turbulensi Archives - DestinAsian Indonesia https://destinasian.co.id/tags/turbulensi/ Majalah travel premium berbahasa Indonesia pertama Fri, 29 Nov 2024 04:50:02 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 Kenapa Sekarang Turbulensi Jadi Lebih Sering Terjadi? https://destinasian.co.id/kenapa-sekarang-turbulensi-jadi-lebih-sering-terjadi/ Fri, 07 Jun 2024 03:00:00 +0000 https://destinasian.co.id/?p=74745 Mengapa sekarang ini turbulensi sering terjadi meski terbang di cuaca yang cerah? Ini jawaban para ilmuwan.

The post Kenapa Sekarang Turbulensi Jadi Lebih Sering Terjadi? appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Mengapa turbulensi sering terjadi saat ini meski cuaca cerah? (Foto: Pexels/Pixabay)

Sejak beberapa waktu lalu, dunia dikejutkan dengan peristiwa turbulensi parah yang dialami maskapai Singapore Airlines.

Para penumpang menggambarkan kejadian tersebut sangat dramatis dan kacau balau. Penerbangan pesawat SQ321 yang membawa 229 penumpang dan awak itu, awalnya berjalan normal.

Namun tiba-tiba, pesawat yang tengah terbang dari London ke Singapura ini menukik tajam dari ketinggian pada ketinggian 37.000 kaki dari London ke Singapura.

Selain SQ, beberapa hari kemudian, Qatar Airways juga mengalami turbulensi. Penerbangan QR017 dengan Boeing 787 Dreamliner ini terbang dari Doha ke Dublin dan berhasil mendarat dengan selamat.

Baca Juga: 10 Rute Penerbangan dengan Turbulensi Terhebat di Dunia

Apa itu turbulensi?
Umumnya, turbulensi terjadi karena pertemuan udara pada temperatur, tekanan, atau kecepatan yng berbeda satu sama lain.

Selain itu, fenomena guncangan di pesawat juga bisa terjadi karena faktor cuaca dan geografis, misalnya saat pesawat melintasi badai petir, awan, dan pegunungan.

Meski biasanya faktor cuaca buruk jadi penyebab paling umum untuk turbulensi, di tengah cuaca cerah gangguan ini juga bisa terjadi.

Dan Bubb, mantan pilot yang kini menjadi ahli sejarah penerbangan di University of Nevada mengungkapkan, fenomena ini disebut sebagai clear-air turbulence.

Kepada Mashable, dia menyebut, clear-air turbulence disebabkan oleh ketidakstabilan udara akibat pesawat komersil yang terkadang terbang di altitude yang lebih tinggi.

Turbulensi bisa terjadi kapan saja termasuk di cuaca cerah (Foto: Unsplash/ Aleksei Zaitcev)

Sesuai namanya, clear-air turbulence ini terjadi di cuaca yang cerah maka ‘bahaya’ ini tak terlihat dari kokpit dan bahkan tak terdeteksi di radar cuaca di pesawat.

Marco Chan, mantan pilot komersial dan dosen penerbangan di Buckinghamshire New University mengungkapkan bahwa melintasi beberapa area juga bisa menyebabkan fenomena ini, misalnya melintas di atas Teluk Benggala.

“Insiden Singapore Airlines terjadi di zona konvergensi antartropis, di mana badai petir lebih sering terjadi.”

“Badainya sendiri muncul di navigasi pilot, tapi seringkali tidak mungkin bisa sepenuhnya menghindari gugus badai yang bisa membentang lebih dari 50 mil di atas laut,” katanya dikutip dari Guardian.

Baca Juga: Daftar 50 Restoran Terbaik di Dunia 2024

Krisis Iklim Global
Lebih jauh dari penyebab alam seperti cuaca buruk, peneliti dari University of Reading menyebut bahwa saat ini krisis iklim global menjadi penyebab banyaknya turbulensi.

Dalam jurnal Nature, Paul Williams, sang peneliti menyebut bahwa temperatur bumi yang semakin memanas karena global warming akan berkontribusi pada peningkatan turbulensi pesawat.

Mengutip Smithsonian, dalam studi yang dimuat di Advancing Earth and Space Sciences pada 2023, menyebut ada 55 persen peningkatan kasus turbulensi sejak 1979-2020.

Baca Juga: Marriott Buka Resor Baru di Lampung

Clear air turbulence saat ini diprediksi bakal lebih sering terjadi (Foto: Unsplash/Ross Parmly)

“Saya hanya bilang, jika Anda merasakan 10 menit turbulensi di masa lalu, maka bisa jadi meningkat 20-30 menit di masa depan,” katanya.

Williams mengatakan bahwa peningkatan frekuensi kasus ini hampir pasti terjadi karena pengaruh perubahan iklim yang memperkuat jet stream (aliran angin yang bergerak sangat cepat dan berkelok seperti sungai) yang menyebabkan turbulensi.

Di atmosfer, udara yang lebih hangat akan menampung banyak uap air. Ini akan menyebabkan suhu jadi lebih panas dan perbedaan suhu udara makin tinggi.

Udara yang lebih hangat kini meningkatkan jumlah pergeseran angin, perbedaan kecepatan angin pada ketinggian yang berbeda di dalam jet stream.

Ketika pesawat berada di dekat jet stream maka risiko turbulensi akan terjadi. 

Para peneliti juga memperkirakan bahwa turbulensi parah akan meningkat dibanding frekuensi ringan dan sedang di masa mendatang.

Sejak beberapa waktu lalu, dunia dikejutkan dengan peristiwa turbulensi parah yang dialami maskapai Singapore Airlines.

Para penumpang menggambarkan kejadian tersebut sangat dramatis dan kacau balau. Penerbangan pesawat SQ321 yang membawa 229 penumpang dan awak itu, awalnya berjalan normal.

Namun tiba-tiba, pesawat yang tengah terbang dari London ke Singapura ini menukik tajam dari ketinggian pada ketinggian 37.000 kaki dari London ke Singapura.

Selain SQ, beberapa hari kemudian, Qatar Airways juga mengalami turbulensi. Penerbangan QR017 dengan Boeing 787 Dreamliner ini terbang dari Doha ke Dublin dan berhasil mendarat dengan selamat.

Baca Juga: 10 Rute Penerbangan dengan Turbulensi Terhebat di Dunia

Apa itu turbulensi?
Umumnya, turbulensi terjadi karena pertemuan udara pada temperatur, tekanan, atau kecepatan yng berbeda satu sama lain.

Selain itu, fenomena guncangan di pesawat juga bisa terjadi karena faktor cuaca dan geografis, misalnya saat pesawat melintasi badai petir, awan, dan pegunungan.

Meski biasanya faktor cuaca buruk jadi penyebab paling umum untuk turbulensi, di tengah cuaca cerah gangguan ini juga bisa terjadi.

Dan Bubb, mantan pilot yang kini menjadi ahli sejarah penerbangan di University of Nevada mengungkapkan, fenomena ini disebut sebagai clear-air turbulence.

Kepada Mashable, dia menyebut, clear-air turbulence disebabkan oleh ketidakstabilan udara akibat pesawat komersil yang terkadang terbang di altitude yang lebih tinggi.

Turbulensi bisa terjadi kapan saja termasuk di cuaca cerah (Foto: Unsplash/ Aleksei Zaitcev)

Sesuai namanya, clear-air turbulence ini terjadi di cuaca yang cerah maka ‘bahaya’ ini tak terlihat dari kokpit dan bahkan tak terdeteksi di radar cuaca di pesawat.

Marco Chan, mantan pilot komersial dan dosen penerbangan di Buckinghamshire New University mengungkapkan bahwa melintasi beberapa area juga bisa menyebabkan fenomena ini, misalnya melintas di atas Teluk Benggala.

“Insiden Singapore Airlines terjadi di zona konvergensi antartropis, di mana badai petir lebih sering terjadi.”

“Badainya sendiri muncul di navigasi pilot, tapi seringkali tidak mungkin bisa sepenuhnya menghindari gugus badai yang bisa membentang lebih dari 50 mil di atas laut,” katanya dikutip dari Guardian.

Baca Juga: Daftar 50 Restoran Terbaik di Dunia 2024

Krisis Iklim Global
Lebih jauh dari penyebab alam seperti cuaca buruk, peneliti dari University of Reading menyebut bahwa saat ini krisis iklim global menjadi penyebab banyaknya turbulensi.

Dalam jurnal Nature, Paul Williams, sang peneliti menyebut bahwa temperatur bumi yang semakin memanas karena global warming akan berkontribusi pada peningkatan turbulensi pesawat.

Mengutip Smithsonian, dalam studi yang dimuat di Advancing Earth and Space Sciences pada 2023, menyebut ada 55 persen peningkatan kasus turbulensi sejak 1979-2020.

Baca Juga: Marriott Buka Resor Baru di Lampung

Clear air turbulence saat ini diprediksi bakal lebih sering terjadi (Foto: Unsplash/Ross Parmly)

“Saya hanya bilang, jika Anda merasakan 10 menit turbulensi di masa lalu, maka bisa jadi meningkat 20-30 menit di masa depan,” katanya.

Williams mengatakan bahwa peningkatan frekuensi kasus ini hampir pasti terjadi karena pengaruh perubahan iklim yang memperkuat jet stream (aliran angin yang bergerak sangat cepat dan berkelok seperti sungai) yang menyebabkan turbulensi.

Di atmosfer, udara yang lebih hangat akan menampung banyak uap air. Ini akan menyebabkan suhu jadi lebih panas dan perbedaan suhu udara makin tinggi.

Udara yang lebih hangat akan meningkatkan jumlah pergeseran angin, perbedaan kecepatan angin pada ketinggian yang berbeda di dalam jet stream.

Ketika pesawat berada di dekat jet stream maka risiko turbulensi akan terjadi. 

Para peneliti juga memperkirakan bahwa turbulensi parah akan meningkat dibanding frekuensi ringan dan sedang di masa mendatang.

The post Kenapa Sekarang Turbulensi Jadi Lebih Sering Terjadi? appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
10 Rute Penerbangan dengan Turbulensi Terhebat di Dunia https://destinasian.co.id/10-rute-penerbangan-dengan-turbulensi-terhebat-di-dunia/ Mon, 27 May 2024 03:00:00 +0000 https://destinasian.co.id/?p=74474 Ada belasan rute penerbangan dengan potensi penerbangan terparah di dunia, salah satunya Melbourne, Australia - Sydney, Australia.

The post 10 Rute Penerbangan dengan Turbulensi Terhebat di Dunia appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Ilustrasi dalam pesawat. (Foto: Suhyeon Choi/Unsplash)

Turbulensi dapat terjadi karena pesawat melalui jalur yang dipenuhi pusaran air dengan kondisi udara yang sedang tidak stabil.

Beberapa tahun terakhir, kondisi iklim juga sedikit banyak berpengaruh terhadap guncangan yang banyak terjadi di berbagai penerbangan. 

Dalam situs Turbli, dari sekitar 150.000 rute penerbangan, ada puluhan rute yang berpotensi mengalami guncangan ini. Turbulensi sendiri dibagi dalam beberapa kategori yang dihitung dalam satuan EDR.

Eddy Dissipation Rate (EDR) adalah ukuran intensitas turbulensi tanpa memperhatikan karakteristik pesawat.

Baca Juga: 4 Destinasi Wisata Bertemu Hiu Paus di Indonesia

Tiga kategorinya adalah EDR 0-20 yaitu turbulensi ringan, 20-40 sedang, 40-80 parah, dan 80-100 ekstrem. 

Berikut 10 rute penerbangan dengan turbulensi terparah di dunia:

  1. Santiago, Chili – Santa Cruz, Bolivia: EDR rata-rata 17,57.
  2. Kota Almaty di Kazakhstan – Bishkek, Ibu Kota Kyrgystan, EDR rata-rata 17,46.
  3. Rute domestik di Tiongkok dan Jepang: Beberapa rute melibatkan penerbangan ke atau dari Lanzhou, Chengdu, atau Xianyang
  4. Milan, Italia – Jenewa, Swiss: EDR rata-rata 16,4
  5. Milan, Italia – Zurich, Swiss: EDR rata-rata 16,02
  6. Tokyo, Jepang – Kathmandu, Nepal (rute jarak jauh): EDR rata-rata 15,53
  7. Brisbane, Australia – Sydney, Australia: EDR rata-rata 15,31
  8. Port Vila, Vanuatu – Auckland, Selandia Baru: EDR rata-rata 14,04
  9. Melbourne, Australia – Sydney, Australia
  10. Port Vila, Vanuatu – Brisbane, Australia
  11. Port Vila, Vanuatu – Sydney, Australia
  12. Auckland, Selandia Baru – Christchurch, Selandia Baru: EDR rata-rata 13,46

Baca Juga: Agustus, Hotel Four Seasons Debut di Osaka

Selain rute penerbangan, bandara yang juga dikenal dengan turbulensi yang tinggi yaitu:

  1. Bandara Santiago, Chile: EDR rata-rata 17,137
  2. Bandara Sendai, Natori, Jepang: EDR rata-rata 16,657
  3. Bandara Wellington, Selandia Baru: EDR rata-rata 16,318

Penelitian menunjukkan bahwa turbulensi udara jernih, yang tidak terlihat dan berbahaya bagi pesawat terbang, telah meningkat di berbagai wilayah di dunia.

“Penelitian dari universitas di Inggris – Universitas Reading, menunjukkan bahwa selama 40 tahun terakhir turbulensi parah meningkat sebesar 55%, turbulensi sedang meningkat sebesar 37%, dan ringan sebesar 17%,”  ucap Geoffrey Thomas dari Airline Ratings. 

Tim penelitian tersebut mengatakan peningkatan tersebut konsisten dengan dampak perubahan iklim.

Baca Juga: 6 Restoran di Ubud: Tribute untuk Bali

Tips tetap tenang saat turbulensi
Berikut beberapa tips agar terhindar dari rasa cemas yang berlebihan serta kejadian yang tidak diinginkan saat mengalami turbulensi.

1. Tetap tenang dan perhatikan instruksi awak pesawat
Turbulensi dapat membahayakan penumpang yang tidak mengencangkan apalagi tidak memakai sabuk pengaman.

Maka dari itu, ada baiknya untuk tetap memakai sabuk pengaman saat sedang duduk atau tidur, sekalipun lampu tanda sabuk pengaman sudah dimatikan. 

Baca Juga: Liburan Penuh Kemewahan di Grand Lisboa Palace Resort Macau

2. Cek kondisi terkini
Pilot seringkali memberitahu penumpang mengenai kondisi terkini dan kemungkinan turbulensi yang akan terjadi.

Di saat ini apabila merasa cemas, penumpang diperbolehkan memanggil pramugari untuk meminta bantuan agar rasa cemas tidak berkepanjangan.

Ilustrasi pramugara yang sedang bertugas. (Foto: Lukas Souza/Unsplash)

3. Memastikan kondisi tubuh dalam keadaan baik
Sebelum terbang, pastikan tubuh sudah mengonsumsi cukup makanan dan minuman.

Penting juga untuk mempersiapkan kondisi mental, agar dapat merasa nyaman selama penerbangan berlangsung.

Baca Juga: 10 Destinasi Pengembangan Wisata Terbaik Dunia 2024, Ada Indonesia?

4. Hindari alkohol
Anda mungkin tergoda untuk minum alkohol agar tak cemas saat menghadapi bumpy flight.  

Terlalu banyak alkohol menyebabkan dehidrasi dan juga dapat menimbulkan perasaan mual. Ini merupakan kombinasi buruk dengan turbulensi, yang juga dapat membuat penumpang merasa makin mual.

The post 10 Rute Penerbangan dengan Turbulensi Terhebat di Dunia appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>