nepal Archives - DestinAsian Indonesia https://destinasian.co.id/tags/nepal/ Majalah travel premium berbahasa Indonesia pertama Thu, 07 Jan 2021 03:01:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 Kenapa Gletser Penting & Tempat Terdekat Melihatnya https://destinasian.co.id/kenapa-gletser-penting-tempat-terdekat-melihatnya/ Tue, 25 Aug 2020 09:37:59 +0000 https://destinasian.co.id/?p=58507 Dari Alaska hingga Indonesia, gletser terus menyusut. Tapi masih ada waktu untuk melihatnya.

The post Kenapa Gletser Penting & Tempat Terdekat Melihatnya appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Para pendaki melewati gletser saat menuju Zugspitze, gunung tertinggi di Jerman. (Foto: Alexej Bowdurez/Unsplash)

Sekilas, gletser menyerupai es batu: keras, dingin, berbahan dasar air. Mirip yang tersimpan di kulkas, tapi bedanya gletser terbentuk secara natural.

Kendati begitu, gletser berbeda dari bongkahan es. Ia bukan tebing beku atau bongkahan bening yang terapung di laut. Gletser dibentuk di darat dari kristalisasi salju dan es. Sedangkan bongkahan es disusun dari pembekuan air laut.

Perbedaan proses pembentukan itu berdampak berbeda pada alam. Saat mencair, gletser menambah volume air di bumi, sedangkan bongkahan es praktis hanya kembali ke wujud semula usai mencair.  

Dulu, pada Zaman Es, sepertiga daratan bumi terkubur oleh gletser. Kini, komposisinya hanya sekitar 10% atau sekitar 15 juta kilometer persegi—setara 30 kali luas Pulau Sumatera.  

Turis mendaki gletser di kawasan Patagonia, Argentina. (Foto: Dirk Spijkers/Unsplash)

Apa manfaat gletser?
Selain mendinginkan suhu bumi, gletser adalah sumber air tawar terbesar, jauh lebih besar dari danau ataupun sumur. National Snow & Ice Data Center mengklaim hamparan es gigantik ini menyimpan sekitar 69% air tawar dunia. 

Di Tiongkok dan India, banyak sungai utama berhulu pada salju dan gletser Himalaya. Di Swiss, para petani selama ratusan tahun menyandarkan air irigasi dari tetesan gletser. Sementara di Amerika Selatan, gletser memasok kebutuhan air minum bagi jutaan orang.

Baca Juga: 10 Satwa Terancam Punah & Habitat Mereka

Beberapa PLTA juga dihidupi oleh gletser. Contohnya terlihat di Norwegia, Kanada, dan Selandia Baru. Di sini, air yang mencair dibendung, kemudian dipakai untuk memutar turbin. 

Di Islandia, permukiman di kaki gletser adalah magnet wisata. (Foto: Joshua Howey/Unsplash)

Apa dampaknya jika gletser terus mencair?
Sejatinya, gletser senantiasa mencair dan menyusut, terutama di musim panas, tapi kemudian terbentuk kembali di musim dingin. Ancaman muncul jika proses pencairan lebih cepat dari proses pembekuan.

Itu sebabnya, gletser sering dijadikan barometer pemanasan global. Rumus simpelnya: jika bumi kian panas, gletser mencair kian cepat—dan akibatnya fatal bagi makhluk hidup. Contoh yang paling nyata ialah naiknya permukaan laut, yang kemudian berbuntut pada banjir.

Melihat kecepatan pencairan gletser saat ini, kenaikan air laut diprediksi mencapai satu meter pada akhir abad ke-21. Ilustrasi untuk membayangkan bahayanya: jika air laut meningkat satu sentimeter saja, sekitar satu juta orang di dataran rendah terpaksa mengungsi. 

Kiri-Kanan: South Sawyer Glacier di Alaska. (Foto: Steve Halama/Unsplash); Pemandu tur di Franz Josef Glacier, Selandia Baru. (Foto: Rony Zakaria)

Seberapa parah kondisinya sekarang?
Dari 1994-2017, dunia telah kehilangan 28 triliun ton es—cukup untuk mengubur seantero daratan Inggris. Ini kesimpulan mutakhir para peneliti Inggris yang dimuat dalam jurnal Cryosphere Discussions pada 14 Agustus 2020. 

Baca Juga: Destinasi Paling Ramah (& Tidak Ramah) Lingkungan

Dan ancaman genting itu belum berhenti. Dari Alaska, Himalaya, hingga Indonesia, banyak gletser konsisten menipis dan menyusut. Mengutip jurnal Nature, beberapa gunung akan kehilangan gletsernya pada akhir abad ke-21, dan dunia diprediksi kehilangan gletser sepenuhnya pada 2300.

Danau Griessee di Swiss mendapatkan pasokan airnya dari Gries Glacier. (Foto: Martin Adams/Unsplash)

Gletser ada di mana saja?
Walau mirip es batu, gletser tidak terpusat hanya di daerah dingin. Mayoritas memang berkumpul di Antartika, sementara sisanya tersebar di Greenland, Amerika Utara, Amerika Selatan, bahkan kawasan terik Afrika dan Asia.

Dunia mencatat ada sekitar 198.000 gletser yang tersebar di 50 negara. Pakistan mengoleksi gletser terbanyak di luar kawasan kutub. Sementara Indonesia memiliki lima gletser yang terkonsentrasi di Papua, walau dua di antaranya sudah punah menurut NASA Earth Observatory.

San Rafael Glacier di Cile terus menyusut dan melahirkan danau. (Foto: Jairo Gallegos/Unsplash)

Tempat terdekat untuk wisata gletser?
Wisata gletser sudah lama ditawarkan Selandia Baru. Tiga gletser andalannya ialah Fox, Franz Josef, dan Tasman. Metode terpopuler ke sana ialah menaiki helikopter, disusul eksplorasi jalan kaki di hamparan es.  

Pakistan, ibu kota gletser Asia, juga menawarkan beberapa operator tur gletser. Salah satu objeknya yang paling kondang, Chiatibo, sempat dikunjungi Pangeran William pada akhir 2019. 

Baca Juga: Cara Menghitung Emisi Anda—Dan Cara Menebusnya!

Destinasi klasik untuk wisata gletser tentu saja Nepal. Mendaki Himalaya dan menyaksikan hamparan es merupakan sumber devisa andalan negeri dataran tinggi ini. —Cristian Rahadiansyah  

The post Kenapa Gletser Penting & Tempat Terdekat Melihatnya appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Bulan Depan, Nepal Siap Sambut Turis Mancanegara https://destinasian.co.id/bulan-depan-nepal-siap-sambut-turis-mancanegara/ Thu, 23 Jul 2020 10:47:40 +0000 https://destinasian.co.id/?p=57406 Nepal resmi melanjutkan penerbangan internasional pada pertengahan Agustus tahun ini.

The post Bulan Depan, Nepal Siap Sambut Turis Mancanegara appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Perlahan namun pasti, beberapa negara sudah kembali membuka pintunya bagi turis asing. Nepal baru saja mengumumkan bakal melanjutkan penerbangan komersial internasional pada pertengahan Agustus mendatang, sekaligus membangkitkan kembali sektor pariwisata yang sempat mati suri akibat pandemi.

Nepal telah menutup bandara sejak akhir Maret silam untuk memerangi penyebaran Covid-19, yang sejauh ini telah menginfeksi 18.094 orang dan menyebabkan 42 orang meninggal.

Resmi dibuka pada 17 Agustus 2020, semua penumpang internasional yang datang harus menyerahkan sertifikat kesehatan yang menyatakan bahwa mereka bebas dari virus corona. Selain itu, mereka juga harus menjalani karantina selama beberapa hari.

Baca juga: Nepal di Mata Fotografer; Jumla: Tanah Terlupakan di Nepal

Untuk meminimalisir angka penyebaran virus, penduduk Nepal juga tetap harus melakukan jarak sosial dan menggunakan masker. Selain itu, sampai berita ini diturunkan, sekolah dan bioskop masih akan ditutup, dan melarang adanya pertemuan berskala besar.

The post Bulan Depan, Nepal Siap Sambut Turis Mancanegara appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Nepal, Destinasi Idaman Fotografer https://destinasian.co.id/nepal-di-mata-fotografer/ Wed, 11 Sep 2019 09:48:33 +0000 https://destinasian.co.id/?p=49063 Tak cuma populer di kalangan pendaki, Nepal rutin memikat fotografer. Kehadiran festival foto melengkapi tawarannya.

The post Nepal, Destinasi Idaman Fotografer appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Kuda pengangkut barang di jalur trekking Annapurna Circuit.

Teks & foto oleh Edy Purnomo

Aroma hio bercampur bau gosong ranting cemara merambat di gang-gang Desa Manang. Sayup-sayup terdengar pula gemerincing lonceng doa membuka pagi yang dingin. Di desa di kaki Himalaya ini, sekitar 4.500 kilometer dari Jakarta, menembus udara segar seraya menajamkan pancaindra untuk memotret ibarat merasakan “orgasme” fotografi.

Sebagai seorang fotografer yang menggemari trekking, saya senantiasa mencari destinasi di mana profesi dan hobi saya bisa berjalan beriringan—dan Nepal adalah salah satu tempat yang paling ideal untuk itu. Khusus trip kali ini, saya bahkan diganjar bonus menghadiri festival Photo Kathmandu.

Alam dan budaya adalah dua magnet utama Nepal. Selain rangkaian gunung jangkung bermasker salju, negeri atap dunia ini didiami 30 juta warga yang mayoritas tekun merawat tradisi dan agama. Demi menyaksikan itu semua, kaum penjelajah internasional rutin melawat Nepal, terutama setelah tim pimpinan Sir George Everest melakukan survei topografi Himalaya pada abad ke-19.

Seorang pemilik pondokan di Upper Pisang mengisi waktu sore.

Pendaki ulung (dan sugih) lazimnya membidik puncak-puncak yang paling semampai. Sebagian yang lain, termasuk saya, memilih trekking di jalur-jalur elok dataran tinggi, salah satunya Annapurna Circuit.

Annapurna Circuit, salah satu trek terpanjang di dunia, dinaungi pegunungan dengan elevasi antara 6.000-8.000 meter, contohnya Dhaulagiri, Machhapuchhre, Gangapurna, dan Manaslu. Sebagai perbandingan, Menara alam terjangkung di Indonesia, Puncak Jaya, tingginya “hanya” 4.884 meter.

Selain dikangkangi rantai pegunungan, jalur trekking ini dibelah persawahan, ditumbuhi hutan subtropik, serta ditaburi desa bersahaja yang menyandarkan hidupnya pada alam. Permukiman di dataran rendah umumnya didiami penganut Hindu, sementara pemeluk Buddha Tibet menghuni dataran tinggi seperti Manang dan Lower Mustang.

Kiri-kanan: Sawah di Bahudanda, Annapurna Circuit; Seorang trekker menyusuri jalur menuju Desa Ghyaru.

Saya mengawali trekking di Bhulbhule, sebuah desa di kawasan konservasi. Mengikuti meander Sungai Marshyangdi, saya merandai jalur naik turun, kadang meniti jembatan gantung yang dihiasi bendera-bendera doa sarat warna yang terus berkibar ditiup angin. Selalu ada yang menarik dipotret sepanjang jalan, baik gunung, sungai yang membelah tebing, ataupun penduduk dengan segala aktivitasnya.

Annapurna Circuit membentang 160-230 kilometer di pinggang Pegunungan Annapurna. Sepanjang jalur, ada banyak desa yang rutin dijadikan area transit pengelana, misalnya Bahundanda, Chamje, dan Dharapani. Usai lima hingga tujuh jam berjalan, saya lazimnya beristirahat di pondokan di desa, lalu mengambil kamera dan melakoni eksplorasi fotografi.

Tiap kali mengarungi desa di Nepal, saya mencoba mengenal kebudayaan lokal sekaligus memahami cara warga hidup di tengah gelombang modernisasi. Walau tanpa laut dan teronggok di atap dunia, Nepal sejatinya sudah terkoneksi dengan dunia. Turis dari penjuru bumi rutin mendatanginya. Tahun  lalu, angkanya mencetak rekor baru di atas  satu juta jiwa. Persinggungan transnasional itu juga berlangsung di jagat maya. Jaringan internet sudah terpasang di sini, dan media sosial bukanlah sesuatu yang asing bagi sherpa.

Siluet orang-orang di gerbang Desa Ranipauwa, salah satu titik transit di Annapurna Circuit.

Melanjutkan ekspedisi ke area Chame, hutan rhododendron dan sungai Marshyangdi mendominasi lanskap. Warga di sini dibentuk dari percampuran antara komunitas Gurung, Manangi, dan Thakali yang menghuni rumah-rumah tradisional berdinding batu.

Di etape berikutnya, saya memasukiUpper Pisang, di mana karakter lanskap bergeser dari hutan subtropis menjadi alpin. Kini tersaji padang lapang yang dikerumuni tanaman perdu yang pendek. Seiring itu, panorama kultural pun berubah haluan ke arah Tibet, seperti terlihat dari banyaknya gompa dan biara Buddha.

Memotret di dataran tinggi menuntut bekal khusus. Selain peralatan fotografi yang prima menghadapi cuaca ekstrem, kita membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan tipisnya udara. Kombinasi itu menentukan kadar kenikmatan trekking dan memotret.

Kiri-kanan: Atmosfer pagi di Desa Manang; Seorang pria berdiri di atap rumahnya di Desa Manang.

Manang, desa di ketinggian 3.540 meter, sedikit di bawah Gunung Semeru, adalah wadah populer bagi para trekker untuk melakukan aklimatisasi atau penyesuaian tubuh terhadap lingkungan baru, dalam hal ini dataran tinggi.  Selain menampung pondok-pondok rehat, desa terbesar di Annapurna Circuit ini memiliki sebuah klinik yang saban sore memberikan kuliah seputar AMS (acute mountain sickness).

Manang jugalah sentra turis yang populer. Desa ini mengoleksi sejumlah teater yang rutin memutar video-video bertema petualangan di Himalaya. Di antara sesi menonton, pengunjung bisa kongko santai di kedai-kedai kopi atau German bakery. Selagi melakukan aklimatisasi, saya bertamu ke biara-biara Buddha dan tempat-tempat fotogenik di sekitar desa, salah satunya Danau Gangapurna.

Titik tertinggi di Annapurna Circuit adalah Thorong La (5.416 meter). Dari sini, saya melewati persinggahan seperti Yak Kharka, Thorong Phedi, dan High Camp, selanjutnya menuruni medan ke arah Muktinath yang merupakan destinasi ziarah umat Hindu. Mendarat di Kagbeni, kompleks yang menyerupai desa warisan Abad Pertengahan, saya pun menutup trekking, walau trip ini sesungguhnya belumlah rampung. Seperti saya singgung di awal tulisan, ajang akbar Photo Kathmandu telah menanti  di ujung perjalanan.

Salah satu sudut Freak Street, gang yang sangat populer di kalangan hippies.

Bergeser 360 kilometer dari Annapurna Circuit, saya memasuki Ibu Kota Nepal tatkala Photo Kathmandu bersiap menyambut sesi Public Programming yang dijadwalkan bergulir dua pekan. Jika selama trekking saya dibombardir pemandangan elok, kali ini saya disuguhi foto-foto serius kreasi puluhan juru kamera.

Di kompleks tua Patan Durbar Square, bagian dari Situs Warisan Dunia, pengunjung hilir mudik mengamati foto-foto yang melekat di sebuah papan besar. Beberapa turis asyik mengamati foto dengan tangan memegang program book berisi peta, lokasi, dan daftar acara festival. Saya pun berpindah dari satu foto ke foto lain, sesekali memotret suasana Durbar Square dengan pendekatan street photography.

Photo Kathmandu adalah festival foto garapan lembaga edukasi Photo Circle. Hajatan ini awalnya dipusatkan di Patan, zona historis di Kathmandu, tapi kemudian panitia melebarkannya ke area-area lain. Satu aspek unik yang membuat festival ini punya banyak penggemar ialah kemasannya. Berbeda dari banyak festival yang “berjarak” dari lingkungan sekitarnya, Photo Kathmandu melebur natural dalam denyut kehidupan kota.

Warga memandangi foto peserta Photo Kathmandu di Patan Durbar Square.

Di jilid ketiganya akhir tahun silam, Photo Kathmandu menyoroti isu “gender, power, identity, patriarchy, and sexuality.” Foto-foto hasil seleksi dan kurasi dipajang di beragam lokasi, termasuk kedai kopi, pasar, gang sempit, hingga rumah warga. Menariknya, tak Cuma sejalan dengan tema kuratorial, foto-foto itu ditata sedemikian rupa agar harmonis dengan latarnya memakai pendekatan yang lazim dinamai “respons ruang.”

Ini kunjungan kedua saya ke Photo Kathmandu. Yang lebih mengesankan kali ini ialah pengalaman menelusuri kota untuk melacak venue festival. Sensasinya seperti berburu harta karun. Tiap penemuan adalah sebuah kejutan. Suatu kali, di tengah-tengah terpaan angina dingin, saya meringkuk di sebuah kafe di kawasan Freak Street dan menyaksikan beberapa foto yang dipajang di interiornya. Ditemani secangkir kopi, saya menyerap cerita tentang kaum hippies yang turut membentuk wajah daerah ini.

Berkat penataannya yang merakyat dan artistik, foto-foto yang dipajang dalam festival ini kerap berubah jadi target foto baru. Saya misalnya menemukan para perempuan yang menjajakan camilan di muka foto-foto arsip yang memperlihatkan kehidupan buruh Nepal di masa yang lalu. Paduan antara perempuan berbaju sari yang menyala dengan latar foto pameran dan lalu lalang orang seakan menambah energi kota ini.

Kiri-kanan: Pedagang sayur dengan latar foto peserta Photo Kathmandu; Seekor anjing terlelap di kaki foto yang dipajang di daerah Patan.

Atmosfer malam festival tidak kalah seru. Setiap pukul 19.00, komunitas fotografer bergabung dengan warga dan turis untuk menyaksikan slideshow foto. Plaza hingga tempat cuci baju diubah jadi teater nobar. Rampung pemutaran karya, tepuk tangan bergema, lalu para penonton berpencar menuju kafe-kafe sekitar untuk meneruskan malam. Ditunjang suasana festival yang cair, forum-forum dialog kasual di antara pengunjung begitu mudah tercipta di luar ruang-ruang acara.

Photo Kathmandu mendedahkan beragam wajah Nepal yang kerap luput dari mata turis. Berkat festival ini pula, Nepal merekah jadi destinasi yang kian memikat bagi para fotografer, terutama fotografer pencinta trekking seperti saya.

Pameran foto dalam Photo Kathmandu, festival yang digelar di beragam ruang publik.

PANDUAN
Rute
Kathmandu, gerbang utama Nepal, dilayani antara lain oleh Thai Airways (thaiairways.com) via Bangkok, Singapore Airlines (singaporeair.com) via Singapura, serta Malaysia Airlines (malaysiaairlines.com) via Kuala Lumpur. Visa bisa diurus di bandara dengan biaya $25, berlaku untuk 15 hari.

Informasi
Awalnya tahunan, Photo Kathmandu (photoktm.com) berubah jadi ajang bienial di jilid ketiganya, 2018. Jadwal 2020 belum dilansir, tapi festival ini lazimnya bergulir di akhir tahun, antara Oktober dan November. Photo Kathmandu diselenggarakan oleh Photo Circle (photocircle.com.np), lembaga edukasi yang juga mengelola arsip foto digital bernama Nepal Picture Library (nepalpicturelibrary.org).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Plato & Foto”).

The post Nepal, Destinasi Idaman Fotografer appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Lembah Jumla, Destinasi Baru di Nepal https://destinasian.co.id/jumla-tanah-terlupakan-di-nepal/ Mon, 21 Aug 2017 07:38:33 +0000 http://destinasian.co.id/?p=26146 Awalnya terisolasi, kawasan subur ini mulai membuka pintunya bagi dunia.

The post Lembah Jumla, Destinasi Baru di Nepal appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Tila Khola, anak Sungai Karnali, membelah Lembah Jumla dan memasok air irigasi.

Oleh Giacomo D’Orlando

Miskin dan terpencil, kawasan barat Nepal adalah destinasi yang lebih mudah mengundang air mata ketimbang tawa. Namun perubahan perlahan mulai bergulir. Harapan mulai berembus. Sinar terang kian benderang di ujung jalan.

Meski jarang dilirik wisatawan, kawasan barat Nepal sejatinya mengandung kekayaan yang tak tepermanai: panorama elok yang jarang dijamah turis, serta manusia-manusia ramah yang royal melempar senyum. Inilah satu dari sedikit tempat di mana kebahagiaan hadir dalam versinya yang rendah hati.

Kiri-kanan: Seorang wanita meniti jembatan seraya memanggul seikat dahan kering; seorang perempuan memanen gandum sebelum musim hujan datang.

Pijakan ideal (dan fotogenik) untuk memulai penjelajahan di sini adalah Lembah Jumla. Ceruk megah ini telah memiliki fasilitas yang cukup memadai bagi pengelana. Momen terbaik untuk berkunjung adalah musim semi ketika seantero lembah menyuguhkan wajah tercantiknya: lanskap yang menembakkan aneka warna berkat keragaman tanaman di banyak ladang.

Lembah Jumla dibelah oleh Sungai Tila Khola yang mengalirkan air sebening kristal. Dari sungai besar inilah para petani mendapatkan pasokan air irigasi. Tapi sesungguhnya bukan cuma petani yang menikmati keberadaannya. Bantaran sungai merupakan lahan favorit bagi anak-anak setempat untuk bermain dan berenang, juga wadah reguler bagi kaum wanita untuk bersua dan bersilaturahmi, sembari mencuci pakaian dan perangkat makan. Atmosfernya memang udik, tapi rentan menenggelamkan kita dalam alam kehidupan bersahaja khas pedesaan.

Seorang bocah bersantai di pelataran rumahnya sebelum berangkat ke sekolah.

Penduduk Lembah Jumla, sebagaimana umumnya warga Nepal, mematuhi laku spiritual yang ketat. Hampir setiap hari pria dan wanita dewasa di sini berziarah ke kuil Hindu Chandannath Mandir untuk beribadah dan menyembah dewa-dewi. Keunikan kuil keramat ini terletak pada bagian yang disebut Lingo, yakni sebatang kayu dengan panjang sekitar 15 meter yang dibalut kain merah. Kayu ini mesti diganti saban tahun saat kuil menyambut festival akbar yang dihadiri segenap penghuni lembah. Lingo jugalah ornamen yang mistis. Banyak orang percaya, bala akan menimpa mereka jika kayu ini patah ketika diganti.

Jumla, kota terbesar di Lembah Jumla, bertengger di ketinggian 2.514 meter dan dikepung rantai perbukitan hijau yang berhulu di Himalaya. Kota ini digerakkan mesin perekonomian yang sederhana. Warga pada dasarnya mengail nafkah dari bisnis wisma tamu, restoran, toko kelontong, dan kios souvenir yang menjajakan pakaian dan kerajinan tangan. Modernisasi baru menampakkan secuil wajahnya di sini.

Kuda-kuda pekerja merumput di Lembah Jumla.

Seperti perekonomiannya, wujud akomodasi yang ditawarkan juga sederhana. Tidak banyak opsi penginapan karena memang tak banyak turis yang berkunjung, walau meski dicatat dalam beberapa bulan terakhir sejumlah pengusaha telah berani mengerek hotel-hotel kelas menengah demi memikat lebih banyak pelancong.

Di luar batas kota, warga menyandarkan hidup sepenuhnya pada pertanian, pada kesuburan tanah dan kemurahan hujan. Hidup di sini memang tak menawarkan banyak pilihan. Ladang-ladang yang mengukir lembah umumnya ditanami barli, gandum, kentang, dan kacang-kacangan yang memasok kebutuhan pangan lokal. Pada ketinggian 2.400 hingga 3.000 meter, ladang dicetak dengan model sengkedan dan ditanami varietas beras merah. Tiap musim panen, pemandangannya menyerupai lukisan sureal.

Seorang wanita memanen gandum di sore hari.

Komoditas andalan lokal lainnya adalah apel. Apel produksi Jumla sangat tersohor di Nepal berkat kelezatan rasanya. Buah ini juga telah melahirkan produk olahan brandy yang berhasil menembus pasar ekspor berkat kualitasnya. Selain apel, warga lembah menanam tanaman herbal yang lazim dipakai dalam pengobatan Ayurveda, termasuk untuk meracik yarsagumba, semacam “Himalayan Viagra” yang diklaim mujarab meningkatkan vitalitas dan stamina.

Meskipun terlihat sukses, sektor pertanian lokal sebenarnya baru benar-benar dikembangkan dalam beberapa tahun belakangan. Problem utama wilayah ini adalah suhunya. Sepanjang musim gugur dan musim dingin, suhu bisa menyentuh titik ekstrem minus 15 derajat celsius, hingga membuat kehidupan masyarakat amat sulit dan segala upaya budi daya mustahil dilakukan. Masalah lainnya ialah minimnya keahlian bertani, mulai dari teknik bercocok tanam hingga metode penyimpanan hasil panen.

Danau Rara, danau terbesar di Nepal yang bertengger di ketinggian 3.000 meter

Isu-isu tersebut bisa teratasi berkat kehadiran LSM, salah satunya Apeiron asal Italia. Melihat potensi pertanian lokal yang menjanjikan, institusi ini meluncurkan sejumlah inisiatif pengembangan, produksi, konservasi, serta pemasaran kentang. Melalui kemitraan dengan LSM lain yang beroperasi di Lembah Jumla, Apeiron menggelar serangkaian penyuluhan yang mengulas teknik produksi, metode penyimpanan hasil panen, juga jurus-jurus pemasaran dan penjualan produk. Dua ilmu yang terakhir ini berhasil meningkatkan kapasitas para petani dalam membuka pasar hingga ke luar Jumla sekaligus memperbaiki kesejahteraan mereka.

Semua perkembangan positif itu turut didukung oleh upaya perbaikan infrastruktur. Dulu, lembah subur ini seperti terkunci dari dunia luar. Jaringan jalan raya sangat terbatas, dan kondisinya kian parah saat cuaca sedang tak bersahabat. Tatkala salju menerjang di musim dingin dan hujan badai melanda di musim panas, Lembah Jumla terisolasi sepenuhnya. Alam di sini memang melenakan mata, tapi tak selalu ramah bagi manusia.

Seorang Sadhu (pria suci) di Kuil Chandannath Mandir.

Perubahan mulai terlihat ada awal 2016. Berkat tekanan dari warga lokal, pemerintah Nepal akhirnya tergerak untuk membangun jalan baru dan jaringan komunikasi. Proyek-proyek ini di saat yang bersamaan memudahkan turis untuk mendatangi Jumla dan menikmati kemolekan alamnya.

Terbukanya akses memberi manfaat pula bagi daerah-daerah di sekitar Jumla. Setidaknya kaum petualang kini bisa lebih gampang menjangkau dan mengarungi Jalur Rara, salah satu rute trekking paling terpencil di Nepal yang terkoneksi ke Distrik Mugu di tepian danau raksasa.

Seorang wanita melepas lelah usai bekerja seharian.

Kawasan Rara dinaungi pegunungan yang mengular panjang di mana hutan beriklim sedang dan padang rumput Alpen menyelimuti lembah-lembah curam. Jalur Rara telah ditawarkan segelintir operator tur, namun rute trekking ini masih berada di luar radar mayoritas turis. Menyusurinya akan memberi kita kesempatan menyerap pemandangan dan mengenal kebudayaan yang sangat berbeda dari belahan lain Nepal. Magnet utama jalur ini tentu saja Danau Rara, danau terbesar di Nepal, yang termasyhur akan keunikan warna airnya saat tersiram cahaya senja. Konon katanya, warnanya bisa mencapai tujuh macam.

Kawasan Rara dan Jumla bagaikan mimpi basah bagi kaum pencinta alam. Tapi harta terbesar kedua tempat pelosok ini adalah para penghuninya. Bisa menjumpai penduduk setempat, juga mencicipi tradisi dan kebudayaan mereka, akan memberi kita perspektif segar tentang kehidupan yang jarang terlihat sebelumnya. Sebuah kehidupan di mana alam begitu berkuasa dan kebahagiaan hadir dalam kesederhanaan.

Permukiman yang menjulur di dasar lembah di Distrik Mugu.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2017 (“Sujana Jumla”).

The post Lembah Jumla, Destinasi Baru di Nepal appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Pesona Magis Bhutan https://destinasian.co.id/pesona-magis-bhutan/ Mon, 30 Dec 2013 06:11:32 +0000 http://destinasian.co.id/?p=6503 Pemandangan yang sublim, warga yang ramah, dan pondokan mungil adalah daya tarik Bhutan.

The post Pesona Magis Bhutan appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Pemandangan kota Bhutan yang memukau.
Pemandangan kota Bhutan yang memukau.

Oleh Christopher P. Hill
Foto oleh Martin Westlake

Tekstur jalanan ini menghasilkan efek pijat. Anda menyukainya?” tanya pemandu saya yang bijak sekaligus kocak, Sangay Dorji. Dengan perut mual dan tubuh yang menciut di kursi belakang, saya kesulitan mencerna lelucon tersebut. Minivan Hyundai yang kami tumpangi melompat-lompat di tikungan yang dikawal jurang, meluncur ke kaki gunung dari Dochula Pass. Sangay memutar tubuhnya, lalu dengan mata berbinar melontarkan lelucon berikutnya: “tak perlu berterimakasih, pijat ini gratis, ha ha ha!”

Sangay terlihat sudah kebal terhadap vertigo yang disuntik-kan oleh dataran tinggi Bhutan. Pria yang mengenakan busana nasional gho bermotif kotak-kotak ini menjemput kami di bandara di Paro sehari silam, dan sejak itu dia tak berhenti berkelakar. Suatu kali, dia bertanya: “definisi pernikahan yang sempurna di Bhutan? Suaminya tuli, istrinya buta, ha ha ha!

Kendati bergaya pelawak, pria berusia 28 tahun ini lebih cocok disebut pusat informasi turis. Bibirnya terus membeberkan aneka data dan fakta tentang Bhutan, hingga saya merasa sedang membaca halaman Wikipedia. Dalam mobil yang bermanuver zigzag di pinggang gunung berselimutkan alder, cypress, bambu, dan kayu putih, kami belajar banyak hal tentang Bhutan. Bahwa negeri seukuran Swiss ini memiliki luas 38.394 kilometer persegi. Bahwa 72 persen wilayahnya dilapisi hutan. Bahwa hampir setengah pendapatannya bersumber dari bisnis hidroelektrik, proyek yang memproduksi 1.500 megawatt listrik, yang sebagian besar diekspor ke negara tetangga—India. Bahwa alamnya dihuni 620 spesies burung, 46 jenis tanaman rhododendron, 2.674 danau gletser, serta (menurut sensus terakhir) 716.896 manusia. Fakta lain yang tak kalah penting, jalan yang sedang kami susuri ini berbelok tiap sembilan detik.

Kiri-kanan: Biara Taktsang dengan konstruksinya yang mengagumkan; Seorang gadis lokal dengan busana khas.
Kiri-kanan: Biara Taktsang dengan konstruksinya yang mengagumkan; Seorang gadis lokal dengan busana khas.

Ketika saya merenungkan semua data tersebut, sebuah truk penuh dekorasi yang jelas-jelas kelebihan muatan, melewati kami di sebuah tikungan tajam dan meninggalkan suara gemuruh. Di samping pintunya tertulis, “Good Luck”. Saya lalu bertanya kepada Sangay, seberapa banyak “luck” yang dibutuhkan untuk selamat di rute uji nyali ini.

“Tak perlu khawatir, Chris,” jawabnya sembari melirik ke sang sopir yang bertampang serius. “Teman saya, Lekey, sangatlah berbakat. Seorang profesional sejati. Bagaikan Michael Schumacher versi Bhutan!”

Bhutan adalah negeri yang penuh senyum. Walau alam mengurungnya. Meski budaya mistik mengisi raganya. Di kerajaan ini, metode keluar-masuk paling praktis adalah menaiki Drukair, satu dari hanya dua maskapai nasional Bhutan. Armadanya cuma tiga unit Airbus dan sebuah turboprop berkapasitas 48 kursi. Tiap pilotnya mesti mengikuti latihan intensif sebelum mengangkasa di atas pegunungan menuju Lembah Paro.

Di Bhutan, tidak ada lampu lalu lintas. Tidak ada pencakar langit. Tidak ada papan reklame. Dan tidak ada gerai Starbucks maupun KFC. Kesejahteraan tidak diukur memakai parameter Produk Domestik Bruto (PDB), melainkan indeks misterius yang disebut Kebahagiaan Domestik Bruto. Prioritas negara ini bukan uang, tapi pembangunan yang berkelanjutan, serta pelestarian budaya dan lingkungan.

Pariwisata baru dirintis pada 1974. Sejalan dengan semangat untuk memproteksi alam dan budaya, pemerintah setempat memberlakukan aturan ketat di sektor turisme. Pelancong tidak bisa datang semaunya. Tiap orang diwajibkan memesan paket tur. Regulasi ini bertujuan menangkal infiltrasi backpacker, agar negeri ini tidak bernasib seperti Nepal. Kondisi tersebut sebenarnya menguntungkan bagi pengunjung, terutama jika kita telah mampu beradaptasi dengan jalan-jalan berbahaya dan tradisi memasak lokal yang ekstrem.

Negeri yang pernah menganut feodalisme ini memang tertutup, tapi tidak sepenuhnya terisolasi. Televisi dan Internet hadir 14 tahun silam. Kendati demikian, eksotismenya masih terawat. Bhutan adalah salah satu benteng terakhir bagi Buddha Tantrayana, ajaran yang merangsek pada abad ketujuh dari Tibet dan kini menjadi arteri spiritual yang menghubungkan komunitas-komunitas di lokasi yang berjauhan.

Negeri yang berada di tengah udara tipis Himalaya ini juga mengoleksi bangunan yang evokatif, seperti citadel megah yang disebut dzong (kombinasi biara dan balai kota), serta rumah-rumah berbahan lumpur dan kayu di desa-desa. Peraturan mengharuskan semua struktur mengaplikasikan gaya adat lokal, seperti atap pelana dan jendela berbingkai kayu. Inilah yang membuat kota-kota di Bhutan, termasuk ibu kotanya, Thimphu, terus memancarkan aura abad pertengahan.

Kiri-kanan: Selasar tengah Punakha Dzong, bangunan yang didirikan pada 1673; Biksu dan lonceng doa di Punakha Dzong.
Kiri-kanan: Selasar tengah Punakha Dzong, bangunan yang didirikan pada 1673; Biksu dan lonceng doa di Punakha Dzong.

Pemerintah juga menerapkan aturan berpakaian. Di ruang publik, sejak pagi hingga sore, warga diwajibkan mengenakkan pakaian tradisional. Pria memakai gho, kostum mirip tunik, ditambah kaus kaki sebatas lutut. Sedangkan wanita memakai gaun bersetagen yang disebut kira, dengan tambahan blus lengan panjang dan selendang di bahu. Berada di tengah-tengah mereka, saya merasa sedang menghadiri pesta kostum.

Warga umumnya sangat percaya diri, baik hati, dan rupawan. Figur ideal Bhutan adalah Jigme Khesar Namgyel Wangchuck, raja berusia 33 tahun lulusan Oxford; serta permaisuri cantik Jetsun Pema. Potret keduanya terpampang di mana-mana, layaknya bendera-bendera doa.

Raja sebelumnya, Jigme Singye, dikenal berjiwa progresif sekaligus penuh perhitungan. Pada 2005, dia menggegerkan dunia lewat keputusannya untuk turun takhta dan mentransformasi Bhutan menjadi negara demokrasi parlementer. Penerusnya, Khesar, tak kalah karismatik. Dia mengambil hati pengikutnya lewat aksi “sidak” ke desa-desa terpencil untuk menyapa warga dan menggelar dialog di tepi jalan. Penguasa yang kerap disebut King Five (penguasa kelima dalam garis keturunan ningrat dalam satu abad terakhir) ini bahkan memiliki akun Facebook.

Penginapan-penginapan mewah adalah magnet Bhutan lainnya. Dua perintisnya adalah Amankora dan Uma Paro. Yang terakhir ini dibuka di Paro pada 2004 dan kini telah memiliki properti kedua di Lembah Punakha, sekitar lima jam berkendara ke arah timur laut. Grup lainnya, Taj asal India, mengelola hotel elegan berisi 66 kamar di Thimphu.

Dari ketiganya, Aman adalah yang paling ekspansif. Grup ini mendirikan lima kompleks penginapan butik di lima lembah berbeda, walau semuanya menyandang nama yang sama: Amankora. Paket utamanya adalah menyelami kehidupan di Bhutan dengan menginap di kelima kompleks tersebut—berpindah dari satu pondokan ke pondokan lain, dari satu lembah ke lembah lain. Tur lintas-lembah ini tecermin dalam nama “kora” yang artinya “berziarah” dalam bahasa nasional Dzongkha.

Kiri-kanan: Sarapan di Amankora; Kamar di Amankora.
Kiri-kanan: Sarapan di Amankora; Kamar di Amankora.

Saya pun mencicipinya. Di hari pertama, saya bermukim di Amankora Thimphu yang hinggap di lereng rindang di atas ibu kota Bhutan. Di sini pula untuk pertama kalinya saya menyantap daging yak (disajikan dalam bentuk sandwich yang diikat cabai dan disebut Yak Attack), serta tidur di ruang berpanel kayu yang dilengkapi kompor bukhari.

Kembali ke jalan, saya dan rombongan kini meluncur ke Lembah Phobjikha, di mana delapan suite Amankora ditata rapi di atas bukit berbalut hutan pinus. Kami sempat berhenti dua kali di tengah jalan, untuk meluruskan kaki di antara stupa-stupa di Dochula Pass, lalu menggelar piknik makan siang di tepi sungai yang berarus deras. Jarak dari Thimphu ke Lembah Phobjikha sangat jauh, dan terasa kian menguras energi akibat proyek perbaikan jalan di etape terakhir.

Kami melewati puncak lembah dalam kondisi gelap. Lampu mobil menangkap siluet kawanan yak di pinggir jalan. Akhirnya, kami mendarat di depan pondokan, lalu melangkah di atas jalan berlapiskan jarum-jarum pinus kenyal menuju meja berisi makanan dan wiski. Usai perjalanan yang melelahkan, mendarat di hotel terasa begitu menyenangkan. Mungkin inilah Kebahagiaan Domestik Bruto ala Bhutan.

Déjà vu. Inilah kesan yang pertama muncul saat saya memasuki kamar. Amankora cabang Gangtey dan Thimphu menampilkan desain interior serupa. Hanyalah panorama di balik jendela yang membuat kedua properti tersebut terasa berbeda.

Desain Amankora menggabungkan gaya modern dan tradisional.
Desain Amankora menggabungkan gaya modern dan tradisional.

Di Gangtey, saya menatap Lembah Phobjikha, hamparan masif berisi lahan basah dan kebun kentang yang dihiasi rumah-rumah petani berparas putih di ketinggian 3.000 meter. Pada punggung bukit di kejauhan, ada Gangtey Goemba, biara dari abad ke-16. Kami mengunjunginya setelah sarapan, mengikuti Sangay yang berjalan searah jarum jam di ruang doa bagaikan ritual pradaksina di candi-candi Buddha.

Daya tarik utama lembah ini adalah crane berleher hitam. Tiap awal Oktober, ratusan ekor crane bermigrasi dari Tibet ke sini guna menghabiskan musim dingin. Sangay mengantar kami ke desa terdekat. Kami meniti rute yang dikawal barisan pinus dan bambu kerdil. Selama 40 menit menyusuri tepian lembah, kami hanya bertemu satu orang, yakni seorang wanita sepuh yang berjalan tertatih dengan tumpukan jarum pinus di kepalanya. Kata Sangay, jarum pinus itu akan dicampur dengan feses sapi untuk membuat pupuk kandang.

Tiba di sebuah bukit kecil, kami berjongkok untuk menonton kawanan crane. “Crane membawa berkah,” kata Jigme Tanzin, seorang asisten manajer di Amankora. “Berkat mereka, lembah ini terlindungi. Anda tidak akan melihat kabel telepon atau listrik.”

Kami menikmati makan malam berisi pangsit daging babi dan labu kari di gudang kentang dekat resor. Gudang sedang kosong, tak ada tumpukan kentang malam ini. Interiornya diterangi puluhan lilin. Udaranya dihangatkan oleh kompor portabel bukhari. Gudang ini agak menakutkan sekaligus magis. Layaknya ruang diskusi cerita-cerita hantu.

Untungnya, Jigme mengangkat tema budaya, persisnya tentang adat lokal yang kian memudar. Dia mengambil contoh ritual kencan yang lazim dijuluki “malam berburu.” Inti ritual ini adalah, atas dasar suka sama suka, seorang pemuda akan menyelinap ke rumah seorang gadis di malam hari untuk bercumbu. Jika sang pemuda berhasil keluar dari rumah sebelum tertangkap basah oleh orang tua si gadis, maka ia tak wajib menikahinya.

Rumah petani sepuh yang kini menampung ruang makan, perpustakaan, dan area meditasi di Amankora Punakha.
Rumah petani sepuh yang kini menampung ruang makan, perpustakaan, dan area meditasi di Amankora Punakha.

Bagaimana jika sang pemuda ingin menikahi sang gadis? tanya saya. “Dia akan sengaja berdiam di rumah itu untuk kemudian sarapan bersama.”

Usai sarapan, kami kembali ke minivan dan menuju Lembah Punakha, kembali melewati rute berat seperti di hari sebelumnya. Tapi kali ini kami tidak mengambil arah Dochula Pass, melainkan meniti meander Sungai Punatshang yang berwarna hijau giok ke arah utara. Di tengah jalan, mobil melewati reruntuhan Wangdue Phodrang Dzong yang terbakar pada musim panas tahun lalu. “Ini dzong tertua ketiga di Bhutan,” kenang Sangay dengan nada miris. “Sangat menyedihkan.”

Kami terus menelusuri rute yang menguras stamina sekaligus menyihir mata. Kendaraan melewati Punakha Dzong yang berdiri di depan pertemuan dua sungai, lalu ke Amankora Punakha. Pondokan ini berdiri di atap bukit kecil. Sawah dan kebun buah mengelilinginya. Di pusat resor ada sebuah rumah petani tua yang disewa dari keluarga kerajaan.

Memasuki Amankora Punakha adalah sebuah atraksi yang menyenangkan. Kami menyeberangi jembatan gantung kayu yang terus berderit saat diinjak. Di bawah kaki mengalir Sungai Mo yang dihuni ikan trout. Di ujung jembatan, sebuah buggy telah menanti.

Sisa waktu sore saya habiskan dengan menikmati kombinasi menu barbeku dan wine asal Chili, lalu menjelajahi ruang ibadah di Punakha Dzong. Dindingnya yang dipercantik fresco memantulkan rapalan doa para biksu dan irama menghanyutkan dari alat musik jaling.

Momen favorit saya berlangsung pada sesi koktail. Di teras gelap resor, saya menyaksikan tradisi penyambutan pengunjung khas Bhutan. Para tamu berkerumun erat di tengah udara dingin. Tubuh mereka dibalut selimut wol dan dihangatkan oleh segelas arak beras bercampur mentega yak. Sebuah keluarga dari dusun tetangga kemudian menari dan menyanyi di sekeliling api unggun. Embusan angin berulang kali melemparkan percik-percik api ke arah si kakek, menantunya, serta bocah mungil yang dibungkus gho. Namun mereka tak peduli. Keluarga ini terus saja berputar-putar, bertepuk tangan, menari riang mengikuti irama dari masa silam.

Tentu saja, suguhan itu hanyalah atraksi yang dipersembahkan pihak resor kepada para tamu. Tapi, di lembah Bhutan yang magis ini, peristiwa yang sudah diatur pun bisa terasa autentik.

Saya menghabiskan hari terakhir di Paro, tempat Grup Aman mendirikan pondokan pertamanya. Untuk menjangkaunya, kami melewati Dochula Pass dan menembus Thimphu. Ekspedisi maraton ini berlangsung di jalan penuh keelokan. Hanya ada satu jalan aspal lurus, membentang pararel sepanjang dua kilometer di sebelah landasan udara Paro. Kata Sangay, ini jalan lurus satu-satunya di Bhutan.

Seperti pondok-pondok lainnya, Amankora Paro menawarkan gaya estetik yang menyeimbangkan antara bahan-bahan rustic dengan fitur-fitur mewah yang memanjakan tamu, contohnya bathtub berbahan terrazzo dan ranjang empuk megah. Semuanya teronggok di tengah hutan pinus di atas Desa Balakha.

Kiri-kanan: Pemandu di halaman tengah Paro Dzong; Pintu menuju ruang belajar di Gantey Goemba.
Kiri-kanan: Pemandu di halaman tengah Paro Dzong; Pintu menuju ruang belajar di Gantey Goemba.

Gunung Jhomolhari (7.300 meter) terlihat jelas dari jendela paviliun resepsionis. Meski begitu, obyek tontonan yang paling diincar kebanyakan tamu adalah Biara Taktsang (“Sarang Harimau”). Inilah bangunan yang paling banyak dipotret di Bhutan. Bertengger di tebing tinggi di atas Lembah Paro, Taktsang bisa dijangkau dengan mendaki selama dua jam—klimaks dari tur mayoritas wisatawan di Bhutan.

Hari ini, saya memutuskan untuk tidak menyambangi Sarang Harimau. Lelah usai berkendara dan pusing akibat menetap di ketinggian, saya memilih berendam di bak batu panas bergaya alfresco di spa milik resor. Senja terakhir saya di Bhutan tidak diisi dengan meniti rute di lereng gunung, melainkan duduk dalam balutan kabut beraroma ramuan di tepi sebuah rawa pakis. Diukur memakai parameter Kebahagiaan Domestik Bruto, jelas saya kini merasa sangat bahagia.

DETAIL
Bhutan

Rute
Bandara Paro, gerbang utama Bhutan, bertengger di ketinggian 2.200 meter. Drukair (drukair.com.bt) melayani penerbangan ke sini dari Delhi, Kathmandu, Kolkata, Bangkok, dan Singapura. Aplikasi visa mesti diurus sebelum mendarat. Tiap wisatawan diwajibkan datang dalam rombongan tur atau menggunakan paket yang ditawarkan pihak hotel.

Penginapan
Kamar tipe suite di kelima kompleks Amankora (amanresorts.com) dipatok mulai dari $775 per malam per orang, mencakup makanan, minuman, penatu, dan transfer bandara. Tamu yang menginap minimum tujuh malam akan mendapatkan bonus gratis sewa kendaraan, sopir, dan pemandu. Satu yang harus diingat, wisatawan asing tidak diizinkan mengemudikan kendaraan di Bhutan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2013 (Feature: “Negeri di Atas Awan”)

The post Pesona Magis Bhutan appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>