wisata sejarah Lucerne Archives - DestinAsian Indonesia https://destinasian.co.id/tags/wisata-sejarah-lucerne/ Majalah travel premium berbahasa Indonesia pertama Tue, 05 Jan 2021 03:13:11 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 4 Hotel Langganan Selebriti di Lucerne https://destinasian.co.id/4-hotel-langganan-selebriti/ Tue, 08 May 2018 09:38:17 +0000 http://destinasian.co.id/?p=37412 Penginapan bersejarah yang mengombinasikan keglamoran masa silam dan kemewahan masa kini.

The post 4 Hotel Langganan Selebriti di Lucerne appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Park Hotel Vitznau, properti yang didirikan pada 1903 dan telah direnovasi selama tiga tahun pada 2000 di bawah pemilik baru.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Jika ingin memikat raja dan ratu, maka dirikanlah istana. Petuah itu dipraktikkan secara harfiah di Lucerne, dan hasilnya bisa kita lihat hingga kini dalam wujud hotel-hotel megah dan mewah yang seolah dicomot dari negeri dongeng.

Kisahnya dimulai pada pertengahan abad ke-19, tatkala Swiss baru membuka babak pariwisata. Waktu itu, warga Eropa, terutama asal Inggris, sedang kecanduan mendaki gunung, termasuk gunung-gunung di Swiss yang memang terkenal akan keindahannya. Di saat bersamaan, Swiss tengah giat-giatnya membentangkan jalur rel ke penjuru negeri. Memanfaatkan dua momentum tersebut, Lucerne, canton (negara bagian) di tengah Swiss, mendirikan banyak hotel demi menjala wisatawan asing.

Megaproyek itu melibatkan banyak arsitek dan desainer hebat. Di tangan mereka, hotel-hotel di Lucerne bersaing untuk menjadi yang paling glamor, paling megah, dan paling mewah. Maklum, dulu, pelesir adalah kegiatan yang dilakoni hanya oleh kaum bangsawan dan borjuis, karena itulah setiap hotel mesti memastikan bangunannya memenuhi standar gaya hidup mereka.

Hingga kini, mayoritas “hotel-istana” itu masih berdiri, masih beroperasi, masih menerima tamu-tamu agung. Raja dan ratu memang kadang masih berlibur di Lucerne. Di antara mereka, kita bisa menemukan pesohor seperti bintang film, atlet, penulis, pujangga, serta seniman. Yang juga menarik, jejak mereka tidak dibiarkan menguap. Sejumlah hotel mengenang tamu-tamu kondangnya itu dalam plakat, foto, poster, juga desain kamar. Empat properti berikut adalah sebagian contohnya.

Kiri-kanan: Salah satu menu di Prisma, restoran dengan satu bintang Michelin; Christian Nickel, koki restoran Prisma di Park Hotel Vitznau.

Park Hotel Vitznau
Eksteriornya setia melestarikan masa silam, tapi interiornya menatap jauh ke masa depan. Di sekitar Danau Lucerne, Park Hotel Vitznau merupakan penginapan yang paling mahal, paling canggih, barangkali juga paling eksperimental.

Hotel ini menampung 47 unit kamar yang didesain secara individual di bawah enam tema induk: wine, dine, health, wealth, art, dan culture. Tiap tema tersebut diterjemahkan dalam corak, mebel, dan penataan yang berbeda. Satu kesamaan di antara kamar-kamar di sini hanyalah teknologinya. Layaknya mobil keluaran terbaru, setiap pintu kamar bisa dibuka dan dikunci memakai teknologi sensor yang ditanam dalam smart key berbentuk sekeping batu. Jika ingin menurunkan tirai atau memadamkan lampu, kita hanya perlu menekan tombol pada monitor iPad. Sementara untuk mengatur kucuran air di kamar mandi, kita cukup menekan tombol-tombol yang berbaris di dinding.

Kamar di Park Hotel Vitznau yang menatap danau.

Park Hotel Vitznau, anggota kolektif Leading Hotels of the World, berlokasi di Desa Vitznau, persis di kaki bukit yang mengangkangi Danau Lucerne. Properti ini didirikan pada 1903. Pada 2000, di bawah pemilik baru, bangunannya direnovasi selama tiga tahun, lalu dibuka kembali dengan interior yang lebih bugar dan canggih. Selain kamar-kamar yang sarat tombol, suguhan barunya adalah enam wine cellar, kolam renang semi-terbuka yang dilengkapi pemanas, serta bar berisi 250 varian Cognac dan Armagnac—koleksi yang langka untuk sebuah hotel.

Magnet lain hotel necis ini adalah kedua restorannya. Prisma, gerai yang dipimpin oleh koki Christian Nickel, telah memiliki satu bintang Michelin. Focus, restoran yang hanya buka di jam makan malam, sukses menyabet dua bintang Michelin. Berkat reputasi kedua restorannya, Park Hotel Vitznau juga tersohor sebagai “hotel kuliner” yang paling bergengsi di tepi Danau Lucerne. Seestrasse 18, Vitznau; 41-41/3996-060; parkhotel-vitznau.ch; mulai dari Rp9.500.000.

Grand Hotel National, properti yang pernah ditinggali Pangeran Friedrich dan Maharaja Baroda.

Grand Hotel National
Grand Hotel National, properti megah yang bersemayam di tepi Danau Lucerne, membuka pintunya pertama kali pada 1870. Wujudnya lebih menyerupai kastel ketimbang hotel. Arsitekturnya mengusung langgam renaisans, sementara interiornya dipengaruhi gaya empire. Menatap parasnya, ingatan kita mungkin akan melayang ke hotel mitologis dalam film The Grand Budapest Hotel.

Kendati posturnya gigantik, Grand Hotel National menampung hanya 41 unit kamar. Kata staf hotel, bangunan ini awalnya berisi lebih dari 200 kamar. Akan tetapi, akibat Perang Prussia, industri pariwisata di Eropa lesu dan pihak pemilik hotel pun terpaksa menyunat dan melebur banyak kamar. Sekarang, keputusan itu justru menguntungkan. Setidaknya tamu bisa menikmati sesi sarapan yang lebih lengang dan kamar-kamar yang lebih lapang.

Restaurant National di Grand Hotel national, properti yang beroperasi sejak 1870.

Seluruh kamar di Grand Hotel National dilapisi wallpaper bermotif, dialasi lantai marmer, diterangi kandil kristal. Khas hotel lawas, ornamen dan perabotnya jauh dari kesan minimalis, umpamanya sofa sintal, gorden tebal, lukisan dengan bingkai penuh ukiran, serta matras gemuk dengan headboard yang tak kalah gemuk. Menginap di sini, kita akan merasakan kemewahan yang dulu hanya dinikmati oleh segelintir aristokrat, sebut saja Pangeran Friedrich dari Prussia atau Maharaja Baroda dari India. Haldenstrasse 4; 41-41/4190-909; grandhotel-national.com; mulai dari Rp4.600.000.

Aula bersejarah Zeugheer Ballroom, tempat B.B. King menggelar konser dadakan pada 2002.

Hotel Schweizerhof
Schweizerhof adalah nama pasaran di Swiss. Artinya kurang lebih “gedung Swiss.” Tapi Hotel Schweizerhof Lucerne sejatinya jauh dari kesan pasaran. Hotel bersejarah ini dibuka pada 1845, menjadikannya salah satu hotel tertua di seantero negeri. Membuka buku tamunya, kita akan menemukan nama-nama kondang sekaliber Ratu Elizabeth II dan Lewis Hamilton.

Sejak hari pertama beroperasi, hotel butik independen ini terus dikelola oleh klan pemilik yang sama. Sekarang, Schweizerhof berada di bawah kendali generasi kelima: dua bersaudara Patrick dan Michael Hauser. Dalam banyak hal, wujud hotel ini juga tak banyak berubah. Bangunannya berstatus cagar budaya, karena itu pihak pemilik diwajibkan merawat keasliannya. “Ada sebidang kaca yang retak di ballroom, dan kami hingga kini belum bisa memperbaikinya karena belum menemukan kaca pengganti yang persis sama,” ujar staf hotel.

Schweizerhof berlokasi hanya beberapa langkah dari Danau Lucerne. Hotel berbentuk puri ini menaungi 101 kamar, ditambah beragam fasilitas seperti ruang sauna, spa, dua restoran, serta sebuah ballroom yang rutin dipakai untuk konser musik klasik.

Ada banyak cerita menarik yang terpatri di hampir setiap sudut hotel ini. Pada 1859 misalnya, komponis Richard Wagner mengusik tidur tamu lain saat menyelesaikan Tristan und Isolde di kamarnya. Pada 1897, penulis Mark Twain menginap di sini dan menghabiskan mayoritas waktunya dengan berbaring. Salah satu kisah yang paling berkesan terjadi pada 2002 saat B.B. King membuat heboh dengan menggelar konser dadakan di Zeugheer Ballroom.

Memori seputar tamu-tamu kondang itu tak cuma diabadikan dalam arsip dan brosur. Hampir seluruh kamar di Schweizerhof dinamai sesuai nama selebriti yang pernah menghuninya, beberapa bahkan didesain sesuai citra mantan tamunya, salah satunya kamar nomor 027 yang mengusung tema James Bond lantaran sempat ditinggali oleh aktor Roger Moore. Schweizerhofquai, 6002 Lucerne; 41-41/4100-410; schweizerhof-luzern.ch; mulai dari Rp3.600.000.

Cable car yang membawa tamu menuju Burgenstock, sekitar 500 meter di atas Danau Lucerne.

Burgenstock Hotels & Resort
Pamor hotel ini melambung lantaran pernah didatangi begitu banyak selebriti. Sophia Loren, bintang film era 1950-an, berulang kali menyepi di sini, menikmati vakansi tanpa paparazzi. Vila yang ditinggalinya telah disulap menjadi restoran yang menyuguhkan kuliner Asia. Aktris masyhur lainnya, Audrey Hepburn, menikah di sini. Kapel yang dipakainya masih dirawat dan bisa disewa oleh tamu yang ingin mengikat janji suci. Sosialita dunia yang juga pernah menetap di Burgenstock antara lain aktor Sean Connery, Presiden Amerika Jimmy Carter, serta Perdana Menteri India Indira Gandhi.

Burgenstock awalnya hanya menampung sebuah hotel. Pada 2008, kompleks yang ditempatinya dipugar dan diperbesar bermodalkan anggaran kolosal Rp6,6 triliun dari Katara Hospitality, grup properti asal Qatar yang juga memiliki hotel-hotel bersejarah lain seperti Peninsula Paris dan Raffles Singapore. Pada 28 Agustus 2017, megaproyek tersebut rampung dan Burgenstock pun terlahir kembali dengan status baru: resor terintegrasi terbesar di Lucerne.

Satu dari tiga lapangan tenis di kompleks Burgenstock Hotels & Resort, resor terintegrasi terbesar di Lucerne yang diresmikan pada 2017.

Di lahan yang membentang sepanjang dua kilometer, Burgenstock Hotels & Resort kini menampung total empat hotel: Burgenstock Hotel, Palace Hotel, Waldhotel, dan Taverne 1879. Semuanya bertengger di bukit yang menjulang sekitar 500 meter di atas Danau Lucerne. Cocok untuk tamu keluarga dan grup tur, properti ini menawarkan beragam fasilitas, antara lain spa yang ditanam di perut bukit, bioskop, aula pertemuan berdesain kantilever, dua playground anak-anak, serta tiga lapangan tenis. Di pojok timur resor terdapat padang golf sembilan lubang. Melongok ke halaman belakang resor, kita akan menemukan sentra produksi susu yang memasok kebutuhan 12 gerai F&B, salah satunya RitzCoffier yang dikepalai oleh koki selebriti Marc Haeberlin. Burgenstock, Obbürgen; 41-41/6126-000; buergenstock.ch; Palace Hotel mulai dari Rp3.200.000; Burgenstock Hotel mulai dari Rp7.000.000.

PANDUAN
Rute

Lucerne, canton (negara bagian) di tengah Swiss, bisa dijangkau dengan menaiki kereta selama sejam dari Zurich. Penerbangan ke Zurich telah dilayani oleh banyak maskapai dari banyak kota, salah satunya Swiss Air (swiss.com) via Singapura. Untuk wisata yang lebih praktis di Swiss, manfaatkan Swiss Travel Pass (sbb.ch), semacam tiket terusan yang mencakup bus, kereta, trem, feri, serta akses gratis atau diskon tiket ke sekitar 500 museum dan atraksi wisata.

Informasi
Dijuluki “mini Swiss,” Negara Bagian Lucerne menawarkan nyaris segala hal yang dicari pelancong di Swiss, sebut saja danau, gunung, ski, gondola, serta butik cokelat dan arloji. Ibu kotanya, yang juga bernama Lucerne, dijuluki Kota Festival. Pergelaran terbesar di sini, Lucerne Festival (lucernefestival.ch), bergulir tiga kali per tahun: musim semi, musim panas, dan November. Untuk informasi lain seputar objek wisata, cuaca, dan jadwal acara di sini, kunjungi situs resmi Tourist Information Lucerne (luzern.com) atau Switzerland Tourism (myswitzerland.com).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“Puri Selebriti”).

The post 4 Hotel Langganan Selebriti di Lucerne appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
3 Acara Terbesar di Lucerne https://destinasian.co.id/tiga-momen-lucerne/ Thu, 22 Feb 2018 04:09:25 +0000 http://destinasian.co.id/?p=33371 Momen penting yang membuat Lucerne menarik dikunjungi tahun ini.

The post 3 Acara Terbesar di Lucerne appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Lucerne dijuluki “mini Switzerland” lantaran kota ini menawarkan segala hal yang mencirikan Swiss: gunung, danau, salju, ski, gondola, serta butik cokelat dan arloji. Tawaran lengkap itu jugalah yang membuat Lucerne digemari turis, termasuk kaum sosialita seperti Ratu Elizabeth II dan Sophia Loren. Banyak hotel tua di Lucerne tekun merawat memorabilia peninggalan para tamu agungnya itu.

Tahun ini, Swiss memperingati satu dekade keanggotaannya dalam liga Schengen—keputusan yang turut berjasa melecut arus pelancong ke negara ini. Akan tetapi, bagi Lucerne, 2018 punya makna yang lebih dalam dan beragam. Setidaknya ada tiga momen emas yang akan dirayakannya.

Concert Hall berkapasitas 1.898 kursi di Culture & Convention Centre.

Pertama, ulang tahun ke-20 Culture & Convention Centre (KKL). Sejak diresmikan pada Agustus 1998, bangunan ini langsung melambung sebagai ikon baru kota. Lokasinya di samping stasiun utama, persis di tepi danau yang senantiasa direnangi angsa dan diarungi perahu-perahu wisata.

KKL dirancang oleh Jean Nouvel, arsitek kondang asal Prancis. Khas Nouvel, fasad bangunan ditaburi jendela kotak dengan dimensi yang asimetris, sementara sebagian tubuh bangunan dibalur warna-warna gelap seperti biru tua, hijau, dan cokelat. Konon, pemilihan warna itu disengaja agar kaca-kaca gedung bisa lebih jernih memantulkan permukaan danau di depannya.

Khas Nouvel pula, KKL lebih mengutamakan “inner beauty.” Eksteriornya lebih menyerupai hanggar, sedangkan interiornya kaya permainan desain yang fotogenik: auditorium transparan, aula berbentuk kubus, serta ruang pamer yang menyerupai kandang burung. Bisa dibilang, KKL adalah gedung yang terasa lebih mengagumkan setelah dimasuki.

KKL dikerek dengan biaya kolosal 226 juta franc atau sekitar Rp3 triliun. Selain untuk membayar Nouvel, sebagian dana itu dipakai guna menciptakan sebuah museum seni, tujuh restoran, serta balai-balai konser berteknologi canggih dengan sistem akustik impresif garapan Russell Johnson, seorang maestro suara yang dijuluki “si pengawal telinga” oleh Nouvel. Berkat kualitas akustiknya pula, KKL rutin dijadikan pusat pergelaran Lucerne Festival, festival musik klasik yang tahun ini genap berusia 80 tahun—momen emas kedua yang akan dirayakan secara meriah oleh Lucerne.

Salah satu orkestra dalam Lucerne Festival 2017. (Foto: Peter Fischli)
Pentas opera bertajuk Blank Out dalam Lucerne Festival 2017. (Foto: Priska Ketterer)

Lucerne Festival dirintis pada 1938 oleh kaum penyintas. Kala itu, Eropa sedang retak akibat terbelah-belah oleh perbedaan ideologi dan banyak musisi melarikan diri dari cengkeraman Nazi Jerman dan rezim fasis Italia. Sebagian dari mereka kemudian singgah di Lucerne dan memutuskan berkolaborasi merumuskan platform baru demi mempertahankan belantika musik klasik.

Meski dirintis di situasi darurat perang, Lucerne Festival berhasil merekah jadi hajatan anual terbesar di Lucerne. Di setiap episodenya, ajang ini membuat hampir semua hotel kebanjiran tamu. Pada 2017, Lucerne Festival mengusung tema “Identity.” Terbilang generik, tapi sangat mengena dalam konteks lokal. Lucerne dihuni 81.000 jiwa. Mayoritas penduduknya berbahasa Jerman. Seperempat populasinya berstatus imigran. Di sini ada lebih banyak orang berdarah Sri Lanka ketimbang Spanyol. Bagi Lucerne, “identitas” adalah isu yang selalu valid untuk diangkat dan dikupas.

Momen besar ketiga yang akan dirayakan Lucerne pada 2018 adalah 140 tahun kedatangan Mark Twain. Twain, pujangga asal Amerika, melawat Lucerne kali pertama pada 1878 untuk kepentingan riset buku A Tramp Abroad. Hampir 20 tahun berselang, dia kembali berkunjung dan menetap selama 10 pekan di Desa Weggis, sebuah permukiman guyub yang digambarkannya secara hiperbolis sebagai tempat terindah sejagat. “Kata cantik tak memadai untuk menjelaskan keindahan panoramanya,” tulis Twain tentang Desa Weggis. “Hari Minggu di surga terasa bising dibandingkan keheningan yang membalut tempat ini.”

Kamar di Schweizerhof, hotel yang pernah ditinggali pujangga Mark Twain. (Foto: Elge Kenneweg)

Bisa dibilang Twain adalah duta pariwisata tak resmi Lucerne. Catatan-catatan harumnya ibarat brosur yang melambungkan pamor kota ini. Karena itulah, meski sang penulis telah mangkat pada 1910, Lucerne tak pernah melupakannya. Tur bertema napak tilas Twain kini ditawarkan oleh sejumlah operator. Aktivitas ini lazimnya dimulai di tepian Desa Weggis di mana sang penulis gemar menghabiskan waktunya merenung dan merokok, berlanjut ke tugu Twain Memorial, lalu mendaki rute yang ditempuh Twain menuju puncak Gunung Rigi, kemudian ke pusat kota guna menyambangi hotel historis Schweizerhof yang pernah ditinggali Twain dan melihat Lion Monument yang digambarkan sang pujangga sebagai “pahatan batu yang paling mengharukan dan menggetarkan di dunia.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2018 (“Next Stop: Momen Lucerne”).

The post 3 Acara Terbesar di Lucerne appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>