Ada Apa di ArtJog?

Memetakan bintang-bintang ArtJog tahun ini. Masih tersisa satu minggu untuk melihat mereka.

Bola hijau raksasa yang menyambut setiap pengunjung di pintu masuk Taman Budaya Yogyakarta.

Oleh Wikana
Foto oleh Danang Sutasoma

Bursa seni ArtJog kembali digelar di Ibu Kota Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta. Di episode kedelapannya, ajang tahunan yang dulu bernama Jogja Art Fair ini kian matang.

Pintu masuk Taman Budaya Yogyakarta ditindih bola hijau raksasa yang digerayangi tanaman. Menarik, tapi jika dibanding tahun-tahun sebelumnya, tampilan ruang pamer ArtJog kali ini tidak terlalu menggedor. Dulu, CEO ArtJog, Heri Pemad, dan kurator Bambang “Toko” Witjaksono pernah menyulap Taman Budaya menjadi struktur baru yang ajaib: dicat ulang warna jingga, diselubungi mural, diubah seperti galeri modern yang minimalis, hingga dibentuk menjadi Istana Negara gadungan.

Tahun ini, kejutan tersaji dari karya-karya yang ditampilkan. Di ruang pamer tak banyak lukisan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Di bagian tengah ruang hanya terdapat lukisan Nyoman Masriadi, seniman yang namanya tengah moncer di balai lelang. Gantinya, panitia menjejali rahim Taman Budaya dengan seni media baru, sebuah genre yang menurut kurator Bambang Toko, meluruhkan “batas-batas.”

Instalasi seni berjudul ‘Net Impact’ kreasi KA’a yang menggabungkan lukisan, cat semprot, instalasi, jala ikan, serta proyeksi video.

Karya instalasi dari Yoko Ono, “Wish Tree,” yang ditempatkan di tengah bola raksasa, masuk kategori tersebut. Di sini, pengunjung sibuk menuliskan harapan pada secarik kertas, lalu mengikatkannya pada sebatang pohon. Setelah itu, mereka melakoni selfie dan mengunggah foto ke media sosial. Tema ArtJog tahun ini, “Infinity in Flux,” terinspirasi dari pola interaksi semacam itu. “Seperti mengganggu, tapi justru ingin berinteraksi dan lebih dekat dengan karya,” ujar Bambang Toko. >>

Comments