Wisata Perang di Normandy

Kliping berita Perang Dunia II di Airborne Museum. (Foto oleh Cristian Rahadiansyah)

Pada 2015, menurut Edouard Valere, Head of Marketing Normandy Tourist Board, situs- situs perang di Normandy disatroni sekitar lima juta turis, dengan 44 persennya turis asing. Puncak kunjungan turis terjadi saat festival peringatan D-Day (istilah untuk Hari-H 6 Juni 1944 ketika pasukan Sekutu mendarat) digelar dan membuat banyak hotel panen tamu. “Sekitar 75 persen tamu kami berasal dari Amerika,” ujar manajer hotel Château La Chenevière. “Hotel kami berada di dekat American Cemetery, karena itu selalu penuh tiap kali peringatan perang digelar.”

Tentu saja, wisata perang bukan milik Normandy semata. Kecerdikan menyulap elegi menjadi gulali telah lama dipraktikkan di sejumlah negara. Di Kamboja misalnya, bekas kekejaman Khmer Merah telah diubah menjadi objek wisata yang mengundang simpati dan donasi. Sementara di Vietnam, cukup membayar sekitar Rp200.000, kita bisa menembus lorong-lorong bawah tanah peninggalan gerilyawan Viet Cong.

Jika Normandy kini terlihat lebih sukses dibandingkan tempat lain, penyebabnya barangkali kemasannya. Situs-situs perangnya tak cuma didesain rapi, tapi juga atraktif. Tiap dioramanya dicetak presisi layaknya patung lilin Madame Tussauds. Seluruh benda-benda warisan perang dirawat resik seperti baru keluar dari pabrik. Sesuai standar Eropa, tiap wahana di sini juga dilengkapi website resmi.

Arromanches 360, bioskop dengan layar melingkar yang memutar film dokumenter tentang operasi pembebasan Eropa dari cengkeraman Nazi.

Bahkan bagi turis Jerman sekalipun, Normandy punya magnetnya tersendiri. Di sini terdapat tujuh kompleks makam prajurit leluhur mereka. Tahun lalu, Jerman, negara yang berada di pihak “musuh” dalam Perang Dunia II, merupakan penyumbang turis terbanyak keempat bagi Normandy. “Ketika memandu turis Jerman, kami menghindari kata Nazi, karena konotasinya negatif,” ujar David, salah seorang pemandu tur, tentang taktik simpatiknya. “Perang sudah rampung. Dalam upacara peringatan D-Day, veteran Jerman dan Amerika bahkan bersalaman. Saya rasa banyak orang dulu terlibat perang karena memang tidak ada pilihan.”

Kunci sukses lain Normandy dalam menjala turis terletak pada “barang dagangannya.” Perang Dunia II, pertempuran global terakhir di muka bumi, mudah dicerna dan dipahami, karena itu lebih mudah dipasarkan. Kecuali mungkin laskar Neo-Nazi, mayoritas warga bumi sepakat memersepsikan perang akbar itu sebagai pertarungan antara kebaikan versus kejahatan. Kasusnya berbeda dari perang lain, misalnya Perang Irak, di mana opini publik terbelah soal motifnya, eksekusinya, bahkan tentang kejelasan siapa sebenarnya yang benar dan salah. Mudah dibayangkan peningnya sang kurator jika Museum Perang Irak didirikan.

Mudahnya mencerna Perang Dunia II saya temukan pula di Arromanches 360, bioskop dengan layar yang ditata melingkar. Bersama puluhan turis, saya menonton film dokumenter yang menuturkan operasi pembebasan Eropa dari cengkeraman Nazi (atau “Jerman” menurut pemandu lokal). Film dimulai dengan penampilan wajah Hitler yang dingin, disusul oleh cuplikan adegan pertempuran yang heroik. Suara desing peluru dan letusan bom terdengar silih berganti. Di ujung film, pasukan Jerman bergelimpangan di jalan, sementara rakyat Prancis bersorak-sorai merayakan kemenangan. Sebuah film laga yang berakhir bahagia. Perang besar yang memakan jutaan nyawa itu berhasil diringkas dalam 20 menit. “Tontonan yang menarik,” ujar Guy Hawthorne, pria asal Afrika Selatan, di toko suvenir Arromanches 360. Meski tidak memiliki ikatan sejarah dan emosional dengan Perang Dunia II, dia mengaku “terkesan pada kemampuan Normandy mengemas situs-situs perangnya bagi turis asing.”

Hari-hari pertama di Normandy, saya membayangkan wisata perang di sini hanya menarik bagi anak-anak jenderal, penggemar airsoft gun, atau penikmat film laga semacam Saving Private Ryan. Tapi Normandy rupanya berhasil membuat sejarah penuh darah bisa dikenang khalayak luas semudah mengunyah berondong.

Interior kamar hotel bintang lima Château La Chenevière.

Rute

Normandy berada di belahan barat laut Prancis. Dari Paris, kita bisa menjangkaunya dengan kereta selama dua jam menuju Caen, kota yang berada di dekat D-Day Landing Beaches, tempat pendaratan Sekutu pada 1944. Penerbangan ke Paris dilayani oleh banyak maskapai, salah satunya Air France (airfrance.com)

Penginapan

Situs perang tersebar di penjuru Normandy, dan hotel umumnya tersedia di dekat tiap situs tersebut. Di dekat Omaha Beach, La Sapinière (100 rue de la 2ème d’infanterie U.S, Saint-Laurent-sur-Mer; 33-2/3192-7172; la- sapiniere.fr; mulai dari Rp1.500.000) menawarkan pondok-pondok kayu dan sebuah restoran berdesain cantik. Sementara di dekat American Cemetery, hotel bintang lima Château  La Chenevière (14520 Port-en-Bessin; 33-2/3151-2525; lacheneviere.com; mulai dari Rp2.700.000) menempati rumah tua bertubuh batu dengan interior berdesain klasik.

Informasi

Normandy mengoleksi 92 situs, atraksi, dan wahana bertema perang, contohnya American Cemetery (abmc.gov); Airborne Museum (airborne-museum.org); serta Arromanches 360 (arromanches360.com). Setidaknya ada 20 operator yang menawarkan tur bertema perang, salah satunya Normandy Sightseeing Tours (normandy-sightseeing- tours.com). Momen terbaik untuk datang adalah saat Normandy menggelar D-Day Festival (ddayfestival.com). Informasi lain seputar wisata di Normandy bisa ditemukan di situs resmi Normandy Tourist Board (en.normandie- tourisme.fr).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November-Desember (“Perang Devisa”).



Comments

Related Posts

4267 Views

Book your hotel

Book your flight