Sejumlah privilese pun diterapkan. Pemerintah dilarang terlalu banyak mencampuri urusan bisnis. Tubuh birokrasi dirampingkan. Pajak-pajak yang membebani pengusaha disunat. Pulau seluas 415 kilometer persegi ini disulap menjadi zona kapitalis murni, yang mendedikasikan setiap embusan napasnya untuk memproduksi dan mengekspor barang. Merujuk data Badan Pengusahaan Batam, hampir 60 persen perekonomian pulau ini digerakkan oleh sektor industri, dan sekitar 80 persen produknya dikirim ke Singapura.

Batam memang dilahirkan atas dasar motif ekonomi. Orang tuanya bernama Singapura. Dokternya bernama Badan Otorita. Anak-anaknya beragam, mulai dari speaker televisi hingga pipa besi. Semuanya dirakit di area khusus yang disebut industrial park. Menurut situs Batam Trade Zone, “taman pabrik” ini jumlahnya mencapai 26 unit. Dan ini statistik di 2012. “Batam adalah daerah yang dibuka untuk industri,” ujar seorang teman kelahiran Batam. “Warga aslinya sulit ditemukan. Lebih mudah menemukan buruh pabrik.”

Terlepas dari keluhan tersebut, industri telah berhasil menyulap pulau berpopulasi 1,2 juta jiwa ini menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia, sekaligus sandaran hidup bagi ribuan pekerja dari pelosok bumi. Kehadiran kaum pendatang inilah yang membuat Batam sangat kosmopolit. Kita bisa menemukan buruh asal Medan, PSK asal Indramayu, pelayan restoran asal Kupang, pemandu wisata asal Jakarta, koki asal Singapura, dan hotelier asal Spanyol. Fasilitas urbannya juga tak kalah dibandingkan kota-kota di Jawa. Ada tiga bioskop 21, satu bioskop Blitzmegaplex, gerai McDonald’s, toko donut J.CO, pusat belanja Carrefour, dan pastinya, banyak mal.

Posisi strategis Batam juga menghadirkan peluang bisnis yang sebelumnya tak terlintas di benak para pengusaha nasional. Pada 2005, Mike Wiluan, putra Kris Wiluan (orang terkaya di Indonesia nomor 40 versi Forbes 2009), mendirikan rumah produksi animasi di Nongsa. “Mike memilih Batam karena lokasinya strategis. Klien internasional bisa mendarat di Singapura, lalu menaiki feri selama 40 menit,” jelas Daniel Harjanto, Technical Director Infinite Studios. “Harga tanah di Batam juga lebih murah dibandingkan di Singapura.”

Replika gedung kuno di Movie Town Infinite Studios yang jadi lokasi syuting serial Serangoon Road.

Proyek perdana Infinite Studios, Sing to the Dawn, juga didapat dari klien di Singapura. Film animasi ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Minfong Ho. Ia berkisah tentang perjuangan seorang gadis dalam meraih pendidikan. Versi Indonesianya tayang dengan judul Meraih Mimpi.

Sejak didirikan pada 2005, Infinite Studios sudah menerbitkan 10 karya, contohnya The Garfield Show dan Lucky Luke. “Karya paling fenomenal adalah Tatsumi. Pernah disertakan dalam seleksi film untuk Oscar dan menembus 25 besar di kategori film asing,” kenang Daniel, alumni Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan. Kami berbincang di kafetaria di lantai dua, di antara remaja usia 20-an yang berpakaian kasual layaknya orang yang hendak menonton konser.

Infinite Studios menempati gedung dua lantai bekas golf club. Di belakangnya terdapat teater, studio soundstage terluas di Asia Tenggara, dan area syuting film yang disewakan ke rumah-rumah produksi. Di kompleks mercusuar ini, di sebidang lahan di tepi Batam, sekitar 200 remaja Indonesia berjuang menembus dominasi industri animasi yang dikuasai Pixar dan DreamWorks. “Keunggulan studio-studio besar terletak pada visinya,” ujar Daniel. “Pixar bermimpi menghibur dunia. Kami ingin menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. Nilai bisnis animasi di Indonesia tidak sampai satu persen dari nilai bisnis dunia.”

Ruang kerja para animator Infinite Studios.

Saya meluncur ke pusat kota Batam. Senja telah berlalu, tapi Batam belum hendak tertidur. Siang di sini disibukkan oleh aktivitas buruh, sementara malam diramaikan oleh aneka kelab malam dan ruang karaoke. SMS liar dari negeri orang masih bermunculan di telepon genggam. Tapi sejatinya bukan cuma pesan pendek yang menginvasi Batam. Warga setempat juga bisa dengan mudah menangkap siaran radio dan televisi milik negara tetangga. Kendaraan dari luar perbatasan juga masih berkelana di jalan-jalan. Dan di pusat-pusat hangout, tren berpakaian ala Singapura diaplikasikan oleh banyak orang.

Dari semua infiltrasi asing itu, turis disambut dengan senyum paling lebar. Batam merupakan destinasi wisata dengan jumlah turis asing terbanyak ketiga di Indonesia. Sebagian besar dipasok oleh feeder terdekat. Dari 1,2 juta pelancong mancanegara di 2012, sekitar 700 ribu orang berasal dari Singapura. Sebuah simbiosis pun terjalin di antara Batam dan Singapura. Batam mengekspor barang; Singapura mengirim turis. Klop.

Kiri-kanan: Kolam renang Aqua Pool Nongsa Resort; kolam renang Emerald Pool di Turi Beach yang menghadap ke laut.

Warga Singapura melihat Batam sebagai lokasi liburan pantai yang menawarkan jarak terdekat—dan tentu saja, biaya termurah! “Semua yang kami sajikan, mulai dari kamar, pantai, spa, hingga aktivitas watersport, bisa dinikmati dengan biaya yang sulit ditemukan tandingannya di Singapura,” jelas Antonio Hernandez Canovas, General Manager Turi Beach. Batam adalah juga satu-satunya destinasi di Indonesia di mana hampir semua turis asingnya datang melalui jalur laut. Waktu tempuh Singapura-Batam hanya 40 menit, walau dari segi zona waktu keduanya terpisah satu jam. Saban harinya, ada lebih dari 40 trip feri di jalur gemuk ini. Guna mewadahi gelombang pelancong, pemerintah mendirikan lima pelabuhan. “Pelabuhan kami memiliki sistem imigrasi smart card,” jelas Lucky Hendrati, General Manager Terminal Feri Nongsapura. Penggunaan smart card mirip kartu subway di Tokyo. Pengguna cukup memasukkannya ke slot mesin di gerbang keberangkatan atau kedatangan. “Banyak turis dari Singapura rutin bolak-balik tiap akhir pekan. Dengan sistem smart card, halaman di paspor mereka tidak cepat habis.” >>>