Wisata Seni di Amsterdam

Dari Rembrandt hingga Van Gogh, Amsterdam menyemai banyak seniman besar yang mengubah cara kita memandang seni. Dan kisah itu belum rampung ditulis. Di kota paling liberal di dunia ini, tak ada pagar bagi kebebasan berekspresi, tak ada pasung bagi kemerdekaan bereksperimen.

Patung Rembrandt di alun-alun yang menyandang namanya di pusat kota.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Donang Wahyu

Yang pertama hidup pada abad ke-17, sedangkan yang kedua pada abad ke-19. Yang pertama menghadirkan keindahan; yang kedua mengekspresikan keindahan. Yang pertama meninggal dalam keadaan bangkrut lalu dikubur di makam tanpa nisan; yang kedua hidup dengan depresi dan tewas bunuh diri pada usia 37 tahun. Di Amsterdam, saya berkenalan dengan keduanya.

Satu kota, dua nama. Amsterdam tak bisa dipisahkan dari sosok Rembrandt Harmensz van Rijn dan Vincent van Gogh. Mustahil bicara seni di kota ini tanpa menyinggung kedua pelukis agung tersebut. Dan tak ada kota yang memuja keduanya melebihi Amsterdam.

Di Amsterdam, Rembrandt diabadikan sebagai nama jalan. Rumahnya dijadikan museum, sementara patungnya dipajang di sebuah alun-alun. Van Gogh juga dipuja. Sebuah museum didirikan sebagai penghormatan untuknya. Rembrandt dan Van Gogh sudah lama pergi, namun Amsterdam berhasil membuat keduanya terus hadir di antara kita, menyentuh kita, berbicara dari balik kanvas.

Datang di minggu-minggu terakhir musim gugur, Amsterdam menyambut saya dengan udara dingin dan langit kelabu. Saya berjalan menuju Rembrandt House Museum, menyeberangi kanal-kanal berair hijau, melewati rumah-rumah langsing yang sebagian miring layaknya pohon ditiup angin. “Rembrandt mungkin orang pertama yang menemukan selfie,” ujar Martijn Bosch, pemandu di Rembrandt House. Dia menunjukkan logo museum yang memperlihatkan potret diri Rembrandt dengan raut muka terperanjat, seperti orang yang melihat kucing tergilas delman. Sang pelukis, tambah Martijn, sejak muda gemar mengeksplorasi air mukanya sendiri. Eksperimen itulah yang kelak membuatnya mahir melukis manusia.

Rijksmuseum, salah satu museum tersohor di dunia.

Rembrandt House adalah kediaman sang pelukis dari 1639-1658. Rembrandt menetap di sini bersama istri dan anak-anaknya, ditambah seorang pembantu yang kemudian dikencaninya usai sang istri mangkat. Karya terbesarnya, The Night Watch, juga dilukis di sini. “Rumah ini dipilih Rembrandt karena menghadap ke utara, jadi cahaya di dalam studio senantiasa lembut,” ujar Martijn.

Rumah ini lebih memperkenalkan figur Rembrandt sebagai manusia, suami, juga ayah. Untuk mengenal sosoknya sebagai pelukis, saya berpindah ke Rijksmuseum, kali ini dengan menumpang trem. Trem saya menyusuri jalan-jalan berlapis batu, membelah kota sepuh yang seolah mencuat dari buku-buku sejarah. Zona khusus bernama “Kota Tua” tidak eksis di sini, karena seantero Amsterdam sejatinya berstatus kota tua. Amsterdam saat ini adalah Amsterdam yang dibangun pada abad ke-17. Sebuah masa di saat kapal-kapal layar hilir mudik mengangkut berton-ton hasil bumi dari Asia. Sebuah masa yang dipandang gemilang dan dikenang dengan nama Zaman Keemasan. Saya kadang membayangkan, dari tiap batang bata yang menyusun bangunan di sini, tersimpan tetesan keringat kakek-buyut saya. Rembrandt hidup di periode itu.

Periode yang menyenangkan bagi seorang seniman. Kaum kaya yang lahir dari sektor perdagangan menyibukkan seniman dengan pesanan lukisan potret dan patung. Lancarnya pesanan jugalah yang memungkinkan Rembrandt membiayai hobinya mengoleksi benda antik, mulai dari keris hingga baju zirah—hobi yang kemudian membuatnya bangkrut.

Saya melawat ke Rijksmuseum dengan perasaan sentimental. Menikmati karya-karya seniman besar adalah pengalaman yang telah lama saya nantikan. Sewaktu kecil, saya rajin menggambar. Dalam sebulan saya bisa menghabiskan satu rim folio yang dicomot diam-diam oleh ibu saya dari kantornya, karena waktu itu keluarga saya tak mampu membiayai kebutuhan tersier semacam hobi menggambar.

Dan berhubung cat air terlampau mewah, saya hanya melukis saat mengikuti lomba. Hari ini, di Amsterdam, saya bukan hanya melihat-lihat lukisan masyhur yang diperebutkan dunia, tapi juga berkenalan dengan para seniman yang mengubah cara kita memandang seni lukis.

Saya melewati gerbang Rijksmuseum dan langsung meluncur ke galeri yang dikhususkan bagi Rembrandt. Saya mempelajari bagaimana almarhum menciptakan detail, seperti dalam Self-Portrait 1628, saat dia menggunakan buntut kuas pada cat basah guna memproduksi efek keriting pada rambut.

Kiri-kanan: Lukisan selfie karya Van Gogh yang tersohor; seorang pengunjung di Museum Stedelijk.
Kiri-kanan: Lukisan selfie karya Van Gogh yang tersohor; seorang pengunjung di Museum Stedelijk.

Saya juga belajar cara dia menghidupkan ekspresi wajah, seperti dalam The Syndics, di mana para subjek seolah tersentak canggung melihat kehadiran kita—sebuah tonggak penting dalam seni lukis di mana pemirsa dilibatkan dalam karya. Rembrandt dijuluki pelukis yang melampaui zamannya. Dia juga menginspirasi banyak pelukis lain, termasuk Goya dan Picasso. Beberapa muridnya juga bersinar, contohnya Ferdinand Bol dan Carel Fabritius. Mungkin itu sebabnya banyak orang penasaran dengan resep sukses Rembrandt.

Pada 2010, peneliti dari University of British Columbia memindai empat lukisan potret Rembrandt memakai program komputer dan berhasil menemukan rahasianya: lukisan mata yang lebih detail, hingga menciptakan efek yang menenangkan dan menghanyutkan pada mata pemirsa. Terjemahan sederhananya: kontak mata.

Dari semua karya Rembrandt, Night Watch tampil bak selebriti. Orang-orang mengerubunginya Suara shutter kamera terus bersahutan. Di samping lukisan, dua penjaga berdiri waspada. Pada 1975, seorang tamu menyayat kanvas lukisan dengan pisau. Bagian yang cacat sudah dipulihkan dan sejak itu pengawasan pun diperketat.

Night Watch menampilkan anggota milisi Amsterdam yang bersiap menyerang. Tapi bukan momen sejarah itu yang penting. Night Watch merupakan testimoni atas kelihaian Rembrandt mengolah cahaya. Di atas kanvas, sinar matahari jatuh dari sudut kiri atas dan melahirkan efek dramatis pada tiap subjek. Gerakan tubuh juga dihidupkan melalui cat yang buyar, seperti foto yang diambil dengan setelan slow speed.

Dan ada dimensi lain yang membuat Night Watch memikat: aksi. Lukisan potret abad ke-17 lazimnya menampilkan barisan manusia dalam komposisi yang setara. (Ukuran manusia yang timpang lazim memicu pertengkaran, karena setiap orang patungan membayar si seniman.) Tapi Rembrandt menolak pakem itu. Dia justru menampilkan tiap individu tengah melakukan gerakan yang berbeda dalam posisi yang berbeda pula. Hasilnya: sebuah adegan candid panopli yang bernyawa.

Salah satu sudut Museum Stedelijk, museum yang memajang benda seni kontemporer.
Salah satu sudut Museum Stedelijk, museum yang memajang benda seni kontemporer.

Bagi banyak seniman, melukis manusia adalah perkara mudah; yang sulit adalah menyuntikkan roh yang membuat subjek manusia terlihat hidup. Rembrandt menyadarkan saya bahwa profesi seniman menuntut bakat. Andaikan saya bisa menyadari itu sewaktu belia, mungkin ibu saya tak perlu susah payah menilap kertas dari kantornya.

Bagaimana mungkin dunia mengagumi seorang pelukis yang hanya bisa menjual satu karya semasa hidupnya? Van Gogh, bagi saya, adalah sebuah enigma. Nasib almarhum memang tragis, lebih mirip kisah stereotip seorang rock star ketimbang pelukis. Dia mengidap gangguan mental, dirawat di rumah sakit jiwa, memotong (sebagian) telinga kirinya sendiri, lalu bunuh diri dengan pistol (walau barang bukti pistol tak pernah ditemukan di TKP).

Kendati demikian, banyak karyanya dikagumi dunia. Portrait of Dr. Gachet misalnya, menembus harga $80 juta, sementara A Wheatfield with Cypresses terjual $57 juta. Jika masih hidup, barangkali Van Gogh bakal membisikkan petuah berikut kepada saya: untuk menghasilkan karya mahal, jika tak punya bakat, depresi adalah solusinya.

Saya kembali melompat ke trem, lalu meluncur ke Van Gogh Museum dengan menembus jalan-jalan sempit yang dikuasai sepeda. Di kota ini, ada lebih banyak sepeda ketimbang manusia (821.000 manusia berbanding dengan 881.000 unit sepeda). Tiba di depan museum, orang-orang sudah berkelimun, mengantre tertib dalam kepungan udara dingin, padahal pagi baru dimulai. Van Gogh rupanya tak kalah memikat dari gadis-gadis etalase di Distrik Lampu Merah.

Sejumlah pengunjung Rijksmuseum menikmati lukisan The Night Watch karya terbesar Rembrandt yang dilukis pada 1642.

Saya datang di momen yang tepat. Belanda sedang menggelar haul 125 tahun kepergian sang artis. Ada banyak acara digelar, dan apa pun bentuknya, semuanya mengusung tema Van Gogh. Pokoknya Van Gogh. Ada pameran foto Van Gogh di Zundert. Ada taman bunga Van Gogh di Keukenhof. Ada pertunjukan orkestra Van Gogh di Tilburg. Ada festival EDM, bazar kuliner, parade mobil hias, hingga pawai gadis-gadis berambut merah yang semuanya bertema—silakan tebak—Van Gogh. Belanda mengenang Van Gogh melebihi cara kita mengenang Bung Karno. “Kuas yang membara, begitu cara Munch mendefinisikan Van Gogh,” ujar Maite van Dijk, kurator Van Gogh Museum, saat membuka ekshibisi besar yang mempertemukan dua pelukis agung dari dua negara—Van Gogh dan Edvard Munch. Acara ini juga diselenggarakan guna mengenang Van Gogh.

Sang kurator menunjukkan salah satu karya Van Gogh yang paling kondang: Starry Night over the Rhone. Lukisan bertitimangsa 1888 ini berbicara banyak tentang sosok sang pelukis dan pendekatannya dalam berkarya. Van Gogh berpijak pada realitas. Dia hanya melukis apa yang dilihatnya. Namun dia tidak mereplika, tidak sekadar menuangkan hasil pandangan matanya secara harfiah. Alih-alih, Van Gogh membiarkan perasaan batinnya memberi tafsir pada subjek. Tentu saja, pendekatan itu tidak sepenuhnya baru. Yang membuat Van Gogh berbeda, batinnya sedang terkoyak. Karena itulah, dalam Starry Night, dia tak cuma menuturkan panorama malam di atas Sungai Rhone, tapi juga menggemakan kondisi psikologis dirinya sendiri. Siapa Van Gogh dan seperti apa karyanya adalah dua sisi dari koin yang sama.

Kiri-kanan: Interior Rijksmuseum pasca-renovasi; fasad Museum Stedelijk.
Kiri-kanan: Interior Rijksmuseum pasca-renovasi; fasad Museum Stedelijk.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya memperhatikan karya-karya Van Gogh. Sekitar tujuh tahun silam, saya pernah menulis untuk majalah Van Gogh Preferred Banking, media internal bagi nasabah premium bank asal Belanda—ABN Amro. Selama setahun, saya memilah-milah foto lukisannya untuk kemudian memasangnya sebagai sampul majalah. Tapi melihat foto lukisan dan melihat lukisan versi asli adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda. Mungkin sama bedanya dengan menonton konser Metallica di televisi atau benar-benar hadir di depan panggung.

Dari Garden of the Asylum hingga Wheatfield with a Reaper, banyak karya Van Gogh menyiratkan korespondensi antara realitas yang menawan dan kondisi jiwa yang lara. Van Gogh kerap memproduksi lukisan yang dramatis, imajinatif, dan evokatif. Sebuah lukisan yang dibuat dengan—meminjam kata-kata sang kurator—“kuas yang membara.”

Comments