Andi berhasil menggapai mimpinya. Dimulai dari Kijang sepuh, alumni Teknik Mesin Universitas Indonesia ini sekarang mengoperasikan tiga mobil. Dia juga mengasuh satu anak kandung dan dua anak angkat. Dalam satu bulan, Andi rata-rata memandu 20 hingga 40 grup tur, 80 persennya berasal dari Singapura. Dan dia kini tak cuma menyewakan kendaraan, tapi juga mencarikan tiket pesawat, penginapan, serta restoran.

Dua orang turis berjemur di pantai Nongsa.

Kami terus meluncur di dalam mobil tuanya. Saluran radio disetel sesuai dengan profil klien. Saluran nomor satu berisi lagu-lagu dari musisi kontemporer seperti Kanye West dan Fall Out Boy. Saluran nomor dua berisi lagu-lagu Mandarin. Nomor tiga berisi lagu-lagu Barat nostalgia. Semuanya disiarkan dari Singapura. “Favorit saya nomor dua,” katanya. Hari ini, mungkin karena melihat wajah saya yang “boros”, Andi memilih saluran nomor tiga.

Dengan iringan tembang-tembang kenangan dari The Police dan ABBA, Andi bercerita tentang pergeseran perilaku turis di Batam. Katanya, sisi abu-abu Batam masih menjadi magnet turis, tapi kini tidak sekuat dulu. “Judi sudah lama dihapus. Striptease juga sudah. Turis dari Johor dan Singapura kini datang murni untuk liburan. Mereka bermain golf, ke mal, ke spa, lalu ke pantai. Semuanya bisa didapat dalam satu hari. Batam relatif bebas macet, dan kini makin maju. Kotanya ditata dengan konsep Singapura. Sekolah dasar swasta saja mengajarkan bahasa Mandarin.”

Kami melewati alun-alun kota, di mana kantor wali kota bersanding dengan mal dan pelataran masjid kerap dijadikan ajang balap motor. Andi masih terus bercerita. Tentang oleh-oleh kue buah naga. Tentang Jembatan Barelang dan pulau penampungan pengungsi Vietnam. Tentang pria-pria Singapura yang gemar mencari istri simpanan. Juga tentang mimpinya menjual paket tur ke Cina. Dia mengenal nyaris semua sudut kota. Tahu betul mana daerah yang aman dan mana yang harus dihindari selepas tengah malam. Saya lalu bertanya tentang bisnis prostitusi yang membuat Batam begitu tersohor di kalangan kaum nokturnal. Andi tersenyum, lalu sambil bercanda menuturkan masa mudanya di Jakarta. “Saya pernah melihat wanita-wanita di Stadium dan Alexis,” katanya. “Rasanya tak ada alasan untuk orang Jakarta mencicipi prostitusi di Batam. Ha ha ha.” Nongsa, bagi Andi, bisa menjadi alasan yang lebih baik untuk menyambangi Batam.

Kiri-kanan: Seorang pelayan mengantarkan makanan untuk tamu Turi Beach Resort; seorang turis bersantai di pantai privat Turi Beach Resort.

“Tempat ini punya cukup modal, bahkan untuk menyaingi Maladewa sekalipun.” Chris De Silva berbicara penuh semangat. Kami berbincang di Taming Sari, salah satu restoran di Turi Beach. Dindingnya semi-terbuka. Angin sejuk dari Laut Cina Selatan merangsek ke setiap sudut restoran. “Untuk mencapai ambisi itu, banyak yang harus kami benahi. Saya kini fokus memperbaiki kualitas makanan.”

Rambutnya beruban. Mimiknya serius. Chris kini menjabat Director of Food & Beverage Turi Beach. Pria asal Singapura ini punya jejak rekam 36 tahun di bisnis hotel. Tahun lalu, saat bekerja untuk St. Regis Singapore, dia menyabet penghargaan F&B Manager of the Year dalam ajang World Gourmet Series.

Koh, koki di Taming Sari, juga berasal dari Singapura. Dia lebih lancar berbicara dalam bahasa Indonesia dan Mandarin ketimbang Singlish. Bersama Chris, Koh menciptakan menu-menu baru hampir setiap bulannya. Banyak tamu resor berstatus pelanggan. Agar mereka tidak bosan, kreasi anyar wajib terus lahir dari dapur restoran. Eksperimen-eksperimen ini juga ditunjang oleh posisi strategis Batam. “Kebanyakan bahan kami datangkan dari Singapura. Apa yang tersaji di sana bisa ditemukan di sini,” ujar Chris.

Pariwisata di Nongsa dirintis sekitar dua dekade silam, dan Turi Beach adalah properti perdananya. Resor berisi 141 kamar ini menempati lahan yang dibingkai pesisir berbatu. Pantai di depannya, menurut beberapa warga, merupakan yang terbaik di Batam. Di sekitar resor, pohon-pohon rindang berkelindan dan membentuk kanopi hijau. Di tepi jalan menuju lobi, sejumlah pelang memuat larangan memberi makan monyet. “Properti ini awalnya dikelola oleh Fairmont. Setelah dua tahun, pemilik memutuskan untuk mengelolanya sendiri,” kata Antonio Hernandez, GM Turi Beach.

Penginapan lain di Nongsa ditawarkan dengan sistem sewa. (Sesuai aturan Kawasan Ekonomi Khusus, sebenarnya hampir semua lahan di Batam tidak bisa dimiliki individu). Nongsa Village dan Nongsa Point Marina & Resort misalnya, menyewakan vila-vila mewah di pesisir dengan durasi 20 tahun. Akomodasi terbaru, Montigo Resorts, mengadopsi konsep serupa. Penginapan yang dikelola KOP Hospitality ini menyuguhkan vila berbentuk gula kubus yang bertaburan di lereng dan dilengkapi kolam renang privat.

Golf adalah magnet Nongsa lainnya. Berhubung targetnya turis Singapura yang terkenal hobi mengeluh, pemilik properti royal berinvestasi dalam merancang lapangannya. Tamarin Santana misalnya, didesain oleh Jack Nicklaus. Sedangkan Tering Bay oleh Greg Norman. Saban tahunnya, Nongsa menggelar Nongsa Cup, turnamen yang menyulap tonjolan pulau di timur laut Batam ini menjadi destinasi golf di Asia Tenggara. >>>