Wajah Danau Sentarum Kini

  • Perahu menjadi alat transportasi sehari-hari di Desa Leboyan (Anastasia Widyaningsih).

    Perahu menjadi alat transportasi sehari-hari di Desa Leboyan (Anastasia Widyaningsih).

  • Nelayan melintasi danau menuju Lanjak yang berbatasan dengan Serawak (Atet Dwi Pramadia).

    Nelayan melintasi danau menuju Lanjak yang berbatasan dengan Serawak (Atet Dwi Pramadia).

  • Petani memanen madu hutan dari dahan buatan yang dipasang di ketinggian empat meter dari permukaan danau di kawasan Desa Leboyan (Atet Dwi Pramadia).

    Petani memanen madu hutan dari dahan buatan yang dipasang di ketinggian empat meter dari permukaan danau di kawasan Desa Leboyan (Atet Dwi Pramadia).

  • Danau Sentarum di musim basah pada Januari 2014 (Atet Dwi Pramadia).

    Danau Sentarum di musim basah pada Januari 2014 (Atet Dwi Pramadia).

  • Burung-burung melintasi Sungai Kapuas di Desa Suhaid (Atet Dwi Pramadia).

    Burung-burung melintasi Sungai Kapuas di Desa Suhaid (Atet Dwi Pramadia).

  • Perempuan Desa Pelaik mengambil pandan hutan untuk dibuat tikar dan tas (Ramadian Bachtiar).

    Perempuan Desa Pelaik mengambil pandan hutan untuk dibuat tikar dan tas (Ramadian Bachtiar).

  • Burung raja udang difoto di area Desa Semalah (R. Heru Hendarto)

    Burung raja udang difoto di area Desa Semalah (R. Heru Hendarto)

  • Rohmah (kiri), perintis jasa penyewaan baju penganten adat Melayu di Desa Semalah (Idham Rahmanarto).

    Rohmah (kiri), perintis jasa penyewaan baju penganten adat Melayu di Desa Semalah (Idham Rahmanarto).

  • Foto Danau Sentarum diambil pada musim kering pada Juli 2012, di mana sebagian besar air telah mengalir ke sungai terpanjang di Indonesia—Kapuas (Atet Dwi Pramadia).

    Foto Danau Sentarum diambil pada musim kering pada Juli 2012, di mana sebagian besar air telah mengalir ke sungai terpanjang di Indonesia—Kapuas (Atet Dwi Pramadia).

  • Pria Dayak Iban bersantai di beranda Rumah Betang di Desa Pelaik (Sumarno).

    Pria Dayak Iban bersantai di beranda Rumah Betang di Desa Pelaik (Sumarno).

  • Kepala Rukun Nelayan, Abdul Rohad (76), bersiap memasang bubu pada musim kering di Desa Leboyan (Atet Dwi Pramadia).

    Kepala Rukun Nelayan, Abdul Rohad (76), bersiap memasang bubu pada musim kering di Desa Leboyan (Atet Dwi Pramadia).

  • Kegiatan belajar yang diadakan relawan secara temporer di Desa Pengerak (Septiawan).

    Kegiatan belajar yang diadakan relawan secara temporer di Desa Pengerak (Septiawan).

Click image to view full size

Dengan misi mewartakan kekayaan budaya Nusantara, GFJA menggelar ekspedisi etnofotografi ke Danau Sentarum. Hasilnya adalah potret pertarungan abadi antara kearifan budaya dan gairah laba.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Danau Sentarum terkenal berkat ukurannya yang masif. Tapi kali ini kita diajak melihatnya sebagai korban dari kerakusan ekonomi. Sepuluh fotografer Antara mengunjunginya, mendokumentasikannya, lalu menyusun karya yang mengetuk kesadaran kita.

Perjalanan ke Tanah Leluhur Danau Sentarum adalah buku yang dilahirkan dari lokakarya garapan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA). Misinya luhur, yakni mewartakan kearifan lokal dan kekayaan budaya Nusantara. Sebelum Sentarum, mereka menyambangi desa Badui dan Taman Nasional Bukit Duabelas.

Beberapa fotografer yang terlibat dalam ekspedisi Sentarum adalah Atet Dwi Pramadia, Bayu Amde Winata, Anastasia Widyaningsih, Heru Hendarto, dan Idham Rahmanarto. Secara keroyokan dan swadaya, mereka memproduksi 144 foto yang disebar dalam buku setebal 154 halaman. Proses seleksi foto ditangani oleh Oscar Motuloh, yang juga, sesuai tradisi, kebagian tugas menulis salah satu teks pengantar buku.

Kenapa Sentarum? Pemilihan lokasi sepertinya dilandasi oleh alasan sejarah dan pertimbangan kontemporer. GFJA berniat memotret tempat yang memiliki riwayat monumental, berdampak signifikan bagi kehidupan, serta memperlihatkan tantangan mutakhir yang dihadapi Indonesia. “Tidak satu pun dari kami yang memiliki leluhur langsung dari Danau Sentarum, namun sebagai anak bangsa yang besar, jelas bahwa Danau Sentarum adalah salah satu tempat yang mewakili kondisi negeri kita ini,” tulis Ramadian Bachtiar dari GFJA di dalam buku. >>>



Comments

Related Posts

6011 Views

Book your hotel

Book your flight