Panduan Makan Urban di Hong Kong

Perut-perut warga Hong Kong yang haus inovasi kuliner melecut kreativitas para koki dan menggerakkan industri restoran. Tren mutakhir memperlihatkan gelombang baru menu-menu yang terinspirasi makanan jalanan Asia. Berikut enam gerai yang menyajikannya.

Kiri-kanan: Bartender Fatty Crab dengan minuman andalannya; hidangan kepiting yang menggugah selera.

Fatty Crab: Kombinasi Kreatif
11-13 Old Bailey St., Central; 852/2521-2033; fattycrab.com.
Fatty Crab merupakan hasil kawin silang antara konsep impor dari New York City dan modifikasi kreatif makanan jalanan Malaysia. Properti yang dibuka pada akhir 2013 di Old Bailey Road ini menyuguhkan tampilan yang apik, beragam koktail di dua bar, serta aneka masakan berbalut cabai yang membuat Fatty Crab terkesan asli Hong Kong ketimbang sebuah gerai waralaba.

Seperti Chôm Chôm, tempat ini tak mengizinkan reservasi, jadi bersiaplah menanti giliran di bar (atau bahkan di tepi jalan pada akhir pekan). Jika Anda suka kepiting pedas dan sambal aioli, kesabaran Anda pasti ditebus sepadan.

Fatty Crab memiliki dua definisi: bar yang meracik menu lezat serta restoran dengan ruang koktail yang menyenangkan. Yang terakhir ini menampilkan dinding beton polos, lampu-lampu antik, dan koleksi spirit yang menggoda (ditambah pilihan musik yang mengagumkan hingga pengunjung kadang sulit berhenti menganggukkan kepala). Semua suguhan itu membuat saya sukar membedakan antara gerai di Soho cabang New York dan Hong Kong.

Kiri-kanan: Kartu nama Fatty Crab; interior Fatty Crab berusaha mengawinkan elemen dari dua kota, New York dan Kuala Lumpur.

Paket happy hour di sini menawarkan beragam makanan porsi mini, mulai dari bun babi dengan smoked bacon, telur rebus, kecap manis, saus Sriracha, hingga sayap ayam khas Jalan Alor. Minuman racikan andalannya adalah drug mule (vodka rasa apel Fuji dengan sirop jahe dan jeruk limau), serta panchito special (secangkir tequila, sangrita dengan bumbu Melayu, dan sekaleng bir Tsingtao dengan rim pedas-manis di bibir cangkir).

Fatty Crab mencomot elemen-elemen dari kedai jalanan di Kuala Lumpur dan New York, namun proses pencampuran di dapurnya telah memproduksi sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Perut babi disajikan pada kubus-kubus acar semangka hingga menciptakan pertarungan seimbang antara rasa dan tekstur. Sementara Fatty Duck disajikan dengan kecap di atas jasmine rice. Kombinasi-kombinasi tersebut mungkin terdengar meragukan, tapi respons publik umumnya positif. Saya diajak mengetes batas fleksibilitas lidah dalam menyambut persekutuan antara tradisi makanan jalanan Asia dan eksperimen fusi kuliner.>>>

Comments