Wajah Danau Sentarum Kini

Dengan misi mewartakan kekayaan budaya Nusantara, GFJA menggelar ekspedisi etnofotografi ke Danau Sentarum. Hasilnya adalah potret pertarungan abadi antara kearifan budaya dan gairah laba.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Nelayan melintasi danau menuju Lanjak yang berbatasan dengan Serawak (Atet Dwi Pramadia).

Danau Sentarum terkenal berkat ukurannya yang masif. Tapi kali ini kita diajak melihatnya sebagai korban dari kerakusan ekonomi. Sepuluh fotografer Antara mengunjunginya, mendokumentasikannya, lalu menyusun karya yang mengetuk kesadaran kita.

Perjalanan ke Tanah Leluhur Danau Sentarum adalah buku yang dilahirkan dari lokakarya garapan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA). Misinya luhur, yakni mewartakan kearifan lokal dan kekayaan budaya Nusantara. Sebelum Sentarum, mereka menyambangi desa Badui dan Taman Nasional Bukit Duabelas.

Beberapa fotografer yang terlibat dalam ekspedisi Sentarum adalah Atet Dwi Pramadia, Bayu Amde Winata, Anastasia Widyaningsih, Heru Hendarto, dan Idham Rahmanarto. Secara keroyokan dan swadaya, mereka memproduksi 144 foto yang disebar dalam buku setebal 154 halaman. Proses seleksi foto ditangani oleh Oscar Motuloh, yang juga, sesuai tradisi, kebagian tugas menulis salah satu teks pengantar buku.

Perahu menjadi alat transportasi sehari-hari di Desa Leboyan (Anastasia Widyaningsih).

Kenapa Sentarum? Pemilihan lokasi sepertinya dilandasi oleh alasan sejarah dan pertimbangan kontemporer. GFJA berniat memotret tempat yang memiliki riwayat monumental, berdampak signifikan bagi kehidupan, serta memperlihatkan tantangan mutakhir yang dihadapi Indonesia. “Tidak satu pun dari kami yang memiliki leluhur langsung dari Danau Sentarum, namun sebagai anak bangsa yang besar, jelas bahwa Danau Sentarum adalah salah satu tempat yang mewakili kondisi negeri kita ini,” tulis Ramadian Bachtiar dari GFJA di dalam buku. >>>

Comments