Foto-Foto Ajaib Tempat Ekstrem Dunia

Di medan-medan liar yang berjarak dari listrik dan lampu, bumi mementaskan komposisi warna yang mengguncang persepsi kita tentang estetika natural. Dan jika diabadikan dari balik lensa, hasilnya adalah imaji yang berada di perbatasan tipis antara lukisan dan fotografi.

Di lanskap lunar khas Islandia, sebuah sungai berkelok di dasar lembah dan berpendar layaknya neon.

Islandia
Saya mengarungi Islandia selama dua pekan pertama September 2015. Momen ini saya pilih dengan perhitungan matang demi mengalami kondisi cuaca yang berbeda-beda. Pada minggu pertama, saya menyaksikan gerimis yang mistis, senja yang berkilauan, aurora borealis yang magnetik, serta awan-awan tipis yang mencorat-coret langit. Pada minggu kedua, cuaca berbalik memburuk. Singkat kata, Islandia berubah dari magis menjadi suram dan kelam.

Suatu kali di pekan pertama, saya mengemudi hingga kelelahan, lalu menemukan bumi perkemahan di kota terdekat. Biasanya saya langsung mendaki, tapi kali ini lebih memilih beristirahat. Keesokan harinya, saya berkendara menyusuri jalan panoramik Route 1 yang tersohor, lalu menanjak ke Djúpivogur, 552 kilometer arah timur Reykjavik.

Singgah di SPBU, saya melihat-melihat kartu pos. “Di mana ini?” tanya saya kepada seorang karyawan pom bensin. “Ambil jalan ini, atau jalan itu, lalu biarkan diri tersasar,” jawabnya dengan menunjuk peta. Saya pun mengikuti sarannya: naik turun gunung, menyeberangi sungai dan jeram, kadang tersesat, semua demi memburu warna-warna jagat.

Jika dirangkum, petualangan jalanan saya di Islandia merupakan perpaduan seimbang antara dua hal yang kontradiktif: kekaguman akan kecantikan alam dan kecemasan akan ancaman dari lanskap setempat. Itu sebabnya saya selalu tergesa-gesa tatkala melintasi gletser atau membelah sungai yang mengalir deras.

Dinding dan padang gletser yang merekah di antara gunung di Islandia. Koeksistensi kontradiktif inilah yang membuat Islandia kerap dijuluki “Tanah Es dan Api.

Pada trip pekan kedua, saya menulis catatan tentang daerah-daerah yang ingin saya jelajahi lebih khusyuk dalam perjalanan kembali ke bandara. Seiring berlalunya hari, cuaca kian tak bersahabat, dan saya pun disuguhi pemandangan yang sama, tapi dalam suasana yang berbeda. Beberapa titik gagal diakses akibat jalan yang riskan. Sebagian sungai terlalu garang untuk diterjang. Banyak tempat terasa akrab, namun sosoknya jauh dari kata ramah.

Petualangan berakhir usai Land Cruiser 4×4 saya kandas di parit salju sedalam 1,2 meter. Berjalan mendaki, salju berjatuhan deras dan angin berkesiur kencang. Saya tengah berupaya menggapai atap Snæfellsjökull, sebuah stratovolkano yang ditindih gletser berusia 700.000 tahun. Dulu, tempat ini dipilih oleh Jules Verne sebagai latar novel Journey to the Center of the Earth. Di medan ekstrem ini jugalah ada saatsaat di mana saya membayangkan tanah akan terbuka dan menelan saya hidup-hidup.

Konstelasi Bima Sakti menyiramkan cahaya pada Taman Nasional Arches, kawasan yang dihuni banyak formasi unik “batu bolong.”

Southwest
Selama di Southwest, saya melakukan studi warna-warna natural yang membalut Arizona, New Mexico, dan Utah. Foto-foto kawasan ini dikompilasi dari serangkaian trip antara Agustus 2016 hingga Desember 2017.

Kisahnya dimulai pada Agustus 2016 ketika saya menghadiri reuni keluarga di Pagosa Springs, Colorado. Berkendara dari Los Angeles, saya transit di Grand Canyon dan Taman Nasional Arches. Dalam perjalanan mudik, saya mengambil jalur turis dan tertambat di tanah antah-berantah di Utah dan Arizona.

Saya tidak memiliki ingatan tentang Grand Canyon. Jika tidak salah, saya pernah datang ke sini saat masih kecil. Dan saya juga tidak pernah menjelajahi taman nasional mana pun di Utah. Bisa dibilang, trip proyek Color of Love di Southwest ini adalah pengalaman baru.

Suatu kali, saya bangun di pagi buta demi menonton fajar di atas Grand Canyon. Sore harinya, saya naik helikopter untuk melakukan tur udara. Saya terperanjat menyadari betapa luasnya kawasan ini, dan juga tidak menyangka tanahnya begitu subur dan penuh warna.

Hari berikutnya, saya memasuki Taman Nasional Arches. Enggan mengambil foto “batu bolong” yang menjadi ikon tempat ini, saya memilih sabar menanti matahari tenggelam, kemudian menyaksikan langit malam yang cerah. Melayangkan pandangan ke sekitar, dinding-dinding batu bundar menjulang agung dalam warna merah yang bergelora.

Bagian favorit dalam eksplorasi Southwest ialah New Mexico. Sebagai fotografer, saya memetik banyak inspirasi dari lukisan, khususnya karya Georgia O’Keeffe. Jika coba diingat-ingat, saya pertama kali mengunjungi Ghost Ranch, New Mexico, pada akhir 1990-an. Lalu, pada 2014, ketika mulai aktif memotret lanskap, saya datang untuk melakukan riset bebatuan merah di sekitar Ghost Ranch. Sejak itu, saya sudah berkali-kali melawatnya, dan dari pengalaman itu pula saya mendapati momen terbaik untuk meneliti warna adalah malam hari.

Tempat terakhir di Southwest yang saya dokumentasikan ialah White Sands. Saya acap bertandang ke New Mexico pada akhir 90-an untuk membesuk keluarga yang bermukim di Albuquerque. Anehnya, baru pada Desember 2017 saya menjelajahi White Sands. Menghabiskan beberapa siang dan malam, saya mengeksplorasi bukit-bukit pasir yang senantiasa berubah bentuk, menyaksikan lanskap di bawah cahaya benderang, juga menatap bulan yang bertengger syahdu di atas taman nasional.

Saya sengaja bertamu ke White Sands di momen purnama lantaran saya ingin mempelajari perbedaan warna antara siang hari dan malam hari ketika langit cerah. Selama proses itu pula, saya menangkap warna dalam spektrum yang lengkap berkat kehadiran bumi dalam versinya yang polos sekaligus dramatis.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Teater Warna”).

Comments