lelang Christie’s dan Sotheby’s. Di sini terpajang “Potret Diri” oleh Affandi, “Badai Asia Afrika” oleh Hendra Gunawan, serta “Raden Ayu Muning Kasari” oleh Raden Saleh. Puluhan lukisan monumental lainnya tergantung di dinding, mulai dari garasi hingga kamar tidur. Sekitar 2.000 sisanya dibariskan di gudang layaknya bingkai-bingkai marmer di toko keramik. Hobi mulia sekaligus boros itu didanai oleh rupiah yang mengalir dari bisnis tembakau, komoditas yang tumbuh subur di Magelang.

Oei adalah seorang grader, profesi yang tugas utamanya memilah daun-daun Nicotiana, sebelum kemudian diolah menjadi rokok atau keretek. Tak banyak yang menguasai bidang ini. Keahlian menganalisis tembakau dibentuk dari pengalaman panjang, bukan pendidikan formal. Oei sebenarnya ingin menjadi dokter. Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dia terbang ke Belanda untuk mengambil spesialisasi di bidang pathological anatomy. Sempat bekerja sebagai tenaga medis sukarelawan, Oei “terpaksa” mewarisi bisnis keluarga sepeninggal ayahnya.

Candi Borobudur dengan latar Gunung Merapi yang setengah tertutup awan.

Pagi ini, sang mantan dokter duduk menikmati sarapan di meja panjang bersama DR. Helena Spanjaard, penulis buku Exploring Modern Indonesian Art. “Silakan melihat-lihat. Lukisan Raden Saleh di sebelah sana,” dia menunjuk sebuah lorong yang dipenuhi foto-foto keluarga. Di usia 74 tahun, tubuhnya seperti melambat, tapi semangatnya belum padam. Besok, Oei akan terbang ke London untuk menjadi pembicara dalam sebuah forum seni.

Semangat yang sama mendorongnya untuk meluncurkan OHD Museum pada 5 April 2012. Oei ingin publik bisa menikmati koleksinya, walau niat mulia ini mungkin juga didorong oleh keterpaksaan karena rumahnya tak sanggup lagi menampung karya. Museum itu menempati sebuah bangunan persegi panjang bekas gudang tembakau. Fasad depannya dihiasi instalasi eksentrik buatan Entang Wiharso. Halaman di pintu masuknya dialasi karya-karya evokatif dari 40 perupa kontemporer, termasuk Putu Sutawijaya dan Heri Dono. Di sebuah lounge di samping toko suvenir, mural absurd khas Eko Nugroho memberi nyawa pada dinding putih, persis seperti yang dilakukannya pada interior Potato Head di Jakarta.

Seorang pengunjung melihat-lihat karya seni di OHD Museum.

Letty Surjo, direktur OHD Museum.

Imajinasi saya kembali berkelana. Museum yang dirancang oleh Gregorius Supie Yolodi itu adalah magnet wisata terbaru di Magelang. Tamu-tamu Eropa tak jarang berkunjung. Pelajar dan akademisi rutin bertandang. OHD Museum berjasa melambungkan Magelang dalam orbit penikmat seni dunia—dan mereka bakal punya alasan untuk kembali, sebab karya-karya di museum diperbarui secara periodik. Maret silam, bangunan bercat gelap ini menampilkan belasan karya dari perupa-perupa di bawah grup Jendela. Melihat portofolionya, OHD Museum mungkin layak ditempatkan di kawasan yang lebih prestisius seperti Jakarta atau Ubud, ketimbang di daerah tanpa bandara yang kerap luput dari radar wisatawan dan bahkan absen dari buku panduan wisata Lonely Planet.



Comments

Related Posts

18876 Views

Book your hotel

Book your flight