8 Vila Privat di Bali

Kiri-kanan: Kolam renang luas; menikmati sunset dari balkon vila.

Umah Daun
Setidaknya ada dua aliran dominan dalam desain vila di Bali. Pertama, pendekatan rural yang mengadopsi sebanyak mungkin komponen lokal Nusantara: atap ilalang atau joglo, dinding batu, serta pilar-pilar kayu. Kutub kedua adalah gaya yang lazim disebut Bali kontemporer: struktur putih dengan sentuhan kayu, lantai marmer, serta atap sirap. Di tengah hegemoni keduanya, “aliran ketiga” kini mulai menggejala.

Umah Daun adalah salah satu produk terbaiknya. Terselip di ujung sebuah gang buntu, di tengah permukiman yang terbelah-belah oleh jalan sempit layaknya labirin, Umah Daun mendedahkan permainan visual yang nakal sekaligus cerdas. Vila ini terlihat menyerupai ranting pohon: atap-atap berbentuk daun yang dihubungkan oleh koridor berlapis kayu.

Suguhan apik tersebut diotaki oleh Komang Suardika dari Jeghier Architect, firma lokal yang pernah menggarap Villa Ombak di Lombok dan Segara Villa di Gianyar. “Daun” juga diterjemahkan sebagai tema di sisi interior. Desainer Michael Nalder mengaplikasikan banyak warna hijau (dan turunannya) guna membalut bantal, dinding, ornamen, bahkan seragam karyawan. Lahan hijau di Seminyak memang kian cupet, tapi vila ini bisa menghadirkan nuansanya dengan cara yang cukup atraktif.

Permainan paras yang lebih berani itulah yang mencirikan “aliran desain ketiga.” Desainnya tergolong kontemporer, tapi inspirasinya dipetik dari sumber-sumber yang lebih beragam. Tema daun sebenarnya bukan hal baru dalam ensiklopedia arsitektur dunia. Kita bisa menemukannya pada, sebut saja, Kresge Auditorium milik MIT dan Leaf House di Brazil. Tapi di Bali, konsep tersebut berhasil memberi kesegaran pada lanskap vila lokal.

Dalam naungan atap-atap daun, Umah Daun menawarkan lima kamar, perpustakaan, ruang biliar, ruang menonton DVD, serta jendela-jendela besar yang memudahkan angin melenggang bebas. Kendati lahannya cuma 2.000 meter persegi, setara ukuran vila tiga kamar di Alila Uluwatu, properti ini berhasil mencetak ruang-ruang yang menghadirkan efek lega. Salah satu triknya adalah dengan menghindari penggunaan plafon. Di living room misalnya, kita dibiarkan menonton lapisan interior atap yang menyerupai struktur urat daun.

Berkat atmosfernya yang lapang pula, Umah Daun berhasil menciptakan kontras dengan kawasan padat di luar pagarnya. Fasilitasnya antara lain kolam renang sepanjang 22 meter, jacuzzi yang menatap sawah, serta “rumah pohon” yang sepertinya terinspirasi ruang diskusi sastra dalam film Dead Poets Society. Umah Daun juga membidik segmen pernikahan. Vila yang baru dilansir pada akhir 2014 ini memiliki area rooftop dan taman yang bisa disulap menjadi wadah hajatan.

Sistem audionya juga cukup menunjang pergelaran pesta-pesta privat: Sonos, merek yang kian populer di Bali dalam setahun belakangan. Sonos memungkinkan musik diatur dari beragam perangkat sekaligus. Dengan begitu tamu seperti memiliki DJ kolektif yang bisa diperintah secara individual cukup dengan menggunakan ujung jari.

Di Bali yang kian ramah terhadap eksperimen desain, “aliran ketiga” tampil genit dalam berekspresi. Publik kini hanya perlu lebih terbuka untuk mencernanya.

Jl. Kuwum 2, Gang Anggrek, Banjar Semer, Kerobokan; 0361/737-498; villaumahdaun.com; mulai dari $1.050, minimum 2 malam. Jumlah kamar: 5. Luas lahan: 2.000 meter persegi.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2015 (“Griya Rahasia”)

Comments