esai foto Bandung Archives - DestinAsian Indonesia https://destinasian.co.id/tags/esai-foto-bandung/ Majalah travel premium berbahasa Indonesia pertama Thu, 07 Jan 2021 02:27:13 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 20 Tempat Wisata di Bandung Pilihan 4 Pakar Lokal https://destinasian.co.id/panduan-wisata-di-bandung-pilihan-empat-pakar-lokal/ Thu, 27 Feb 2020 07:20:04 +0000 https://destinasian.co.id/?p=53724 Pakar lokal beri rekomendasi tempat-tempat di Bandung yang kerap luput dari radar turis.

The post 20 Tempat Wisata di Bandung Pilihan 4 Pakar Lokal appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Ruang pamer di Selasar Sunaryo. (Foto: Ricko Fernando)

SENI
Penyebab skena seni Bandung terasa hidup: galeri senior aktif menggelar program, sementara pendatang baru berani bereksperimen. Rekomendasi oleh Zico Albaiquni.

OmniSpace
Selain diskusi, konser, dan pameran, ruang seni yang dirintis pada 2015 ini rutin menggelar dua program eksentrik yang berikhtiar mendobrak pasar. Pertama, Getok Tular, yakni lelang karya dengan harga mulai dari Rp10.000. Kedua, Open PO, saluran bagi publik untuk memesan karya, dengan cara mendaftar dan bertemu langsung dengan seniman pilihan panitia. Jika datang saat tak ada acara, kunjungi lantai duanya yang berisi distro dan toko buku. omuniuum.net.

Kiri-kanan: Ruang pamer di Galeri Soemardja; Erwin Windupranata, pengelola ruang seni Omnispace. (Foto: Fauzan Abdul Syukur Kesuma)

Galeri Soemardja
Ini contoh galeri senior yang terus relevan dengan zaman. Programnya meliputi Pameran Arsip, Soemardja Book Fair, Orasi Budaya, Pameran Akademik, serta Mini Art Project, sebuah ekshibisi unik yang menampilkan karya-karya berukuran maksimum 15x15x15 sentimeter. Galeri yang memakai nama tokoh pendidikan Syafe’i Soemardja ini didirikan pada 1974 dan berlokasi di kompleks Institut Teknologi Bandung. galerisoemardja.fsrd.itb.ac.id.

Studio Batur
Dirancang sebagai ruang kerja pribadi, tempat asuhan seniman Moch Hasrul ini merekah jadi ruang komunal yang aktif menyuguhkan program-program eksperimental. Datang di hari Minggu, ada acara unik Breakfast Club, di mana para tamu bisa berbincang sembari menyantap hidangan racikan seorang antropolog. Dilengkapi dua kamar tidur, Studio Batur juga menawarkan program residensi. Tak kalah menarik, walau usianya terbilang muda, tempat ini sudah memiliki cabang di Jakarta. Jl. Bukit Pakar Utara 31.

Semata Gallery
Awalnya berniat menampung buah kreativitas anak-anak di sekitar rumah, duet seniman edukator Wilman Hermana dan Suniaty pada 2013 mendirikan semacam sekolah seni alternatif untuk pemula. Lewat program After School dan Art Studio, sanggar yang menempati garasi ini mengajarkan teknik seni dasar kepada anak dan remaja, lalu memamerkan hasil karya mereka. Setelah beberapa tahun beroperasi, Semata Gallery mulai menerima pula peserta dewasa. Jl. Boscha III 147.

Selasar Sunaryo Art Space
Satu dari segelintir ruang seni yang populer sebagai objek wisata, SSAS layak dipilih jika Anda hanya punya waktu melawat satu tempat di Bandung. Kompleks megah ini menampung antara lain perpustakaan, kafe, toko suvenir, serta amfiteater. Salah satu programnya yang bergengsi ialah Bandung New Emergence, hajatan bienial yang memetakan bakat-bakat muda. Dua menit berjalan kaki dari SSAS, ada Wot Batu yang memajang karya-karya berbahan batu buatan Sunaryo. selasarsunaryo.com.

Zico Albaiquni
Seniman asal Bandung, alumni ITB, serta pendiri kanal seni alternatif Ruang Gerilya. Zico kini diwakili oleh Yavuz Gallery.

 

 

Interior Happy Go Lucky House. (Foto: Fauzan Abdul Syukur Kesuma)

BELANJA
Status Bandung sebagai sentra mode masih bertahan, tapi skena belanjanya tak semata menawarkan pakaian. Rekomendasi oleh Nina Hidayat.

Happy Go Lucky House
Orisinal, tiruan, ataupun “sisa ekspor,” sandang merek asing bertaburan di banyak FO dan distro di Bandung. Tapi jika Anda mencari kreasi autentik lokal, kunjungi Happy Go Lucky House. Salah satu pionir concept store di Bandung ini bertahan mengandalkan sistem kurasi produk yang amat selektif, juga referensi mode yang penuh warna, berani, dan segar. Dalam interiornya yang sarat permainan motif, pengunjung bisa menemukan aneka baju, sepatu, hingga tas untuk dewasa dan anak. hglhouse.com.

Barang antik di Garasi Opa. (Foto: Prabowo Prajogio)

Garasi Opa
Tempat belanja seraya bernostalgia, Garasi Opa menawarkan barang-barang antik yang sepertinya diwariskan oleh opa, mulai dari kacamata Ray-Ban tua, arloji Swatch model lawas, hingga telepon putar dan televisi tabung seri Lapiz. Dagangan ini ajek diganti dan rata-rata dalam kondisi prima. Demi menyelamatkan pelanggan dari pencarian penuh debu di antara kalkasar, stafnya yang ramah senantiasa siaga membantu tamu. Sebelum datang, Anda bisa mengecek koleksi terbarunya di media sosial. garasiopa.com.

Toko Organic
Tren organik menular ke Bandung, dan Toko Organic sudah menggarap ceruk ini sejak 2013. Dalam interior bergaya rumahan yang didominasi elemen kayu berwarna terang, pengunjung bisa menemukan beragam bahan makanan hingga kosmetik. Bagian dari edukasi pasar, tempat ini rajin menanggap diskusi, lokakarya, serta bazar. tokoorganic.com.

Kiri-kanan: Interior UNKL347, salah satu produsen streetwear paling legendaris di Kota Kembang; staf UNKL347. (Foto: Fauzan Abdul Syukur Kesuma)

Unkl347
Para pendirinya awalnya aktif terlibat dalam skena musik independen dengan menjual suvenir dan album musisi lokal, dari era Mocca hingga Elephant Kind. Seiring waktu, UNKL347 melebarkan sayap bisnisnya dengan menjadi produsen streetwear, sembari menawarkan studio desain dan aktivitas berbasis komunitas seperti pentas musik. unkl347.com.

Two Hands Full
Kongko di kedai kopi trendi adalah bagian dari pengalaman kuliner di Bandung. Jika Anda ingin membawa pulang kopi sebagai oleh-oleh, Two Hands Full menawarkan aneka biji dari dalam dan luar negeri dengan harga mulai dari Rp130.000. Sejak 2013, kedai ini beroperasi sebagai tempat penggilingan sekaligus kedai kopi. Khusus biji lokal, grader kedai menjalin kemitraan dengan petani kopi Wanoja, Jawa Barat. Two Hands Full juga terkenal sebagai tempat sarapan, dengan menu andalan avocado toast dan banh mi Vietnam. thfcoffee.myshopify.com.

Nina Hidayat
Mantan jurnalis asal Bandung ini menjabat Head of Communications Museum Macan sekaligus pengasuh blog tentang perempuan.

The post 20 Tempat Wisata di Bandung Pilihan 4 Pakar Lokal appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Siang Malam Asia Afrika https://destinasian.co.id/siang-malam-asia-afrika/ Wed, 14 Feb 2018 05:21:03 +0000 http://destinasian.co.id/?p=33029 Kontras dan kreativitas di kawasan bersejarah Bandung.

The post Siang Malam Asia Afrika appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
DestinAsian Indonesia
Diorama sosok Soekarno di Museum Asia-Afrika menggambarkan sang presiden kharismatik ini sedang membacakan pidato berjudul “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru”, dalam Konferensi Asia Afrika, 18 April 1955.

Oleh Toto Santiko Budi

Saban akhir pekan, Bandung dan macet menjadi dua kata yang sangat akrab. Jalanan sesak. Lahan parkir sesak. Restoran dan kafe sesak. Ribuan weekender, terutama asal Jakarta, membanjiri kota ini untuk bersantai, walau yang mereka dapatkan kerap justru suasana yang tidak santai.

Penjual majalah dan buku-buku bekas tengah asyik membaca dan ‘tenggelam’ dalam dagangannya di kawasan Jalan Cikapundung.

Sesekali saya bergabung dalam “migrasi mingguan” itu. Saya dan pasangan lazimnya datang untuk menikmati kawasan tua Bandung, salah satunya Jalan Asia Afrika, sebuah bulevar yang sarat cerita heroik, tempat bangunan-bangunan berstatus cagar budaya bercokol tegap melawan usia.

Sebagai fotografer yang merangkap turis, Jalan Asia Afrika senantiasa menghadirkan target foto yang menarik. Kawasan ini mengombinasikan warisan masa silam dan kreativitas masa kini. Dari siang hingga malam, berbekal sebuah kamera, saya berjalan kaki menyusuri trotoar di Jalan Asia Afrika sambil memotret.

Sosok-sosok seram bersantai di bangku kota menunggu malam tiba.

Satu situs sejarah yang saya kunjungi di sini ialah Museum Konferensi Asia Afrika. Di dalamnya tersimpan berbagai diorama dan memorabilia, termasuk sebuah patung Bung Karno yang sedang berpidato memompa semangat delegasi negara-negara di Asia dan Afrika untuk terus berjuang merebut kemerdekaan.

Puluhan cosplayer berjajar di sepanjang ruas jalan tak jauh dari Museum Konferensi Asia-Afrika.

Berpindah ke pelataran museum, saya mendapati sebentuk perjuangan lainnya: puluhan cosplayer yang tengah berburu nafkah. Dalam kostum dan dandanan yang semarak, mereka bergantian merayu para pejalan kaki agar sudi berfoto bersama, sembari berharap mendapatkan donasi seikhlasnya.

Ketika hari beranjak malam, kawasan tua Bandung kian kemilau. Kota modis ini seolah berubah menjadi ajang peragaan busana raksasa. Orang-orang dengan beragam gaya berkeliaran dan berseliweran, menjanjikan target foto menarik lainnya bagi seorang street photographer.

Ketika malam semakin larut, becak-becak pun parkir di emperan gedung.

Di sudut Jalan Cikapundung yang terhubung ke Jalan Asia-Afrika, seorang penjual majalah dan buku bekas sedang asyik membaca buku dagangannya. Meski pembeli kian sepi, dia masih setia menekuni profesinya. Tak jauh darinya, beberapa remaja menyulap sebuah mobil gerbong menjadi kedai kopi.

Dikenal sebagai kota kreatif, di Bandung banyak ditemukan mobil van yang disulap menjadi tempat kopi.

Larut malam, saya kembali ke penginapan dengan melewati kantor harian Pikiran Rakyat yang berada di seberang Savoy Homann, hotel ikonis tempat delegasi Konferensi Asia Afrika dulu menginap. Tak ada lagi cetakan koran yang dibentangkan dalam bingkai di muka kantor Pikiran Rakyat. Warga kota kini terbiasa membaca koran yang terbit perdana pada 1966 itu dalam bingkai layar datar LED.

Toto Santiko Budi
Memulai kariernya pada 2000 sebagai fotojurnalis di sebuah surat kabar harian di Surabaya, Toto bermigrasi ke Jakarta pada 2007 untuk bekerja sebagai fotografer independen dengan spesialisasi foto dokumenter, jurnalistik, dan travel. Dia pernah berkontribusi untuk beragam media, antara lain Time, Stern, The Australian, dan Forbes Indonesia. totosantiko.com.

The post Siang Malam Asia Afrika appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>