48 Jam di Palembang

Palembang, kota berusia 13 abad, akan menggelar pesta olahraga terbesar dalam sejarahnya: Asian Games 2018. Untuk menyambut para penonton dan kontingen, kota ini berbenah dan menciptakan sejumlah objek wisata baru.

Jembatan Ampera dan Sungai Musi, ikon legendaris kota Palembang.

Oleh Riki Okta Putra
Foto oleh Muhammad Fajri

SABTU

11:00 Masjid Cheng Ho
Status “Cina Muslim” kerap masih dipersepsi sebagai kejanggalan—kecuali jika kita membaca riwayat Laksamana Cheng Ho. Perwira utusan Tiongkok ini dikenang secara heroik di Indonesia. Namanya bahkan sudah diabadikan di empat masjid, termasuk di Palembang. Sarat sentuhan arsitektur Tionghoa, Masjid Cheng Ho (Jl. Pangeran Ratu, Seberang Ulu I) ditopang pilar-pilar merah, dikawal sepasang menara yang menyerupai pagoda, serta dilengkapi gapura dengan desain yang mengingatkan kita pada kelenteng ketimbang masjid.

Pempek Candy menjadi salah satu oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Palembang.

13:00 Pempek Candy
Pempek, inovasi paling terkenal dari Palembang, bisa ditemukan di banyak sudut kota. Salah satu kedai terpopuler yang menjajakannya ialah Pempek Candy (Jl. Kapten A Rivai; 0711/368-820). Menempati sebuah ruko, kedai ini tampil banal dengan interior berhiaskan panel-panel kayu. Tapi dagangannya telah memiliki reputasi kultus di kalangan warga lokal. Di sini, pempek dicetak dalam ukuran sedang demi menjaga rasa kandungan ikannya, termasuk saat dicelupkan ke kuah cuka (atau cuko dalam istilah lokal).

Pusat kuliner ikan ini buka setiap hari mulai pukul 16:00 sampai pukul 22:00.

16:00 Sentra Kuliner Ikan
Menyambut Asian Games 2018, Palembang menghadirkan sejumlah tawaran baru bagi turis, salah satunya Sentra Kuliner Ikan di kompleks Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, persisnya di seberang Rumah Sakit dr. A.K. Gani. Pusat makan yang beroperasi sejak sore hingga malam ini menjajakan beragam penganan olahan berbahan ikan, termasuk pempek, nasi pindang, tekwan, serta kemplang.

Pengunjung menghabiskan sore di Benteng Kuto Besak yang terletak di pinggir Sungai Musi.

17:30 Kuto Besak
Salah satu situs paling bersejarah di Palembang, Kuto Besak (Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir) adalah keraton sekaligus benteng warisan abad ke-18 yang dulu berstatus pusat Kesultanan Palembang. Selain menawarkan jendela ke masa silam kota, kompleks cagar budaya ini merupakan lokasi populer untuk menikmati pemandangan Sungai Musi dan Jembatan Ampera. Berjalan sejenak menuju dermaga, kita akan menemui perahu “getek” yang telah disulap menjadi restoran terapung.

19:00 Jalan Jenderal Sudirman
Seperti Jalan Asia Afrika di Bandung, Jalan Jenderal Sudirman di Palembang merekah jadi episentrum kehidupan malam tiap akhir pekan. Trotoarnya berubah jadi panggung hiburan yang dimeriahkan oleh organ tunggal, pantomim, cosplay, hingga ondel-ondel. Beberapa tempat wisata juga terletak di dekat sekitar jalan ini, antara lain Candi Walang dan Taman Punti Kayu.

Pulau Kemaro yang berjarak sekitar 40 kilometer dari kota Palembang ini menjadi salah satu lokasi wisata favorit warga.

MINGGU

09:00 Pulau Kemaro
Dari Dermaga Benteng Kuto Besak atau Kampung Al Munawar, perjalanan ke Pulau Kemaro (Ilir Timur II) akan membawa kita menyusuri Sungai Musi dan melintasi kolong Jembatan Ampera. Kemaro, sebuah delta di tepi sungai, menampung kelenteng dan pagoda yang menyembul tinggi di balik pepohonan. Momen terbaik untuk datang adalah saat warga setempat menggelar perayaan Capgome.

11:00 Kampung Al Munawar
Kampung ini baru diresmikan sebagai objek wisata pada Februari 2017, tapi sejarahnya sebenarnya menembus 300 tahun. Dijuluki Kampung Arab, Kampung Al Munawar (13 Ulu, Seberang Ulu II) didiami oleh warga berdarah Arab, terutama Yaman. Permukiman yang membentang di bibir Sungai Musi ini masih menyimpan belasan rumah tua dengan arsitektur hasil akulturasi Arab, Eropa, dan Melayu. Sejak ditetapkan sebagai objek wisata, Kampung Al Munawar mengalami banyak pembenahan. Banyak jalannya disemen dan diterangi lampu. Sejumlah kursi fotogenik juga disebar di banyak sudutnya. Sesuai aturan setempat, tamu mesti mengenakan pakaian sopan selama di sini.

Pemilik toko sedang merapikan songket yang dijual di gerai miliknya.

14:00 Tanggo Buntung
Palembang mengoleksi 71 jenis songket, dan cara paling praktis untuk melihat semuanya adalah dengan mengunjungi sentra songket Tanggo Buntung (Jl. Ki Rangga Wirasantika 632, 30 Ilir). Tempat ini menampung banyak butik songket ternama, termasuk Cek Nani, Cek Ipah, dan Cek Ilah. Selain songket, Tanggo Buntung menjajakan kain jemputan, batik, blongsong, dan beragam aksesori seperti gantungan kunci dan dompet.

Warga melintasi Sungai Sekanak menggunakan perahu yang juga telah dicat warna-warni

16:00 Sungai Sekanak
Ini tren latah di banyak kota, baik di dalam maupun luar negeri: menciptakan kompleks yang dicat warna-warni. Tapi Palembang setidaknya mengusung misi yang lebih luhur ketimbang sekadar memikat Instagrammer. Berniat membenahi kawasan kumuh Sungai Sekanak (28 Ilir), warga tidak lantas menyelimuti sungai dengan waring seperti di Jakarta, melainkan membersihkan sungai dari sampah dan mengecat bantaran, jembatan, serta bangunan di sekitarnya agar tampil atraktif.

Pengunjung menikmati makanan yang dijual di Lorong Basah Night Culinary.

19:00 Lorong Basah Night Culinary
Siang hari, koridor sepanjang kurang lebih 50 meter ini menampung pasar tradisional. Malam harinya, ia berubah menjadi wadah kongko dan jajan. Lorong Basah Night Culinary (Jl. Sentot Ali Basah, 16 Ilir) menawarkan aneka makanan kreasi UKM, seperti ayam goreng, seblak, sop sumsum, dan martabak. Tempat yang beroperasi mulai pukul 19:00 ini acap kelewat ramai, tapi Anda biasanya bisa menemukan beberapa meja kosong dengan menembus lebih jauh interiornya.

Comments