Makan Siang Nikmat di Brae

  • Interior restoran yang simpel dan elegan.

    Interior restoran yang simpel dan elegan.

  • Papan nama Brae di pintu masuk lahan seluas 12 hektare.

    Papan nama Brae di pintu masuk lahan seluas 12 hektare.

  • Aneka makanan kreasi Hunter yang memanjakan lidah.

    Aneka makanan kreasi Hunter yang memanjakan lidah.

  • Rumah sepuh yang disulap menjadi restoran bintang lima.

    Rumah sepuh yang disulap menjadi restoran bintang lima.

  • Dan Hunter pernah menimba ilmu di restoran Michelin di Spanyol.

    Dan Hunter pernah menimba ilmu di restoran Michelin di Spanyol.

  • Interiornya hangat khas restoran rumahan.

    Interiornya hangat khas restoran rumahan.

  • Di halaman restoran terdapat beberapa instalasi seni.

    Di halaman restoran terdapat beberapa instalasi seni.

Click image to view full size

Mantan koki restoran Michelin di Spanyol mencoba peruntungan di selatan Australia. Fokus pada menu autentik lokal.

Oleh Reza Idris

Kota kecil Birregurra umumnya hanya dijadikan titik tolak dalam penelusuran Great Ocean Road. Orang-orang ke sana untuk menjangkau sabana, peternakan kuda, serta taman nasional. Tapi kini ada alasan baru untuk singgah lebih lama di Birregurra: Brae, sebuah restoran yang berambisi menempatkan kawasan ini dalam peta kuliner Australia.

Properti yang resmi beroperasi awal tahun lalu itu dicetuskan oleh Dan Hunter. Dia pernah mengabdi untuk Dunkeld di Royal Mail Hotel dan Mugaritz, restoran tersohor yang mengoleksi dua bintang Michelin dan tercantum dalam daftar The World’s 50 Best Restaurants.

Lokasinya agak menyepi, sekitar 90 menit dari Melbourne. Di halamannya, saya disambut taman hijau, kebun, dan pepohonan rindang. Brae tampil rendah hati, tidak mengintimidasi tamu dengan paras yang glamor dan berkilau. Restoran ini menempati rumah renta buatan 1868 yang dipermak dengan apik oleh James Legge dari Six Degree Architects.

Brae menjanjikan konsep makanan segar dengan spesialisasi menu lokal. Beberapa bahan dapur dipasok sendiri. “Saat membuka restoran, saya selalu ingin bahan masakan diproduksi sendiri,” kata Hunter. “Tidak perlu pusing dengan urusan penyimpanan bahan. Apa yang didapat pagi hari bisa disajikan di siang atau malam hari.” Di lahan 12 hektare, dia menanam stroberi, beri muntrie, kelembak, lobak, tomat, juga wortel. Bahan lainnya dibeli di pasar setempat.

Daftar menunya direvisi mengikuti siklus panen, dan saya datang di ujung musim panas. Hunter meracik 12 menu yang masing-masingnya bisa disandingkan dengan wine lokal jenis sauvignon blanc dan shiraz. Makan siang dibuka dengan keripik biji rami dan potongan walabi; kerupuk beef tendon dengan taburan garam merica gunung; serta udang campur limun. Di tahap kedua, meluncur seafood yang terdiri dari lobster Southern Rock dan bulu babi, disusul menu daging yang meliputi wagyu dan jamur shitake Otway. Dagingnya dimasak selama empat jam. Teksturnya begitu lembut hingga bisa disayat memakai garpu. Sebagai pencuci mulut, ada apel dan ubi yang direndam bersama kayu manis, lalu disajikan dengan es krim. Sesi makan akhirnya ditutup dengan teh herbal yang berkhasiat menghapus ekses lemak.

Mengelola restoran yang berjarak dari pusat keramaian memang tidak mudah, namun Brae berhasil memberi alasan bagi orang untuk rela menempuh perjalanan jauh. “Brae ibarat rumah. Dan di rumah, saya berusaha membuat tamu senyaman mungkin,” ujar Hunter.

4285 Cape Otway Road, Birregurra, Victoria, Australia; 61-3/5236-2226; braerestaurant.com.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Jul/Ags 2014 (“Autentik Australia”)



Comments

Related Posts

1995 Views

Book your hotel

Book your flight