Sanchaya Archives - DestinAsian Indonesia https://destinasian.co.id/tags/sanchaya/ Majalah travel premium berbahasa Indonesia pertama Tue, 18 May 2021 14:51:07 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 Promo Menginap 12 Hotel di Bintan https://destinasian.co.id/promo-menginap-12-hotel-di-bintan/ Tue, 18 May 2021 14:29:20 +0000 https://destinasian.co.id/?p=64069 Liburan hemat di Bintan, sebelum pembukaan travel bubble dengan Singapura.

The post Promo Menginap 12 Hotel di Bintan appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Kolam renang menatap laut di Banyan Tree Bintan, resor senior yang dibuka pada 1995. (Foto: Banyan Tree)

Lebih dari 70% turis di Bintan berasal dari luar negeri. Namun, akibat pandemi, pulau ini terpaksa bergantung sepenunya pada pasar lokal—dan dengan itu beragam promo pun bermunculan.

Baca Juga: Kenapa Bintan Lebih Digemari Turis Asing?

Hampir semua penginapan di sini mematok tarif diskon, beberapa hingga 50%, termasuk di kawasan premium Lagoi. Alhasil, tarif mereka, yang sebelumnya merujuk UMR Singapura, kini lebih bersahabat bagi turis domestik.

Berikut tarif promo 12 hotel di Bintan khusus periode menginap 3-4 Juli 2021: 

Lobi Aston Tanjung Pinang, hotel bintang empat di dekat Bandara Raja Haji Fisabilillah. (Foto: Archipelago International)

1. Aston Tanjung Pinang
+ Lokasi: Kota Tanjungpinang
+ Jarak dari bandara: 1,8 km
+ Kamar: Rp479.160 per malam, termasuk sarapan
Hotel bintang empat ini dibuka pada 2011 di Tanjungpinang, persis di antara bandara dan pusat kota. Walau membidik segmen bisnis, hotel berisi 162 kamar ini ideal dijadikan basis untuk menjangkau objek-objek wisata favorit di selatan Bintan, termasuk Pulau Penyengat dan Vihara Ksitigarbha Bodhisattva yang menampung 500 patung lohan. astonhotelsinternational.com 

Interior vila di Kamuela Villas Lagoi Bay, properti terbaru di Bintan. (Foto: Archipelago International)

2. Kamuela Villas Lagoi Bay
+ Lokasi: Lagoi, sisi utara pulau
+ Jarak dari bandara: 60 km
+ Vila: Rp1.844.277 per malam, termasuk sarapan
Properti baru Archipelago International ini diluncurkan di masa pandemi, 1 Mei 2021. Lokasinya di tepi sentra jajan dan belanja Plaza Lagoi, hanya 400 meter dari pantai dan Danau Lagoi. Kamuela Villas menaungi 28 vila yang terbagi dalam empat kategori, masing-masingnya dilengkapi kolam renang privat. kamuelavillas.com 

Vila dengan kolam renang privat di The Residence, pesisir timur Bintan. (Foto: Felix Hug/Eyes on Asia/Cenizaro)

3. The Residence Bintan
+ Lokasi: Kampung Galang Batang, sisi timur pulau
+ Jarak dari bandara: 32 km
+ Kamar: Rp1.954.293 per malam, termasuk sarapan
Pesisir timur Bintan umumnya populer hanya di kalangan turis lokal. Sejak 2018, sebuah resor premium hadir di sini untuk memikat segmen internasional. The Residence Bintan, kompleks berisi 127 kamar dan vila, dilengkapi dua restoran dan spa yang diasuh ila. Desainnya ditangani oleh Hirsch Bedner, firma yang terlibat dalam proyek Park Hyatt Suzhou dan Raffles Jakarta. cenizaro.com 

Kompleks glamping Natra Bintan, bagian dari Grup Marriott, di tepi Crystal Lagoon. (Foto: Marriott)

4. Natra Bintan
+ Lokasi: Lagoi, sisi utara pulau
+ Jarak dari bandara: 60 km
+ Tenda: Rp2.190.100 per malam, termasuk sarapan
Lahir dengan nama The Canopi, kompleks glamping ini pada 2019 berganti nama menjadi Natra, bagian dari Tribute Portfolio Marriott. Penginapan ini menampung 100 tenda safari yang dilengkapi koneksi internet, AC, serta LCD TV. Persis di seberang resor terhampar laguna artifisial Crystal Lagoon yang luasnya setara 50 kolam renang standar Olimpiade. marriott.com 

Tenda-tenda teepee di The Anmon, Lagoi. (Foto: The Anmon)

5. The Anmon
+ Lokasi: Lagoi, sisi utara pulau
+ Jarak dari bandara: 60 km
+ Tenda: Rp2.229.500 per malam, termasuk sarapan
Seperti Natra, Anmon berkonsep glamping, tapi tendanya berbentuk teepee khas Indian yang lebih langsing dan jangkung. Properti ini mengoleksi 100 tenda dengan luas mulai dari 45 meter persegi. theanmon.com 

Eksterior Nirwana Resort di kompleks Nirwana Gardens. (Foto: Nirwana Gardens)

6. Nirwana Resort
+ Lokasi: Lagoi, sisi utara pulau
+ Jarak dari bandara: 60 km
+ Kamar: Rp2.371.600 per malam, termasuk sarapan
Resor keluarga ini mengoleksi 242 kamar. Usai direnovasi beberapa tahun silam, kamar-kamarnya mengusung desain minimalis dengan sentuhan elemen tropis. Nirwana Resort berada di kompleks Nirwana Gardens yang dilengkapi beragam fasilitas, termasuk dive center dan kids’ club. nirwanagardens.com 

One Bedroom Loft di Cassia Bintan, properti yang membidik milenial. (Foto: Cassia)

7. Cassia Bintan
+ Lokasi: Lagoi, sisi utara pulau
+ Jarak dari bandara: 60 km
+ Kamar: Rp2.765.750 per malam, termasuk sarapan
Dirintis di Phuket pada 2015, Cassia hadir di Bintan pada 2017. Merek dari Banyan Tree ini didesain bagi segmen milenial. Lobinya dibalut mural karya Adi Dharma. Di samping kolamnya terdapat Xana Beach Club. Sementara akomodasinya berkonsep apartemen yang dilengkapi dapur, area makan, serta balkon atau teras privat. cassia.com 

Panorama laut di depan Angsana Bintan, resor berisi 111 kamar. (Foto: Angsana)

8. Angsana Bintan
+ Lokasi: Lagoi, sisi utara pulau
+ Jarak dari bandara: 60 km
+ Kamar: Rp2.938.609 per malam, termasuk sarapan
Di tepi pantai sepanjang 1,5 kilometer, Angsana menampung 111 kamar dan suite, plus beragam fasilitas untuk keluarga, termasuk kids’ club, spa, hingga laboratorium konservasi yang melakukan penanaman koral dan pelepasan tukik. Terpisah 900 meter, ada Laguna Golf Bintan yang dirancang oleh Greg Norman. angsana.com

Vila-vila dikepung pepohonan di Cempedak Private Island. (Foto: Cempedak Private Island)

9. Cempedak Private Island
+ Lokasi: Pulau Cempedak, sisi timur pulau
+ Jarak dari bandara: 24 km, plus boat transfer 30 menit
+ Vila: Rp5.888.925 per malam (minimum dua malam)
Konsepnya barefoot luxury khusus dewasa (usia tamu minimum 16 tahun). Properti ini menampung 20 vila bergaya tropis di pulau seluas 17 hektare yang dibingkai pasir putih bertaburkan bebatuan granit. Hanya ada dua kategori vila: Beach Villa dan Seaview Villa, masing-masingnya dilengkapi kolam renang privat, speaker portabel, serta koneksi internet. cempedak.com 

Kolam renang di The Sanchaya, resor yang pernah ditinggali sejumlah selebriti asing. (Foto: The Sanchaya)

10. The Sanchaya Bintan
+ Lokasi: Lagoi, sisi utara pulau
+ Jarak dari bandara: 60 km
+ Kamar: Rp9.000.000 per malam, termasuk sarapan, transfer bandara, tes antigen, dan makan malam
Resor ini turut menempatkan Bintan dalam radar selebriti. Di buku tamunya, ada nama Anil Kapoor, Anupam Kher, serta Dev Patel. Sanchaya menampung 13 vila dan 17 suite yang terinspirasi rumah-rumah adat di Asia Tenggara. Tiap unitnya dilengkapi televisi Bang & Olufsen, mesin kopi Malongo, keran Lefroy Brooks, serta toiletries Aesop. Desain resor mewah ini ditangani oleh P49 Deesign, firma yang pernah menggarap Soneva Fushi Maldives dan Alila Oman. thesanchaya.com

Dinner on the Rocks, sesi makan atraktif di Banyan Tree Bintan. (Foto: Banyan Tree)

11. Banyan Tree Bintan
+ Lokasi: Lagoi, sisi utara pulau
+ Jarak dari bandara: 60 km
+ Vila: Rp9.334.405 per malam, termasuk sarapan
Properti Banyan Tree pertama di Indonesia ini dibuka pada 1995. Selain vila-vila di pesisir berbatu, magnet utamanya ialah pengalaman makan bertema Destination Dining. Tamu bisa memilih makan di perahu nelayan, di atas bebatuan gigantik, atau di resto terapung khas lokal yang disebut kelong. banyantree.com 

Kolam renang menatap laut di Club Med Bintan, resor berkonsep all-inclusive. (Foto: Club Med)

12. Club Med Bintan
+ Lokasi: Lagoi, sisi utara pulau
+ Jarak dari bandara: 60 km
+ Kamar: Rp11.192.000 per malam, full board untuk dua orang
Resor senior di Bintan ini diresmikan pada 1997. Populer di kalangan golfer, Club Med bertetangga dengan Ria Bintan Golf Club, padang fotogenik yang dirancang oleh Gary Player. Dibandingkan para tetangganya di Lagoi, resor ini punya daya tarik yang langka: sistem all-inclusive. Harga kamar sudah mencakup makan tiga kali dan beragam aktivitas. clubmed.co.id 

*Tarif didapat dari reservasi daring pada 18 Mei 2021 di situs web resmi setiap properti.

The post Promo Menginap 12 Hotel di Bintan appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Kenapa Bintan Lebih Terkenal di Luar Negeri—dan Bagaimana Pandemi Mengubahnya https://destinasian.co.id/kenapa-bintan-lebih-terkenal-di-luar-negeri-dan-bagaimana-pandemi-mengubahnya/ Mon, 10 May 2021 18:42:43 +0000 https://destinasian.co.id/?p=63957 Lama bersandar pada turis asing, Bintan kini dipaksa menggarap pasar domestik. Aset wisatanya mumpuni.

The post Kenapa Bintan Lebih Terkenal di Luar Negeri—dan Bagaimana Pandemi Mengubahnya appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Pantai pasir putih Teluk Lagoi di pelataran The Sanchaya, resor yang telah dibuka kembali pada 16 April 2021. (Foto: The Sanchaya)

Oleh Cristian Rahadiansyah 

Bagaikan sopir bus malam, Ruth Siagian memacu buggy dengan gesit di padang rumput Ria Bintan Golf Club. Saya duduk di sampingnya, berpegangan erat, seraya menyimak keluhannya. Kata Ruth, perantau asal Medan yang bekerja di sini sejak 2014, hanya segelintir warga Indonesia yang mengenal Ria Bintan. Padahal, padang golf ini sangat kondang di luar negeri. 

Matahari menyala terik di awal kemarau. Dari Laut Cina Selatan, angin lembap berembus membawa uap asin. Buggy masih melaju, menembus hutan, melewati beberapa ekor monyet yang tengah berteduh. Di tepi padang rumput, pasir putih melengkung ditumbuhi bebatuan besar.

Saya tak paham golf. Tapi saya bisa memahami kenapa Ria Bintan punya pamor internasional. Selain rutin menyabet penghargaan, termasuk The Best Luxury Golf Club in Indonesia, padang golf ini punya keindahan sekelas tempat foto pranikah. Ruth bingung kenapa tak banyak orang Indonesia yang mengenalnya. Lebih dari 90 persen anggota klubnya beralamat di Singapura.

Padang rumput menatap laut di Ria Bintan Golf Club, kompleks fotogenik yang dirancang oleh legenda golf Gary Player. (Foto: Cristian R)

“Mungkin karena banyak orang Indonesia belum mengenal Bintan,” saya coba menimpali keluhannya. “Teman saya pernah mau terbang ke Tanjungpinang, malah mendarat di Pangkalpinang.”

Wah itu sering terjadi, Pak,” Ruth menyambar secepat buggy. “Pernah ada grup 12 orang dari Jakarta juga nyasar. Mereka telepon saya, kasih tahu sudah sampai Pangkalpinang dan minta dijemput. Saya bilang ke dia, ‘bapak ngapain di sana, bandara Bintan adanya di Tanjungpinang’.”

Buggy menepi ke lubang nomor sembilan, tempat favorit pegolf. Di kejauhan terlihat samar daratan Jiran. Dari Johor, Bintan hanya terpisah 2,5 jam naik feri. Dari Singapura, durasinya lebih singkat, 50 menit. Berkat kedekatan inilah Bintan marak disatroni turis dari kedua tetangga itu. Tapi mungkin karena kedekatannya terlalu intim, Bintan justru terasa jauh dari orang Indonesia.

“Pernah ada ibu-ibu dari Medan mau datang ke sini malah tanya-tanya soal paspor; dia pikir Bintan ini bagian dari Singapura,” Ruth kian sewot dan buggy pun terasa kian cepat. “Itu juga Luna Maya belum lama ke Bintan; di IG-nya ditulis Bintan dalam kurung Batam! Ih kasihan kali ini Bintan.”

Kiri-kanan: Mural geometris karya artis Darel Carey di perpustakaan The Sanchaya; Panorama lubang nomor sembilan di Ria Bintan Golf Club. (Foto: Cristian R)

Tur berakhir, emosi Ruth mereda, saya kembali ke hotel. Di dalam mobil, saya mengunggah foto Ria Bintan di Instagram. Ketika akan membubuhkan tag lokasi, muncul tulisan “Pulau Bintan (Batam).” Saya jadi merasa berdosa sempat meragukan wawasan Luna Maya. Dia ternyata hanyalah korban dari kesalahan Instagram.

Ini kunjungan pertama saya ke Bintan, pulau berbentuk tapal kuda di barat Indonesia, persis di samping Batam. Layaknya orang yang melawat tempat baru, saya datang penuh semangat. Laptop berisi riset panjang seputar tempat-tempat menarik. Google Map di telepon genggam memuat target-target lokasi. Bintan menyandarkan pendapatannya pada pariwisata, dan saya berharap bisa melihat sebanyak mungkin aset wisatanya.  

Akan tetapi, begitu tiba di sini, saya justru menemukan kisah yang berbeda. Bintan ternyata masih asing di telinga banyak orang Indonesia. Aneh memang. Pulau ini sudah bergabung ke pangkuan RI sejak 1950. Lebih aneh lagi, ia masuk grup lima besar sumur devisa pariwisata.   

Keanehan itu juga sudah saya rasakan semenjak bertolak dari Jakarta. Di Bandara Soekarno-Hatta, petugas loket validasi tes Covid-19 menanyakan tujuan saya, dan saya pun menjawab singkat, “Ke Bintan.” Dengan paras bingung, dia menengok rekannya, lalu kembali bertanya “Bintan ada di mana?” Kini giliran saya yang bingung. Usai tertegun beberapa detik, saya iseng menjawab, “Di sebelah Batam.” Jawaban yang manjur. 

Area makan menatap laut di restoran Tasanee Thai Grill, The Sanchaya. (Foto: Noel Yeo/Nudge Photography/The Sanchaya)

Di Bintan, saya menginap di daerah Lagoi, sisi utara pulau. Dari Bandara Raja Haji Fisabilillah di Tanjungpinang, jaraknya sekitar 60 kilometer, setara Jakarta-Bogor, tapi jalannya bebas macet. Menuju Lagoi, mobil meniti jalan lengang, membelah hutan dan semak, menyisir pesisir. Sepi, hening, dan lancar. Jarak satu desa ke desa lain berjauhan. Hanya ada dua lampu merah selama sejam berkendara. 

Penginapan saya, The Sanchaya, bersemayam di teluk berpasir putih. Desainnya terilhami rumah-rumah adat Asia Tenggara. Konsepnya rumah liburan keluarga, atau lebih tepatnya rumah liburan keluarga dalam daftar miliuner Forbes. Sanchaya adalah salah satu resor termewah dan termahal di Indonesia. Di buku tamunya, ada nama selebriti Anil Kapoor dan Dev Patel. Tak heran, resor ini kadang dijuluki “Aman versi Bintan.” 

Sanchaya, tentu saja, bukanlah satu-satunya penginapan di Bintan. Tak jauh dari sini, ada Banyan Tree, Angsana, serta Natra. Di belahan timur pulau, ada Cempedak dan Nikoi. Teman saya, Trinity, penulis serial The Naked Traveler, pernah mengatakan Bintan sangat menarik jika kita gemar leyeh-leyeh di resor—dan pulau ini punya beragam opsi untuk menyalurkan hobi itu. Tapi kenapa, di luar Trinity dan Luna Maya, banyak orang Indonesia belum mengenal Bintan?

Vila-vila Banyan Tree Bintan bertengger di pesisir berbatu kawasan Lagoi, sisi utara Bintan. (Foto: Banyan Tree Bintan)

“Problemnya akses,” jawab Dwi Noer Kumalasari, hotelier yang pernah bekerja di Bintan. “Penerbangan ke sini sangat terbatas.” Sari, yang memiliki tanah di Bintan, tak cuma bicara soal minimnya frekuensi penerbangan, tapi juga terbatasnya trayek. Bandara di Tanjungpinang terkoneksi hanya ke tiga destinasi: Jakarta, Pekanbaru, dan Batam. (Ini pun dengan catatan: di antara para penumpangnya, beberapa salah mendarat di Pangkalpinang.)

Membuka data pariwisata, ketimpangan turis di Bintan terlihat gamblang. Pada 2019, pulau ini membukukan hampir 1,1 juta pelancong, di mana lebih dari 70 persennya membawa paspor. Selaris-larisnya sebuah destinasi, termasuk Bali sekalipun, jumlah turis domestik selalu lebih besar. Di luar Bintan, barangkali hanya Raja Ampat yang mencatatkan anomali serupa, tapi disparitas antara turis domestik dan asing di sana hanyalah lima persen.

“Kita mesti melihat sejarah pariwisata Bintan,” jelas Julius Kensan, pria asal Bintan, tentang pangkal penyebab rendahnya pasokan turis lokal. “Pusat wisata di Lagoi, jaraknya dulu tiga jam dari Tanjungpinang. Dan Lagoi sejak awal dikembangkan oleh perusahaan Singapura untuk melayani turis asing.”

Kiri-kanan: The Great House, bangunan utama di The Sanchaya; Kolam renang utama di The Sanchaya. (Foto: Cristian R)

Bicara sejarah, Lagoi adalah anak kandung kemitraan Sijori (Singapura-Johor-Riau) di masa Orde Baru. Kala itu, Singapura (dan Johor) butuh tempat liburan untuk warganya, sementara Indonesia ingin mengail devisa pariwisata. Klop. Dari sinilah lahir megaproyek Bintan Resorts pada 1990 di Lagoi. Konsepnya mirip ITDC Nusa Dua, tapi lahannya seluas Kota Tangerang. Properti debutnya, Bintan Lagoon Resort, diresmikan oleh Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong.

Julius, yang menjabat pimpinan redaksi Manual Jakarta, masih ingat masa-masa awal pertumbuhan pariwisata itu. Lagoi, yang terpisah 40 kilometer dari Singapura dan 800 kilometer dari Jakarta, dipromosikan sebagai “playground on Singapore’s doorstep.” Wajar saja, tempat ini didesain familiar bagi orang Singapura. Singlish jadi basantara. Soket di kamar hotel bertipe tiga lubang pipih. “Beberapa hotel dulu bahkan hanya menerima dolar Singapura dan Amerika,” tambah Julius.

Memang, kondisinya kini sudah berubah. Setidaknya hotel-hotel generasi baru memakai soket universal. Jalan baru sudah terbentang dari Tanjungpinang, menyunat durasi tempuh menjadi hanya sejam. Belakangan, Bintan mulai melirik segmen domestik. Sebuah panduan wisata halal berbahasa Indonesia telah diterbitkan. Sayangnya, belum sempat merek Bintan tertanam di benak lokal, virus menjalar ganas.

Vila-vila di Cempedak Private Island, resor yang dibuka pada 2017 di belahan timur Bintan. (Foto: Cempedak Private Island)

Pagi-pagi sekali, laut surut di depan Sanchaya. Ombak menggapai pesisir seperti perenang yang kelelahan. Di kejauhan, kapal kargo dan tanker hilir mudik. Sesekali terdengar pompong nelayan yang kembali dari mencari ikan. Laut Cina Selatan terlihat lebih ramai ketimbang jalan-jalan di Bintan. 

Hari ini, saya menyusuri pesisir barat pulau. Mobil kembali mengarungi jalan-jalan sepi. Luas Bintan dua kali Jakarta, tapi populasinya tak sampai 400.000 jiwa. Macet adalah berita nasional di sini, dan pemicunya biasanya bukan kepadatan kendaraan, melainkan bencana alam. Di beberapa ruas jalan, tersisa longsor akibat badai besar di akhir 2020. Pada lapisan tanah merah tampak noda-noda gelap kandungan bauksit. Dulu, bahan baku aluminium ini merupakan komoditas andalan Bintan.

Memasuki Desa Busung, mobil diparkir di tepi lahan paling ajaib di Bintan. Menyapu cakrawala, padang pasir bergelombang seperti bukit-bukit Sahara. Di sekitarnya, telaga-telaga pirus terhampar laksana oasis. Lanskap tempat ini tampak sureal, walau saya sebenarnya sedang menatap “fatamorgana.” Gurun Pasir Busung adalah bekas tambang pasir yang bertransformasi menjadi objek wisata.

Kiri-kanan: Struktur bambu di Cempedak Private Island. (Foto: Muhammad Fadli); Gurun Pasir Busung, salah satu tempat foto favorit di Bintan. (Foto: Cristian R)

Gurun ini mulai populer sekitar empat tahun silam. Biang keladinya ialah Instagram. Orang-orang berdatangan untuk berswafoto, membuat lahan terbengkalai ini justru merekah jadi sumber kas desa. Warga menjual tiket, berdagang jajanan, sesekali menyambi sebagai kru foto. Maklum, padang ilusi ini juga digemari calon pengantin. Govinda Rumi, pendiri agensi Terralogical, bahkan menempatkannya dalam daftar lokasi foto pranikah favoritnya.

Tak cuma turis lokal, Gurun Pasir Busung juga masuk radar pelancong asing, terutama asal Tiongkok. Royal Caribbean dan Dream Cruises, dua operator pesiar yang memiliki rute reguler ke Bintan, mencantumkan gurun ini dalam land tour penumpang. Kehadiran mereka tak lepas dari popularitas Bintan di luar negeri. 

“Rombongan Tiongkok bisa habiskan 200 kelapa muda sehari,” ujar Ibu Nora, satu-satunya pedagang yang bertahan di masa paceklik. Begitu banyak turis Tiongkok, dia berhasil menguasai bahasa Mandarin bermodalkan pengalaman negosiasi. Saat saya menyeruput kelapa muda, Ibu Nora unjuk kebolehan menerjemahkan nama-nama buah. “Sudah setahun gak ada turis, agak lupa-lupa dikit bahasanya.” 

Blokart di pantai, salah satu aktivitas yang ditawarkan The Sanchaya. (Foto: Alina Vlasova/The Sanchaya)

Meninggalkan satu-satunya gurun di khatulistiwa, saya bergeser ke selatan pulau. Pohon-pohon berkelebat di balik jendela. Kebun karet terselip di antara rimba. Memasuki interior pulau, Gunung Bintan menjulang rindang. Di kakinya, kios-kios buah berbaris kosong, menanti musim durian jatuh di pertengahan tahun.

Setelah hampir sejam, mobil menggapai Tanjungpinang, jantung kehidupan pulau. Hutan kini digantikan barisan toko. Kicau burung ditelan klakson. Baliho pejabat menjulang di perempatan. Untuk pertama kalinya semenjak mendarat di Bintan, saya melihat tukang parkir. 

Tanjungpinang adalah kota yang sibuk. Lebih dari separuh penduduk Bintan bermukim di sini. Dan layaknya kota utama, Tanjungpinang juga berperan sebagai gerbang lalu lintas barang, manusia, juga budaya. Dari sinilah Bintan mengirimkan produk-produk terbaiknya, dari bauksit, karet, hingga Vira Yuniar. Dari sini pula duta-duta globalisasi berdatangan. Tanjungpinang adalah satu-satunya tempat di Bintan yang memiliki KFC, Pizza Hut, juga bioskop dan mal. Yang terakhir ini agaknya dipandang monumental. Legendanya masuk peta wisata di bandara.

Mungkin karena kota ini minim “hiburan modern,” banyak anak muda setempat doyan kelayapan ke Singapura. Jika dipikir-pikir, Bintan dan Singapura sebenarnya menerapkan asas resiprokal pariwisata. Singapura mengirim turis yang mencari ketenangan alam. Bintan mengekspor remaja yang mendambakan keriuhan metropolis. Impas.

Kiri-kanan: Noda gelap bauksit, komoditas andalan Bintan di masa lalu; Kapal perintis Sabuk Nusantara transit di Tanjungpinang sebelum bertolak ke Natuna. (Foto: Cristian R)

Di tepian kota, mobil memasuki kawasan pelabuhan. Di sini, Tanjungpinang memperlihatkan denyutnya sebagai kota bandar. Hampir tiap jengkal tanah dihuni pertokoan. “Dari 10 toko orang Tionghoa, pasti ada satu toko milik orang Padang,” Jun, sopir saya, berkelakar. Tapi kata-katanya ada benarnya. Kota ini memang dihuni banyak orang Tionghoa. Anastasia Wiwik Swastiwi, peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau, bahkan mengklaim Tanjungpinang pernah menjadi kota dengan komposisi etnis Tionghoa terbesar di Indonesia.  

Fakta demografis itu jugalah yang melatari kelahiran banyak rumah ibadah Buddha. Tanjungpinang, kota seukuran Jakarta Barat, mengoleksi lebih dari 20 wihara, beberapa berukuran gigantik. Tak heran, kota ini masuk sirkuit ziarah umat Buddha dunia. Jun sempat mengajak saya melawat wihara berisi 500 patung lohan, namun saya lebih memilih menikmati efek terbaik dari besarnya populasi etnis Tionghoa—Chinese food autentik.

Di antara toko renta, saya mampir di sebuah kedai kopitiam, warisan terbaik first wave coffee movement. Dapurnya diletakkan di teras. Interiornya temaram. Di mejanya, tak ada buku menu. Ini tipikal kedai untuk warga lokal yang sudah tahu mau pesan apa dan berapa harganya. Sambil dipelototi pramusaji, saya memesan es kopi dan kwetiau goreng. Pesanan lalu diteruskan kepada sang koki dalam bahasa yang tak saya pahami. Barangkali Hokkien, atau mungkin Teochew. Tak lama, hidangan datang dan rasanya sesuai harapan.

Dinner on the Rocks, paket makan andalan Banyan Tree Bintan. (Foto: Banyan Tree Bintan)

Kuliner bukan satu-satunya magnet Tanjungpinang. Di lepas pantainya, kota ini memiliki pulau bersejarah yang menyimpan kisah imperium Melayu masa silam. Dari dermaga kusam di balik pertokoan, saya menggapainya dengan menaiki pancung.

Perahu kayu merandai ombak kalem di awal Mei. Mesin tempel di buritannya sangat bising, memaksa penumpang duduk dalam diam, kalau bisa tak bergerak sama sekali. Pancung adalah perahu ramping yang rentan bergoyang jika penumpang menggeser pantatnya.

Selang 10 menit, tujuan saya mulai terlihat. Di tepinya berjejer rumah-rumah panggung yang dicat kuning dengan sentuhan hijau Stabilo. Di interiornya, sebuah masjid agung menjulang dengan warna serupa. Saya merasa sedang berlayar menuju pulau fantasi Wes Anderson.

Kompleks glamping Natra Bintan, bagian dari Grup Marriott, di tepi Crystal Lagoon. (Foto: Marriott)

Pancung akhirnya merapat ke dermaga. Saya telah tiba Pulau Penyengat. Sebuah pulau yang dulu rutin disinggahi pelaut karena mengandung banyak sumur air tawar, tapi juga mengancam mereka lantaran didiami tawon-tawon penyengat. Namun hari tidak ada tawon. Saya justru disambut papan-papan berisi pantun yang digantung di langit-langit. Di ujung dermaga, beberapa pria menawarkan jasa keliling pulau menaiki moda khas lokal, bentor alias becak motor.

Beberapa puluh meter dari Masjid Sultan Riau, saya berkenalan dengan Raja Abdulrahman, seorang kakek yang juga aktor sejarah. Dia mengaku sebagai keturunan pujangga besar Raja Ali Haji. Tak hanya berdarah biru, kakek ini juga berstatus selebriti. Pada 2009, dia berperan sebagai figuran dalam Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji, biopik yang dibintangi Alex Komang.

Menaiki sepeda motor, Raja Abdulrahman membawa saya menjelajahi pulau. Pengalaman yang mendebarkan. Untuk pertama kalinya, saya dibonceng keturunan raja. “Raja itu sebenarnya mirip tengku. Bukan penguasa maksudnya,” jelas Pak Abdulrahman. “Orang-orang di sini biasa memanggil saya Om Man.”

Kiri-kanan: Keong laut gonggong, ikon kuliner Bintan, di resto Kelong Ciuyong; Perahu pancung menuju Pulau Penyengat. (Foto: Cristian R)

Motor bebek menyusuri jalan makadam. Om Man memandu saya ke perigi-perigi tua, petilasan sisa perang, juga pusara para raja. Virginia Matheson, dalam makalah Pulau Penyengat: Nineteenth Century Islamic Centre of Riau, menulis pulau kecil ini pernah dijadikan pusat Kesultanan Riau-Lingga pada awal abad ke-19. Situs warisan masa lalu itu kini bertaburan menanti peziarah. 

Berpindah ke selatan pulau, kami bertamu ke Balai Adat, bangunan megah yang memajang replika Gurindam Dua Belas karangan Raja Ali Haji. “Saya dulu yang menemukan naskahnya. Kertasnya sudah koyak,” kenang Om Man tentang magnum opus buyutnya itu. “Gurindam bukan pantun atau syair. Isinya nasihat-nasihat hidup.”

Saya membaca beberapa kalimatnya. Gurindam Dua Belas sarat metafora, disisipi tasawuf, dengan rima yang puitis. Karya didaktik bertarikh 1847 ini juga mengusung format yang baru di zamannya: ditulis dalam aksara Jawi, dua baris per pokok. Bintan, walau kurang dikenal turis Indonesia, ternyata punya jejak dalam perkembangan sastra Nusantara. Atas sumbangsihnya ini pula, Raja Ali Haji ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Dia salah satu pahlawan pertama yang tak pernah angkat senjata.

Makam Raja Haji Fisabilillah di Pulau Penyengat. Namanya diabadikan sebagai nama bandara di Tanjungpinang. (Foto: Cristian R)

Senja mengembang dan napak tilas ditutup. Om Man mengarahkan motor ke dermaga. Di bawah langit remang, saya meninggalkan Penyengat, sebuah pulau mungil yang tuntas dikelilingi dalam sehari, tapi dengan sejarah panjang yang melintang 200 tahun. Di atas pancung yang selalu bergoyang, saya teringat beberapa potong Gurindam Dua Belas.

Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat 

Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai

Kiri-kanan: Masjid Sultan Riau, ikon Pulau Penyengat. (Foto: Cristian R); Pesisir berbatu di timur Bintan. (Foto: Muhammad Fadli)

Rampung berkenalan dengan pulau yang kurang dikenal ini, saya menghabiskan waktu menikmati tawaran terbaiknya. Sesuai petuah Trinity, saya leyeh-leyeh di resor.

Memasuki restoran, empat bapak asal Batam sedang bermain remi. Terpisah beberapa meja, istri-istri mereka riuh berbincang. Di antara keduanya, ada satu keluarga asal Semarang. “Ingin liburan di Indonesia, tapi yang standarnya internasional,” ujar sang ibu tentang alasannya datang ke Bintan, walau harus repot terbang via Jakarta. Memanfaatkan musim tarif promo, keluarga ini menginap di Banyan Tree, lalu menutup akhir pekan di Sanchaya. “Kalau liburan di Bali sudah terlalu biasa. Mau coba yang lain,” tambahnya.  

Pandemi agaknya tak cuma membawa musibah, tapi juga membuka peluang baru. Akibat pintu-pintu perbatasan ditutup, hotel-hotel di Bintan dipaksa giat berpromosi ke pasar lokal. Tarif menginap mereka, yang sebelumnya berpatokan pada UMR Singapura, kini terasa lebih terjangkau bagi orang Indonesia.

Tapi insentif itu mungkin tak akan berlangsung lama. Tahun ini, Lagoi berniat menjalin “travel bubble” dengan Singapura. Demi menyongsongnya, program vaksinasi digulirkan dan sistem contact tracing diterapkan—dengan tingkat kedisiplinan standar Singapura. Dari hotel hingga pujasera karyawan, semua orang wajib check in dan check out, sambil diawasi satpam. 

Kolam renang privat di Leelawadee, vila tiga kamar berarsitektur Thailand di The Sanchaya. (Foto: Noel Yeo/Nudge Photography/The Sanchaya)

Menjelang petang, saya meninggalkan Lagoi, membelah pulau secara diagonal menuju bandara. Seperti hari-hari sebelumnya, jalanan sepi, dan saya menikmati tiap meternya sebelum kembali ke kemacetan Jakarta.

Mencerna karakternya, Bintan agak mirip Belitung. Selain bebas macet, pulau ini dibingkai pesisir berbatu, dikaruniai tradisi kopitiam, dan pernah menjadi sentra tambang. Ia mungkin hanya butuh Laskar Pelangi-nya sendiri untuk masuk mainstream. Dan sebelum itu terjadi, Bintan harus sabar menerima nasibnya kurang-lebih mirip Rich Brian: tenar di luar negeri, kurang laris di dalam negeri.

“Dari mana, Pak?” tanya sopir taksi, seorang pemuda asal Jambi, di Bandara Soekarno-Hatta. “Dari Bintan,” jawab saya.

“Oh, Batam…”  

Kiri-kanan: Nasi rendang dan ayam goreng di Lamak Basamo, bintang kuliner Pujasera Lagoi; Teras bar di The Sanchaya. (Foto: Cristian R)

PANDUAN
Rute
Gerbang udara Bintan, Bandara Raja Haji Fisabilillah di Tanjungpinang, terkoneksi ke Pekanbaru, Batam, dan Jakarta. Penerbangan ke sini dilayani oleh Garuda Indonesia, Citilink, serta Lion Air. Bintan kini sedang membangun bandara baru di dekat Lagoi, yang diproyeksikan terkoneksi ke lebih banyak kota. 

Penginapan
Bintan mengoleksi 87 hotel, mayoritas terkonsentrasi di tiga area: Kota Tanjungpinang di selatan; Pantai Trikora di timur; serta Lagoi di utara. Beberapa resor ikonisnya ialah The Sanchaya, Banyan Tree Bintan, Natra Bintan, serta Cempedak Private Island. Selama pandemi, paket promo ditawarkan oleh banyak properti, termasuk The Sanchaya, dengan tarif mulai dari Rp9.000.000, inklusif transfer bandara, tes antigen, sarapan, serta makan malam berisi tiga hidangan.   

Kuliner
Di Tanjungpinang, kopitiam berserakan di kawasan belanja, terutama di Jalan Temiang. Kuliner khas lokal, keong laut gonggong, lazim disajikan di resto rumah panggung yang disebut kelong, salah satunya Kelong Ciuyong di tepi selat pemisah Bintan dan Pulau Pengujan. Di kawasan Lagoi, banyak orang umumnya makan di hotel, berhubung resto independen sangat minim. Tapi ada satu kedai sederhana di sini yang berhasil memikat tamu dari luar pulau—Lamak Basamo di Pujasera Lagoi.  

Wisata
Ada banyak aktivitas wisata di Bintan, mulai dari mendaki gunung, tur bakau, snorkeling, hingga aneka kegiatan untuk anak-anak. Khusus pemburu foto pranikah, Gurun Pasir Busung punya banyak penggemar. Momen paling ramai untuk liburan di Bintan ialah saat pulau ini menggelar acara akbar, contohnya Bintan Marathon, Tour de Bintan, serta Festival Pulau Penyengat. 

The post Kenapa Bintan Lebih Terkenal di Luar Negeri—dan Bagaimana Pandemi Mengubahnya appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Checking in: The Sanchaya https://destinasian.co.id/checking-in-the-sanchaya/ Mon, 03 May 2021 18:27:05 +0000 https://destinasian.co.id/?p=63894 Bintang di barat Indonesia, resor langganan selebriti ini punya standar kemewahan dan servis yang sulit disaingi.

The post Checking in: The Sanchaya appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Kolam hias yang diapit restoran dan bar di The Great House, bangunan utama resor. (Foto: The Sanchaya)

Oleh Cristian Rahadiansyah 

Di sejumlah sudutnya, Indonesia menyimpan kejutan: resor-resor klandestin yang menjanjikan kemewahan. Contohnya Amanwana di Sumbawa, Jeeva Beloam di Lombok, serta Bawah Reserve di Anambas. Untuk Pulau Bintan, satu nama yang menonjol dalam liga elite ini ialah The Sanchaya.

Lokasinya elok: kawasan rindang di teluk berpasir putih. Sementara servisnya dikawal standar superior. Magnus Olovson, General Manager Sanchaya, adalah alumni Peter Island, destinasi liburan kaum jetset. Karyawannya, yang ditempa oleh British Butler Institute, terlatih untuk mengingat dan mengantisipasi kebutuhan tamu. Magnet lain resor ini tentu saja desainnya yang eksperimental—kreasi apik dari P49 Deesign, firma spesialis properti mewah dengan portofolio meliputi Soneva Fushi Maldives dan Alila Oman.

Semenjak dibuka pada 2014, resor ini turut menempatkan Bintan dalam radar turis internasional, termasuk di kalangan selebriti. Bintang Bollywood Anil Kapoor dan Anupam Kher pernah menginap di sini. Aktor Inggris Dev Patel sudah berulang kali datang. Tentu perlu dicatat: jaringan sang pemilik berperan memikat mereka. Sanchaya adalah proyek personal Natalya Pavchinskaya, produser film Hotel Mumbai

Sanchaya bersemayam di tepi pantai pasir putih Teluk Lagoi, sisi barat laut Bintan. (Foto: The Sanchaya)

Lokasi
Singapura butuh tempat liburan akhir pekan untuk warganya, sementara Indonesia berambisi memikat turis. Simbiosis inilah yang melahirkan Bintan Resorts, megaproyek di barat laut Bintan. Dirintis pada 1990, kawasan berhutan seluas Kota Tangerang ini sekarang menaungi 19 properti, ditambah beragam fasilitas pelesir seperti kebun binatang dan padang golf. Di sini, Sanchaya bersemayam di Teluk Lagoi yang rindang. Dari Bandara Raja Haji Fisabilillah di Tanjungpinang, jaraknya sekitar 60 kilometer, setara Jakarta-Bogor, tapi jalannya bebas macet. Metode lain ke sini ialah via Singapura dengan menaiki feri cepat dari Terminal Tanah Merah menuju Dermaga Bandar Bentan Telani, sekitar 10 menit dari Sanchaya. Jalur mana pun yang dipilih, Alphard putih milik resor akan menjemput Anda, tanpa biaya ekstra. 

Ruang bersantai di Vanda Villa, akomodasi berisi empat kamar yang dilengkapi kolam renang privat. (Foto: The Sanchaya)

Konsep
Kontras dari para tetangganya di Bintan Resorts, Sanchaya lebih mirip rumah liburan keluarga, atau lebih tepatnya keluarga dalam daftar miliuner Forbes. Tawaran aktivitas dan menunya luwes dimodifikasi sesuai permintaan tamu. Setiap ruangannya punya dekorasi berbeda, termasuk pernak-pernik kuno yang didapat dari balai lelang dan toko barang antik. Demi menjaga privasi, tiap bangunan saling berjarak, dan tak satu pun dilengkapi eskalator, apalagi lift. Sejalan dengan konsep “rumahan” pula, tamu disapa dengan namanya. Bisa dibilang, ini tipikal resor yang rentan membuat tamu cukup puas bersantai sepanjang waktu, melewati hari tanpa rencana, persis seperti sedang bertamu ke rumah keluarga.

Kompleks vila berarsitektur Thailand yang ditata mengitari laguna. (Foto: Noel Yeo/Nudge Photography/The Sanchaya)

Desain
Jika ASEAN adalah sebuah hotel, wujudnya mungkin menyerupai Sanchaya. Visi desainnya: kolase pengalaman khas Asia Tenggara. Memasuki pelatarannya, tamu akan disambut bangunan megah yang menyerupai rumah liburan sultan Melayu era kolonial. Di kanan dan kirinya terdapat vila-vila yang terilhami rumah adat negara-negara ASEAN, termasuk Thailand, Vietnam, serta Myanmar. Narasi desain yang sedikit kontras tersaji di restoran, bar, dan perpustakaan. Di ketiga fasilitas komunal ini, firma P49 mengimpor estetika Eropa. Interior restoran lebih condong ke langgam country house. Barnya mengadopsi citra gentlemen’s club. Sedangkan perpustakaannya merefleksikan atmosfer European salon abad ke-19. Pada 2019, pihak pemilik memberi satu sentuhan modern tambahan: mural ilusi geometris karya artis Darel Carey.

Kamar mandi di tipe Suite dengan fitur bathtub dan keran klasik Lefroy Brooks. (Foto: The Sanchaya)

Kamar
Meski lahannya lapang, 9,6 hektare, resor independen ini menampung hanya 13 vila dan 17 kamar tipe suite, dengan ukuran mulai dari 70 meter persegi. Masing-masing interiornya sejalan dengan tema desain rumah Asia Tenggara. Itu artinya, menginap di tipe berbeda, tamu akan merasakan sensasi yang berbeda pula. Satu hal yang menyatukan semua kamar dan vila ialah fitur modernnya. Di antara artefak Vietnam dan sutra Thailand, terdapat pesawat televisi Bang & Olufsen, iPad berisi film-film populer, serta mesin kopi Malongo. Presentasi yang berkesan tersaji di kamar mandi. Berharap kamar mandi tak kalah artistik dari ruang tidur, firma P49 memasang tegel bermotif buatan APK Dawkoo, keran klasik Lefroy Brooks, toiletries Aesop, serta handuk buatan Ploh.

Area makan privat The Decanter yang mengoleksi beragam wine premium. (Foto: Noel Yeo/Nudge Photography/The Sanchaya)

Kuliner
Di Bintan Resorts, tamu umumnya bersantap di hotel, karena memang tak banyak opsi resto independen. Di Sanchaya, restoran utama The Dining Room mengoleksi hidangan eklektik Barat dan Asia. Dua menunya yang menonjol dalam hal rasa dan presentasi ialah chicken curry with roti paratha dan ikan asam pedas. Tiap masakan disajikan dengan piring Luzerne, ditemani opsi seasoning garam asal Inggris dan lada Kamboja. Untuk minuman, selain teh Ronnefeldt dan aneka jus segar, tersedia puluhan wine hasil kurasi sommelier Jeroen L’abee. Gerai lain resor ini, The Bar, mengoleksi sejumlah miras premium, termasuk pink tequila Passion dan Plantation Barbados Rum. Abib, mixologist alumni Ismaya, senantiasa siaga untuk meracik koktail sesuai selera, termasuk mengajarkan tamu cara meramu Bintan chili pineapple margarita. Koktail ini diciptakan pada 2018 sewaktu Sanchaya akan bergabung dalam grup bonafide Legend Collection Preferred Hotels.

Kolam renang sepanjang 50 meter yang menatap pantai dan lautan. (Foto: Noel Yeo/Nudge Photography/The Sanchaya)

Fasilitas
Bangunan utama resor menampung restoran, butik, bar, serta perpustakaan. Di serambinya selalu terparkir beberapa unit sepeda, sementara di area belakangnya terhampar kolam renang sepanjang 50 meter yang menyuguhkan panorama laut. Pusat kebugaran diletakkan di pondok khusus. Di sampingnya, ada zona spa yang menawarkan beragam perawatan, dari lulur Jawa hingga pijat ala Thailand. Opsi deep tissue massage layak dipertimbangkan. Terapisnya, perempuan asal Medan, memiliki kekuatan jari yang sepertinya sanggup melunakkan tembok, plus teknik terampil hasil latihan intensif bersama Alexander Ivanov, mantan konsultan Aman dan Como.

Staf tata graha membersihkan ruangan dengan disinfektan, bagian dari protokol kebersihan masa pandemi. (Foto: The Sanchaya)

Prokes
Mirip ITDC Nusa Dua, Bintan Resorts berbentuk gated community, walau kata gated mungkin kurang pas karena pagarnya berupa hutan rindang. Berkat konsep kompleks eksklusif inilah Bintan Resorts bisa mudah menerapkan contact tracing, dengan tingkat kedisiplinan paling tinggi di Indonesia. Di tiap tempat, dari hotel hingga pujasera karyawan, semua orang harus check in dan check out dengan memindai QR code. Selain itu, segenap karyawan properti, kecuali ekspatriat yang tersisa hanya segelintir, sudah divaksin. Di Sanchaya, protokol kesehatan juga diterapkan ketat. Area sentuh, termasuk gagang pintu kamar dan remote control TV, disterilkan setiap hari.

Matras dan zona bersantai di tipe Suite. (Foto: The Sanchaya)

Promo
Melihat standar kemewahannya (juga tarifnya), beberapa orang menjuluki Sanchaya sebagai “Aman versi Bintan.” Tahun ini, kita bisa mencicipinya dengan harga promo. Usai hiatus lama akibat pandemi, Sanchaya dibuka kembali pada 16 April 2021 dengan meluncurkan paket menginap akhir pekan mulai dari Rp9.000.000 per malam, inklusif transfer bandara, tes antigen, sarapan, serta makan malam berisi tiga hidangan. Saat memilih kamar, satu tips bagi tamu pasangan: suite sisi pojok di bangunan utama menyuguhkan panorama terbaik dari balkon. Bagi tamu keluarga, opsi ideal ialah Rumdul Villa (dua kamar) yang bernuansa Khmer atau Leelawadee Villa (tiga kamar) yang dilengkapi kolam renang privat. Khusus tamu rombongan, pilih Vanda Villa (empat kamar), pondok liburan langganan selebriti.  

Lagoi Bay, Teluk Sebong, Bintan, Kepulauan Riau; 0770/692-200; thesanchaya.com  

The post Checking in: The Sanchaya appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>