Mengupas Magelang yang Menawan

  • Kopi yang disantap sebagai camilan di MesaStila.

    Kopi yang disantap sebagai camilan di MesaStila.

  • Sarapan sehat namun lezat di restoran Java Red di MesaStila.

    Sarapan sehat namun lezat di restoran Java Red di MesaStila.

  • Spa hammam yang menjadi salah satu fasilitas andalan MesaStila.

    Spa hammam yang menjadi salah satu fasilitas andalan MesaStila.

  • Berkuda juga menjadi salah satu pilihan aktivitas di MesaStila.

    Berkuda juga menjadi salah satu pilihan aktivitas di MesaStila.

  • Penjual jamu di MesaStila yang bisa ditemui setiap pagi.

    Penjual jamu di MesaStila yang bisa ditemui setiap pagi.

  • Vila di MesaStila.

    Vila di MesaStila.

  • Sang koki menyiapkan salad untuk sarapan di restoran Java Red, MesaStila.

    Sang koki menyiapkan salad untuk sarapan di restoran Java Red, MesaStila.

  • Sofa di Bella Vista di MesaStila.

    Sofa di Bella Vista di MesaStila.

  • Gedung club house di MesaStila. Dulunya adalah rumah pemilik perkebunan kopi tersebut.

    Gedung club house di MesaStila. Dulunya adalah rumah pemilik perkebunan kopi tersebut.

  • Karyawan wanita di Villa Borobudur.

    Karyawan wanita di Villa Borobudur.

  • Kolam renang privat di Villa Diponegoro dengan pemandangan Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.

    Kolam renang privat di Villa Diponegoro dengan pemandangan Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.

  • Sajian gado-gado untuk sarapan di Villa Borobudur.

    Sajian gado-gado untuk sarapan di Villa Borobudur.

  • Salah seorang karyawan Villa Borobudur sedang menyiapkan sarapan di Villa Diponegoro.

    Salah seorang karyawan Villa Borobudur sedang menyiapkan sarapan di Villa Diponegoro.

  • Kamar tidur di Villa Diponegoro.

    Kamar tidur di Villa Diponegoro.

  • Villa Diponegoro di Villa Borobudur. Di sini terdapat tempat semadi Pangeran Diponegoro.

    Villa Diponegoro di Villa Borobudur. Di sini terdapat tempat semadi Pangeran Diponegoro.

  • Fasad luar joglo di Villa Borobudur.

    Fasad luar joglo di Villa Borobudur.

  • Gamelan yang terdapat di rumah penduduk di Desa Candirejo yang disulap menjadi tempat homestay.

    Gamelan yang terdapat di rumah penduduk di Desa Candirejo yang disulap menjadi tempat homestay.

  • Mardiyat, pemilik sekaligus kusir delman di Desa Candirejo.

    Mardiyat, pemilik sekaligus kusir delman di Desa Candirejo.

  • Kerajinan tangan lokal; asbak berbentuk stupa yang menjadi mata pencaharian penduduk sekitar Candi Borobudur.

    Kerajinan tangan lokal; asbak berbentuk stupa yang menjadi mata pencaharian penduduk sekitar Candi Borobudur.

  • Puing-puing Candi Losari.

    Puing-puing Candi Losari.

  • Kegiatan arung jeram menyelusuri Sungai Elo.

    Kegiatan arung jeram menyelusuri Sungai Elo.

  • Patung Budha tanpa kepala di Candi Ngawen. Rusak terhantam serangan alam.

    Patung Budha tanpa kepala di Candi Ngawen. Rusak terhantam serangan alam.

  • Sawah terasering di dekat Candi Selogriyo.

    Sawah terasering di dekat Candi Selogriyo.

  • Sebuah patung di dinding Candi Selogriyo.

    Sebuah patung di dinding Candi Selogriyo.

  • Gedung sepuh di kota tua Magelang.

    Gedung sepuh di kota tua Magelang.

  • Patung Pangeran Diponegoro di Alun-alun kota Magelang.

    Patung Pangeran Diponegoro di Alun-alun kota Magelang.

  • Seorang pengunjung melihat-lihat karya seni di OHD Museum.

    Seorang pengunjung melihat-lihat karya seni di OHD Museum.

  • Letty Surjo, direktur OHD Museum.

    Letty Surjo, direktur OHD Museum.

  • Mural khas Eko Nugroho menghiasi dinding lounge di OHD Museum.

    Mural khas Eko Nugroho menghiasi dinding lounge di OHD Museum.

  • Instalasi seni berjudul Pembuka & Penutup karya Yulhendri yang terpajang di depan lounge OHD Museum.

    Instalasi seni berjudul Pembuka & Penutup karya Yulhendri yang terpajang di depan lounge OHD Museum.

  • Sawah di Desa Ngadiharjo di sekitaran Candi Borobudur.

    Sawah di Desa Ngadiharjo di sekitaran Candi Borobudur.

  • Salah seorang juru kunci di Candi Ngawen. Ia bertugas merawat dan membersihkan candi tersebut.

    Salah seorang juru kunci di Candi Ngawen. Ia bertugas merawat dan membersihkan candi tersebut.

  • Candi Ngawen.

    Candi Ngawen.

  • Candi Borobudur dengan latar Gunung Merapi yang setengah tertutup awan.

    Candi Borobudur dengan latar Gunung Merapi yang setengah tertutup awan.

Click image to view full size

Dalam kawalan menara-menara agung, Magelang berkembang menjadi destinasi paling bersinar di tanah Jawa. Kita bisa menikmati situs-situs uzur warisan Wangsa Sailendra dan kaum kolonial, hotel-hotel paling premium di Jawa Tengah, serta museum yang merekam jejak para maestro seni rupa Indonesia.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Muhammad Fadli

Mural khas Eko Nugroho menghiasi dinding lounge di OHD Museum.

Berkelana di rumah dr. Oei Hong Djien, imajinasi saya seolah terbang ke lapisan-lapisan berbeda dalam hikayat seni Nusantara, juga mungkin ke ruang-ruang lelang Christie’s dan Sotheby’s. Di sini terpajang “Potret Diri” oleh Affandi, “Badai Asia Afrika” oleh Hendra Gunawan, serta “Raden Ayu Muning Kasari” oleh Raden Saleh. Puluhan lukisan monumental lainnya tergantung di dinding, mulai dari garasi hingga kamar tidur. Sekitar 2.000 sisanya dibariskan di gudang layaknya bingkai-bingkai marmer di toko keramik. Hobi mulia sekaligus boros itu didanai oleh rupiah yang mengalir dari bisnis tembakau, komoditas yang tumbuh subur di Magelang.

Oei adalah seorang grader, profesi yang tugas utamanya memilah daun-daun Nicotiana, sebelum kemudian diolah menjadi rokok atau keretek. Tak banyak yang menguasai bidang ini. Keahlian menganalisis tembakau dibentuk dari pengalaman panjang, bukan pendidikan formal. Oei sebenarnya ingin menjadi dokter. Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dia terbang ke Belanda untuk mengambil spesialisasi di bidang pathological anatomy. Sempat bekerja sebagai tenaga medis sukarelawan, Oei “terpaksa” mewarisi bisnis keluarga sepeninggal ayahnya.

Pagi ini, sang mantan dokter duduk menikmati sarapan di meja panjang bersama DR. Helena Spanjaard, penulis buku Exploring Modern Indonesian Art. “Silakan melihat-lihat. Lukisan Raden Saleh di sebelah sana,” dia menunjuk sebuah lorong yang dipenuhi foto-foto keluarga. Di usia 74 tahun, tubuhnya seperti melambat, tapi semangatnya belum padam. Besok, Oei akan terbang ke London untuk menjadi pembicara dalam sebuah forum seni.

Semangat yang sama mendorongnya untuk meluncurkan OHD Museum pada 5 April 2012. Oei ingin publik bisa menikmati koleksinya, walau niat mulia ini mungkin juga didorong oleh keterpaksaan karena rumahnya tak sanggup lagi menampung karya. Museum itu menempati sebuah bangunan persegi panjang bekas gudang tembakau. Fasad depannya dihiasi instalasi eksentrik buatan Entang Wiharso. Halaman di pintu masuknya dialasi karya-karya evokatif dari 40 perupa kontemporer, termasuk Putu Sutawijaya dan Heri Dono. Di sebuah lounge di samping toko suvenir, mural absurd khas Eko Nugroho memberi nyawa pada dinding putih, persis seperti yang dilakukannya pada interior Potato Head di Jakarta.

Imajinasi saya kembali berkelana. Museum yang dirancang oleh Gregorius Supie Yolodi itu adalah magnet wisata terbaru di Magelang. Tamu-tamu Eropa tak jarang berkunjung. Pelajar dan akademisi rutin bertandang. OHD Museum berjasa melambungkan Magelang dalam orbit penikmat seni dunia—dan mereka bakal punya alasan untuk kembali, sebab karya-karya di museum diperbarui secara periodik. Maret silam, bangunan bercat gelap ini menampilkan belasan karya dari perupa-perupa di bawah grup Jendela. Melihat portofolionya, OHD Museum mungkin layak ditempatkan di kawasan yang lebih prestisius seperti Jakarta atau Ubud, ketimbang di daerah tanpa bandara yang kerap luput dari radar wisatawan dan bahkan absen dari buku panduan wisata Lonely Planet.

Share this Article


Comments

Related Posts

12743 Views

Book your hotel

Book your flight