austria Archives - DestinAsian Indonesia https://destinasian.co.id/tags/austria/ Majalah travel premium berbahasa Indonesia pertama Tue, 05 Jan 2021 13:02:58 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 F1 Dimulai Kembali Akhir Pekan ini di Austria https://destinasian.co.id/f1-dimulai-kembali-akhir-pekan-ini-di-austria/ Tue, 30 Jun 2020 12:08:00 +0000 https://destinasian.co.id/?p=56755 Sukses bendung wabah, Austria dipilih jadi tuan rumah pembukaan kembali GP 2020.

The post F1 Dimulai Kembali Akhir Pekan ini di Austria appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Setelah sempat dibekukan akibat pandemi, Formula 1 siap kembali akhir pekan ini. Terpilih sebagai lokasi pembukaan ialah Red Bull Ring, sirkuit kebanggaan Austria. Ajang balap yang bernama resmi Rolex Grosser Preis Von Österreich ini dijadwalkan bergulir dari 3-5 Juli. 

Keputusan pembukaan musim balap itu diumumkan oleh Chase Carey, CEO F1, pada awal Juni, kemudian ditegaskan pada 29 Juni oleh Rolex sebagai sponsor utama GP Austria. Demi alasan keamanan, panitia kemungkinan tak akan menjual tiket penonton, seperti yang dilakukan oleh beberapa liga sepak bola Eropa.

Austria, yang sebenarnya tak tercantum dalam kalender orisinal musim 2020, dipilih komite F1 lantaran keberhasilannya dalam membendung wabah. Per 30 Juni, negara ini mencatatkan total 17.723 kasus. Walau kasus baru masih bermunculan (ada 69 kasus pada 29 Juni), secara umum kurva virus sudah melandai. Itu pula sebabnya Austria telah membuka perbatasannya dengan beberapa negara sejak 4 Juni.

Sirkuit Barcelona-Catalunya terpilih sebagai tuan rumah GP pada 14-16 Agustus. (Foto: Luis Jose Torrealba/Unsplash)

Yang juga menarik, Austria tak hanya sekali menjadi tuan rumah GP. Pada akhir pekan berikutnya, 10-12 Juli, Sirkuit Red Bull Ring kembali dipakai untuk adu cepat oleh Sebastian Vettel dan kawan-kawan. Kendati begitu, nama resmi GP ini berubah jadi Pirelli Grosser Preis Der Steiermark.

Baca Juga: Negara Asia dengan Kasus Covid-19 Paling Minim

Komite F1 juga telah melansir jadwal balap lain untuk kurun Juli-September 2020. Selepas Austria, tuan rumah berikutnya ialah Hungaria, Inggris, Spanyol, Belgia, dan Italia. Seperti Austria, Inggris akan menanggap GP dua pekan berturut-turut.

Merujuk kalender orisinal F1, tuan rumah berikutnya ialah Rusia, disusul oleh Jepang di Oktober, tapi Jepang sudah memastikan mundur. Setelah itu, giliran Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, dan Uni Emirat Arab. Jadwal GP di tempat-tempat ini belum diumumkan, begitu pula jadwal untuk tuan rumah yang memutuskan menunda GP, contohnya Vietnam, Tiongkok, dan Kanada.

Berikut daftar lengkap delapan GP yang sudah dilansir oleh panitia F1:

3-5 Juli
Rolex Grosser Preis Von Österreich
Sirkuit Red Bull Ring, Austria

10-12 Juli
Pirelli Grosser Preis Der Steiermark
Sirkuit Red Bull Ring, Austria

17-19 Juli
Aramco Magyar Nagydíj
Sirkuit Hungaroring, Hungaria  

31 Juli-2 Agustus
Pirelli British Grand Prix
Sirkuit Silverstone, Inggris

7-9 Agustus
Emirates F1 70th Anniversary Grand Prix
Sirkuit Silverstone, Inggris

14-16 Agustus
Aramco Gran Premio De España
Sirkuit Barcelona-Catalunya, Spanyol

28-30 Agustus
Rolex Belgian Grand Prix 2020
Sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia

4-6 September
Gran Premio Heineken D’italia
Sirkuit Monza, Italia

The post F1 Dimulai Kembali Akhir Pekan ini di Austria appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Eropa Buka Akses Turis Lewat Skema ‘Travel Corridor’ https://destinasian.co.id/eropa-buka-akses-turis-lewat-skema-travel-corridor/ Wed, 13 May 2020 21:18:20 +0000 https://destinasian.co.id/?p=55493 Menyambut liburan musim panas, perbatasan dibuka terbatas dengan sistem 'diskriminasi.'

The post Eropa Buka Akses Turis Lewat Skema ‘Travel Corridor’ appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Menyambut liburan musim panas, Uni Eropa akan membuka perbatasan internalnya secara bertahap. Keputusan ini diambil demi memulihkan sektor pariwisatanya yang terpukul akibat pandemi Covid-19. Pada 2019, pariwisata menyumbang sekitar 10 persen PDB dan menyerap 13 juta tenaga kerja di kawasan ini. 

Dikutip dari Euractiv, rencana Uni Eropa itu dimuat dalam dokumen yang disusun oleh European Commission. Di dalamnya tertulis ada tiga tahap pembukaan perbatasan. Pertama, membuka perbatasan hanya untuk perjalanan penting, misalnya keperluan medis. Kedua, membuka perbatasan di antara negara-negara yang memiliki kesamaan dalam aspek profil risiko dan kadar pemulihan pandemi—skema yang populer dengan istilah travel corridor. Terakhir, membuka tapal batas sepenuhnya. 

Tahap pertama sudah berjalan, sedangkan tahap kedua mulai memicu polemik. Negara-negara Schengen sebenarnya dilarang melakukan diskriminasi. Artinya, jika perbatasan satu negara sudah dibuka, seluruh warga dari negara anggota lain harus diizinkan masuk. Tapi sepertinya beberapa anggota Uni Eropa akan melanggar prinsip ini. Lagi pula, secara legal, keputusan pembukaan perbatasan berada di tangan masing-masing negara. Berikut beberapa negara yang siap menerapkan sistem travel corridor:

Rummu, permukiman kecil di utara Estonia. (Foto: Ivars Krutainis/Unsplash)

Estonia-Lithuania-Latvia
Mulai 15 Mei, ketiga negara tetangga di tepi Laut Baltik ini sepakat membolehkan warganya saling melintasi perbatasan, sementara turis asing dari negara lain diwajibkan menempuh prosedur karantina. Hingga 14 Mei, merujuk Ncov2019 Live Data, trio Baltik ini secara kolektif mencatatkan 4.207 penderita Covid-19.

Holocaust Memorial di Berlin, Ibu Kota Jerman. (Foto: Muhammad Fadli)

Jerman-Austria-Swiss  
Pada 13 Mei, saat menghadap parlemen, Kanselir Jerman Angela Merkel mematok 15 Juni sebagai titik awal bagi pembukaan perbatasan di seantero Uni Eropa. Dia lalu memakai tanggal itu untuk membuka gerbang lalu lintas manusia antara Jerman, Austria, dan Swiss. Negara lain yang dipertimbangkan Jerman dalam skema travel corridor ialah Prancis. 

Imerovigli, desa pesisir di Pulau Santorini, Yunani. (Foto: Hello Lightbulb/Unsplash)

Yunani-Siprus-Israel
Hampir seperempat tenaga kerja Yunani berkecimpung di sektor pariwisata. Karena itu devisa turis sangatlah vital bagi perekonomiannya, terlebih negara ini sedang dililit banyak utang. Di tahap awal, Yunani berencana membuka travel corridor dengan Siprus dan Israel. Mengutip Visit Greece, hotel dan restoran akan diizinkan beroperasi mulai 1 Juni, sedangkan turis bisa kembali berjemur di Santorini mulai 1 Juli, walau dengan syarat membawa bukti bebas infeksi virus.

Panorama Cesky Krumlov, kota wisata di Republik Cheska. (Foto: Muhammad Fadli)

Republik Cheska-Slovakia-Austria
Dilaporkan oleh Prague Morning, Menteri Luar Negeri Tomas Petricek mengatakan perbatasan negaranya akan dibuka untuk turis dari Slovakia dan Austria mulai Juli. (Tanggal pasti belum dilansir.) Pada tahap berikutnya, Republik Cheska akan memberi izin masuk bagi pendatang asal Polandia dan Jerman.  

Air terjun Kirkjufellsfoss dengan latar Gunung Kirkjufell di Islandia. (Foto: Koushik Chowdavarapu/Unsplash)

Islandia   
Berbeda dari anggota Uni Eropa lain, Islandia tidak menerapkan skema travel corridor. Dikutip dari Iceland Review, Perdana Menteri Katrin Jakobsdottir pada 12 Mei mengumumkan rencana membuka bandara bagi seluruh turis, termasuk dari luar kawasan Schengen, mulai 15 Juni. Kendati begitu, tiap pengunjung akan dites usai mendarat. Islandia adalah salah satu negara tersukses dalam penanganan pandemi. Dari 1.802 penderita, 1.780 di antaranya sudah sembuh, dan tidak ada kasus baru sejak 7 Mei.

The post Eropa Buka Akses Turis Lewat Skema ‘Travel Corridor’ appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Negara Paling Misterius di Eropa https://destinasian.co.id/negara-paling-misterius-di-eropa/ Mon, 30 Mar 2020 03:00:26 +0000 https://destinasian.co.id/?p=54308 Tak punya bandara, tak punya tentara, tak punya bank sentral, tapi pendapatan warganya Rp2,3 miliar per tahun.

The post Negara Paling Misterius di Eropa appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Pria lokal Markus Meier sedang melacak hewan buruan di hutan yang terhampar di atas Vaduz, Ibu Kota Liechtenstein.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Gaia Squarci

Di sebuah ruang rapat, seorang kakek berbalut jas abu-abu menerangkan tentang LGT, perusahaan yang dipimpinnya. Dia membeberkan banyak angka dan nama, lalu menyampaikan LGT adalah grup manajemen aset dan bank partikelir terbesar yang dikelola oleh sebuah keluarga. Ini presentasi bisnis yang biasa saja sebenarnya, kecuali untuk satu hal: orang di hadapan saya bukanlah semata bankir, tapi juga pangeran.

Prince Philipp, Chairman LGT, adalah anggota keluarga penguasa Liechtenstein, salah satu negara monarki di Eropa. Saya menemuinya akhir September silam. Negaranya, yang sangat kecil dan sangat sugih ini, terselip di antara Swiss dan Austria. Kecuali sering membaca statistik ekonomi, Anda mungkin belum pernah mendengar tentang Liechtenstein—dan mereka yang pernah mendengarnya mungkin tak tahu cara melafalkannya, seperti juga saya setidaknya hingga dua minggu sebelum mendarat di sini. Dengan ukuran setara Kupang dan populasi hanya 38.000 jiwa, Liechtenstein memang nama yang mudah luput dari buku sejarah ataupun peta dunia.

Prince Philipp melanjutkan presentasinya. Dia bicara santai, kadang tersenyum kecil, dengan tubuh yang masih luwes di usia 73 tahun. Sosoknya tidak berjarak, tidak terasa ningrat. Kecuali di acara resmi, katanya, bangsawan Liechtenstein memang berperilaku layaknya warga biasa. Mereka menempuh pendidikan di sekolah umum, terbang dengan pesawat komersial, dan berkeliaran tanpa pengawal. Menemuinya, saya tidak perlu memberi salut membungkuk, tapi cukup berjabat tangan.

Pria lokal Patrick Duenser membawa seorang turis Inggris dalam tur paralayang melintasi sebagian wilayah Liechtenstein, negara kecil dan kaya yang terselip di antara Swiss dan Austria.

“Keluarga kerajaan tidak mendapatkan sepeser pun uang pajak warga. Mereka hidup dari bisnis,” Prince Philipp kini menerangkan kenapa dia mesti bekerja walau sudah kaya raya. Berbeda dari banyak monarki lain, klan aristokrat Liechtenstein tidak hidup bersandar pada upeti, melainkan keringat sendiri. Para pangeran dan putri memegang jabatan di beragam sayap bisnis, termasuk agrikultur, wine, serta properti. Inilah negeri di mana pangeran merangkap pengusaha, barangkali juga atasan Anda. Perusahaan mereka punya jaringan di banyak belahan dunia.

Melalui bank yang dipimpinnya, Prince Philipp jugalah yang mengundang saya ke sini. Tujuannya untuk merayakan ulang tahun Liechtenstein ke-300. Anda tidak salah baca; negeri ini memang lebih tua dari Indonesia. Jika diringkas, riwayatnya bermula pada 1699 saat Johann Adam Andreas von Liechtenstein menebus kawasan Schellenberg yang terlilit utang, lalu membeli Vaduz. Klan Liechtenstein saat itu sangat sugih, punya banyak tanah, tapi mereka bukan “lord,” karena itu tak punya kursi dalam lingkaran satu Holy Roman Empire. Hingga akhirnya pada 1719 mereka diizinkan melebur Schellenberg dan Vaduz di bawah payung Principality, setingkat di bawah Kingdom.

Bagi penggemar Game of Thrones, babad Liechtenstein itu mungkin mudah dicerna. Walau begitu, Liechtenstein saat ini adalah sebuah anomali yang membingungkan dari kaca mata umum. Terlepas dari usianya yang tua, negara ini tak punya atribut-atribut lumrah sebuah negara modern. Ia tidak punya bandara, tidak punya maskapai nasional, tidak punya tentara, tidak punya mata uang (memakai Swiss franc) dan karena itu pula tidak butuh bank sentral. Selain sepur mainan yang difungsikan sebagai moda hop-on hop-off, di sini juga tidak ada kereta, trem, maupun subway.

Kiri-kanan: Seorang wisatawan yang sedang asik melakukan aktivitas panjat tebing salju; salah satu sudut Vaduz Castle, kompleks berusia 900 tahun yang bertengger di tebing dan hingga kini masih dihuni oleh keluarga bangsawan Liechtenstein.

Tapi setidaknya Liechtenstein memiliki ibu kota—Vaduz, sebuah permukiman elok yang dikepung gunung. Beberapa hari pertama, saya menginap di kota ini. Hotel saya, Residence, beralamat di bulevar yang sepertinya merangkum seluruh isi kota. Di sisi selatannya ada katedral, gedung parlemen, serta rumah sakit satu-satunya di Liechtenstein. Di sisi tengah ada butik arloji, toko cokelat, serta museum. Sementara di ujung utara ada terminal bus. Tak jauh selepas terminal, saya sudah berada di luar kota. Vaduz begitu kecil sampai-sampai warga kerap menyebutnya “town” ketimbang “city.”

Bangunan paling ikonis di Liechtenstein juga berada di Vaduz. Tidak satu jalur dengan hotel saya, melainkan persis di atasnya. Vaduz Castle, kompleks berusia 900 tahun, bertengger anggun di tebing tinggi, menatap lanskap kota hingga perbukitan di tepi Swiss. Mendarat di muka kastel, saya kembali berpapasan dengan Prince Philipp, kali sedang mengendarai Audi. Walau bank miliknya membukukan profit hampir Rp4,5 triliun pada 2018, sang pangeran lebih memilih menyetir tanpa sopir.

Vaduz Castle masih dihuni oleh keluarga kerajaan, karena itu tertutup untuk umum. Tapi berhubung datang atas restu pangeran, saya pun diizinkan masuk. Diiringi tatapan sebal para turis yang cuma bisa memotret dari luar pagar, saya menyusuri rute berbatu menuju teras bangunan. Tiba di dalam, Dr. Johann Kraftner, pengurus koleksi seni kerajaan, memandu saya menjelajahi interior kastel. Saya dibawa memasuki paseban, gudang alutsista, ruang keluarga, serta instalasi konservasi lukisan. Sepanjang tur, saya kerap menginjak-injak karpet antik yang sepertinya cocok menghiasi meja lelang Sotheby’s.

Kata Dr. Johann, dalam rangka 300 tahun Liechtenstein, sebagian harta dan pusaka kerajaan dipinjamkan ke National Museum. Sebenarnya hari ini museum sedang tutup. Tapi lagi-lagi berkat koneksi ningrat, saya punya “kartu terusan” ke semua wahana, walau tidak berarti kedatangan saya disambut gembira. Di lobi museum, pemandu menyambut dengan mengatakan dia terpaksa kerja di hari liburnya.

Seorang pramusaji membersihkan meja di Walserhof, salah satu restoran di kawasan ski Malbun.

National Museum memajang memorabilia yang merangkum masa lalu Liechtenstein, termasuk mahkota dan akta pembelian lahan. Di sini saya mendapati sejarah Liechtenstein sebenarnya tak melulu ditaburi kisah manis. Sebelum menjadi negara makmur dengan pendapatan per orang menembus Rp2 miliar per tahun, Liechtenstein sempat merana. Selepas Perang Dunia II, dinasti penguasanya terpaksa melego lukisan Ginevra de’ Benci karya Da Vinci demi menambal kas istana. Orang-orang tua di Swiss menjelaskan kemiskinan itu lewat sebuah anekdot satir: “Tak sulit mengenali warga Liechtenstein. Mereka biasanya berjalan tanpa sepatu.” (Menurut legenda lokal, penguasa Liechtenstein Prince Hans-Adam II hingga kini masih hobi nyeker saat joging.)

Pemandu museum kemudian menuntun saya ke ruang peta Liechtenstein. “Jika kita membandingkan peta Holy Roman Empire dengan peta sekarang,” katanya, “maka teritori politik lama yang masih utuh hanyalah Liechtenstein.” Fakta yang patut dirayakan memang. Ketika banyak imperium terbelah dan keluarga istana tercerai, Liechtenstein mampu bertahan dengan perbatasan yang sama di bawah titah klan yang sama selama tiga abad.

Di luar National Museum, syukuran tricentennial hadir dalam beragam bentuk. Di banyak tempat terpajang surat kabar edisi khusus perayaan 300 tahun. Kunstmuseum (semacam Museum Macan versi Vaduz) menggelar pameran retrospektif akbar, sementara dinas pariwisata meluncurkan rute trekking baru yang menghubungkan seluruh kabupaten. Negara ini sepertinya memanfaatkan maksimal momentum tiga abad untuk berkata kepada dunia: kami ada, sudah lama! Tak ketinggalan, pihak kerajaan menanggap pesta kebun di kastel. “Kami mengundang banyak orang, walau beberapa dari mereka barangkali tidak tahu lokasi Liechtenstein di atas peta,” ujar Prince Philipp bergurau.

Koleksi tanduk fotogenik di National Museum, bangunan yang mengisahkan 300 tahun riwayat Liechtenstein.

Kenyang menyelami warisan masa lalu Liechtenstein, kini saya mencicipinya. Suatu pagi, saya memasuki cellar Princely Winery. Di depan saya berdiri Princess Marie, menantu Yang Mulia Prince Hans-Adam II. Sang putri juga tampil tidak berjarak, bahkan kelewat ramah hingga membuat saya salah tingkah. Saat saya datang, dia justru lebih dulu menghampiri saya.

Wanita kelahiran 1975 ini menyebut dirinya “country girl.” Rambutnya pendek, wajahnya dirias tipis, tubuhnya dibalut busana Michael Kors. Saya perhatikan, dia tidak memakai anting, kalung, maupun cincin kawin, mungkin khawatir berliannya akan menyilaukan mata saya. Sosoknya yang bersahaja sejenak mengingatkan pada Putri Diana, baik secara pembawaan maupun genetik. Keduanya sama-sama lahir tanpa darah biru.

Princess Marie bekerja untuk winery milik kerajaan. Perusahaan ini memproduksi antara lain Riesling, Pinot Noir, dan Profundo. Kata sang putri, budi daya anggur di sini berakar panjang, tapi bisnis wine baru digarap pada 1950-an. Saya mencicipi beberapa wine buatan kerajaan itu di Torkel, restoran dengan satu bintang Michelin. Tiap hidangan hadir dengan segelas wine yang berbeda. Seperti artefak di National Museum, wine negeri ini terasa kian mahal jika kian tua.

The post Negara Paling Misterius di Eropa appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Cara Unik Wina Kurangi Polusi https://destinasian.co.id/cara-unik-wina-kurangi-polusi/ Tue, 11 Feb 2020 03:48:34 +0000 https://destinasian.co.id/?p=53366 Kota ini bakal berikan tiket konser gratis ke warganya yang naik transportasi umum.

The post Cara Unik Wina Kurangi Polusi appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Dua kali dinobatkan menjadi kota paling layak huni di dunia versi Economist Intelligence Unit tidak membuat Wina cepat puas. Meskipun pihak EIU menyatakan bahwa lingkungan dan infrastruktur Wina mencapai skor total hingga 99,1%, namun pemerintah terus berusaha memperbaiki kota mereka. Salah satunya adalah dengan mengurangi polusi udara.

Untuk mencegah terjadinya pemanasan global, baru-baru ini, pemerintah kota Wina mengajak warga lokal untuk mulai membiasakan diri menggunakan transportasi umum. Berbeda dengan Barcelona yang melarang transportasi tua beroperasi di beberapa wilayah guna mereduksi setidaknya 15 persen emisi nitrogen dioksida, Ibu Kota Austria ini justru menjanjikan imbalan menarik bagi warga yang rajin naik transportasi publik.

Pemerintah akan memberikan tiket gratis masuk museum hingga tiket konser. Seperti yang dilansir dari The Independent, program tersebut merupakan bagian dari aplikasi baru yang diluncurkan pada 26 Februari 2020 mendatang. Nantinya, aplikasi tersebut akan melacak moda transportasi yang digunakan. Semakin sedikit menggunakan kendaraan pribadi, dan memilih bepergian menggunakan transportasi umum, sepeda, atau bahkan berjalan kaki, maka pengguna dapat mengumpulkan token budaya.

Baca juga: 10 Kota Paling Layak Huni 2019; Tur Budaya Nan Menarik di Wina

Nantinya, token tersebut dapat ditukarkan dengan tiket gratis ke empat tempat budaya di kota tersebut, seperti museum, ruang pameran, teater, dan konser. Awalnya, aplikasi ini akan diuji coba terlebih dahulu kepada 1.000 pengguna selama enam bulan. Jika berhasil, nantinya skema tersebut akan diluncurkan untuk umum.

The post Cara Unik Wina Kurangi Polusi appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>