8 Destinasi Favorit di Meksiko

Palacio de Bellas Artes, bangunan yang juga menjadi pusat budaya di Meksiko City.

Enggan terpaku pada kehidupan di kota kelahirannya, Mexico City, Federico Salas mengeksplorasi sisi lain negerinya yang kaya warna. Kepada Suhartina Sindukusumo, Duta Besar Meksiko untuk Indonesia ini menuturkan delapan tempat favoritnya.

Chichen Itza
Chichen Itza, anggota Situs Warisan Dunia, adalah salah satu peninggalan terpenting dari Suku Maya. Kompleks berisi beragam reruntuhan dan struktur uzur ini bercerita banyak tentang ketangkasan Suku Maya dalam ilmu matematika dan astronomi. Di El Castillo, salah satu piramida yang menampilkan 365 anak tangga, kita bisa mempelajari keahlian mereka dalam menyusun kalender. “Untuk menjangkau Chichen Itza, kita mesti melewati hutan tropis, lalu ketika tiba di dataran tinggi, kita akan menemukan sebuah bangunan tua yang menyerupai observatorium,” ujar Federico.

Mexico City
Saat bangsa Spanyol mendarat pada awal abad ke-16, Mexico City adalah permukiman yang teronggok di tengah Danau Texcoco. “Danau tersebut sudah raib dan Mexico City telah bertransformasi menjadi daerah cosmopolitan di mana perkembangan arsitektur dan politik dalam lima abad terakhir dapat dilacak,” tutur Federico. Pengaruh Spanyol melekat dan meresap ke banyak sendi. Bentuknya yang paling kentara adalah gaya arsitektur, terutama pada gereja. Fasadnya menonjolkan karakter Eropa, sementara ukiran di interiornya memiliki akar pre-Hispanic. Berstatus Ibu Kota, Mexico City berusaha tampil rileks dan manusiawi. Seni berkembang. Taman tersebar di banyak sudut kota. Warganya gemar berjalan kaki. Federico menjuluki kota ini “pusat urban yang menyimpan energi positif.”

Riviera Maya
Mengoleksi pantai yang dibingkai laut pirus, Riviera Maya merekah menjadi sentra resor premium. Namun kawasan di Semenanjung Yucatan ini sebenarnya tak cuma menawarkan kemewahan, tapi juga situs-situs arkeologi. Salah satunya Tulum, situs Maya yang menyimpan sebuah piramida yang tertanam di tebing setinggi 12 meter. “Ada dua peradaban yang membentuk karakter Meksiko: Maya yang terpusat di Yucatan, serta Aztec yang terpusat di Mexico City,” jelas Federico. “Di Riviera Maya, kita bisa melakukan perjalanan kultural untuk mengenal Maya, sembari di saat yang sama menikmati Laut Karibia dan pantai yang terhampar di selatan Meksiko ini.”

Oaxaca
Dikenal sebagai sarang perajin, Oaxaca merupakan salah satu produsen utama beragam benda kriya. Kreasinya yang paling ikonis adalah barro, tembikar yang dibuat dari tanah liat berwarna hitam. Di tanah kelahiran pelukis masyhur Francisco Toledo ini, kreativitas seolah mengalir di tubuh setiap warga. “Di sini, energi kehidupan terasa kuat,” ujar Federico. “Orang-orang rajin pergi ke Central Park untuk sekadar duduk di bangku dan berbincang dengan tetangga atau teman. Central Park seperti Facebook, tapi nyata, tanpa WiFi.” Selama di Oaxaca, selain berbelanja barang kerajinan, Federico merekomendasikan mezcal, arak khas lokal. Seperti tequila, mezcal lazim disajikan bersama garam dan potongan limau.

Puebla
Dari Mexico City, Negara Bagian Puebla dipisahkan oleh Gunung Popocatepetl dan Iztaccihuatl. Cholula, salah satu distrik di sini, mengoleksi 365 gereja Katolik. Warga bisa beribadah di gereja yang berbeda setiap harinya. Meski giat mengajak orang mengejar surga, Puebla tak melupakan kesenangan duniawi. Tradisi kuliner daerah ini cukup tersohor. “Tradisi kuliner di sini dikembangkan oleh para bruder dan suster di biara,” kata Federico. “Salah satu kreasinya adalah mole, saus cokelat yang dicampur berbagai rempah.” Melihat beragam daya tariknya, Federico menyimpulkan Puebla sebagai “kombinasi dari seni, makanan lezat, gereja yang agung, serta Palafoxiana—salah satu perpustakaan terindah di dunia.”

Tlacotalpan
Di zaman penjajahan, Tlacotalpan memainkan peran penting sebagai kota pelabuhan sungai. Hadirnya jalan raya dan jembatan kemudian mengikis pamornya, lalu memaksanya mengubah haluan ke bisnis perikanan dan pariwisata. Khusus sektor yang terakhir ini, amunisi andalannya adalah rumah dan bangunan bergaya Karibia dan Spanyol yang dicat warna-warni. Guna melindungi warisan arsitekturnya, Tlacotalpan dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia pada 1998. “Sebuah tempat di mana waktu tidak eksis. Sebuah tempat yang membuat kita puas dengan berjalan kaki, menyeruput kopi lokal, dan menyantap hidangan laut yang segar,” ujar Federico.

Los Cabos
Los Cabos pada dasarnya terdiri dari dua kota yang mengapit sebuah “Resort Corridor.” Kota pertama, Cabo San Lucas, mengandalkan hiburan malam yang meriah dan barisan resor premium. Kota kedua, San Jose del Cabo, memancarkan karakter kota tua yang dibelah-belah jalan batu dan disemarakkan pedagang kaki lima. “Selain pantai, Los Cabos memiliki formasi bebatuan karst yang impresif,” jelas Federico. “Tempat ini sangat cocok untuk relaksasi.” Uniknya, kendati lebih terlihat sebagai destinasi liburan, provinsi di ujung selatan Peninsula Baja ini pernah menjadi tuan rumah konferensi G-20.

Xilitla
Terkenal sebagai penghasil kopi dan jeruk, provinsi di tengah Meksiko ini bukanlah destinasi wisata yang populer. Tapi di sinilah kita bisa menyaksikan buah upaya manusia untuk menghadirkan “surga” di muka bumi. Di hutan yang terletak sedikit di luar kota, Edward James, seniman imigran asal Inggris, menuangkan tafsirnya atas nirwana lewat sebuah taman berisi pahatan, pilar-pilar berukir, air terjun, dan kolam-kolam sureal. Taman bernama Las Pozas ini sekilas menyerupai kota Rivendell dalam film The Lord of the Rings. “Las Pozas sedikit kontras dari tipikal tempat wisata di Meksiko, namun justru fakta itulah yang menjadikannya menarik dan menyenangkan. Tempat ini berbasis seni, tapi seni yang ganjil,” kata Federico.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2015.

Comments