kopi Archives - DestinAsian Indonesia https://destinasian.co.id/tags/kopi/ Majalah travel premium berbahasa Indonesia pertama Tue, 07 Jan 2025 06:02:39 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 4 Spot Baru di Jakarta dari Restoran Mewah Sampai Gerai Kopi Premium https://destinasian.co.id/4-spot-baru-di-jakarta-dari-restoran-mewah-sampai-gerai-kopi-premium/ Mon, 11 Nov 2024 03:49:58 +0000 https://destinasian.co.id/?p=77205 Belasan restoran baru hadir di Jakarta pada Oktober lalu. DestinAsian Indonesia merekomendasikan empat restoran yang patut dicoba.

The post 4 Spot Baru di Jakarta dari Restoran Mewah Sampai Gerai Kopi Premium appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Empat spot kuliner baru di Jakarta. (Foto: Bacha Coffee Plaza Indonesia)

Jakarta tak pernah bisa diam dengan segala kreasinya. Berbagai restoran baru dari kami lima sampai bintang lima banyak dibuka.  Mereka hadir dengan gaya dan cita rasanya masing-masing, membuat warga kota harus benar-benar memilah restoran mana yang memang patut dicoba.

DestinAsian Indonesia mengunjungi beberapa di antaranya dan telah merangkum empat restoran dengan genre berbeda yang bisa jadi rekomendasi.

Berikut empat restoran baru di Jakarta:

1. Markette

Sukses dengan gerai pertamanya di Kota Kasablanka, Markette kembali membuka gerai keduanya di Grand Indonesia. Gerai keduanya ini didesain dengan gaya yang lebih modern dan didominasi warna cokelat kayu dengan pencahayaan kuning untuk melengkapi desain minimalisnya. 

Dengan berbagai hidangan gourmet ala western yang berkonsep crafted gourmet dining, restoran ini mengusung sandwich gourmet sebagai andalannya. Setiap sandwichnya dibuat secara handmade dan disajikan dengan salad segar serta kentang goreng tipis yang renyah. 

Ada berbagai varian sandwich yang bisa dinikmati di sini, antara lain Birria Sandwich, triple cheese mushroom sandwich, dan Markette’s sandwich. Salah satu yang paling unik adalah birria sandwich yang dibuat dari lapisan roti sourdough dan ditumpuk dengan daging birria atau daging kambing khas Meksiko dan dilengkapi dengan keju mozzarella serta mayones. Uniknya, dalam sajiannya, sandwich ini juga disajikan bersama dengan kaldu birria gurih sebagai celupan roti. 

Selain sandwich, ada berbagai menu lain yang disajikan, seperti roasted chicken skillet yang disajikan dengan butter rice, spaghetti carbonara, pesto salmon gnocchi, sampai leftover lasagna

Baca Juga: Wajah Baru Sofitel Sydney Wentworth

2. The Nineteen Jakarta

Baru dibuka beberapa minggu silam, The Nineteen Jakarta hadir sebagai tujuan gastronomic baru, terutama bagi para penggemar steik. Restoran ini merupakan kolaborasi antara Savaya Group dan juga Chef Cedric Vongerichten.

Interior The Nineteen Jakarta. (Foto: The Nineteen Jakarta)

Pengalaman bersantap diwarnai oleh elemen kejutan yang menarik di berbagai aspek, terutama pada desain interiornya. 

Atrium utama restoran tampil menawan dalam balutan gaya Neoklasik. Namun, tilik lukisan-lukisan yang ada, dan Anda akan menemukan beragam twist unik. Primadona kulinernya mencakup Australian Grass-Fed Ribeye, Miyazaki Wagyu A5 Striploin, dan seafood tower. Jangan lewatkan juga chocolate layer cake yang menggoda.

Baca Juga: The Standard Singapura Dibuka Pada 28 November 2024

3. LAPO Porsea

LAPO Porsea, yang baru buka Oktober lalu, dengan berani hadir untuk meredefinisikan rumah makan khas Batak ke level yang lebih tinggi, atau dengan kata lain Fine Batak Cuisine. Restoran ini mengangkat kuliner tradisional khas Sumatera Utara dengan sentuhan dan twist yang lebih modern. Interiornya pun diset semi fine dining, dengan sentuhan budaya melalui material bebatuan, kain ulos ratusan tahun dan patung-patung yang terpajang di beberapa sudut restoran.

Sebagai seseorang yang bukan berasal dari suku Batak, Executive Chef LAPO Porsea Patrese Vito justru merasa senang dan tertantang dalam menyajikan makanan karena bisa mengeksplor cita rasa kuliner Batak dari sisi lain dan menyesuaikannya dengan lidah warga Jakarta. Chef Vitto menghighlight penggunaan bahan-bahan premium termasuk daging Iberico dan Miyazaki A5 untuk meningkatkan kualitas hidangannya.

Beberapa menu yang patut dicoba antara lain Sate Babi Panggang, Naniura yang zesty, serta Saksang, Tanggo-Tanggo, dan Nila Bakar Na Tinombur yang flavoury dengan bumbu andalimannya.

LAPO Porsea berlokasi di SCBD Park, Jakarta Selatan, buka setiap hari di jam makan siang 11.00-14.30 WIB, dan jam makan malam 17.30-22.00 WIB.

Baca Juga: Four Seasons Hotel New York Kembali Dibuka

4. Bacha Coffee

Bacha Coffee buka store terbarunya di Plaza Indonesia. (Foto: Bacha Coffee)

Bacha Coffee, brand kopi premium asal Maroko membuka gerai keduanya di Plaza Indonesia. Gerai dengan nuansa warna ochre dan keemasan ini terlihat menonjol dan elegan. Deretan berbagai jenis kopi dari seluruh dunia, termasuk Indonesia juga dihadirkan di sini.

Namun berbeda dengan Bacha coffee yang ada di Plaza Senayan, store terbaru ini tidak memiliki coffee room untuk drink-in. Store ini hanya memiliki butik coffee dan juga layanan take away untuk pengunjung yang ingin menikmati secangkir kopi hangat atau dingin.

“Konsep Coffee Boutique dan Takeaway di Plaza Indonesia hadir untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat terhadap kopi premium di Jakarta, sekaligus menawarkan perpaduan apik akan kemewahan dan kenyamanan,” ungkap Gabrielle Halim, CEO Erajaya Food & Nourishment.

Ada sekitar 200 jenis kopi 100 persen Arabika yang didatangkan dari 35 wilayah penghasil kopi terbaik dari seluruh dunia, seperti Semenanjung Arab, Amerika Tengah dan Selatan, Karibia, dan Asia. Para pengunjung bisa menikmati aneka ragam kopi Single Origin, Fine Blended, Fine Flavoured, dan Naturally CO2 Decaffeinated. Para pengunjung dapat menelusuri berbagai koleksi kopi dalam kemasan, baik untuk dinikmati sendiri maupun sebagai bingkisan hadiah yang istimewa. Nikmati juga aneka pastry yang menggoda selera untuk disantap bersama kopi.

“Bacha Coffee adalah merek yang berkembang melalui sejarah panjang sejak 1910. lainnya. Kami menawarkan pengalaman yang menggabungkan masa lalu dan masa kini, menjadikan 100% kopi Arabika sebagai pemeran utamanuya,” ungkap Taha Bouqdib, Presiden & CEO V3 Gourmet dalam pernyataannya.

Aneka kopi premium ini bisa dinikmati dengan harga dari Rp145.000-Rp1.695.000 per cupnya untuk kopi single origin Paralso Gold Coffee dari Brasil.

(Myranda Fae/Abdurrahman Karim)

The post 4 Spot Baru di Jakarta dari Restoran Mewah Sampai Gerai Kopi Premium appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Kenapa Medan Dijuluki Poros Kopi Sumatera? https://destinasian.co.id/kenapa-medan-dijuluki-poros-kopi-sumatera/ Mon, 13 Apr 2020 09:37:40 +0000 https://destinasian.co.id/?p=54778 Melawat beragam kedai, bertemu petani, melacak kopi-kopi legendaris Sumatera.

The post Kenapa Medan Dijuluki Poros Kopi Sumatera? appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Oleh Tonggo Simangunsong
Foto oleh Albert Ivan Damanik

Medan tak punya kebun kopi,” kata Suyanto Husein, “tapi kota ini sudah menjadi poros kopi Sumatera sejak 1800-an.”

Saya menemui Suyanto di Cerita Kopi, sebuah kedai di Medan yang dikelola oleh AEKI (Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia) cabang Sumatera Utara dan berperan layaknya “rumah kedua” bagi para anggota asosiasi senior ini. Suyanto jugalah seorang veteran di jagat perdagangan kopi. Terjun ke bisnis emas hitam sejak 1980-an, dia pernah memimpin perusahaan eksportir kopi Gunung Lintong dan menjabat Ketua AEKI.

Ditemani kopi panas, Suyanto mulai menuturkan sejarah kopi Mandailing, komoditas tersohor asal Sumut. Alkisah, pada abad ke-19, Belanda mulai menanam kopi di dataran tinggi Danau Toba, bagian dari Keresidenan Tapanuli yang beribukota Sibolga. Dari Toba, kebun kopi ini kemudian menyebar ke wilayah Dairi, Sipirok, Lintong Ni Huta, hingga Mandailing Natal. Mengandalkan sistem tanam paksa, Belanda menyulap Sumut menjadi salah satu lumbung kopi Nusantara.

Kiri-Kanan: Agunarta Manik, barista Saabas, memperlihatkan biji-biji Arabika kopi Simalungun di Pamatang Sidamanik; Salimin Djohan Wang, pemilik Kedai Repvblik Kopi.

Kopi Mandailing muncul dari latar itu, namun dengan sejarah yang berkelok janggal. Pada mulanya, namanya berarti “kopi asal Mandailing,” tapi komoditas ini lalu berkembang jadi semacam “merek generik” yang mewakili seluruh kopi asal Tapanuli, terlepas di mana kebun sebenarnya berlokasi.

“Saya masih ingat pada awal-awal 1980-an ketika Henry dari Nomura Jepang ingin mengirim kopi ke Jepang, dia menamainya kopi Mandailing meski kopinya berasal dari Lintong dan Sipirok,” kenang Suyanto. Ironisnya, perkebunan kopi di Mandailing kini sudah jauh meninggalkan masa jayanya.

Usai menyimak kisah kopi Mandailing, saya meluncur ke Kabupaten Simalungun untuk mengenal kopi lain khas Sumut yang berhasil menjala pasar internasional. Usai menaiki bus selama hampir empat jam, saya mendarat di Desa Sinaman II, Kecamatan Pematang Sidamanik. Di sini, saya menemui Ludi Antoni Damanik, petani kopi yang juga Ketua Koperasi Produsen Sumatera Arabica Simalungun.

Kiri-Kanan: Seorang pekerja pengolahan biji di Rumah Produksi Saabas, Pamatang Sidamanik; Aneka kopi hasil racikan Agunarta Manik, barista Saabas.

Toni menyandarkan hidupnya pada kopi Simalungun. Bersama istrinya, dia mengelola perkebunan kopi dan bisnis pemrosesan biji kopi. Saya bertamu ke rumahnya dan mencicipi hasil keringatnya. Di pojok ruang tamu terdapat mesin espresso dan berbagai alat seduh seperti gilingan biji, cerek leher angsa, dan V60 dripper. Beberapa menit berselang, secangkir double espresso terhidang di hadapan saya.

Kata Toni, perkebunan kopi di Simalungun berlangsung sejak zaman kakeknya, sekitar 1907. Pamor kopi ini sempat tenggelam setelah Nederlandsche Handel-Maatschappi membuka perkebunan teh di Sidamanik pada 1917 dan menggeser citra daerah ini sebagai produsen teh. “Sebenarnya, sebelumnya sudah ada kopi. Cuma tak seluas di daerah lain,” katanya.

Warga sekitar awalnya fokus menggarap varietas robusta, tapi seiring meningkatnya harga arabika pada awal 1990-an, mereka pun beralih. Pada 2013, grafik dagang kian membaik setelah para petani membentuk koperasi. Mereka mengedukasi pasar, memperbaiki pola budi daya, serta memperkuat posisi tawar dengan pembeli. “Dari semula hanya bisa [menghasilkan] sekitar satu kilogram per pohon, belakangan sudah bisa tiga hingga lima kilogram per pohon. Hasil panennya juga sudah bagus. Petani hanya memanen biji merah,” jelas Toni.

Proses pengemasan biji Arabika Simalungun, salah satu komoditas ekspor terlaris asal Sumatera.

Momen penting lain bagi bisnis kopi Simalungun datang pada 2015 saat pemerintah memberikan sertifikat Indikasi Geografis Kopi Arabika Simalungun kepada Pemkab Simalungun. Dengan sertifikat ini, kopi Simalungun menjadi terminologi dagang yang diproteksi autentisitasnya, bukan lagi merek generik yang boleh dicatut oleh daerah lain.

Toni mengajak saya berkeliling ke kebun kopi, lalu mengunjungi sebuah dapur produksi di belakang rumah yang menyimpan peralatan seperti mesin huller dan sangrai. “Ini honey process, tak banyak,” ujarnya seraya menunjukkan biji kopi dalam keranjang.

Selain pasar domestik, Toni dan para petani koleganya telah berhasil menjala pembeli dari luar negeri, termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan Timur Tengah. “Bahkan kopi Simalungun sudah dibeli Starbucks,” tambahnya bangga. “Sekarang tinggal bagaimana petani bisa konsisten menjaga kualitas.”

The post Kenapa Medan Dijuluki Poros Kopi Sumatera? appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>