Wajah Pentas Teater di Jakarta

Sejumlah grup teater di Jakarta berhasil eksis setelah seperempat abad. Di antara belantara beton, mereka mementaskan lakon-lakon yang merayakan drama, dialog, kritik, kelakar, juga kehidupan.

Oleh Wikana

Sie Jin Kwie di Negeri Sihir, salah satu pentas Teater Koma.

Dunia teater Jakarta berutang pada Bang Ali. Keputusannya pada 1960-an untuk mendirikan Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Gelanggang Remaja di penjuru Jakarta berhasil menyemai banyak grup teater. Lanskap “seni baru” ini juga terus subur berkat ajang Festival Teater Jakarta (FTJ) yang tahun ini menginjak usia ke-42.

Teater Kubur adalah salah satu produk terbaiknya. Berlokasi di kawasan padat Kober Kecil, Jatinegara, grup ini konsisten mengangkat persoalan warga kelas bawah. Anggotanya rutin berlatih sejak Senin hingga Jumat layaknya pegawai kantoran. Selepas magrib, mereka meringkuk di tanah lapang di tepi kuburan, tak jauh dari rumah sang sutradara, Dindon WS. Di bawah lampu dan bulan, mereka mengolah tubuh. Perlahan-lahan, badan mereka seperti “disiksa.” Lelaki dan perempuan melipat-lipat, mengejang, bergulingan, atau berlari kecil. Gerakannya kadang individualis, kadang berpola ensambel. Pemain acap bergumam, meracau tak jelas.

Bagi warga sekitar, latihan Teater Kubur bak sebuah pentas. Warga antusias menonton, kadang melontarkan komentar-komentar lucu, terutama saat pemain mengolah benda-benda sekitar menjadi medium ekspresi. Bangku, meja, tong, botol, sapu dijadikan alat untuk mengungkapkan ide. ”Pemain teater saya harus selalu inisiatif, aktif, dan kreatif,” ujar Dindon. Dari totalitas itu lahir sejumlah karya yang membetot dan menekan perasaan.

Kiri-kanan: Koleksi poster-poster pertunjukan kuno di dinding Gedung Kesenian Jakarta; pendiri sekaligus sutradara Teater Kubur, Dindon WS, di kompleks pemakaman Kober.

Lakon bertajuk Tombol 13 yang dipentaskan di TIM pada 1993 misalnya, begitu mencekam. Besi dihantam keras, beton-beton ditebar, kawat berduri bersilangan di atas panggung. Penonton tertekan oleh perasaan depresi saat mendengar teks puitis, contohnya: “Kita berkejaran siang malam, meski kelaminku robek, jeroanku ringsek.”

Suguhan ini seakan menjadi stigma Teater Kubur: memainkan properti dan menyiksa tubuh. Mereka mengeksplorasi tong dalam Sirkus Anjing, mengolah sapu lidi dalam Donga Dongo, serta menggarap tiang dalam Stiang. Teater Kubur bermula dari pertunjukan Sandiwara Dalam Sandiwara, pentas yang ditujukan memperingati HUT RI di Kober Kecil pada 1982. Dindon yang aktif di berbagai grup, diminta membesutnya. Nama “kubur” dipilih karena rumah Dindon berdekatan dengan kompleks makam. Tapi kubur juga bermakna kemauan belajar dari yang sudah mangkat. “Untuk memaknai hidup kita agar lebih baik lagi,” katanya. >>>



Comments

Related Posts

11250 Views

Book your hotel

Book your flight