Adventure Archives - DestinAsian Indonesia https://destinasian.co.id/tags/adventure/ Majalah travel premium berbahasa Indonesia pertama Fri, 26 Aug 2022 04:33:20 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 Ironi Tercantik di Dunia https://destinasian.co.id/ironi-tercantik-di-dunia/ Thu, 19 Dec 2019 06:29:00 +0000 https://destinasian.co.id/?p=52377 Gilgit-Baltistan dirundung sengketa, tapi dikaruniai alam yang luar biasa.

The post Ironi Tercantik di Dunia appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Kiri-kanan: Sebuah mobil menyusuri jalur yang dikangkangi pegunungan terjal menuju kota Skardu di kawasan dataran tinggi Gilgit-Baltistan, sekitar 500 kilometer di utara Islamabad, Ibu Kota Pakistan. (Foto: Ronnachai Limpakdeesavasd/EyeEm/Getty Images); seorang penggembala wanita dengan busana tradisional di kawasan Deosai National Park, Skardu District. (Foto: Nadeem Khawar/Getty Images)

Oleh Trinity

Lihatlah jendela di sebelah kanan Anda,” seru sang pilot ketika pesawat dari Islamabad memasuki langit kawasan Skardu. “Ada Nanga Parbat yang tingginya 8.126 meter di atas permukaan laut. Gunung tertinggi kesembilan di dunia!”

Baru kali ini saya melihat gunung yang tingginya melebihi tinggi jelajah terbang pesawat. Sosoknya mengingatkan pada Nanda Parbat, tempat Batman berlatih bela diri di Himalaya, yang ternyata berada di Pakistan!

Skardu, kota yang saya tuju, berada di Gilgit-Baltistan, kawasan di utara Pakistan yang ditumbuhi banyak gunung tinggi sebagian kelewat tinggi. Setidaknya 50 puncak di sini menjulang lebih dari 7.000 meter. Sebagai perbandingan, Jayawijaya, menara alam terjangkung di Indonesia, tingginya “hanya” 4.884 meter.

Lanskap semampai itulah yang membuat pengalaman terbang di sini terasa magis, walau kadang juga mencemaskan, seperti yang saya alami hari ini. Manuver pesawat saat menuju landasan memicu stres. Bandara Skardu terhampar di antara gundukan pasir putih. Di sekelilingnya, pegunungan bersalju menjulang bak tembok putih raksasa.

Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat. Keluar dari pesawat, angin kering dan dingin menerpa di siang bolong, memaksa saya segera merapatkan jaket. Lima menit berselang, sebuah bus reyot datang untuk mengangkut penumpang menuju terminal. “Meski tidak tercatat, bandara ini memiliki landasan terpanjang di dunia, karena merangkap sebagai landasan Angkatan Udara Pakistan dengan pesawat-pesawat tempurnya. Maklum, di balik gunung itu adalah India,” jelas Hamid, pemandu saya.

Gilgit-Baltistan, yang luasnya setara Provinsi Sumatera Utara, terbagi dalam tiga zona utama: Gilgit, Baltistan, dan Diamer. Dataran tinggi berpopulasi 1,8 juta orang ini sudah lama tersohor akan keindahan alamnya. Di sini terdapat rantai pegunungan yang spektakuler, danau-danau indah berair pirus, serta gletser terbesar di dunia di luar kutub. Keajaiban natural lainnya tentu saja Cold Desert, hamparan gurun janggal yang sesuai namanya senantiasa dingin, bahkan tertutup salju sepanjang musim dingin.

Kiri-kanan: Atap sebuah masjid tua berbahan kayu di Khaplu. (Foto: M.Omair/Getty Images); relief tua yang menampilkan Sang Buddha di Desa Satpara, Skardu. (Foto: Yasir Nisar/Getty Images)

Kendati begitu, hantu warisan masa silam membuat tanah cantik ini senantiasa dirundung murung. Gilgit-Baltistan, bagian dari Kashmir, berada di pusaran konflik teritorial antara Pakistan dan India. Dari balik gunung-gunung yang semampai, kedua negara bertetangga itu terus bersiaga, sigap menodongkan senjata, membuat hidup terasa genting dan tegang. Akibat sengketa pula, pesawat saya mesti sedikit memutar demi menghindari wilayah udara India.

Tiba di terminal bandara, saya langsung mendaftarkan diri di loket. Di sini, semua turis asing memang diwajibkan melakukan registrasi khusus. Pada selembar kartu, seorang petugas wanita yang ramah menuliskan nama, nomor paspor, tujuan, dan alamat penginapan saya. Dari bandara, saya kemudian berkendara selama setengah jam melewati jalan-jalan rusak menuju Skardu.

Usai check in, saya bertamu ke rumah keluarga Hamid, pemilik penginapan. Di tengah sesi makan siang, saya diperkenalkan dengan kakak tertuanya, Ghulam. Kami bertiga makan di lantai berlapis karpet di ruang keluarga, sementara istri Hamid beserta anak-cucunya bersantap di dapur. Sesuai adat setempat, memang hanya kaum pria yang boleh menjamu tamu.

“Saya lahir dan besar di desa Chulunka di Ladakh. Ada sekitar enam puluh rumah di desa itu,” Ghulam membuka topik panas saat kami melahap kari sapi, dhal, dan naan mirip makanan India, tapi bedanya di sini daging sapi halal dikonsumsi. “Pada 1971, tiba-tiba saja desa kami diduduki tentara India, sehingga kami semua lari ke Khaplu. Kami meninggalkan semuanya: rumah, ladang, ternak. Ah, situasi itu sangat menyakitkan!”

Mendengar ceritanya, makanan saya seperti dibumbui rasa duka. Kisah suram perebutan wilayah masih basah di ingatan banyak orang, dan banyak saksi dari konflik tragis itu masih hidup untuk menceritakannya. “Desa kami sangat indah,” lanjut Ghulam dengan nada getir. “Semua orang berbahagia. Kami sering berbagi makanan dan bermain polo bersama. Entah kapan saya bisa kembali ke Chulunka.”

Belum kering air mata Ghulam, Hamid menimpali dengan drama lirih lainnya. “Teman saya lebih sedih lagi ceritanya,” kenangnya. “Suatu hari saat berbelanja ke pasar, dia mendadak tidak bisa pulang lantaran desanya dibarikade tentara India. Saudara-saudaranya di rumah tidak bisa berbuat apa-apa. Tiga puluh tahun berselang, ibunya akhirnya bertemu salah seorang anaknya saat naik haji di Arab Saudi.

Kiri-kanan: Seorang penggembala di Nagar Valley membuat yoghurt berbahan susu kambing. (Foto: Nadeem Khawar/Getty Images); jalan di Gilgit yang dibangun mengikuti aliran sungai. (Foto: Kwanjai Kamnerddee/EyeEm/Getty Images)

Bergidik dihujani kisah emosional, saya mengalihkan fokus pada paras keluarga Hamid yang berbeda dari orang Pakistan kebanyakan. Mereka bermata sipit dan berkulit terang. Setelah saya tanya silsilahnya, mereka mengaku sebagai orang Balti keturunan Tibet. Bahasanya pun mirip dengan bahasa Tibet. Dari sinilah saya tahu mengapa Baltistan dijuluki “Little Tibet,” sedangkan Ladakh di India dijuluki “Great Tibet.”

Sejenak membuka sejarah, konflik perbatasan di Kashmir berakar pada abad ke-19. Dulu, wilayah Kashmir dari Gilgit-Baltistan di sisi barat hingga Jammu-Kashmir di timur dikuasai oleh Dinasti Dogra yang tunduk di bawah pemerintahan kolonial Inggris di India. Selepas hengkangnya Inggris pada 1947, Pakistan dan India berpisah dengan menyisakan sejumlah problem tapal batas yang tak jelas ujungnya hingga kini.

Teritori Kashmir saat ini terbagi dalam tiga zona dengan tiga penguasa berbeda: 35 persen wilayahnya dikuasai oleh Pakistan yang membawahi Gilgit-Baltistan dan Azad Kashmir; 45 persen oleh India yang mencakup Jammu-Kashmir; sementara 20 persen sisanya oleh Tiongkok yang meliputi Aksai Chin dan Shaksgam Valley. Zona yang terakhir ini juga diperebutkan oleh India, membuat perseteruan geopolitik di sini kian runyam.

Mengunjungi daerah mana pun di Kashmir, isu perebutan wilayah adalah tema diskusi sehari-hari. Empat tahun lalu saya berkesempatan melawat Jammu-Kashmir di India. Suasana di sana jauh lebih mencekam. Di Bandara Leh, turis mesti mengisi formulir yang jauh lebih tebal dan rumit, juga melewati sesi wawancara intensif oleh aparat. Kendaraan militer dan bala tentara India terlihat di mana-mana, jauh lebih banyak jumlahnya daripada di Gilgit-Baltistan. (Bedanya, tentara India di Jammu-Kashmir lebih fokus meredam gerakan makar, sementara tentara Pakistan di Gilgit-Baltistan bersiaga menghadapi serangan India.)

Sebuah mobil membelah jalan di Shigar Valley, gerbang menuju Pegunungan Karakoram. (Foto: Haroon Sadiq/Getty Images)

Meski lanskapnya cantik dan fotogenik, Kashmir ternyata tak ubahnya tumpukan nestapa. Di tengah alam yang menyejukkan hati ini, manusia sangat gigih bertarung memperebutkan garis-garis di atas peta, bahkan sudi saling mengancam nyawa. Begitu panjang dan kompleks persoalannya sampaisampai Kashmir telah menjadi semacam epitome bagi konflik perbatasan warisan zaman penjajahan.

Semua orang, tak peduli kastanya, turut terkena dampak dari sengketa. Selagi di Baltistan, saya sempat diundang ke rumah Puteri Jiya, cucu dari Raja Fateh Ali Khan. Khaplu, kerajaan kakeknya di Baltistan, sudah dihapus oleh pemerintah Pakistan pada 1972, sementara istananya dialihfungsikan menjadi hotel mewah yang merangkap museum. Akan tetapi, walau sistem monarki sudah punah, keturunan raja masih dihormati oleh warga setempat.

Saya menikmati sesi minum teh bersama Abbas, suami dari Puteri Jiya. Topik diskusinya lagi-lagi tak lepas dari tragedi. “Ibu saya berasal dari Desa Tyakshi yang sekarang berada di India,” Abbas membuka obrolan. “Suatu hari pada 1971 dia dan sepupunya pergi ke Khaplu. Ketika kembali ke rumah, tiba-tiba jalan sudah dipagari oleh tentara India. Ibu saya menangis menjerit-jerit minta lewat tapi tidak dikasih, padahal jarak dari pagar ke rumah hanya sekitar tiga hingga empat kilometer. Dia meninggalkan suami dan dua anak.”

Selama di sini, hampir setiap orang yang saya temui menyimpan kenangan pilu yang ingin ditumpahkan: tentang istri yang berpisah dari suami, ibu yang kehilangan anak, tetangga yang tak lagi bersilaturahmi. Barangkali, Kashmir adalah kawasan yang paling mengagumkan sekaligus paling mengharukan di dunia. Ironis memang. Jika ada satu pengalaman berbeda saya dapatkan di sini, jawabannya ialah pertemuan dengan Raja Adeel Amacha. Alih-alih mengundang ke rumahnya untuk curhat, beliau mengajak saya menonton pertandingan polo, olahraga tua asal Persia yang ternyata populer di Gilgit-Baltistan. Tak menyangka saya menonton polo pertama kalinya di Lembah Shigar yang dikurung pegunungan bersalju. Melihat kerumunan di sekitar, ini juga pertama kalinya bagi saya menonton pertandingan olahraga sebagai satu-satunya perempuan di antara ratusan penonton pria lokal.

Dalam panggung politik Pakistan, Gilgit-Baltistan adalah isu sensitif yang terpaut kedaulatan negara. Akan tetapi, berhubung lokasinya jauh dari pusat kekuasaan di Islamabad, tempat ini mengalami problem khas daerah pinggiran: kurang perhatian. Hingga kini, Gilgit-Baltistan belum secara resmi diintegrasikan ke dalam negara Pakistan. Warga berharap wilayahnya ditetapkan sebagai provinsi kelima, tapi pemerintah pusat tak menggubrisnya.

Kiri-kanan: Seorang penggembala di Deosai National Park, Skardu District. (Foto: Nadeem Khawar/Getty Images); seorang gadis lokal yang berasal dari etnik Balti keturunan Tibet. (Foto: Nadeem Khawar;/Getty Images)

Jika membayangkan diri saya sebagai penduduk Gilgit-Baltistan, saya akan menganggap Pakistan sebagai pacar yang buruk. Diminta putus, menolak. Ditantang naik ke jenjang berikutnya, malah diam saja. Pada 2009, Pakistan berkompromi dengan memberikan status otonomi. Di tengah hidupnya yang susah, Gilgit-Baltistan justru dipaksa mandiri. Pacar yang buruk dan pelit.

Tapi kondisi itu tak melulu buruk sebenarnya. Minimnya perhatian pemerintah pusat telah melahirkan semacam privilese untuk terbebas dari pajak. Warga setempat bisa menikmati penghasilan tanpa terkena PPh dan berbelanja tanpa membayar PPN. “Saya telah bekerja puluhan tahun di seluruh Pakistan dan di beberapa negara di luar negeri, tapi baru di sini saya merasakan nikmatnya gaji yang utuh tidak kena pajak,” jelas Robin, general manager sebuah hotel berbintang di Skardu.

Robin juga mengaku telah membeli mobil dengan harga sangat murah, walau dengan pelat khusus berwarna biru sebagai tanda mobilnya cuma bisa dikendarai di Gilgit-Baltistan. “Di masa pensiun begini,” tambah Robin, “saya sengaja mencari kerja di Gilgit Baltistan yang alamnya indah bak surga, plus bisa lebih banyak menabung.”

Satu perkembangan yang menarik, dalam beberapa tahun belakangan Gilgit-Baltistan mulai menikmati pembangunan infrastruktur yang cukup signifikan. Diabaikan oleh Islamabad, daerah ini justru dilirik oleh Beijing. Mengarungi Gilgit, Ibu Kota Gilgit-Baltistan, jalan-jalan membentang mulus. Saat bergeser ke sisi selatan, saya menyusuri Karakoram Highway yang melintang 1.300 kilometer, juga berulang kali menembus pegunungan berbatu. Di banyak titik terpampang pelang besar bertuliskan “China-Pakistan Friendship Highway.”

Ambisi Tiongkok melebarkan pengaruhnya telah menempatkan Gilgit-Baltistan sebagai titik strategis yang mesti dirangkul. Maklum, kawasan ini berada di jalur panjang yang terbentang dari Khunjerab di tepi utara hingga Pelabuhan Gwadar di ujung selatan Pakistan. Pejabat politbiro tentu ingin memastikan kargo dari Tiongkok lancar menjangkau pelabuhan Pakistan untuk kemudian diekspor ke kawasan Afrika dan Asia Barat.

Kiri-kanan: Sebuah instalasi pembangkit listrik di tebing terjal di Gilgit-Baltistan, kawasan yang kurang diperhatikan pemerintah pusat Pakistan tapi kini menuai manfaat dari ekspansi Tiongkok ke Asia Barat. (Foto: Amir Mukhtar/Getty Images); perahu melabrak permukaan beku Attabad, danau yang memikat turis berkat keindahannya walau sejatinya tempat ini terbentuk dari tanah longsor pada 2010 di Gojal Valley. (Foto: Nadeem Khawar/Getty Images)

Di bawah payung CPEC (China-Pakistan Economic Corridor), semacam Jalan Sutra abad ke-21, Tiongkok mengguyurkan dana untuk beragam proyek infrastruktur di Gilgit-Baltistan, termasuk membangun instalasi pembangkit listrik. Perbaikan infrastruktur ini secara tak langsung turut menunjang sektor pariwisata. Pelancong lebih mudah bergerak. Objek-objek wisata kian gampang dijangkau. Dan Gilgit-Baltistan mengoleksi objek wisata yang luar biasa banyak.

Salah satu tempat di sini yang sudah tersohor di kalangan petualang ialah Lembah Hunza, di mana gunung-gunung menjulang dengan kepala runcing mirip sayur okra. Objek lainnya yang juga memukau ialah Khunjerab Pass, perbatasan antarnegara tertinggi di dunia, yang dilengkapi mesin ATM tertinggi versi Guinness World Records.

Memang, setidaknya saat ini, Kashmir belum laris sebagai tujuan liburan. Mendengar namanya saja bisa membuat orang mengernyitkan dahi. Tapi satu pelajaran yang saya petik dari trip ini ialah berita-berita di media massa kerap kurang proporsional dalam merangkum realitas di lapangan. Kontras dari citranya yang suram, Gilgit-Baltistan menurut saya memiliki panorama alam yang paling indah di seantero Pakistan. Berjalan-jalan di sini juga terasa aman. Tingkat kriminalitasnya nol. Tidak ada pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, maupun teror bom. Kata Hamid, pemandu saya, semua itu tak lepas dari keyakinan yang dianut masyarakatnya. “Kami mayoritas Muslim Syiah,” jelasnya. “Syiah pencinta damai. Kami tidak boleh membunuh manusia, meski atas nama jihad sekalipun.”

Tanah indah ini masih didera masalah, tapi warganya kini punya alasan untuk tak melulu berkabung. Pergeseran kekuatan ekonomi ke Tiongkok telah membuka harapan bagi perbaikan di masa depan.

PANDUAN
Rute
Belum ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Islamabad. Untuk durasi tersingkat, pilih transit di Bangkok. Tapi jika wilayah udara India ditutup, rute tergampang adalah via Doha. Visa Pakistan bisa diperoleh secara daring melalui Pakistan Official Visa Portal (visa.nadra.gov.pk) dengan menyerahkan dokumen yang terdiri dari scan paspor, foto diri, bukti reservasi hotel, dan undangan dari operator tur di Pakistan. Menuju Gilgit-Baltistan, Anda bisa menempuh jalur darat selama 20-22 jam ke Skardu atau 12-14 jam ke Gilgit. Skardu dan Gilgit sebenarnya memiliki bandara, tapi penerbangan ke sini sangat rentan dipengaruhi cuaca.

Informasi
Untuk menjelajahi Gilgit-Baltistan, sebaiknya sewa mobil 4WD dari pemandu lokal, salah satunya Mountain Travel Pakistan (mountaintravels.com), yang merupakan operator tur pelopor di kawasan ini. Serena (serenahotels.com) adalah merek hotel yang kerap direkomendasikan kedutaan berkat standar keamanannya yang prima. Cabangnya terdapat di Gilgit, Shigar, dan Khaplu. Di beberapa kota, Serena merupakan satu-satunya hotel yang menyediakan listrik dan air panas 24 jam. Wanita asing tidak diwajibkan berjilbab di Pakistan. Turis, termasuk pria, hanya disarankan menutupi bagian kaki dan lengan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Elegi Elok”)

The post Ironi Tercantik di Dunia appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Ekspedisi Pinisi Bersama Ayana Komodo https://destinasian.co.id/ekspedisi-pinisi-bersama-ayana-komodo/ Thu, 21 Nov 2019 11:29:13 +0000 https://destinasian.co.id/?p=50486 Tak hanya menyuguhkan panorama laut dari kamar, Ayana Komodo kini menawarkan kapal pinisi untuk mengarungi lautan.

The post Ekspedisi Pinisi Bersama Ayana Komodo appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Oleh James Louie

Lako Di’a adalah bahasa Manggarai yang artinya kurang lebih “semoga selamat di perjalanan.” Nama ini dipilih resor Ayana Komodo untuk kapal pinisi miliknya yang diluncurkan Mei silam. Selama dua hari, saya bersama lima penumpang lain berkelana menaikinya.

Untuk standar pinisi bintang lima, posturnya cukup gigantik: membentang 54 meter dan menampung sembilan kabin. Lako Di’a bukan pinisi pertama di Taman Nasional Komodo, tapi pastinya layak masuk daftar yang termewah. Kabin saya, Luxury Suite, dilengkapi televisi layar datar dan kamar mandi dengan shower. Ukurannya lumayan lapang, 20 meter persegi, dan terasa lebih lega berkat langit-langitnya yang tinggi, jendelanya yang besar, serta pintu kacanya yang terkoneksi ke balkon privat.

Selang 15 menit sejak angkat jangkar, hotel terapung ini melewati gugusan pulau kecil di pelataran Labuan Bajo. Tanpa alas kaki, saya menjelajahi area-area komunal, lalu bertamu ke anjungan yang ditaburi beragam layar, tombol, dan tuas. Lako Di’a mengadopsi arsitektur kapal Bugis yang dulu menebar horor di lautan, tapi sistem navigasinya datang dari masa kini. Nakhoda tak lagi bersandar pada layar, pola ombak, apalagi kemampuan membaca petunjuk rumput laut dan feses burung.

Kapten Nasrul Djuje mempersilakan saya masuk ke ruang kerjanya, lalu memperlihatkan cara mengoperasikan beberapa peralatan. “Sebagai kapten, kamu mesti memperlakukan kapal sebagaimana kamu memperlakukan wanita. Harus lembut,” jelasnya sembari tersenyum nakal. Memutar kunci dan perlahan menarik tuas, Nasrul menunjukkan betapa mudahnya menggeser kapal ke arah kanan.

Kiri-kanan: Ferdinandus Dauth, staf kapal yang berasal dari Ruteng, sekitar empat jam berkendara dari Labuan Bajo; meja makan dan zona bersantai. (Foto: Tony Narotama)

Persis di belakang anjungan terdapat ruang salon tengah, ruang makan, serta zona santai di mana penumpang bisa menghabiskan waktu menonton film. Bergeser ke arah buritan, ada kabin Master Suite yang tampil paling mewah dan cocok untuk tamu pasangan. Nasrul mungkin juga sudah paham cara terbaik menikmatinya.

Usai blusukan, saya berpindah ke sisi haluan untuk mengagumi vista bersama Ferdinandus Dauth, mualim asal Ruteng. Dia menunjukkan Pulau Kukusan yang berbentuk kerucut. “Disebut Kukusan karena mirip tumpeng,” jelasnya. “Pulau-pulau di sini dinamai oleh para nelayan kaum pelaut seperti Bugis dan Bajo. Orang Manggarai seperti saya lebih suka bercocok tanam karena kami ini orang pegunungan.”

Obrolan terkait pangan terasa pas karena kebetulan waktu makan siang sudah tiba. Kapal bersauh dan hidangan pun tersaji: selada daging sapi bergaya Thailand, disusul dada ayam dalam santan, kemudian pandan panna cotta. Dengan perut kenyang, penumpang bersiap pindah ke darat untuk bertualang.

Interior kamar di Lako Di’a. (Foto: Tony Narotama)

Awalnya kami mendaki Pulau Kelor. Jalurnya curam, tapi tiap tetes keringat kami dibayar sepadan oleh panorama pesisir jantan di barat Flores. Dari sini, penumpang dibawa ke Pantai Menjerite. Di dermaganya yang fotogenik, kami mengenakan masker, snorkel, dan kaki katak, kemudian menceburkan diri ke laut dangkal. Di antara karang aneka warna, saya sempat melihat ikan botana, gerombolan ikan ekor kuning, juga bintang laut “chocolate chip.”

Kapten Nasrul kini mengarahkan bahtera ke Pulau Kalong yang tersohor sebagai markas kelelawar. Saat kami tiba, ribuan pasang sayap berkelebat di bawah langit yang berangsur gelap. Kami menonton terkesima di geladak sembari menyeruput fruit punch, sementara para awak mulai menyulut lilin-lilin di atas meja makan. Ketika legiun kalong berburu makanan, kami menyantap selada jeruk, tuna panggang, irisan kentang goreng, lalu mencuci mulut dengan keik cokelat dan es krim vanila.

Baca juga: Dua Resor Premium di Taman Nasional Komodo; Checking In: Ayana Komodo Resort

Pagi-pagi sekali hari berikutnya, saya kembali ke dek di atap untuk menyerap keindahan pulau-pulau dan cahaya keemasan yang menari pada riak air. Kelar sarapan, penumpang menaiki perahu karet untuk tamasya ke Pulau Mesa. Beberapa kelasi Lako Di’a berasal dari pulau kecil berisi sekitar 700 keluarga ini. Mendarat di dermaganya, seorang nelayan sedang mengasinkan ikan kakatua, lalu menjemurnya di atas bilah bambu. Deni Saputra, ABK muda, membawa kami melewati rumah keluarganya.

Tamu dapat bersantai di dek kapal pinisi bintang lima ini. (Foto: Tony Narotama).

Tur ini menyuguhkan kehidupan intim pedesaan yang kontras dari kegilaan Jakarta. Suara palu para pembuat perahu bersahutan, sementara ayam dan entok berkeliaran di antara rumah panggung. Guyub memang, tapi hidup di sini sejatinya tak melulu mudah. “Tidak ada mata air; pulau ini pasir semua,” kata Deni. “Kami harus bawa air dari Desa Menjaga di samping Menjerite.” Katanya lagi, listrik dulu tidak tersedia, hingga akhirnya PLN memasang panel-panel surya di bukit yang menaungi desa.

Dalam perjalanan kembali ke Lako Di’a, saya terpikir untuk menaiki kayak dan mengarungi perairan Pulau Kalong. Sejam lagi, tim Ayana akan datang untuk menjemput kami sekaligus memasok tamu-tamu baru untuk tur berikutnya. Kapal berlabuh menanti mereka, sementara saya menghabiskan sisa waktu dengan menikmati alam sembari berharap bisa kembali untuk bertualang lebih lama.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Susur Segara”)

The post Ekspedisi Pinisi Bersama Ayana Komodo appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Pesta di Ketinggian 2.000 Meter https://destinasian.co.id/pesta-di-ketinggian-2-000-meter/ Fri, 02 Nov 2018 06:50:05 +0000 http://destinasian.co.id/?p=43456 Tahun ini, Bromo Marathon tampil lebih semarak dan memikat berkat kehadiran pertunjukan musik dan budaya.

The post Pesta di Ketinggian 2.000 Meter appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>

Oleh Cristian Rahadiansyah
Oleh Aditya Wisnu Yaniarso

Bromo Marathon dicetuskan pada 2013 bukan sebagai lomba lari semata, tapi juga medium untuk mempromosikan kawasan wisata Bromo. Tahun ini, agenda tersebut mendapatkan suntikan energi segar berkat kehadiran Plataran Xtravaganza, ajang meriah yang mengangkat kekayaan budaya lokal.

Plataran Xtravaganza bergulir dari 22-23 September 2018, bagian dari Bromo Marathon yang berlangsung pada 23 September. Pergelaran yang dipersembahkan oleh Resor Plataran Bromo ini dipusatkan di Putri Dewi Amphitheatre yang bertengger di ketinggian lebih dari 2.000 meter di daerah Tosari, Pasuruan.

Baca juga: Checking In: Plataran BromoPerjalanan Menaklukkan Bromo

Pada hari pertama, Plataran Xtravaganza menyuguhkan pertunjukan tari khas lokal seperti Tari Remo, Tari Kuda Lumping, dan Tari Ujung. Setelahnya tampil pentas gamelan khas Suku Tengger, kemudian atraksi Ketipung dan Baleganjur. Di antara tiap pementasan itu, pengunjung diundang untuk mencicipi aneka kuliner lokal.

Selain acara seni budaya, Plataran Xtravaganza memiliki sejumlah program kreatif, misalnya kontes jip dan pameran kriya. Magnet lain ajang ini ialah penampilan penyanyi asal Surakarta Sruti Respati dan grup musik Andra and the Backbone.

The post Pesta di Ketinggian 2.000 Meter appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Satu Dekade Konservasi Moyo https://destinasian.co.id/satu-dekade-konservasi-moyo/ Thu, 18 Oct 2018 05:00:52 +0000 http://destinasian.co.id/?p=43179 Setelah 10 tahun, Moyo Conservation Fund menorehkan banyak hasil positif. Tantangan besarnya ialah konservasi rusa.

The post Satu Dekade Konservasi Moyo appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Oleh Karina Anandya

Amanwana, resor glamping pertama di Indonesia, terkenal akan tenda-tendanya yang didesain anggun melebur dengan alam. Saban pagi, resor yang berlokasi di Pulau Moyo ini disatroni kawanan monyet. Sore harinya, belasan rusa berdatangan. Di antara monyet dan rusa, dulu, pernah hadir tamu-tamu agung seperti Putri Diana dan Pangeran Belanda.

Demi merawat konsep safari itulah Moyo Conservation Fund diluncurkan pada 2008. Melibatkan tamu dan warga, Amanwana menggelar serangkaian program konservasi yang bertujuan melestarikan alam Moyo. Beberapa contohnya: menanam karang, kampanye anti-konsumsi telur penyu, serta pelepasan tukik.

Ada banyak catatan positif dalam 10 tahun perjalanan Moyo Conservation Fund. Laut dan pantai Moyo relative terpelihara. Hingga kini, menurut kalkulasi pihak resor, sekitar 15.000 tukik telah dilepas ke laut. Kendati begitu, ada satu tantangan pelik yang terus menyisakan pekerjaan rumah, yakni konservasi rusa. Awal 2017, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat menyampaikan populasi rusa liar di Moyo terus menyusut hingga tersisa kurang dari 150 ekor.

Baca juga: Teluk Megah di Jantung Sumbawa9 Resor Terpencil di Indonesia

Kiri-kanan: Rusa-rusa berkeliaran di sekitar tenda; salah satu program konservasinya adalah memelihara keindahan alam bawah laut.

Problem rusa itu tak lepas dari status daratan Moyo sebagai Taman Buru. Ibarat lokalisasi, Taman Buru melegalkan perburuan. Walau rusa sejatinya masuk kategori dilindungi, satwa ini ternyata turut menjadi korban. Mengizinkan orang datang membawa senapan memang bukan kebijakan yang bijak di tengah pengawasan yang lemah

Satu harapan bagi kelestarian rusa adalah perubahan status pulau. Pada 2016 sempat beredar kabar Moyo akan naik kelas menjadi taman nasional, tapi sayangnya hingga kini belum ada kejelasan kapan palu akan diketuk. Untuk sekarang, kawanan rusa hanya bisa berlindung di antara tenda-tenda putih berisi turis.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2018 (“Suaka Satu Dasawarsa”).

The post Satu Dekade Konservasi Moyo appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
4 Destinasi Off-Road Terbaik Indonesia https://destinasian.co.id/4-destinasi-off-road-terbaik-indonesia/ Thu, 24 Aug 2017 09:00:38 +0000 http://destinasian.co.id/?p=26206 Rekomendasi dari kesatria jalanan pemegang sertifikat instruktur 4x4 Safety Driving.

The post 4 Destinasi Off-Road Terbaik Indonesia appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Rekomendasi tempat off-road favorit Reza Hariputra.

Menyukai off-road sejak SD, Reza Hariputra kini menjabat Humas Indonesia Off-Road Federation Jakarta. Pria yang memegang sertifikat instruktur 4×4 Safety Driving ini rutin menggelar ekspedisi berkendara di banyak jalur menantang di Indonesia. Kepada Reza Idris, dia membeberkan empat destinasi off-road favoritnya.

Sei Menggaris
“Perbatasan Malaysia dan Indonesia ternyata terletak jauh di dalam hutan,” kenang Reza tentang Sei Menggaris di Kalimantan Utara. Untuk menjangkaunya, kita mesti berkendara selama dua jam dari Kota Tarakan, lalu menembus hutan tropis dan melewati lintasan sempit yang hanya cukup menampung satu kendaraan. “Sei Menggaris suka berganti cuaca dari kering ke hujan. Trek tanah sulit dilewati,” tambah Reza. Kamping bisa digelar di mana saja, tapi Reza menyarankan kita berkemah di dekat pos perbatasan agar “bisa merasakan kehidupan sehari-hari para tentara kedua negara.”

Pantai Bagedur yang cenderung masih sepi. (Foto oleh: Indonesia Kaya)

Bagedur
Bagedur belum terjamah banyak orang. Kawasan pesisir ini terletak di tepian selatan Banten, tepatnya di Kecamatan Malingping. Di sini, Reza menyarankan aktivitas susur pantai. “Pantai Bagedur berpasir putih dan padat, membentang belasan kilometer. Berkendara di atas hamparan pasir adalah pengalaman yang sangat unik,” ungkapnya. Tiba di daerah Binuangeun di ujung Pantai Bagedur, Reza menyarankan pengendara singgah di sentra pelelangan ikan guna membeli hasil laut segar langsung dari nelayan.

Panorama sunrise dari puncak Gunung Batur.

Batur
Geopark pertama di Indonesia ini bukan semata medan bermain bagi para geolog dan trekker. Di tepi Danau Batur, Reza telah menemukan rute tersembunyi yang ideal bagi pencinta off-road. “Lintasannya mengarah ke kaki Gunung Batur,” ujarnya. Medannya terdiri dari trek pasir vulkanis dan jalan berbatu. Di sejumlah titik, kita bisa menyaksikan panorama alam yang memukau dan beberapa lahan lapang untuk berkemah. “Lintasan ini relatif sepi pengunjung,” tambahnya. Satu pesannya bagi pengendara: bawa cadangan air bersih cukup banyak, sebab pasokannya cukup minim di sini.

Kasepuhan Ciptagelar
Untuk mengunjungi desa tradisional di Sukabumi ini, wisatawan lazimnya berkendara melewati Kampung Pangguyangan. Khusus pencinta petualangan, terdapat rute alternatif yang hanya bisa dilalui kendaraan 4×4. Rute ini akan membawa kita mengarungi hutan rindang dan medan berbatu di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Perhatikan alam sekitar. Jika beruntung, kita bisa mengintip satwa lokal seperti elang Jawa dan macan tutul. “Wisata di Kasepuhan Ciptagelar memberikan petualangan yang lengkap,” ujar Reza.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2017 (“Kesatria Jalanan”).

The post 4 Destinasi Off-Road Terbaik Indonesia appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Wisata di Zona Merah https://destinasian.co.id/wisata-di-zona-merah/ Tue, 25 Apr 2017 10:47:47 +0000 http://destinasian.co.id/?p=24419 Akibat citranya yang suram, Bima sulit memikat turis. Tapi sejumlah investor tak peduli.

The post Wisata di Zona Merah appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Kiri-kanan: Panorama lembah di interior Bima; Wanita Desa Poja menjala ikan-ikan kecil untuk dijadikan umpan pancing ikan besar.

Teks oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Nyimas Laula

Seperti orang yang terlambat kencan di bioskop, sopir saya terus memacu gas meski jalan berkelok tajam. Dari tepian teluk tipis yang merobek pundak Sumbawa, saya meluncur ke timur menuju Selat Sape. Mobil meliuk gesit di lereng, terengah-engah di tanjakan curam, merayap cemas di ruas jalan yang amblas beberapa bulan silam.

Usai merandai jantung pulau yang rindang, mobil memasuki kawasan pesisir yang gersang. Semak meranggas. Pohon-pohon jati menjulang kurus seperti orang yang kurang gizi. Mobil meninggalkan jalan aspal dan berbelok ke jalur tanah. Di kejauhan, pondok-pondok berbaris di tepi laut. Saya telah mendekati Kalimaya, resor yang terpencil dan sepertinya memang ingin terpencil.

Kiri-kanan: Dua turis Australia bersantai di kolam renang Kalimaya Dive Resort, resor yang beroperasi sejak Oktober 2016; Hidangan makan siang di Kalimaya.

Pemilik resor, Eric dan Loren, menyambut saya. Keduanya ramah. Keduanya asal Kanada, sebuah negeri di mana, menurut sebait stereotip, orang-orang selalu memohon maaf sebelum bertindak. Delapan tahun bekerja untuk majalah wisata, ini pertama kalinya saya menemukan orang Kanada yang memiliki resor di Indonesia, dan mereka memilih tempat yang janggal untuk berbisnis.

Bima bersemayam di pojok timur Pulau Sumbawa. Kabupaten ini berbatasan dengan Selat Sape, perairan yang memisahkan Sumbawa dan Flores. Ini lawatan perdana saya ke Bima. Kecuali ajang pacuan kuda yang melibatkan joki-joki cilik, tempat ini hemat saya tak menawarkan banyak alasan untuk dikunjungi. Justru sebaliknya, Bima menyodorkan banyak alasan untuk tidak dikunjungi.

Kiri-kanan: Loren Vazquez, salah seorang pemilik Kalimaya; Pantai di pelataran Kalimaya.

Menggali informasi seputar Bima, kita akan menemukan banyak berita yang tak sedap. Oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Bima ditempatkan dalam zona merah. Di mata pemerintah, kabupaten ini mewakili noda hitam dalam agenda pengentasan kemiskinan. Bima dan pariwisata seperti dua kata yang berseberangan. Untuk apa mendirikan resor di sini?

Kalimaya menempati lahan bekas kebun bawang merah, komoditas andalan lokal. Resor ini menampung enam unit rumah panggung yang berbaris di kaki tebing cadas. Tiap bungalonya dirakit dari kayu jati dan mahoni, dipayungi atap ilalang, dihubungkan oleh jalan setapak berlapiskan bata merah. Rural dan bersahaja, tapi nyaman. Listrik menyala nonstop. Air tawar mengalir dari shower. Hanya televisi yang absen.

Bungalo Kalimaya berbaris di tepi Selat Sape, menatap Gili Banta dan Pulau Komodo di kejauhan.

Sebelum mendarat, saya sempat mencari referensi literatur tentang Bima. Hasilnya minim. Dalam The Malay Archipelago, Alfred Russel Wallace tak sedikit pun mengulas Bima. Dia memang tidak menginjakkan kakinya di sini. Dari Lombok, sang naturalis langsung melompat ke Timor. Wallace hanya sempat menyinggung Gunung Tambora di barat Bima, yang meletus tiga dekade sebelum ekspedisinya digelar.

Catatan tentang Bima justru saya temukan dalam jurnal yang jauh lebih sepuh: Suma Oriental. Pada abad ke-16, Tome Pires menggambarkannya sebagai tempat yang makmur. Bima, tulisnya, diperintah oleh seorang raja pagan. Warganya berkulit gelap. Tanahnya mengandung emas. Perdagangannya ramai. Bima menghasilkan ikan, asam, serta budak dan kuda yang dikapalkan ke Jawa. Yang membingungkan, Pires menganggap Byma (Bima) dan Cimbava (Sumbawa) sebagai dua pulau yang terpisah.

Kiri-kanan: Ornamen di belakang bungalo Kalimaya; Isahaka Ismail, warga Desa Poja To’i yang berprofesi pembuat kapal kayu.

Pagi baru dibuka di Kalimaya. Matahari menembus celah gorden dan memaksa saya membuka mata. Di muka pondokan, laut bercorak perak, pulau-pulau tampak samar di kejauhan. Dengan wajah mengantuk, para tamu berjalan gontai ke restoran dan mengambil kursi. Tak ada yang mengeluh. Hari memang dimulai lebih awal di Kalimaya. Sarapan tersaji pukul tujuh. Tur selam bergulir pukul delapan. Resor ini didirikan oleh penyelam dan didedikasikan bagi penyelam.

“Saya dan Loren gemar bertualang,” Eric menuturkan kisah resornya saat kami menanti menu sarapan. Dulu dia bekerja di perusahaan simulator pesawat. Sementara Loren, istrinya, menekuni bisnis energi hidroelektrik. Keduanya memiliki pekerjaan yang menjanjikan sebenarnya, tapi mimpi mereka adalah membuka resor di daerah terpencil.

“Tiga bulan usai menyelam di Komodo, mimpi itu teringat kembali, dan kami pun mulai serius mewujudkannya,” sambung Eric. Gayung bersambut, seorang kenalannya menawarkan sebidang lahan di Bima. Eric dan Loren lalu memutuskan meninggalkan pekerjaannya, kemudian menulis lembaran baru di Indonesia. Pertengahan Oktober 2016, Kalimaya resmi membuka pintunya.

Kiri-kanan: Gelembung udara panas di titik selam perairan Pulau Sangeang; Eric James, pria asal Kanada yang mengelola Kalimaya.

Rampung sarapan, kami menaiki perahu, lalu meluncur ke titik penyelaman. Abdul, segani yang jenaka asal Lembata, membawa kami menuju utara Selat Sape, mengarungi segara pagi yang datar layaknya seprai biru. Setelah setengah jam, kami mulai mendekati Gunung Sangeang. Gumpalan-gumpalan awan tersangkut di lerengnya. Tubuhnya dipenuhi guratan luka sisa letusan.

Perahu berlabuh di pelataran pulau dan sesi penyelaman pun dimulai. Di rahim laut, koral menebarkan warna-warna yang semarak. Seekor moray eel melongok penasaran dari sarangnya di celah karang. Belasan nudibranch melata anggun dengan tubuh yang mencolokdi atas pasir gelap. Mendekati Sangeang, saya menemukan puluhan lubang yang menyemburkan gelembung, hasil dari aktivitas vulkanis gunung. Air laut terasa begitu hangat.

Sangeang, pulau yang dinaungi gunung setinggi 1.900 meter.

Berkat keindahan alamnya, Sangeang rutin dijadikan titik pemberhentian dalam jalur pesiar yang bertolak dari Bali menuju Taman Nasional Komodo. Padahal, dulu, tak banyak orang yang berani menghampirinya. “Pulau ini,” tulis Tome Pires lagi, “memiliki bazar khusus perampok. Mereka ke sini untuk menjual apa saja yang mereka curi dari pulau-pulau lain. Pulau ini diperintah oleh seorang raja kafir, dan semua orang di sini kafir.”

Di sela penyelaman, kami rehat di tepi Sangeang. Di pantai berpasir hitam, puluhan rumah panggung reyot berdiri malas. Ayam dan kambing berkeliaran di kolong-kolong rumah. Kampung kumuh ini dihuni sekitar 200 orang, setidaknya selama beberapa bulan. Mereka datang dari Bima untuk menanam wijen dan kacang tanah, lalu hengkang selepas panen. “Tapi tahun lalu kebun kami gagal panen. Hujan jarang turun di sini,” keluh seorang warga.

Masyarakat di sekitar Selat Sape umumnya hidup bersandar pada alam. Di darat, mereka berladang wijen, bawang merah, dan kacang tanah. Di laut, mereka membidik cumi-cumi. Tak ada padi di sini. Tanahnya terlalu cadas. Curah hujan minim dan labil.

Kiri-kanan: Rumah panggung di Poja To’i, kampung yang dihuni warga keturunan Bugis.

Kami kembali ke resor menjelang senja. Para tamu bersantai di kolam renang, sementara saya melepas lelah di serambi bungalo. Alam di sini memang tak ramah bagi sawah, tapi pemandangannya mengagumkan. Di bawah langit jingga, Gili Banta tampak kering di kejauhan. Di baliknya, samar-samar terlihat Pulau Komodo. Selepas magrib, laut kalem ini berubah semarak. Dari desa-desa nelayan, puluhan bagan meluncur beriringan, lalu berbaris panjang di laut lepas. Sepanjang malam, perahu-perahu itu membuat Selat Sape berpendar oleh cahaya neon.

Mungkin tak banyak yang ingat, di masa lalu, Selat Sape tak cuma diramaikan oleh bagan. Kawasan ini merupakan salah satu pijakan untuk menyambangi Taman Nasional Komodo. Saban hari, kapal bertolak dari Pelabuhan Sape untuk mengantarkan turis menuju habitat kadal raksasa. Durasinya tiga jam, kurang-lebih sama dengan waktu tempuh dari Labuan Bajo. Tapi itu dulu. Setelah Labuan Bajo memugar bandaranya dan menambah konektivitas penerbangan, Selat Sape perlahan tenggelam dan dilupakan.

Kiri-kanan: Kompleks rumah adat Di Uma Lengge Wawo; Parang milik pembuat bagan di kampung nelayan Poja To’i.

Menyewa mobil, saya menjelajahi interior Bima bersama Yamin, pria lokal yang telah bekerja sebagai sopir sejak 1993. Kami melihat-lihat kampung adat, berhenti di tubir lembah, mampir di warung kopi.

Merujuk statistik BPS, Bima hanya berhasil menjala sekitar 3.000 turis per tahun. Hotelnya hanya lima buah. Kepada Yamin, saya sempat menanyakan apa yang membuat tempat ini sulit memikat wisatawan, dan menurutnya rapor Bima yang meresahkan di bidang keamanan merupakan salah satu faktor utamanya. Warga Bima terkenal bersumbu pendek. Pertikaian antar-kampung adalah peristiwa jamak.

“Warga di sini mudah tersinggung,” ujar Yamin. Katanya, saat memasuki sebuah kampung, sekadar alpa menegur warga lokal bisa berbuntut panjang. “Di sini orang biasa berkelahi pakai parang. Tapi itu sudah biasa. Yang bahaya kadang mereka bawa senapan rakitan.”

Kiri-kanan: Giorgio Federico Magni, instruktur selam asal Italia; Kelasi melepas lelah di haluan dalam perjalanan ke Pulau Sangeang, sisi utara Selat Sape.

Yamin menduga, darah panas tersebut diwariskan dari raja-raja Bima yang terkenal gigih melawan penjajah, walau bisa jadi kemiskinan punya andil yang tak kalah besar. Kabupaten ini berpopulasi sekitar 460.000 jiwa dengan 74.000 di antaranya masuk kategori miskin. Dari 36 desa tertinggal di Nusa Tenggara Barat, 15 di antaranya bersemayam di Bima. Saat hidup tak menawarkan banyak pilihan, harga diri kerap menjadi barang berharga yang mesti dijaga dengan tinju terkepal.

Dan kemiskinan kerap tak cuma membuat orang bersumbu pendek, tapi juga berpikir pendek. Banyak problem yang mendera Bima sekarang juga bisa dilacak kaitannya ke problem kemiskinan. Memasuki kota Bima, Yamin mengantarkan saya melewati sebuah permukiman di mana gembong teroris Santoso ditengarai membentuk jaringan dan merangkul pengikut. Awal 2016, tiga anak buahnya diringkus oleh tim Densus 88.

Jalan setapak penghubung bungalo di Kalimaya, resor pertama di pesisir timur Bima.

Mungkinkah pariwisata tumbuh di lanskap sosial seperti itu? Bisakah bisnis tur dan hotel merekah di daerah yang membuat analis risiko mengernyitkan dahi? “Tentu saja saya pernah mendengar tentang teroris, tapi mereka berada di kota, jauh dari sini,” ujar Loren, pemilik Kalimaya. “Kawasan timur karakternya berbeda. Orang-orangnya ramah. Resor ini bisa berdiri berkat bantuan mereka.”

Loren bukan satu-satunya yang berpikir optimistis. Kalimaya adalah resor pertama di timur Bima, tapi bukan yang terakhir. Empat hari berkelana di sini, saya sering mendengar orang-orang menggunjingkan rencana pembangunan resor baru di tepi Selat Sape. “Sebenarnya tak semua orang suka dengan pariwisata. Mereka takut dengan budaya asing,” ujar seorang pria di Poja To’i, kampung nelayan di Sape. “Tapi pariwisata bagus untuk Bima. Akan ada lapangan kerja baru.”

Kiri-kanan: Sajian bagi para penyelam di Kalimaya; ABK mendayung sampan dengan latar Kalimaya.

PANDUAN
Rute
Banda Udara Sultan Muhammad Salahuddin di Bima dilayani oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dari Lombok, serta Wings Air (lionair.co.id) dari Bali, Makassar, dan Lombok. Menuju Selat Sape, Anda bisa menyewa kendaraan di bandara dengan tarif tergantung dari jenis mobil dan kemampuan negosiasi, umumnya berkisar Rp400.000-425.000, termasuk sopir dan bensin. Salah satu sopir yang bisa diandalkan adalah Yamin (0852-3953-7704), pria lokal yang bisa mengantarkan Anda ke objek wisata seperti istana sultan, stadion pacuan kuda, dan kompleks rumah adat Di Uma Lengge Wawo.

Penginapan
Sejumlah hotel kelas menengah bisa ditemukan di Kota Bima. Khusus tepian Selat Sape, sementara ini hanya ada Kalimaya Dive Resort (Poja, Sape; kalimayadiveresort.com; mulai dari Rp7.000.000 per orang untuk tiga malam, termasuk makan tiga kali per hari). Resor yang berjarak dua jam dari bandara ini menaungi dive center, enam bungalo yang ditata menatap laut, serta sebuah restoran yang dilengkapi kolam renang. Kecuali untuk sarapan, seluruh menu di restorannya berganti setiap hari. Bagi penyelam dan petualang, Kalimaya menawarkan kesempatan mengarungi kawasan elok yang jarang terjamah di timur Indonesia, misalnya Pulau Sangeang, Gili Banta, dan pesisir barat Pulau Komodo.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2017 (“Asa Dari Tepi Sape”)

The post Wisata di Zona Merah appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
4 Destinasi Trekking Favorit Rick Morales https://destinasian.co.id/4-destinasi-trekking-favorit-rick-morales/ Tue, 21 Mar 2017 03:18:48 +0000 http://destinasian.co.id/?p=23754 Salah satunya berada di Indonesia.

The post 4 Destinasi Trekking Favorit Rick Morales appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Rick Morales.

Oleh Reza Idris

Darien Gap
“Dari perspektif ilmu biologi, Darien Gap adalah rantai terakhir yang menghubungkan hutan lebat di Amerika Tengah dan Selatan,” jelas Morales. Belantara hijau ini membentang 160 kilometer dengan lebar mencapai 50 kilometer, membalut kawasan perbatasan antara Panama dan Kolombia. “Tidak ada jalan yang menghubungkan Panama dan Kolombia. Inilah salah satu alasan Darien Gap relatif masih asri,” tambahnya. “Areanya liar. Menantang bagi profesional.”

Taman Nasional Madidi
Luasnya 19.000 ribu kilometer persegi, hampir setara Provinsi Bengkulu. Kawasannya menghidupi lebih dari 20.000 spesies tanaman dan 1.000 spesies burung. Morales menyebut Madidi sebagai “gambaran Amazon yang sebenarnya.” Suaka yang menawarkan resor-resor ramah lingkungan ini jugalah jugalah destinasi trekking yang populer. Para petualang lazim menyambanginya dari kota Rurrenabaque di Bolivia dengan menaiki feri yang melintasi Sungai Beni. Tapi ekspedisi di sini tak selamanya menampilkan wajah alam yang menawan. Madidi, sebagaimana banyak kawasan Amazon, tengah menderita kerusakan alam akibat pembalakan liar.

Taman Nasional Gunung Leuser
Kawasan konservasi di belahan utara Sumatera ini memayungi ekosistem pantai, bakau, rawa, serta hutan hujan dataran rendah.“Kelebihan hutan tropis, trekking bisa dilakoni hampir sepanjang tahun. Tiap kali datang, kita disambut tantangan yang berbeda,” ujar Morales. Kendati demikian, dia menyarankan pengunjung mewaspadai musim hujan, sebab beberapa area Leuser rawan longsor. Kata Morales lagi, Leuseur cocok bagi pencinta satwa. Taman nasional ini menghidupi 89 spesies yang dilindungi, di antaranya gajah dan badak.

Taman nasional ini juga merupakan tempat konservasi gajah hutan di Afrika.

Taman Nasional Odzala
Odzala, magnet wisata alam Republik Kongo, menyandang status taman nasional sejak 1935, menjadikannya salah satu suaka konservasi tertua di Afrika. “Inilah wajah Afrika sebelum periode glasial membasuh dan mengubah hutan jadi sabana,” ungkap Morales. Guna menjaga warisan bumi itu, Odzala menerapkan kebijakan safari yang cukup ketat: sistem kuota. Operator hanya boleh menghabiskan maksimum enam malam per trip, sebelum kemudian berganti giliran dengan operator lain. “Hindari musim hujan,” saran Morales, “sebab kawasan ini rentan banjir.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2017 (“Q&A”).

The post 4 Destinasi Trekking Favorit Rick Morales appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Daya Tarik Wisata Bali Barat https://destinasian.co.id/daya-tarik-wisata-bali-barat/ Fri, 20 Jan 2017 10:34:31 +0000 http://destinasian.co.id/?p=22931 Apa saja yang membuat Bali Barat menjadi destinasi liburan alternatif di Pulau Dewata?

The post Daya Tarik Wisata Bali Barat appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Pemandangan asri di Bali Barat.
Pemandangan asri di Bali Barat.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Putu Sayoga

Mobil berpelat “tenggiling” merayap pelan di jalan berbatu yang dikepung hutan. Sopir sesekali memperlambat laju kendaraan demi menghindari monyet-monyet yang menyeberang. Tiba di restoran, kawanan rusa berkerumun di balik semak, sementara seekor biawak menyelinap di kolong dapur. Pagi yang normal di Taman Nasional Bali Barat. Di sini, setiap hari sejatinya sebuah safari.

Di perbatasan barat Bali, di belahan pulau yang menyerupai jengger ayam, belantara terhampar luas. Pokok-pokok pohon jalin-menjalin, menggerayangi pesisir, membalut puncak-puncak gunung. Di sekitarnya, laut begitu jernih hingga awan-awan tak bisa berhenti becermin. Duduk menyantap sarapan di tepi hutan bakau, menonton Pulau Menjangan dan Gunung Baluran di kejauhan, saya pun bertanya-tanya: bagaimana mungkin tempat seindah ini minim turis? Barangkali karena jaraknya yang jauh.

Dari bandara, saya berkendara ke sini dengan menempuh jarak 150 kilometer. Selepas kawasan selatan yang semarak, mobil melewati daerah Tabanan di mana jalan-jalan berkelok laksana ular yang melilit bukit. Memasuki Desa Pupuan, sawah-sawah mengukir lereng dan lembah-lembah hijau meniupkan sejuk.

Tiba di pesisir utara, mobil berbelok ke arah Pemuteran dan meluncur ke ujung barat pulau. Kian dekat ke tujuan, hutan kian lebat. Bali Barat bermukim di Buleleng, kabupaten terluas di Bali yang dibatasi laut dan dikangkangi gunung-gunung yang saling bersinggungan bahu. Di masa lalu, ketika gunung-gunung tak tertembus dan jalan-jalan belum dibentangkan, Buleleng seperti terkunci dari kawasan selatan Bali. Tempat ini lebih akrab menjalin hubungan dengan Jawa Timur yang hanya terpisahkan oleh sebuah selat sempit, ketimbang dengan kerabat mereka yang berjarak jauh di Gianyar atau Karangasem.

Konon, relasi lintas pulau inilah yang membuat warga Buleleng mengidap karakter yang berbeda dari kawasan lain di Bali: kosmopolitan sekaligus keras. “Orang-orang Buleleng lebih Suroboyan,” ujar seorang pria yang saya temui di selatan Bali.

Kiri-kanan: Kolam renang di beach club Octagon, Plataran Menjangan; trekking, salah satu aktivitas andalan di Bali Barat.
Kiri-kanan: Kolam renang di beach club Octagon, Plataran Menjangan; trekking, salah satu aktivitas andalan di Bali Barat.

Sebelum bandara tertancap di Denpasar, Buleleng juga merupakan gerbang utama ke Bali. Singaraja, kota terbesarnya, pernah menyandang status Ibu Kota Bali. Kali pertama melawat ke Bali, Alfred Russel Wallace juga mendarat di Buleleng (waktu itu dia menyebutnya “Bileling”). Dari Singapura, sang naturalis berlayar selama 20 hari menaiki sekunar Kembang Djepoon. Itu tahun 1856, periode yang tak menjanjikan kenyamanan bagi seorang pengelana. Saya tak tahu apa yang dipikirkan Wallace usai mengetahui berkendara empat jam adalah perkara besar bagi turis untuk menyambangi Bali Barat.

“Jadi berkuda?” tanya seorang staf resor The Menjangan, saat saya tengah menikmati sarapan. “Hari ini menyelam di mana?” tanya staf lainnya. Pagi baru dibuka, tapi semua orang tampak semangat seperti siswa di hari pertama sekolah. Bali Barat, satu-satunya taman nasional di Bali, memang tempat yang menjanjikan untuk mengarungi hutan ataupun menyelami lautan. Sekitar 15 persen hutan di Bali bersemayam di sini. Lautnya tertutup bagi aktivitas perikanan.

Bersama Komang, pemandu selam dari desa setempat, saya menonton ratusan belut yang menari-nari seperti kobra di depan peniup seruling pungi. Siang harinya, kami melacak kuda-kuda laut yang bersembunyi di sela-sela ranting sea fan. “Dulu semua warga di sini menangkap ikan. Setelah ada taman nasional, melaut dilarang, jadi banyak orang pindah ke sektor pariwisata,” ujar Komang.

Kendati berjarak hanya empat jam berkendara dari Denpasar, Bali Barat seperti dunia yang terpisah oleh milenium. Ada lebih banyak pohon ketimbang kendaraan. Ada lebih banyak rusa ketimbang manusia. Di sini, berlibur berarti bersedia melebur dengan alam. Kita akan senantiasa diajak untuk mensyukuri matahari yang menumbuhkan daun, menikmati waktu yang menyambung dahan, serta—meminjam petuah arif yang populer itu—tak meninggalkan apa pun kecuali jejak dan tak mengambil apa pun selain foto.

Membaca akta kelahirannya, Bali Barat baru diresmikan pada 1995, tapi riwayatnya bisa ditarik ke masa-masa awal pendirian Republik Indonesia, yakni saat kawasan ini dinobatkan sebagai Natuurpark oleh Dewan Raja-Raja Bali, lalu diusulkan menjadi taman nasional dalam Kongres Taman Nasional Dunia di Denpasar.

Jip yang bisa dipakai mengantar tamu Plataran Menjangan menjelajahi kawasan sekitar.
Jip yang bisa dipakai mengantar tamu Plataran Menjangan menjelajahi kawasan sekitar.

Babak pariwisata di sini masih berusia muda. Tak lama setelah Orde Baru tutup buku, pemerintah berniat menjadikan Bali Barat magnet turis. Konsesi lahan diterbitkan dan dua resor pun dibangun, salah satunya The Menjangan yang dikerek pada 2002—keputusan yang disambut positif oleh para pelaku usaha. Persis di luar tapal batas taman nasional, sejumlah investor mendirikan hotel, operator tur, dan dive center. Semenjak itu, demam pelesir ke utara Bali pun dimulai. Bali Barat merekah menjadi destinasi baru—fenomena yang kemudian dipuji banyak pihak sebagai jawaban bagi agenda pemerataan turis di Pulau Dewata.

“Pohon ini bisa menyembuhkan diabetes, pohon itu bisa menyebabkan kebutaan,” ujar Ade Dwi Mahendra. “Nah, kalau yang itu biasa dicari orang untuk bahan tasbih dan gagang keris.” Bersama Ade, pemandu trekking, saya menjelajahi jenggala dengan merandai jalan-jalan berbatu. Seperti ensiklopedia berjalan, Ade dengan lugas membeberkan nama-nama pohon dan mengulas faedahnya. “Sudah saya coba, memang terbukti benar,” tambahnya tentang daun yang berkhasiat meningkatkan gairah seksual.

Hari kian mendekati senja, tapi kami terus menembus belantara. Di sebidang lahan terdapat pohon-pohon yang dilengkapi pelang bertuliskan nama penanamnya—bagian dari program penghijauan yang melibatkan turis. Di Bali Barat, tamu memang tak semata diajak menikmati alam, tapi juga turut merawatnya.

Keluar dari jalur utama, kami meniti tepian hutan bakau. Beberapa ekor rusa terlihat bersembunyi di antara belukar, sementara nyamuk-nyamuk ganas hinggap di tubuh saya. “Hutan ini aman, tidak ada predator besar,” ujar Ade saat saya sibuk menampar nyamuk. “Yang berbahaya paling ular pohon dan piton. Piton di sini bisa sebesar paha manusia.”

Kiri-kanan: Dinding vila di Plataran Resort yang dibiarkan telanjang; kamar mandi semi terbuka di vila Plataran Menjangan.
Kiri-kanan: Dinding vila di Plataran Resort yang dibiarkan telanjang; kamar mandi semi terbuka di vila Plataran Menjangan.

Ade bekerja untuk Plataran Menjangan, resor pendatang baru di sisi timur taman nasional. Properti yang diresmikan Mei 2016 ini menawarkan vila-vila berbentuk joglo yang dibariskan di tepi hutan bakau. Kehadirannya memberikan alasan segar bagi turis untuk kembali melawat ke utara. Merujuk Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan terbitan Institut Pertanian Bogor, arus turis ke Bali Barat memang susut ajek. Sebelum periode 2000-an, jumlah turis menembus 90.000 orang per tahun, namun selepas 2010 angkanya tak sampai separuhnya. Berkat kehadiran Plataran, Bali Barat kini memiliki magnet baru: vila baru, beach club baru, kolam renang yang menatap laut, juga tentu saja, Ade, pemandu trekking yang menyerupai kombinasi wartawan Trubus dan Profesor Hembing.

Tapi pariwisata di Bali Barat tak cuma digerakkan oleh resor. Di sekitar taman nasional terdapat enam desa penyangga yang dihuni orang-orang yang setia memutar roda pariwisata, mulai dari joki perahu hingga pemandu selam. Salah satu desa di sini bahkan memegang peran penting bagi kelangsungan satwa paling terkenal di Bali Barat.

Dari Plataran, saya meluncur ke Desa Sumberklampok di tepi taman nasional. Mobil menyusuri jalan-jalan yang lebar namun lengang. Hari ini warga Bali sedang bergairah merayakan Galungan. Akan tetapi, kontras dari daerah-daerah di selatan yang semarak oleh penjor dan upacara, Buleleng sunyi dan senyap. Mungkin benar, banyaknya kaum pendatang membuat kawasan ini lebih kalem dalam menyambut hari raya.

Sumberklampok, desa penyangga taman nasional, bermula sebagai permukiman warga pendatang asal Jawa Timur, terutama Madura. Mayoritas penduduknya sekarang berprofesi peternak dan petani palawija. Namun, sejak 2011, kampung bersahaja ini berikhtiar menggali sumur uang baru dengan menjadi desa wisata. Modal utamanya: jalak Bali.

“Sebenarnya desa wisata kecil-kecilan,” ujar Istiyarto Ismu, seorang penangkar burung. Bersama rekan-rekannya di Kelompok Manuk Jegeg, Ismu mengembangbiakkan jalak Bali, kemudian menjualnya kepada para kolektor. Dari usaha inilah muncul prakarsa mengembangkan desa wisata bagi turis yang ingin mengenal jalak Bali. “Sebenarnya kami tak paham pariwisata. Kami sekadar ingin memberi nilai tambah ekonomi bagi warga,” tambah Ismu, pria rendah hati dengan gelar master dari University of Texas at El Paso.

Kiri-kanan: Jalak Bali yang diambang kepunahan; anggota Kelompok Manuk Jegeg.
Kiri-kanan: Jalak Bali yang diambang kepunahan; anggota Kelompok Manuk Jegeg.

Jalak Bali, burung endemis yang populer dengan nama curik, berhabitat di Bali Barat. Satwa ini telah didaulat sebagai ikon fauna Pulau Dewata pada 1991. Sosoknya sempat diukir pada koin 200 rupiah. Ironisnya, meski dipuja dan disanjung, burung-burung dengan “eyeliner” biru ini justru berada dalam status sekarat. Di alam liar, menurut organisasi Bird Life, populasinya kritis di bawah 50 ekor. Hanya di kandang-kandang kita bisa dengan mudah menyaksikannya.

Melalui paket-paket tur yang dikemas amatiran, Sumberklampok mengundang wisatawan melihat jalak Bali di penangkaran, menjelajahi habitatnya di hutan, juga mengintip telur-telur semut merah yang merupakan santapan favoritnya. “Wisata curik” ini dikemas santai dan menyenangkan, tapi di saat yang sama membuka mata: bahkan di dalam suaka, satwa hidup terancam.

Dipandu Ismu, saya meluncur ke Pos Lampu Merah, salah satu habitat jalak Bali. Jaraknya cuma 13 kilometer dari jalan utama, tapi medan yang berat membuat waktu tempuh molor hingga sejam. Mobil terguncang-guncang saat meniti jalur berbatu di tengah rimba. Di banyak ruas, monyet berbaris mengemis makanan dari pengendara. Mendekati tujuan, mobil menembus jalur berpasir di tepi pantai. Banyuwangi terlihat begitu dekat. Kapal-kapal kargo berlabuh di laut tenang. Bali Barat memang lebih dekat ke Jawa Timur ketimbang Denpasar.

Tiba di Pos Lampu Merah, saya duduk menanti burung-burung datang. Di depan saya, seekor babi dekil berguling-guling di kubangan lumpur. Di kejauhan, belasan ekor rusa merumput di padang lapang. Di Bali Barat, bahkan momen-momen melamun bisa berubah menjadi sebuah pengalaman safari.

Setelah 20 menit, seekor jalak Bali melayang rendah dan hinggap di sangkar. Tak lama berselang, seekor burung lainnya menclok di dahan pohon. “Dulu ada 20 ekor burung, tapi yang tersisa tinggal enam,” ujar penjaga pos. “Di sini ada banyak predator. Elang Jawa yang besar itu suka menyambar jalak Bali.”

Rusa-rusa di The Menjangan.
Rusa-rusa di The Menjangan.

Predator kerap dituding sebagai biang keladi dari menipisnya populasi jalak Bali. Selain elang, ancaman datang dari ular yang gemar menyantap telur-telur burung di sarang. Tapi tak sedikit orang yang percaya pencurian adalah pangkal masalah terbesarnya.

Meninggalkan Pos Lampu Merah, Ismu menuntun saya ke Pos Tegal Bunder. Mobil kembali mengarungi jalan bergelombang, kembali berpapasan dengan monyet-monyet yang malas mencari makan meski hutan begitu subur di balik punggung mereka. “Jalak Bali sangat membantu kehidupan warga,” ujar Ismu ketika mobil meraung-raung di tengah wana. “Banyak orang bisa menyekolahkan anak-anaknya. Saat butuh uang untuk hajatan, mereka bisa jual burung.”

Seperti cahaya yang selalu melahirkan bayangan, Bali Barat menyembunyikan gelap di balik keindahannya. Dibandingkan sentra penangkaran lainnya, Tegal Bunder adalah yang terbesar, terlengkap, dan termewah. Tapi pos ini juga menyimpan catatan paling kelam dalam sejarah pencurian jalak Bali. Pada suatu malam nahas 1999, gerombolan bandit menyelinap ke pos, mengalungkan celurit di leher penjaga, lalu menggondol semua burung di sangkar. “Hilang semua burungnya,” kenang Son Haji, jagawana yang sudah bekerja di Bali Barat selama seperempat abad. “Godaan mencuri memang besar. Dulu harga jalak Bali bisa 50 juta rupiah seekor.”

Elang dan uang. Predator dan pencuri. Jalak Bali seperti terimpit di dunia yang tak rela melihatnya terbang bebas dan lepas. Padahal pada nasib burung inilah nama baik Bali dipertaruhkan. Setelah harimau Bali divonis punah pada 1937, rapor pulau ini di bidang konservasi satwa tergantung pada kelangsungan jalak Bali.

Problem pelik itulah yang agaknya ingin diatasi melalui penangkaran partikelir. Pemerintah membuka pintu bagi publik untuk menangkarkan jalak Bali—sebuah solusi jalan tengah yang sepertinya berangkat dari prinsip bisnis: dengan menambah pasokan burung, maka harganya akan turun di pasaran dan para pencuri pun kehilangan minat. Berkat kebijakan inilah kelompok-kelompok pencinta jalak Bali terlahir, termasuk Manuk Jegeg.

Kapal pinisi yang jadi salah satu fasilitas Plataran Menjangan.
Kapal pinisi yang jadi salah satu fasilitas Plataran Menjangan.

Ismu dan kawan-kawannya hingga kini sukses mengembangbiakkan lebih dari 100 ekor burung. Jumlah penangkar di desanya mencapai 18 orang, tiga di antaranya mantan pencuri burung. Saban tahun, mahasiswa dan peneliti singgah guna mempelajari kisah sukses Manuk Jegeg, dan penduduk desa menyambut mereka dengan membuka delapan unit homestay. Siapa sangka, burung-burung yang membutuhkan pertolongan ini justru bisa menolong hidup banyak orang. “Sebenarnya sedih melihat tempat aman bagi burung bukanlah di hutan, tapi kandang,” tutur Ismu lirih. “Tapi mau bagaimana lagi?”

Kembali ke resor, “safari” saya berlanjut, kali ini lewat jalur laut. Menaiki pinisi buatan Bira, saya berpesiar ke Pulau Menjangan untuk melewati sore. Melayangkan pandangan dari atas geladak, Bali terlihat begitu purba. Hutan lebat membungkus daratan, memolesnya dengan hijau yang pekat. Di jantung taman nasional, Gunung Klatakan menjulang dengan atap melengkung seperti tongkonan. Nun jauh di batas cakrawala, matahari meringkuk di balik Gunung Merapi. Betapa menggetarkan. Dari atas sekunar kayu yang berakar dari abad ke-17, saya menatap sepenggal alam yang dijaga semenjak zaman diperintah oleh gusti prabu dan babad ditulis para empu.

Bali Barat memang berjarak empat jam berkendara. Perjalanannya panjang dan melelahkan. Tiba di sini, kita mesti membayar retribusi taman nasional. Jika ingin menyelam, ongkosnya dua kali lipat harga rata-rata di Bali. Tapi Bali Barat juga menawarkan alam yang asri, burung-burung eksotis kegemaran kolektor, juga resor-resor mewah yang menyepi dalam rahim hutan. Di mana lagi di Bali kita bisa bersafari di kawasan konservasi, lalu kembali ke resor untuk berenang di kolam dan menghabiskan senja bersama rusa?

Perahu warga lokal yang tengah merapat di dermaga Menjangan.
Perahu warga lokal yang tengah merapat di dermaga Menjangan.

PANDUAN
Rute

Taman Nasional Bali Barat terletak di pojok barat Bali, persisnya di bagian pulau yang menyerupai jengger ayam. Kecuali Anda mendapatkan izin mendarat di Bandara Letkol Wisnu di Buleleng, jalur darat adalah satu-satunya cara menjangkaunya. Waktu tempuhnya sekitar empat jam dari bandara. Pilih jalur yang melewati Desa Pupuan jika mendambakan panorama yang fotogenik. Opsi lain ke Bali Barat adalah melalui Banyuwangi dengan menyeberangi selat sempit yang memisahkan Bali dan Jawa Timur.

Kiri-kanan: Akomodasi nyaman di The Menjangan; restoran di The Menjangan.
Kiri-kanan: Akomodasi nyaman di The Menjangan; restoran di The Menjangan.

Penginapan
Menjangan hanyalah sebuah pulau di samping Taman Nasional Bali Barat, tapi berkat popularitasnya di kalangan turis, namanya kerap disematkan sebagai nama resor. Bali Barat mengoleksi tiga resor, yakni Nusa Bay Menjangan (nusabaymenjangan.com; doubles mulai dari Rp1.400.000 untuk cottage) yang mesti dicapai menaiki perahu, serta The Menjangan (themenjangan.com; doubles mulai dari Rp1.850.00 untuk kamar deluxe) dan Plataran Menjangan (plataran.com; doubles mulai dari Rp3.600.000 untuk vila) yang bertetangga di tepian Teluk Terima. Persis di luar pagar taman nasional terdapat beberapa penginapan, salah satunya Menjangan Dynasty (mdr.pphotels.com; doubles mulai dari Rp2.100.000 untuk tent) yang baru beroperasi September 2016.

Aktivitas
Safari di hutan adalah kegiatan baku di Bali Barat. Tapi kehadiran resor-resor telah membuat aktivitas di sini lebih variatif. Menginap di The Menjangan, bagian dari Grup Lifestyle Retreats, tamu bisa bersepeda, bertamasya dengan mobil tenggiling, atau menyelam bersama operator Blue Season (blueseasonbali.com). Jika menginap di Plataran Menjangan, resor terbaru di Bali Barat, tamu bisa bertualang dengan jip atau ATV, berpesiar menaiki pinisi buatan Bira, atau bersantai di beach club Octagon. Untuk melihat jalak Bali, kunjungi Bali Starling Sanctuary di dekat resor Plataran atau Desa Sumberklampok (Ismu: 0812-3861-1911) yang menampung 18 penangkar burung.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2016 (“Kembali ke Barat”).

The post Daya Tarik Wisata Bali Barat appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Hotel Glamping Termahal Sejagat https://destinasian.co.id/hotel-glamping-termahal-sejagat/ Fri, 02 Dec 2016 02:43:25 +0000 http://destinasian.co.id/?p=22505 Tarifnya cukup untuk membeli tujuh lembar tiket keliling dunia.

The post Hotel Glamping Termahal Sejagat appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Tarifnya cukup untuk membeli tujuh lembar tiket keliling dunia. Mantan tamunya antara lain Pangeran Harry dan Bear Grylls. Salah satu paket menginapnya berhadiah arloji Bremont edisi khusus. White Desert memang terdengar seperti penginapan bagi orang-orang terkaya dalam daftar Forbes.

Tapi pengalaman yang disajikannya sebenarnya sepadan dengan tagihan yang diterima tamu saat check out. White Desert bersemayam di pedalaman Antartika. Itu artinya waktu operasional yang terbatas: hanya dua bulan, sejak November hingga Desember. Hotel glamping semi-permanen ini menaungi enam pondokan berbentuk kubah putih—lazim disebut “sleeping pods”—yang teronggok di antara danau beku dan perbukitan es.

Masing-masingnya dirakit dari fiberglass, dialiri listrik tenaga surya, serta dilengkapi kamar mandi dengan toiletries merek Lost Explorer. Tapi semua kemewahan tersebut mungkin hanya akan dinikmati di waktu malam, sebab tawaran utama White Desert tersaji di luar pondokan. Properti besutan Patrick dan Robyn Woodhead ini didesain sebagai pijakan untuk mengarungi alam di selatan bumi, misalnya dengan mendaki perbukitan beku, menembus gua-gua es, serta mengintip koloni penguin.

Kiri-kanan: Interior tenda White Desert; area lounge.
Kiri-kanan: Interior tenda White Desert; area lounge.

Untuk menjangkau White Desert, kita harus terbang dulu ke bandara bernama unik Unknown International Airport, lalu meneruskan trip dengan kendaraan 4WD. Menginap di sini, Anda mesti melakukan reservasi jauh hari. Hotel ini cuma melayani empat hingga lima grup per tahun, dengan maksimum 12 orang tamu dalam satu waktu kunjungan.

Tahun ini, merayakan ulang tahunnya yang ke-10, White Desert melansir sejumlah fitur segar. Satu perubahan yang paling kentara terlihat di ruang makan yang kini lebih menyerupai area privat di apartemen gotik. Di sini, tamu bisa menikmati aneka wine asal Cape Town serta paket makan berisi tiga menu yang diracik oleh koki langganan pembalap F1 Lewis Hamilton.

Informasi lebih lanjut, kunjungi White Desert; paket delapan hari mulai dari Rp894.000.000.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2016.

The post Hotel Glamping Termahal Sejagat appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
5 Lokasi Wisata Ski di Swiss https://destinasian.co.id/5-lokasi-wisata-ski-di-swiss/ Wed, 26 Oct 2016 10:22:58 +0000 http://destinasian.co.id/?p=22224 Lima destinasi ski yang wajib Anda kunjungi di negeri penghasil cokelat.

The post 5 Lokasi Wisata Ski di Swiss appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>
Zermatt.

Fränzi Aufdenblatten, mantan atlet ski Swiss yang berlaga di tiga Olimpiade, pernah menjajal beragam lintasan di dunia. Kepada Cristian Rahadiansyah, dia merekomendasikan lima destinasi ski di negaranya.

Zermatt
Fränzi memang lahir di Zermatt, tapi bukan ikatan sejarah yang membuatnya memilih tempat ini sebagai destinasi ski favorit. Zermatt, baginya, adalah “kombinasi antara desa-desa cantik, lintasan ski menembus 360 kilometer, dan yang tak kalah penting, beragam restoran berkualitas prima yang tak pernah saya temukan di tempat mana pun di dunia.” Zermatt teronggok di selatan Swiss, terpisahkan oleh beberapa gunung dari Italia. Selain ski, banyak orang menyambanginya untuk menyaksikan gunung ikonis Matterhorn.

St. Moritz.
St. Moritz.

St. Moritz
“Tempat ini menawarkan panorama terindah yang pernah saya saksikan,” kata Fränzi. “Gunung, lembah, dan terutama danaunya, amat mengagumkan.” St. Moritz punya tempat khusus dalam sejarah pariwisata Swiss. Di sinilah konsep “liburan musim dingin” pertama kalinya dicetuskan. Di sini pula sekolah ski dan trem elektrik pertama di Swiss diciptakan. Satu catatan penting lain: St. Moritz sudah dua kali bertindak sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin. “Lintasan skinya bukan yang tersulit,” tambah Fränzi, “tapi sangat lebar dan selalu ditata dengan baik.”

Stoos.
Stoos.

Stoos
Untuk tempat yang ramah bagi keluarga, Fränzi merekomendasikan Stoos, destinasi utama bagi aktivitas “ski safari.” Selain meluncur di atas salju, pengunjung bisa menjajal atraksi seru dogsledding bersama kawanan husky. Stoos bertengger di atas Danau Lucerne, kawasan Central Switzerland. “Di sekitar Stoos terdapat banyak area ski kecil yang menyenangkan bagi si buah hati. Area-area tersebut lazim dijuluki ‘Swiss Knife Valley’,” lanjut Fränzi.

The post 5 Lokasi Wisata Ski di Swiss appeared first on DestinAsian Indonesia.

]]>