Memulihkan Pamor Danau Toba

Lama meredup dari peta wisata, Danau Toba kini berniat memulihkan pamornya sebagai destinasi andalan Indonesia. Tapi problem klasik yang menodai keindahannya masih menghantui.

Kiri-kanan: Model Marcella Tanaya di Huta Ginjang dengan latar Danau Toba; rumah tradisional Batak di T.B. Silalahi Center, Balige.

Saya meninggalkan ulu pangoan dan menumpang kapal menuju Huta Tinggi, sebuah desa tepi danau yang menjadi titik sentral ajaran Malim. Barangkali, batin saya, di tempat ini saya bisa memperoleh jawaban. “Pariwisata? Tidak ada lagi pariwisata di sini,” ujar Monang Naipospos, Ketua Panguan Parmalim. “Dulu memang, gondang banyak, apa saja ada. Tapi sekarang apa? Cuma danau. Siapa yang mau jauh-jauh ke sini kalau hanya melihat danau? Budaya Batak telah tergerus.”

Kami duduk di samping bale pasogit, rumah ibadah Parmalim yang beratap runcing dengan simbol tiga ekor ayam jago. Monang kemudian bercerita bagaimana banyak orang Batak telah meninggalkan kebudayaannya. Saya pun teringat kata-kata Hotdiman kemarin malam tentang terkikisnya budaya Batak.

Salah satu pangkal masalah yang dia diutarakan adalah benturan budaya dan agama, misalnya dalam bentuk larangan penggunaan ulos oleh sejumlah pendeta Kristen. Limbah, rupanya, bukan masalah tunggal di Toba.

Tuk-Tuk adalah sentra turis di Samosir.Resor dan hotel bertaburan di sepanjangjalan, menghadap ataupun membelakangidanau. Saya duduk di sebuah restoran yangsepi. Di samping saya, dua turis Belanda terlihatgundah menanti hidangan makan malamyang tak kunjung datang. “Toba adalah tanah kelahiran ibu saya. Dia lahir ketika kakek saya bertugas sebagai tentara di sini,” kenang si turis perempuan. “Kakek saya pun begitu,” sambung teman prianya, “kakek saya ditugaskan membuat rel kereta di sini.” Malam telah larut, dan saya tidak tahu dimana ujung pembicaraan kami. Banyak orang menganggap pamor Toba telah jauh menyusut, tapi turis ternyata masih terus berkunjung, walau jumlahnya minim.

Kiri-kanan: Pecahan uang Rp1.000 lama yang menampilkan gambar Danau Toba; ukiran kepala kerbau di rumah adat Batak.

Suatu pagi, saya memacu sepeda motor mendaki Pusuk Buhit, gunung keramat dalam mitologi Batak. Saya juga menelusuri dataran tinggi Tele, menuruni jalan berliku dan rusak ke lembah-lembah sunyi di Harian Boho. Setahun silam, Sitor menemui ajal di Belanda, lalu kembali ke puisinya: Danau Toba. Saya berziarah ke makamnya di sebuah ceruk di Harian Boho yang disebut almarhum sebagai “lembah yang kekal.”

Dulu, Ompu Babiat, ayah Sitor, menyerah kepada Belanda saat Sisingamangaraja XII dikabarkan tewas. Dalam autobiografinya, dia merekam bagaimana ayahnya kemudian dibaptis oleh zending. Akan tetapi, sampai akhir hayatnya, sang mendiang tetap menjalankan ritual agama Batak.

Tubuh Sitor kini ditanam menghadap danau. Tidak heran dia begitu memuja tanah kelahirannya dan berwasiat untuk dikubur di sini. Di Harian Boho, siapa saja barangkali akan tergerak untuk menjadi penyair. Di sini hanya ada sunyi yang berbisik dan mendekap erat, sementara pariwisata baru menjangkau tanah di seberang.

Tahun depan, Toba mungkin akan menggelar lagi karnaval. Parade panjang, panggung kolosal, dan konser akbar akan kembali disuguhkan. Di Tomok sana, Surung mungkin sedang membawa tamu ke makam leluhurnya. Istrinya mungkin masih menyapu pantai tiap pagi, dan penginapan yang dicita-citakannya sedang dibangun.

Hanya ada saya seorang diri Harian Boho. Angin dingin yang kering menampar pucuk-pucuk pinus. Saya bayangkan Sitor duduk di pinggir danau, memandang dari kejauhan pulau yang menyembul dari perairan, mengenangnya sebagai “yang memberi aku lagu.”

Kiri-kanan: Sigale-gale, boneka kayu yang kerap digunakan untuk upacara pemakaman masyarakat Batak; ketua agama Parmalim, Monang Naipospos.

Panduan

Rute
Bandara terdekat untuk mencapai Danau Toba adalah Silangit. Penerbangan ke sini dilayani oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dari Jakarta dan Medan; Sriwijaya Air (sriwijayaair.co.id) dari Jakarta; serta Wings Air (lionair.co.id) dari Medan. Dari Medan, Anda juga bisa menempuh perjalanan darat ke Toba dengan berkendara selama empat jam. Di Pulau Samosir, Anda bisa berkeliling dengan menyewa mobil atau sepeda motor. Tarif mobil mulai dari Rp450.000 (termasuk sopir), sedangkan sepeda motor Rp120.000 per hari. Jika memerlukan pemandu, salah seorang yang layak diandalkan adalah Surung Sidabutar (0852-7003-1991).

Penginapan
Tuk-Tuk, sentra turis di Toba, mengoleksi beragam penginapan, salah satunya Samosir Villa Resort (Tuk-Tuk Siadong; 0625/451-399; samosirvillaresort.com; mulai dari Rp500.000). Di Parapat terdapat hotel warisan kolonial Inna Parapat (Jl. Marihat 1, 0625/410-12; innaparapat.com; mulai dari Rp691.000). Sementara di ujung utara Danau Toba, Anda bisa menginap di Taman Simalem Resort (Jl. Raya Merek Km.9, Sidikalang; 0811-6077-616; tamansimalem.com; mulai dari Rp1.200.000).

—Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2017 (“Retorika Toba”)

Comments