Wisata Sosial Bersama Travel Sparks

Nila Tanzil, pendiri sekaligus penggerak Travel Sparks.

Nila Tanzil, pendiri sekaligus penggerak Travel Sparks.

Travel Sparks, operator tur yang mengusung misi sosial, tak sekadar memandu turis menikmati liburan, tapi juga menawarkan kesempatan untuk berkontribusi bagi warga di lokasi tujuan. Reza Idris berbincang dengan pendirinya, Nila Tanzil.

Ide di balik Travel Sparks?

Operator ini sudah berjalan sejak dua tahun lalu, tapi baru resmi diluncurkan tahun ini. Idenya muncul saat saya menetap di Labuan Bajo pada 2009 dan banyak teman meminta rekomendasi lokasi wisata di sana. Saat itu Labuan Bajo belum terlalu terkenal, dan saya membuka relasi dengan warga, mulai dari tukang parkir hingga pemilik kapal. Dari sinilah tercetus ide membisniskan aktivitas mengatur itinerary. Perbedaan dari operator lain? Travel Sparks adalah social enterprise bidang travel pertama di Indonesia. Saya ingin membantu masyarakat lokal dengan memaksimalkan sumber daya setempat, misalnya dengan menyewa mereka sebagai pemandu, sehingga mereka bisa merasakan manfaat dari pariwisata. Saya ingin warga bisa menyekolahkan anak-anaknya, dan tak ada lagi alasan bagi mereka untuk tidak bisa memiliki buku.

Karena itu Anda mendirikan perpustakaan?

Saya membangun Taman Bacaan Pelangi untuk membuka akses warga kepada buku dan meningkatkan minat baca. Agar berkelanjutan, profit dari perusahaan didonasikan ke yayasan ini, serta digunakan untuk mendirikan perpustakaan berikutnya di kawasan Indonesia Timur.

Wisata yang berdimensi sosial akan menjadi tren masa depan? Saya terinspirasi pengalaman berwisata di Kamboja dan Afrika di mana terdapat social enterprise yang didukung LSM. Konsep ini bisa menjadi tren di masa depan. Tak bisa dimungkiri kita sebagai makhluk hidup ingin melakukan sesuatu bagi orang lain. Pada dasarnya manusia ingin saling membantu. Lalu mengapa tidak saat berlibur kita sekalian membantu masyarakat di lokasi tujuan?

Paket yang ditawarkan?

Kami tidak menawarkan open trip. Kegiatan tur disesuaikan dengan minat peserta. Jika mereka suka trekking, kami perbanyak kegiatan trekking. Jika klien takut kulitnya menghitam, kita percepat waktu bermain di pantai. Untuk trip Duta Besar Inggris misalnya, kami mengatur itinerary untuk keluarganya yang meliputi menginap di rumah penduduk, sesuai dengan permintaan mereka.

 

Salah satu kegiatan yang ditawarkan dalam paket tur Travel Sparks.

Salah satu kegiatan yang ditawarkan dalam paket tur Travel Sparks.

Seberapa jauh terlibat dalam operasional?

Dulu saya terlibat dalam pemesanan tiket, rental perahu, dan pengaturan jadwal trip. Kini kadang saya hanya mengecek itinerary.Orang yang belum pernah tinggal di Floreskerap keliru dalam memilih lokasi.

Kendala yang dihadapi?

Sekitar 90 persen klien kami adalah warga asing. Kadang sulit menggaet orang Indonesia karena konsep kami “travel with a cause,” yang kadang diasosiasikan dengan trip ala backpacker.

Memiliki kerja sama dengan pemerintah?

Kami ingin menjalin hubungan dengan pemerintah. Pemerintah misalnya bisa melakukan investasi di bidang hospitality, seperti dengan memperbaiki sumber daya manusia. Kualitas servis di Indonesia Timur menurut saya masih payah. Saya berharap pemerintah bekerja sama lebih erat dengan LSM untuk menggelar pelatihan bagi warga lokal.

Kebijakan pertama jika menjadi Menteri Pariwisata?

Memperbaiki infrastruktur di daerah dan mengembangkan sumber daya manusia. Sewaktu saya di Tanzania untuk melakoni safari, bahkan di tengah hutan tersedia toilet yang layak dengan air bersih. Kita sebenarnya juga bisa melakukannya.

Informasi lebih lanjut, kunjungi Travel Sparks.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2016 (“Wisata Sosial”)



Comments

Related Posts

3820 Views

Book your hotel

Book your flight