Dominannya turis Singapura memengaruhi hampir semua lini bisnis. Semua hotel di Batam memasang tarif kamar dalam dolar Singapura. Begitu pula menu di restoran dan kelab malam. Kadang, pengaruh Singapura itu juga merasuk ke ranah sosial. Pernikahan wanita lokal dan ekspat yang berbasis di Singapura adalah kasus jamak. Begitu pula penggunaan bahasa Inggris gaya Singapura. Saya sempat bertemu dengan staf hotel yang asli Yogya yang mampu bertutur fasih dalam bahasa “Singlish”. Sama anehnya dengan mendengar orang Flores berbahasa Mandarin. Melihat semua itu, satu pertanyaan muncul di benak saya: seperti apa Batam sebelum babak industri dimulai?

Bermain di pantai di belakang Turi Beach Resort.

Raja Isa datang ke Batam di awal abad ke-19, ketika pulau ini masih diselimuti belantara. Tidak ada pabrik. Tidak ada kelab malam. Raja Isa diutus ke sini sebagai perwakilan Kesultanan Lingga. Batam punya posisi penting secara geopolitik, walau tidak begitu vital secara ekonomi. Itu mungkin sebabnya di sini tidak terdapat bangunan sisa-sisa kerajaan. Pulau ini dulu hanyalah lokasi transit para pelaut yang berlayar dari Selat Malaka menuju Laut Cina Selatan. Mereka umumnya singgah untuk mengisi air dan perbekalan.

Raja Isa bukanlah seorang raja dalam arti sebenarnya. Nama “Raja” lazim digunakan untuk anak bangsawan yang lahir dari pasangan Melayu dan Bugis. Akulturasi di antara kedua suku ini telah berlangsung lama. Di Batam saat ini, Melayu dan Bugis bahkan kerap dikelompokkan dalam satu kategori ras. Dalam adat lokal pula, anak kerap dipanggil dengan sapaan “Nong”, mungkin mirip “Otong” dalam budaya Betawi. Lambat laun, Raja Isa pun lebih populer dengan nama Nong Isa.

Seperti apa Batam sebelum periode itu, sulit dijawab. Dokumentasi tertulis tentang masa silam pulau ini sangat minim. Riwayatnya simpang siur. Kisah-kisah lawas tersimpan di benak para sesepuh yang kini sulit dilacak rimbanya. Hikayat Batam umumnya merujuk pada Traktat London 1824 yang mengatur pembagian tanah jajahan antara Belanda dan Inggris di Asia Tenggara. Sumber lain menyebutkan, Batam sudah dihuni sejak tahun 231, ketika Singapura masih bernama Pulau Ujung.

Muhamad Zen, mantan pegawai Dinas Pariwisata Batam yang mendalami sejarah pulau, mengatakan Batam berasal dari kata “Batang”. Masa lalu pulau ini sangat dipengaruhi oleh kesultanan-kesultanan Islam di tanah Melayu. Konon, Batam adalah bagian dari trio simbolik Batang-Bulan-Bintang, tiga ikon religi yang lazim dirangkai menjadi aksesori di atap-atap masjid. Menurut Muhamad Zen, cara pelafalannya kemudian berubah karena warga Bugis sulit melafalkan “ng”. Batang-Bulan-Bintang berganti menjadi Batam-Bulan-Bintan—nama tiga pulau besar yang menyusun Provinsi Kepulauan Riau.

Usai Kesultanan Lingga dianeksasi dan dilumpuhkan penjajah, Batam kehilangan pamornya. Inggris sibuk membangun Singapura dan Penang. Belanda lebih menyukai lahan-lahan perkebunan subur di Sumatera. Batam dilupakan, lalu meredup dalam waktu, dan kembali menjadi pulau terbengkalai di mulut Semenanjung Malaysia. Rumah-rumah panggung peninggalan pelaut Bugis nyaris tak tersisa. Mereka runtuh digerus zaman. Sang penguasa pulau, Nong Isa, juga tak jelas rimbanya. Namanya kini diabadikan sebagai nama daerah di timur laut pulau—Nongsa—tempat dia dulu bermarkas.

Menaiki Toyota Kijang 2002 yang diimpor dari Malaysia, saya meluncur ke satu-satunya artefak yang menyimpan sejarah Batam. Sekitar lima menit berkendara dari Turi Beach, sebuah kompleks kuburan teronggok di lereng bukit yang sepi. Nisan-nisan yang sebagian besar anonim bertaburan di dalamnya. Dinding dan gerbang makam dipulas dalam warna kuning dengan sentuhan hijau, dua warna khas kesultanan Melayu.

Kiri-kanan: Kompleks pemakaman keluarga Nong Isa di Kampung Pantai Nongsa, Kelurahan Sambau; pengunjung berdoa di dalam Vihara Budhi Bhakti, Tua Pek Kong Bio.

Penjaga makam tidak ada. Sumber keterangan satu-satunya adalah sebidang dinding di dekat gerbang yang membeberkan silsilah penguasa Batam. Sayang, sebagian besar tulisan telah terkelupas dimakan cuaca, walau dinding ini sepertinya belum lama didirikan. Saya hanya bisa menangkap beberapa patah kata. Salah satunya menyebutkan, Raja Isa merupakan keturunan Arong Luwuk Raja Bugis. Tidak jelas apakah almarhum dimakamkan di kompleks pusara ini. “Tidak ada yang tahu di mana jenazah Raja Isa sebenarnya,” jelas Muhamad Zen.

Sejarah pulau ini terlalu samar untuk ditelusuri. Tapi seperti-nya tak banyak yang peduli. Batam sudah terlampau sibuk dengan aktivitas ekonomi. Kompleks makam sakral yang saya kunjungi juga tak terurus. Tangganya dikotori serakan daun dan ranting. Nisan-nisannya kusam. Peziarahnya per bulan bisa dihitung dengan jari tangan. Andi Chen, pemandu saya, mengaku sudah sembilan tahun bekerja di Batam, tapi baru kali ini mengantar klien ke kompleks makam.

Warga Batam mungkin telah melupakan sejarahnya. Mereka menatap kompak hanya ke satu arah: hari esok. Andi pun hijrah ke pulau ini untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Gagal dengan bisnis penyalur TKI di Jakarta, dia beralih menjadi pemandu wisata sekaligus operator tur. Karirnya dimulai dari bisnis penyewaan mobil. “Waktu saya datang pertama kali ke Batam, tidak banyak sopir yang bisa berbahasa Inggris. Yang memiliki website juga hanya sedikit,” kenangnya. “Saya kini memiliki empat website, salah satunya khusus membahas golf di Batam.” >>>