Oleh Muhammad Fadli

Kiri-Kanan: Seorang penari melakukan pemanasan; Kosovo National Ballet mementaskan Where the Light Falls oleh Antonio Pio Fini di National Theater of Kosovo, Pristina.

Namanya Jeta Musolli, satu dari sekitar dua lusin penari yang memadati ruang bawah tanah Teater Nasional Kosovo di Pristina. Ototnya meregang dan wajahnya basah oleh keringat. Siang ini, dengan mata terpejam, dia mulai bergerak gemulai mengikuti irama musik orkestra yang mengalun lamat-lamat dari pengeras suara di sudut ruangan. Jeta melompat beberapa kali, lalu menutup gerakannya dengan menatap tajam ke sebuah cermin.

Seperti hari-hari yang lain, Jeta dan rekan-rekannya berlatih selama satu setengah jam, memantapkan setiap gerakan yang sebetulnya telah mereka hafal di luar kepala. Tapi, hari ini, wajah mereka memancarkan kekhawatiran. Tiga hari lagi, para penari ini akan mementaskan Where the Light Falls karya koreografer Antonio Pio Fini. Dengan jumlah pementasan lebih dari 50 kali dalam setahun, kira-kira satu kali per minggu, manusia-manusia dedikatif ini hanya punya waktu singkat untuk berlatih, juga untuk hidup.

Etrita Abdullahu, penari muda di Kosovo National Ballet, Pristina.

Bagi mereka, balet bukan sekadar hobi, apalagi kegiatan iseng pengisi waktu senggang. Balet adalah roh hidup. Lebih dari dua dekade lampau, konflik separatis yang mewabah di wilayah Balkan pasca-wafatnya Josip Broz Tito, disusul runtuhnya Yugoslavia, menjadikan balet aktivitas yang sarat risiko. Di Serbia, pemerintah mengambil berbagai langkah kontroversial untuk membungkam ide-ide politik yang kerap disuarakan lewat gerakan tubuh penari. Polisi disiagakan di ruang pementasan. Kelompok balet ditempatkan di bawah kendali negara. Dan semua itu hanyalah awalan dari kebijakan pembungkaman yang lebih jauh: pada 1991, Balet Nasional Kosovo resmi dinyatakan terlarang.

Balet Nasional Kosovo kini telah berusia lebih dari empat dekade sejak kelahirannya pada 1972. Mimpi buruk dari rezim represif telah usai. Kosovo telah bercerai dari Serbia pada 2008. Namun kondisinya tak berarti lebih baik. Segudang tantangan dan pekerjaan rumah masih tersisa. “Kami masih butuh banyak keajaiban,” ujar Sinan Kajtazi, alumni angkatan perdana usai Balet Nasional Kosovo direhabilitasi pada 1999.

Kiri-Kanan: Fisnik Smani (kiri) dan Abetare Hyseni, duet penari balet; Poster Kosovo Ballet di National Theater of Kosovo, Pristina.

Pendanaan yang seret dari pemerintah adalah salah satu kendala yang sangat membatasi gerak mereka. Bangkitnya seni usai perang sipil sempat meniup-kan angin segar, tapi pemerintah tampaknya tak pernah terlalu peduli pada eksistensi Balet Nasional Kosovo. Ruang latihan mereka memprihatinkan. Lantainya dipenuhi tambalan di sana-sini. Mereka juga masih harus menari dengan iringan musik dari kepingan CD, bukan orkestra seperti yang dinikmati grup-grup Eropa lainnya.

Hidup para personel pun tak kalah miris. Mereka hanya men-dapatkan rata-rata €250 hingga 350 per bulan. Kombinasi upah yang cupet dan biaya hidup yang tinggi memaksa para penari cerdik memutar otak. “Beberapa dari kami menyewa apartemen bersama-sama agar hemat biaya. Banyak dari kami juga memiliki pekerjaan sampingan,” jelas Nikki Musolli, adik kandung Jeta, yang kini juga bergabung dalam Balet Nasional Kosovo.

Ahmet Brahimaj, bagian dari generasi perintis Kosovo Ballet.

Tapi, pada akhirnya, semua kendala itulah yang menempa para penari. Dari ruang suram Teater Nasional Kosovo lahir talenta-talenta hebat. Beberapa anggota Balet Nasional Kosovo berhasil mencicipi pentas-pentas kolosal, dari kota-kota Eropa hingga New York. Dan uluran tangan koreografer-koreografer papan atas menjadi pecutan agar mereka tak lelah berkarya.

Belakangan, para penari juga sibuk menggalang dana untuk tampil dalam sebuah festival balet di Italia. Meski tak punya banyak waktu, mereka optimis. “Kami tak pernah tahu apa yang akan terjadi,” kata Liriddon Mziu, “tapi kami percaya mimpi dan cinta kami pada balet akan membuat semuanya jadi lebih baik.” Di tengah deprivasi, cinta sanggup membuat orang bertahan pada keyakinan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2013 (Dispatches—View Finder: “Sang Penari”)

3 6 2 4
Penampilan Balet Nasional Kosovo membawakan Where the Light Falls karya Antonio Pio Fini di Teater Nasional Kosovo.