18 Ruang Seni Pilihan Lima Tokoh Seni

Dari Yogyakarta hingga Majalengka, ruang-ruang seni bermunculan dengan tawaran yang beragam. Kami meminta lima tokoh seni merekomendasikan 18 tempat yang patut Anda kunjungi.

Pengunjung tampak sedang menikmati karya yang dipajang di Galeri Nasional Indonesia. (Foto: Cristian Rahadiansyah)

Galeri Nasional Indonesia
Rekomendasi oleh Bambang Bujono dan Mikke Susanto.

“Jika ingin mengenal lukisan-lukisan Indonesia dari era Raden Saleh hingga masa kini,” jelas Bambang Bujono, “Galeri Nasional tempatnya.” Galeri Nasional Indonesia, institusi milik negara, adalah basis awal yang ideal untuk berkenalan dengan dunia seni Indonesia. Di pameran tetapnya yang disebar di dua galeri, publik bisa menemukan karya-karya dari tiap periode, kutub, dan mazhab seni sepanjang hampir dua abad.

Galeri 1 didedikasikan untuk era perintis 1820-an hingga babak seni modern. Bagaikan tur napak tilas, kita diajak menengok kembali lukisan dramatis buatan maestro Raden Saleh, menikmati pemandangan molek pada kanvas Mooi Indie, mencerna eksperimen para seniman dalam merespons penjajahan, serta mempelajari kelahiran sejumlah sanggar dan akademi seni berpengaruh.

Berpindah ke Galeri 2, jagat seni nasional menikung tajam akibat peristiwa Desember Hitam dan Gerakan Seni Rupa Baru yang dimotori oleh para pemuda kritis semacam FX Harsono, Hardi, dan Jim Supangkat. Mereka pula yang menyediakan landasan bagi babak seni berikutnya, Era Kontemporer, yang diwakili antara lain oleh Heri Dono dan Eddie Hara.

Selain pameran tetap, Galeri Nasional memiliki ruang-ruang yang didedikasikan bagi pameran temporer. Januari silam misalnya, penulis Jean Couteau menggagas sebuah pameran yang memajang karya-karya perupa perempuan Geneviève Couteau. Setelahnya ada pameran bertajuk Meletup dari Yoes Rizal, juru sungging kelahiran Palembang. Acara-acara periodik semacam inilah yang membuat Galeri Nasional senantiasa terasa hidup. Tempat ini, menurut Mikke Susanto, “membantu publik memahami perkembangan seni rupa.” Jl. Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat; 021/3483-3954; galeri-nasional.or.id.

Kiri-kanan: Agung Kurniawan di restoran Kedai Kebun Forum, Yogyakarta. (Foto: Ulet Ifansasti); salah satu sudut Galeri Nasional Indonesia. (Foto: Yusni Aziz)

Kedai Kebun Forum
Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

Andaikan jalan cupet Tirtodipuran terasa lebih sesak, itu biasanya karena Kedai Kebun Forum (KKF) sedang menanggap acara. Sejak didirikan pada September 1997, tempat ini ajek menggelar aneka kegiatan seni. Tahun lalu misalnya, KKF menggelar pop up market Toko Musik Podomoro, pemutaran film Fitzcarraldo, serta pentas grup Okazaki Art Theatre asal Jepang. “Program-programnya beragam dan merangkul anak muda,” jelas Ade Darmawan.

KKF diniatkan sebagai kuali pelebur bagi beragam gagasan dan kreativitas. Pendirinya, duet Agung Kurniawan dan Yustina Neni, memang dikenal aktif mendorong perkembangan seni. Yustiana ikut mendirikan Koalisi Seni Indonesia, sementara Agung adalah seniman enigmatik yang merangkap aktivis seni. Dari iktikad keduanya memajukan dunia seni pula, lahir Yogyakarta Contemporary Art Map, peta gratis yang memandu turis untuk melacak kantongkantong seni di Yogyakarta.

Berkat popularitasnya, KKF tercantum dalam banyak panduan wisata, termasuk buku terbitan Lonely Planet. Memang, tak semua orang berkunjung untuk menonton acara. Di luar fungsi utamanya sebagai ruang seni serbaguna, KKF menyediakan sarana kongko dan belanja. Bangunan bohemian dua lantai ini menampung sebuah restoran artistik yang didesain oleh arsitek kondang Eko Prawoto, ditambah sebuah toko yang menjajakan buku, kaus, serta aksesori buatan studio-studio lokal. “Saya juga suka ke sini untuk membeli  suvenir,” tambah Ade. Jl. Tirtodipuran 3, Yogyakarta; 0274/376-114; kedaikebun.com.

Ruang pamer Halim Art Museum yang memajang banyak karya buatan eksponen Sanggar Bumi Tarung. (Foto: Fransisca Angela)

Halim Art Museum
Rekomendasi oleh Bambang Bujono.

Tempat ini memajang karya-karya dari kutub seni yang selama puluhan tahun disikapi penuh curiga—“kiri.” Dari sekitar 1.000 karya yang dikoleksinya, 300 di antaranya dibuat oleh eksponen Sanggar Bumi Tarung, organisasi seni rupa yang dulu berafiliasi ke Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). “Ini museum dengan koleksi lukisan Lekra terbanyak,” klaim Bambang Bujono.

Halim Art Museum (HAM) bersemayam di daerah Citeureup, Bogor. Jika Anda belum pernah mendengar namanya, itu karena museum ini baru dinamai, setidaknya secara tentatif, pada 20 Januari 2018 ketika DestinAsian Indonesia menanyakannya kepada pihak pemilik. “Saya sempat terpikir menamainya Medici,” jelas EZ Halim, pengusaha kelahiran Pontianak, “tapi untuk saat ini disebut EZ Halim Museum dulu saja.” Sepuluh hari setelahnya, dia merevisi namanya menjadi Halim Art Museum.

Beberapa karya di sini dibuat antara lain oleh Amrus Natalsya, Misbach Tamrin, Djoko Pekik, Tatang Ganar, dan Gambir Anom. EZ Halim menyukai lukisan atau patung kreasi mereka karena mengandung nilai arsip yang penting, misalnya tentang situasi politik Indonesia atau protes terhadap rezim Orde Baru. “Karya-karya mereka seperti catatan zaman,” ujarnya. “Tapi saya sebenarnya seperti pemulung. Saya suka membeli karya yang tidak diminati pasar.”

Akibat keterbatasan ruang, HAM hanya mampu memajang 89 lukisan dan patung yang disebar di dua lantai. Tiga lukisan di antaranya digantung di samping wastafel, sebagian lainnya ditimbun berimpitan di gudang layaknya lembaran-lembaran marmer. Jika ingin singgah, kita harus mengontak pihak pemilik, sebab tempat ini belum dibuka untuk umum. Dan sebenarnya memang tak mungkin berkunjung tanpa dipandu EZ Halim. Seluruh karya tidak dilengkapi label, sementara katalog belum dicetak. Satu-satunya benda yang mendekati katalog adalah sebuah buku Sinar Dunia yang berisi inventori karya dalam tulisan tangan. Jl. Baru Puspa Negara 128, Citeureup, Jawa Barat; ottowilliam.halim@gmail.com. 

Pengunjung C2O Library & Collabtive, Surabaya.

C2O Library & Collabtive
Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

Tempat ini lahir dari keresahan. Surabaya, metropolitan terbesar kedua di Indonesia, ternyata kekurangan ruang komunal untuk berbagi pengetahuan dan gagasan. C2O Library & Collabtive dirintis 10 tahun silam demi mengisi lubang tersebut. “C2O sebenarnya bermula sebagai perpustakaan. Tapi tempat ini sekarang telah memiliki pula area seni untuk pameran, diskusi, dan pertunjukan,” jelas Ade Darmawan.

C2O aktif menggelar penelitian, lokakarya, dan diskusi. Perpustakaannya mengoleksi lebih dari 7.000 literatur dengan fokus desain, seni, sastra, dan sejarah, ditambah sekitar 1.000 film yang mayoritas tidak dilirik bioskop lokal. Pendiri C2O, Kathleen Azali, meraih gelar masternya dari Universitas Airlangga dengan tesis bertema perpustakaan alternatif.

Ruang swadaya ini juga menanggap banyak acara. Januari silam, C2O memutar film Chef of South Polar. Sebulan sebelumnya, ada pameran TANAM! Dan diskusi bersama delegasi dari Frontyard Library, Sydney. Pergelaran yang meriah khusus anak muda juga tersedia, contohnya Surabaya Pre-Loved Bazaar Flea Market yang menjajakan barangbarang bekas. Sementara khusus wisatawan, C2O menawarkan tur jalan kaki Manic Street Walkers (gratis) dan Surabaya Johnny Walker (berbayar)—dua inisiatif yang berniat memperlihatkan sisi klandestin Surabaya Jl. Dr. Cipto 22, Surabaya, Jawa Timur; 031/5678-250; c2o-library.net.

Instalasi dari Cinanti Astria Johansjah, satu dari enam seniman yang diwakili oleh ROH Projects, Jakarta.

ROH Projects
Rekomendasi oleh FX Harsono.

Bertengger di lantai 40 Equity Tower, ROH Projects merupakan galeri privat dengan alamat termahal di Indonesia. Jaraknya cuma beberapa langkah dari sarang kongko populer semacam Potato Head dan The Goods Diner. Dari jendela galeri ini, kita bisa melihat pencakar langit yang bertaburan di kawasan SCBD.

ROH Projects menempati sepetak ruang cupet yang bertetangga dengan kantor Korea International Trade Association. Interiornya didominasi warna putih dengan plafon telanjang bergaya industrial. Galeri muda ini dirintis pada 2012 oleh seorang pencinta seni yang juga muda, Laksamana Tirtadji Junior, kini berusia 29 tahun.

ROH Projects menaungi enam seniman kontemporer alumni Institut Teknologi Bandung. Di antara mereka, ada nama Arin Dwihartanto Sunaryo, putra seniman senior Sunaryo; serta Bagus Pandega, seniman kelahiran 1985 yang pada tahun lalu berpartisipasi dalam Amsterdam Light Festival. “Karya-karya seniman muda Indonesia yang berkualitas bisa dilihat di sini,” jelas FX Harsono.

Galeri ini cukup aktif berpartisipasi dalam bursa seni, misalnya ArtJog, Art Basel Hong Kong, dan Art Fair Philippines. Kadang, tempat ini juga menggelar pameran temporer. Januari silam, ROH Projects memajang gambar dan instalasi atraktif buatan Uji ‘Hahan’ Handoko, perupa muda Yogyakarta yang sedang bersinar. Equity Tower 40E, SCBD, Jl. Jenderal Sudirman Kav.52-53, Jakarta Selatan; 021/5140-2116; rohprojects.net.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“Seni Berserak”).

Comments