gadget Archives - DestinAsian Indonesia https://destinasian.co.id/tags/gadget/ Majalah travel premium berbahasa Indonesia pertama Wed, 08 Aug 2018 03:07:33 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 Nasib Akhir Samsung Galaxy Note 7 https://destinasian.co.id/nasib-akhir-samsung-galaxy-note-7/ Wed, 19 Oct 2016 10:40:37 +0000 http://destinasian.co.id/?p=22185 Ponsel pintar keluaran Korea Selatan ini resmi dilarang di semua penerbangan.

The post Nasib Akhir Samsung Galaxy Note 7 appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Selesai sudah perjalanan gajet Samsung Galaxy Note 7. Ponsel pintar yang mengalami gangguan di bagian baterai ini resmi ditarik dari peredaran. Tak hanya itu, Samsung juga menghentikan produksinya. Akan tetapi, dari jutaan unit yang telah terjual, tak semua pemiliknya sudah mengembalikan atau menukarkan gawai tersebut.

Oleh karena itu banyak pihak yang mengeluarkan larangan resmi atas ponsel pintar yang bisa terbakar ini. Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta misalnya, papan pengumuman pelarangan membawa gajet ini ke dalam pesawat dipasang di konter-konter check-in maskapai. Selain itu, pengumuman secara lisan juga kerap terdengar di seantero bandara.

Bandara Internasional Hong Kong juga melakukan hal serupa. Mereka melarang keras penumpang untuk membawa terbang Samsung Galaxy Note 7. Pelarangan ini resmi dikeluarkan pada 17 Oktober 2016 menyusul peraturan resmi yang diterbitkan oleh Departemen Transportasi Amerika Serikat. “Penumpang dilarang membawa Galaxy Note 7 baik secara personal, di tas, maupun bagasi dalam penerbangan dari dan ke Hong Kong,” demikian kurang lebih bunyi pengumuman yang disebar di bandara.

Di Negeri Paman Sam sendiri kini membawa Galaxy Note 7 ke dalam penerbangan merupakan tindak kriminal. Siapapun yang melanggar bisa dikenakan denda hingga $179.933 atau hukuman kurungan penjara hingga 10 tahun. Larangan lebih serius ini diambil setelah terjadi kurang lebih 100 kasus Galaxy Note 7 yang terbakar secara tiba-tiba. Sebelumnya, maskapai hanya melarang penumpang untuk menyalakan atau menggunakannya sepanjang penerbangan.

Jemput bola
Meski instruksi untuk mengembalikan Galaxy Note 7 telah dikeluarkan oleh Samsung Electronics, namun beberapa ratus ribu unit masih berada dalam peredaran. Guna mempercepat pengumpulan produk gagal tersebut, raksasa elektronik Korea Selatan itu melakukan sistem jemput bola dengan membuka kios-kios di bandara internasional. Lokasinya tersebar mulai dari Australia (Sydney dan Melbourne), Korea Selatan (Incheon), Taiwan (Taipei, Kaohsiung, Taichung, dan Taipei Songshan), Singapura, serta Amerika Serikat.

Seperti dikutip dari Fortune, di kios tersebut Samsung menawarkan gift card tambahan senilai $25 jika menyerahkan Galaxy Note 7. Tersedia juga diskon sebesar $100 jika menukarkan gawai tersebut dengan ponsel Samsung tipe lainnya. Data juga bisa langsung ditransfer ke ponsel pengganti di situ juga.

The post Nasib Akhir Samsung Galaxy Note 7 appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
6 Kamera Mini Untuk Petualangan Ekstrem https://destinasian.co.id/6-kamera-mini-untuk-petualangan-ekstrem/ Mon, 25 Apr 2016 00:49:22 +0000 http://destinasian.co.id/?p=19972 Kamera berukuran mungil dengan performa impresif di segala kondisi.

The post 6 Kamera Mini Untuk Petualangan Ekstrem appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
GoPro bukan satu-satunya kamera mini yang bisa merekam momen-momen spektakuler di medan ekstrem. Berikut enam pesaing terkuatnya.

SJCam SJ5000X Elite
Memakai perangkat mungil dan praktis keluaran SJCam ini, kita tak perlu lagi cemas hasil dokumentasi akan keruh atau berbayang. Pasalnya, SJ5000X Elite telah dilengkapi fitur anyar Gyro Anti-Shake yang berfungsi mengeliminasi efek getaran pada sensor. Berkat teknologi canggih ini pula, kita bisa merekam video berkualitas prima 1080p dalam format slow-mo dengan kecepatan jepret yang luar biasa, 240 frame per detik. sjcamhd.com.

Sony AZ1VR
Dibekali layar terpisah, Sony AZ1VR adalah solusi bagi mereka yang gemar merekam peristiwa unik dari sudut unik. Usai mengaktifkan fitur rekam pada layar eksternal seukuran kotak korek api (yang bisa dilekatkan pada pergelangan tangan), lens Zeiss pada tubuh kamera ini akan mengabadik momen dengan perspektif 170 derajat tanpa distorsi berkat kehadiran fitur wide angle. sony.com.

Ricoh WG-M1
Didedikasikan bagi kaum petualang tulen, WG-M1 mengusung tubuh perkasa yang dibungkus materi karet dan baja. Perangkat keluaran Ricoh ini tahan banting dari ketinggian dua meter, sanggup menyelam hingga kedalaman 10 meter, serta mampu bertahan di suhu minus 10 derajat celsius. Kendati demikian, kekuatan dahsyat itu harus dikompensasi oleh bobotnya yang lumayan boros: 190 gram. ricoh-imaging.co.uk.

Polaroid Cube+
Kamera berkonsep “point & shoot” ini didesain guna memudahkan mobilitas. Tubuhnya dibalut lapisan karet agar tahan banting dan antiair. Agar pengguna bisa leluasa memotret, Cube+ dilengkapi kartu memori berkapasitas 128GB. Di bagian bawahnya terpasang magnet yang membuat peranti ini bisa dilekatkan di beragam benda logam, termasuk helm, setang sepeda, atau atap mobil. polaroid.com.

Xiaomi Yi
Jangan menilai buku dari sampulnya. Kendati mirip kotak korek api, Xiaomi Yi sejatinya punya fitur yang impresif. Benda berbobot hanya 72 gram ini dilengkapi kamera 16MP, kemampuan rekam 1080p, serta koneksi nirkabel guna mengoperasikan kamera dari jarak jauh serta mengirimkan hasil jepretannya ke telepon genggam. xiaomi-mi.com.

Samsung Gear 360
Kamera seukuran bola ping pong ini dilengkapi dua lensa fisheye beresolusi 15 megapiksel yang sanggup merekam video 360 derajat beresolusi tinggi (3840×1920 piksel) dan mampu mengambil gambar dengan resolusi 30 megapiksel. Teknologi kamera ini juga memungkinkan pengguna untuk merekam video wide 180 derajat. Teknologi Bright Lens F/2.0 juga memudahkan pengguna mengambil gambar di lingkungan minim cahaya. Pengoperasiannya pun cukup mudah. Gear 360 bisa langsung diselaraskan dengan gajet Samsung untuk melihat gambar sekaligus menyimpan dan mengunggahnya ke media sosial. Gear 360 hanya bisa digunakan dengan ponsel pintar terbaru Samsung dan mulai dipasarkan pada Juni 2016. samsung.com.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2016 (“Rekam Jejak”)

The post 6 Kamera Mini Untuk Petualangan Ekstrem appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Sensasi Makan Cara Lokal https://destinasian.co.id/sensasi-makan-cara-lokal/ Tue, 01 Mar 2016 02:54:20 +0000 http://destinasian.co.id/?p=19489 Aplikasi ponsel pintar yang mengajak Anda untuk makan di rumah warga lokal.

The post Sensasi Makan Cara Lokal appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Bagaikan Airbnb untuk makanan, aplikasi PlateCulture mengajak kita menikmati kuliner lokal yang dibuat oleh koki lokal di rumah warga lokal. Cara kerjanya sederhana: cukup pilih negara yang dituju, maka profil sejumlah koki rumahan akan muncul di layar telepon genggam Anda, lengkap dengan menu-menu andalan dan tarif makannya. PlateCulture hingga kini mengoleksi sekitar 300 koki rumahan yang tersebar di 32 negara, mulai dari Indonesia, Vietnam, Hong Kong, hingga Brazil. Berhubung kursi makan di rumah warga terbatas, sebaiknya lakukan reservasi setidaknya tiga minggu sebelum trip.

Informasi lebih lanjut, kunjungi PlateCulture.

The post Sensasi Makan Cara Lokal appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Aplikasi Wajib Bagi Penyelam https://destinasian.co.id/aplikasi-wajib-bagi-penyelam/ Tue, 22 Sep 2015 04:04:15 +0000 http://destinasian.co.id/?p=16165 Aplikasi untuk merekam aktivitas menyelam sekaligus menemukan lokasi-lokasi baru.

The post Aplikasi Wajib Bagi Penyelam appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Di era digital segalanya bisa dibuat serba-praktis. Termasuk aktivitas menyelam. Kini penyelam tak perlu membawa buku konvensional untuk mencatat semua kegiatan menyelamnya. Aplikasi DivePlanit memungkinkan penggunanya untuk mencatat semua detail selam, mengunggah dan berbagi foto ke penyelam-penyelam lain yang menggunakan aplikasi tersebut maupun memakai aplikasi media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Google+.

Dengan fitur petanya, aplikasi ini juga bisa menandai lokasi selam mana saja yang telah dikunjungi serta menemukan lokasi baru lewat informasi yang dibagi oleh penyelam lain. Yang lebih menyenangkan, tersedia juga ensiklopedia ikan (Fish ID) lengkap dengan foto yang memudahkan pengguna untuk mengidentifikasi ikan-ikan yang ditemui kala menyelam. Tak hanya itu, mereka juga bisa mengunggah ikan-ikan temuannya ke dalam daftar aktivitas menyelamnya. Untuk saat ini, DivePlanit hanya tersedia untuk gajet berbasis iOS.

Informasi lebih lanjut, kunjungi DivePlanit.

The post Aplikasi Wajib Bagi Penyelam appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
5 Aplikasi Penerjemah Jempolan https://destinasian.co.id/5-aplikasi-penerjemah-jempolan/ Fri, 03 Oct 2014 07:34:05 +0000 http://destinasian.co.id/?p=11099 Kami rekomendasikan lima aplikasi penerjemah yang bisa membantu liburan Anda.

The post 5 Aplikasi Penerjemah Jempolan appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Oleh Reza Idris

Lima aplikasi yang siap membunuh kamus saku.

1. Vocre Translate
vocre.com; gratis; iOS, Android
Bagaikan penerjemah di ruang konferensi PBB, Vocre mampu menghadirkan diskusi multibahasa. Begitu diaktifkan, aplikasi ini akan menampilkan dua layar. Sisi pertama untuk pengguna, sementara sisi kedua untuk berinteraksi dengan lawan bicara. Dari tiap kata yang diketik, layar kedua secara otomatis menampilkan hasil terjemahan ke bahasa yang dipilih. Dan bukan cuma interaksi teks, tapi juga suara. Tiap pembicaraan pada Vocre juga bisa disimpan agar kelak dapat digunakan saat pengguna berada di kawasan yang terisolasi dari jangkauan internet.

The post 5 Aplikasi Penerjemah Jempolan appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Menguji Kamera Panasonic Lumix DMC-GX7 https://destinasian.co.id/menguji-kamera-panasonic-lumix-dmc-gx7/ Wed, 30 Jul 2014 03:48:21 +0000 http://destinasian.co.id/?p=10035 Panasonic membidik segmen street photographer melalui kamera retro bertubuh ringan dan tangguh.

The post Menguji Kamera Panasonic Lumix DMC-GX7 appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Oleh Oscar Siagian

Panasonic membidik segmen street photographer melalui kamera retro bertubuh ringan dan tangguh.

Panasonic memanaskan kompetisi di kategori kamera digital rangefinder melalui Lumix DMC-GX7, kamera mirrorless dengan interchangeable lens. Parasnya retro dan ukurannya praktis: sekitar 10 milimeter lebih jangkung dari mayoritas seri Sony Cyber-shot, tapi masih lebih pendek dari kamera retro pesaingnya, Fujifilm X-E2. Saya mencobanya di sejumlah ruas jalan di Jakarta dan Tangerang. Dalam banyak aspek, GX7 cocok digunakan penggemar street photography. Tombol pengaturannya mungil, fokusnya responsif dengan 23 focus point, sementara shutter-nya dilengkapi opsi silent guna meredam suara mekanik, jadi tidak menyedot perhatian saat dipakai di tengah kerumunan.

Dengan tubuh berbahan magnesium alloy, kamera berbobot 402 gram ini juga relatif tangguh, walau lensa standarnya yang berbahan plastik cukup membuat saya waswas saat berkeliaran di gang-gang padat. Berkat tubuhnya yang ringan, kamera yang memiliki besaran sensor 17,3 x 13 mm dan resolusi 16 megapiksel ini sangat menunjang pengambilan gambar dengan speed rendah. Tangan saya tidak bergetar saat memotret. Satu yang juga penting dicatat, GX7 merupakan kamera pertama di keluarga seri G Panasonic yang menyematkan fitur images stabilizer terintegrasi di bodinya. Sayangnya, saat merekam video memakai lensa manual atau lensa “third party,” fitur tersebut tidak berfungsi.

GX7 juga tidak mewadahi microphone eksternal untuk perekaman video. Fitur-fiturnya variatif dan menarik dijelajahi. Guna membantu fotografer pemula, GX7 menawarkan beragam filter, contohnya monochrome, star filter, dan vivid. Dari uji coba, ada satu tips yang penting diingat: selalu setel ISO di bawah 2.000. Pada ISO di atasnya, misalnya 3.200, kamera kesulitan menangkap detail, bahkan efek grainy terasa mengental. Tips lainnya lagi: siapkan media penyimpan tambahan. File mentah foto berukuran 17 MB dan berformat full HD untuk file videonya.

Electronic Viewfinder (EVF) dan layar dengan fleksibilitas tilting sangat menunjang pemotretan lowangle, walaupun tampilan di layar ini sulit dijadikan patokan bagi akurasi warna subyek. Untuk memudahkan pengecekan hasil foto, aktifkan fitur Wi-Fi di kamera, lalu transfer gambar ke gajet yang layarnya lebih lebar. Saat dibawa trip, kontras dari mayoritas smartphone atau tablet, GX7 tak akan membuat Anda pusing mencari
soket, sebab kamera ini dibekali baterai yang prima.

Cukup mengisinya sekali, saya bisa memproduksi beberapa ratus gambar selama empat hari. Sebuah keunggulan yan tentunya menunjang kerja seorang street photographer.

Oscar Siagian adalah fotografer asal Jambi dan pernah menerima beasiswa dari Art Network Asia serta mengikuti lokakarya di Angkor Photo Festival. Karyanya pernah dimuat di media asing ternama semacam The New York Times, The Guardian, dan LIFE. Dokumentasi terbarunya adalah aktivitas perburuan paus di Lamalera.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Jul/Ags 2014 (“Pejalan Tangguh“)

The post Menguji Kamera Panasonic Lumix DMC-GX7 appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Review: HTC One (M8) https://destinasian.co.id/review-htc-one-m8/ Tue, 08 Jul 2014 08:11:48 +0000 http://destinasian.co.id/?p=9712 Menjajal ponsel berbahan metal kokoh dengan kamera responsif. Cocok sebagai teman perjalanan.

The post Review: HTC One (M8) appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Oleh Yohanes Sandy

Tahun 2013, ponsel HTC One merebut perhatian pasar dengan desainnya yang mewah dan performanya yang prima. Tahun ini, pabrikan ponsel asal Taiwan tersebut merilis generasi terbaru dari HTC One dengan desain yang lebih sleek dan fitur-fitur yang tak kalah menarik. Kami mencobanya dalam perjalanan langsung ke Amsterdam.

Desain
Untuk urusan ukuran, banyak yang berubah dari HTC One terbaru ini dibandingkan dengan pendahulunya. Secara tampilan, ponsel baru ini terlihat lebih modern. Kesan industrial yang kokoh dihadirkan lewat material aluminium yang anti gores. Desain barunya pun mengeliminasi kesan kotak dari pendahulunya. Tak hanya itu, ponsel generasi baru ini juga lebih ergonomis dengan sisi belakang melengkung sehingga pas di genggaman tangan. Meski kini tebalnya hanya 9,35mm dengan berat 160gram—lebih tipis dan ringan dibandingkan pendahulunya, HTC berhasil menghadirkan slot microSD yang tidak ditemukan di versi lamanya. Dengan fitur ini maka kapasitas penyimpanannya bisa di-upgrade hingga 128 gigabit.

Performa
Selain desain, mesin juga mengalami perubahan. HTC One (M8) dipasangi prosesor Quad-Core 2,3GHz Krait 400 dengan Adreno 330 dan RAM 2GB serta Qualcomm Snapdragon 801. Kombinasi ini menghasilkan pengoperasian aplikasi dan gim-gim yang membutuhkan resolusi tinggi berjalan cukup lancar tanpa kendala berarti. Layar yang disematkan pun kini 3mm lebih lebar dibandingkan seri lamanya. M8 menggunakan monitor selebar lima inci dengan resolusi 1080 x 1920 piksel. Bagi yang menggilai performa audio mumpuni, ponsel yang baru dirilis di Indonesia pada pertengahan Juni silam ini dilengkapi dengan speaker Boomsound. Alhasil, suara yang dikeluarkan cukup renyah dengan bas yang mumpuni.

Pada 2013, HTC memperkenalkan konsep kamera baru yang mereka sebut dengan UltraPixel. Teknologi ini memungkinkan kamera untuk menangkap obyek di lingkungan minim cahaya dengan cara menaikkan sensor pikselnya sehingga hasilnya sangat mumpuni. M8 masih mengadopsi teknologi tersebut dan menambahkan satu lagi kamera di belakang. Fungsi kamera belakang ganda adalah untuk menangkap foto sekaligus menambah sensor depth. Hasilnya, foto terlihat seperti diambil menggunakan kamera profesional. Selain itu, M8 juga dilengkapi dengan kamera depan beresolusi 5 megapiksel.

Keunggulan
Fitur lainnya tak kalah menarik dibandingkan ponsel Android terbaru di pasaran, namun kecanggihan kamera menjadi primadona ponsel ini. Kualitas foto yang dihasilkan cukup mumpuni. Berkat Duo Camera-nya, fokus lensa menjadi sangat responsif. Cukup dengan satu kali sentuh, kamera akan fokus ke obyek yang diinginkan secara cepat layaknya kamera DLSR. Selain itu, tanpa perlu mengubah ke mode tertentu, kamera ini bisa digunakan untuk mengabadikan obyek bergerak dengan hasil yang tak mengecewakan. Mengambil foto di tempat minim cahaya juga sangat terbantu dengan kehadiran two-tone flash yang mampu menyesuaikan keadaan cahaya untuk mengurangi overexposure. Kamera depan beresolusi tinggi juga cukup berguna bila Anda ingin mengabadikan momen ketika traveling sendirian. Hasilnya cukup jernih tanpa banyak grainy. Fitur Blinkfeed yang hanya bisa ditemukan di HTC One juga sangat membantu untuk mengkurasi situs-situs penting yang bisa diakses dengan sangat mudah dari halaman home. Selayaknya perangkat traveling penting, HTC One (M8) mampu mengakomodasi kebutuhan sebagai pengakses informasi di internet hingga kamera canggih namun praktis.

HTC One (M8) sudah tersedia di toko-toko ponsel dengan harga mulai dari Rp9.000.000

The post Review: HTC One (M8) appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Mengetes Lumia 1020 di Finlandia https://destinasian.co.id/mengetes-lumia-1020-di-finlandia/ Thu, 19 Jun 2014 07:30:43 +0000 http://destinasian.co.id/?p=9308 Menguji langsung ponsel berkamera 41 megapiksel di negara pembuatnya.

The post Mengetes Lumia 1020 di Finlandia appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Oleh Cristian Rahadiansyah

Lumia 1020 melambungkan mobile photography sebagai cabang yang kian serius. Nokia pernah menjadi ponsel pertama hampir semua orang di Indonesia. Kini, ia hendak menjadi ponsel favorit semua fotografer. Misi itulah yang tampaknya diemban Lumia 1020. Perangkat canggih ini lebih mirip kamera yang dibekali fungsi telepon, ketimbang telepon yang dilengkapi fungsi kamera. Kameranya dipersenjatai sensor 41 megapiksel, enam lensa Zeiss, serta optical image stabilization—kombinasi ampuh untuk menghasilkan gambar yang kaya detail, meski di kondisi minim cahaya.

Kiri-kanan: Berinteraksi dengan penduduk sekitar; piring tradisional Finlandia.

Layaknya kamera SLR , Lumia 1020 menawarkan sistem pengaturan white balance, ISO, shutter speed, dan brightness. Semuanya cukup diterapkan pada layar, tanpa harus menekan banyak tombol layaknya SLR . Tapi daya tarik terbesarnya mungkin fitur dual capture. Inilah yang menjadikan Lumia 1020 spesies yang paling memikat dalam jagat mobile photography. Dari setiap jepretan, smartphone ini memproduksi dua foto (dan dua file) sekaligus. Foto pertama memiliki resolusi 38 megapiksel dengan ukuran file mencapai 13 megabit—sangat mumpuni untuk dicetak dalam ukuran poster. Sementara foto kedua yang beresolusi lima megapiksel bisa langsung disebar di jaringan sosial maya. Foto kedua ini juga bisa dimodifikasi di layar ponsel memakai fitur crop atau filter warna.

“Lumia 1020 bukan cuma mengutamakan kualitas foto, tapi juga menjanjikan proses edit yang menjadi pengalaman baru bagi pengguna,” ujar Juha Werkkala, staf divisi produk dan pemasaran Nokia di Helsinki. “Produk ini memiliki kamera dengan spesifikasi terbaik, bukan hanya dalam portofolio Nokia, tapi juga di antara seluruh telepon genggam di pasar.”

Kiri-kanan: Anjing di depan rumah tradisional; patung Alexander II di Helsinki.

Dalam sesi uji coba selama empat hari di Finlandia, saya menggunakan mode “auto” untuk memotret subyek dalam beragam kondisi cahaya. Untuk foto makro, enam lensa Zeiss pada Lumia 1020 cukup ampuh untuk menangkap detail yang luput dari mata. Sedangkan saat memotret lanskap, lapisan-lapisan warna lembut pada langit dipertegas guna memberi efek dramatis dan kontras.

Lanskap kota Helsinki diabadikan menggunakan Lumia 1020.

Tapi bukan cuma kameranya yang mumpuni. Beberapa aplikasi Lumia 1020 sangat membantu kerja fotografer. Maps misalnya, berfungsi menampilkan peta dan obyek-obyek menarik di sekitar tempat kita berada. Aplikasi lawas “Drive” juga masih tersedia. Layaknya navigator pembalap, Drive memandu pengendara lewat instruksi suara. Aplikasi-aplikasi fungsional itulah yang sebenarnya menjadikan Lumia 1020 ancaman serius bagi kamera saku. Cukup dengan satu gajet, kita bisa memiliki sekaligus buku panduan wisata, navigator berkendara, serta kamera dengan megapiksel yang lebih tinggi dari Sony Nex-7.

Foto diambil menggunakan Lumia 1020 yang dipinjamkan oleh Nokia Indonesia.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Jun 2014 (“Revolusi dari Helsinki”)

The post Mengetes Lumia 1020 di Finlandia appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
9 Aplikasi Penting Untuk Traveler https://destinasian.co.id/9-aplikasi-penting-untuk-traveler/ Wed, 07 May 2014 08:34:37 +0000 http://destinasian.co.id/?p=8623 Memanfaatkan ponsel pintar untuk membuat liburan menjadi mudah.

The post 9 Aplikasi Penting Untuk Traveler appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Kehadiran ponsel pintar dan aplikasi beragam karya orang-orang kreatif membuat perjalanan semakin mudah. Mulai dari mencari koneksi Wi-Fi terdekat hingga mencari restoran lokal yang sesuai dengan selera kita bisa dilakukan dalam genggaman tangan. Berikut sembilan aplikasi travel yang wajib dimiliki oleh para turis.

1. Free Wi-Fi Finder (Android, iPad, iPhone; gratis)
Tak semua orang memilih untuk memasang nomor selular lokal di ponsel mereka. Dan tak semua orang pula memilih untuk menggunakan roaming internasional selama bepergian. Bagi mereka yang menggantungkan koneksi teleponnya dengan sambungan internet Wi-Fi, maka aplikasi Free Wi-Fi Finder bisa membantu. Aplikasi ini akan memindai titik-titik hotspot gratis di dekat Anda untuk kemudian digunakan. Karena gratis, bersiaplah dengan koneksi internet yang lambat ataupun penuh virus.

2. WhatsApp Messenger (Android, BlackBerry, iPhone, Nokia, Windows Phone; gratis di tahun pertama)
Komunikasi dengan rekan bisa menjadi hal yang krusial kala traveling. Apalagi bila Anda bepergian secara berkelompok. Pesan singkat SMS bisa menjadi hal yang menguras uang. Oleh karena itulah WhatsApp Messenger bisa sangat membantu. Apalagi aplikasi chatting gratis ini bisa digunakan untuk gajet dengan sistem operasi berbeda. Selain mengobrol, aplikasi ini juga bisa digunakan untuk mengirimkan gambar, suara, video, serta peta.

The post 9 Aplikasi Penting Untuk Traveler appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Kamera Canggih Berbodi Klasik https://destinasian.co.id/kamera-canggih-berbodi-klasik/ Wed, 30 Apr 2014 00:48:24 +0000 http://destinasian.co.id/?p=8531 Fujifilm X-E2 menawarkan teknologi mutakhir namun mengusung desain kamera analog klasik.

The post Kamera Canggih Berbodi Klasik appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Oleh Dwianto Wibowo

Desain kamera yang klasik menambah poin keunggulan Fujifilm X-E2.

Serasa diajak bernostalgia. Itu kesan pertama saya ketika menggenggam Fujifilm X-E2. Mengadopsi desain kamera rangefinder, tubuh X-E2 yang kokoh dan ramping terasa solid di genggaman. Ukurannya tidak terlalu kecil seperti kamera saku, tapi juga tidak terlalu gemuk seperti DSLR. Layaknya kamera analog, kamera digital mirrorless dengan interchangeable lens ini juga menyajikan piringan logam di atas bodinya untuk mengatur shutter speed dan exposure compensation. Sayangnya, jendela bidik optikal ditiadakan, keputusan yang justru mengingkari karakter rangefinder.

X-E2 menggunakan electronic viewfinder (EVF) dengan resolusi 2.360.000 dot OLED. Meski menghasilkan tampilan yang detail, mata saya terlalu lelah mengintip melalui EVF. Tapi setidaknya jendela bidik elektronik ini mendukung double-exposure (penggabungan dua foto dalam satu frame). Saat mencoba fitur ini, saya dapat melihat transparansi gambar pertama selama membidik gambar kedua di viewfinder, sehingga komposisi dan kombinasi warna kedua gambar dapat disesuaikan tanpa berpindah ke layar LCD.

Menyajikan kecepatan fokus hingga 0,08 detik (dengan 49 titik fokus), fokus X-E2 bekerja maksimum pada setiap titik. Hal ini terbukti ketika saya memotret di malam hari dengan fokus obyek di bagian bawah frame. Meski kecepatan fokusnya berkurang, hasilnya akurat.

ISO 6.400 paling pas untuk pengambilan gambar di malam hari.

Waktu startup yang singkat juga mengurangi risiko ketinggalan momen saat kondisi kamera off. Cukup aktifkan mode High Performance, saya dapat mengambil gambar 0,5 detik setelah kamera dinyalakan dengan fokus yang sangat responsif. Namun mode ini berfungsi hanya 24 menit sejak kamera dimatikan (sleep mode). Sejak menit ke-25, waktu startup kembali normal, 0,92 detik.

Kualitas Foto
Dibekali sensor X-Trans CMOS II 16,7 megapiksel, ukuran APS-C (sensor DSLR pada umumnya), X-E2 memiliki resolusi maksimum 4.896 x 3.264 piksel. Sensor yang digunakan menyajikan kepekaan cahaya (ISO) hingga 6.400 (disarankan pada mode auto) dan dapat dipaksakan hingga 25.600 (pengaturan manual).

Saya memotret di malam hari dengan ISO 6.400 dan hasilnya memuaskan: mumpuni untuk dicetak dalam ukuran 19R dengan detail yang apik dan bebas noise. Untuk ISO yang lebih tinggi, detail mulai menipis dan saturasi warna berkurang akibat reduksi noise yang berlebihan.

Selama uji coba, saya menggunakan lensa kit XF18-55mm F2.8-4 R LM OIS. Dengan crop factor pada sensor APS-C dan jangkauan focal length dinaikkan 1,5 kali menjadi 27-84mm, kamera ini cukup memadai untuk bermacam kebutuhan, seperti reportase, lanskap, dan portrait. Diafragma besar, F2.8, juga membantu fokus bekerja maksimal dalam kondisi minim cahaya.

Dengan semua teknologi itu, pengguna disarankan memiliki software yang mampu mengolah file mentah bawaan kamera. Fujifilm sebenarnya sudah menyertakan RAW File Converter untuk mengolah data X-E2, tapi perangkat lunak ini bagi saya sulit dioperasikan, ditambah lagi proses konversi file-nya relatif lambat.

Solusinya, bagi pengguna Photoshop, file RAW dapat dikonversi memakai Adobe Digital Negative Converter 8.3 yang kompatibel dengan Photoshop CS6 dan CC.

Detail yang dihasilkan oleh kamera ini sangat menakjubkan.

Menu & Fitur
Kendati dibekali mode otomatis seperti kamera sekelasnya, X-E2 tidak menyajikan akses langsung untuk mengaktifkan mode exposure seperti Aperture Priority (AV) dan Shutter Priority (TV). Semuanya mesti disetel secara manual.

Namun setidaknya penataan tombol X-E2 cukup memudahkan. Ada tombol “Q” yang dapat mengakses pengaturan kualitas foto—seperti file size, film simulation, dan dynamic range—tanpa masuk ke menu kamera. Sayangnya, kamera ini tidak dilengkapi tombol putar, sehingga untuk menjelajah menu kamera, saya harus menekan tombol panah berulang kali. Proses yang kurang efisien.

Di samping desain klasik dan ergonomis, X-E2 memantapkan karakter retro dengan menyematkan fitur digital split image. Teknik fokus lewat penggabungan irisan gambar di tengah frame yang popular pada era analog ini di-digitalisasi oleh X-E2. Teknik ini memudahkan penggunaan lensa manual dari segala jenis SLR untuk mendapatkan parameter fokus yang akurat. Silent Mode juga menjadi keunggulan. Saat mode ini diaktifkan, suara shutter nyaris bisu dan flash tidak berfungsi. Di sini, sifat rangefinder sebagai kamera “point and shoot” sangat terasa.

Seperti kamera digital mirorrless sekelasnya, X-E2 dilengkapi fitur wireless image transfer guna mengirimkan gambar dari kamera ke gajet lain via Wi-Fi. Saya mencobanya di ponsel Android, dengan terlebih dahulu mengunduh aplikasi gratis dari Fujifilm. Prosedur transfer ke gajet cukup simpel: aktifkan Wi-Fi dengan menekan tombol Fn. di dekat tombol shutter, dekatkan ponsel, lalu pilih file yang akan dipindahkan. Fasad X-E2 memang memicu nostalgia, tapi teknologinya mewadahi semangat masa kini.

SPESIFIKASI TEKNIS
Sensor: X-Trans CMOS II APS -C 16,7 megapiksel. ISO : 100-25.600. Monitor: LCD 3 inci. Dimensi: 129 x 74,9 x 37,2mm. Contoh fitur: Auto focus (kecepatan 0,08 detik, diklaim Fujifilm sebagai yang tercepat di dunia), digital split image (fokus manual dengan presisi tinggi untuk penggabungan irisan gambar di tengah frame), wireless image transfer (memindahkan foto ke gajet via Wi-Fi).

Informasi lebih lanjut, kunjungi Fujifilm Indonesia.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mar/Apr 2014 (“Revolusi Retro”)

The post Kamera Canggih Berbodi Klasik appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>