Wajah Baru ArtJog

Bursa seni terbesar di Indonesia pindah lokasi. Bintang-bintang “kelas dua” berhasil merebut perhatian.

Promising Land, instalasi buatan Entang Wiharso yang mengulas persoalan rumah, tanah, dan migrasi manusia.

Oleh Cristian Rahadiansyah

ArtJog, bursa seni terbesar di Indonesia, menyuguhkan sesuatu yang berbeda tahun ini. Selain memindahkan lokasi acara dari Taman Budaya ke Jogja National Museum, panitia memberlakukan secara penuh sistem undangan bagi partisipan, artinya seniman tidak bisa lagi mendaftar secara mandiri.

Tahun ini, ArtJog menampilkan 97 karya dari 72 seniman. Seniman tuan rumah mendominasi komposisi peserta. Segelintir berasal dari luar negeri, misalnya dari Jepang dan Australia, sedangkan sisanya dari Bali, Solo, Bandung, dan Jakarta.

Memasuki Jogja National Museum, pengunjung mula-mula disambut oleh sebuah mesin jet yang terkoneksi ke terowongan kanvas berwarna putih. Terowongan ini meliuk dan berhenti di sebidang dinding, kemudian muncul kembali di sisi belakang bangunan untuk mengantarkan kita ke ruang pentas dan suvenir.

Serupa dengan jilid-jilid sebelumnya, ArtJog menunjuk seniman untuk menciptakan instalasi besar yang menjadi focal point di muka bangunan. Kali ini, karya tersebut direlokasi ke serambi belakang. Bentuknya menara setinggi 36 meter yang dimahkotai sebuah piring terbang, sementara di kakinya terdapat semacam satelit yang menangkap dan mengolah sinyal. Karya bertajuk Indonesia Space Science Society (ISSS) ini mengajak hadirin membayangkan kehidupan di luar bumi. “Genre ini disebut astronomical art,” jelas seniman pembuatnya, Venzha Christiawan.

Instalasi karya Arya Pandjalu yang melambangkan ketekunan untuk menggapai tujuan hidup.

Di episode kesembilannya, ArtJog mengusung tema Universal Influence. Tema yang cukup longgar ini, menurut kurator Bambang Toko, berniat mendemonstrasikan bagaimana seni berpengaruh besar terhadap peradaban, begitu pula sebaliknya.

Keputusan memindahkan lokasi acara juga dilatarbelakangi rumusan tema tersebut. Jogja National Museum dulu merupakan kampus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), perguruan tinggi seni tertua di Indonesia. Sejak diresmikan pada 1950, ASRI bagaikan kuali yang menggodok dan mencetak seniman berbakat—tradisi yang berlanjut setelah kampus ini bersalin nama jadi Institut Seni Indonesia. “ASRI tidak bisa dilepaskan jika kita bicara tentang pengaruh seni di Indonesia,” jelas Bambang Toko.

Tapi karena menempati situs bersejarah pula, panitia terpaksa lebih berhati-hati dalam mengutak-atik fisik bangunan. Jika di Taman Budaya panitia leluasa menjebol dinding atau mewarnai ulang fasad, kini mereka harus “mengalah” dan beradaptasi dengan ruang yang tersedia. Alhasil, penataan benda seni terlihat rapi dan atmosfer pameran lebih kalem.

Lukisan karya Djoko Pekik yang kabarnya terjual hingga Rp4,5 miliar.

Dalam ArtJog 2016, seperti galibnya, kita akan menemukan nama-nama besar yang mendominasi lanskap seni rupa kontemporer Indonesia, umpamanya Agus Suwage, Eko Nugroho, Nasirun, Entang Wiharso, dan Ugo Untoro. Di luar mereka, hadir beberapa “selebriti” semacam Davy Linggar yang memamerkan foto-foto portrait seniman, atau sutradara Garin Nugroho yang menuangkan kekagumannya pada Salvador Dali dan Georges Méliès.

Figur-figur prolifik tersebut adalah magnet yang membuat ArtJog rutin menyedot atensi kolektor internasional, dan transaksi yang ditorehkan di ajang ini merupakan salah satu barometer dari perkembangan bisnis seni Tanah Air. Kata panitia, karya termahal tahun ini jatuh pada lukisan Sirkus Adu Badak dari sang begawan Djoko Pekik. Harga jualnya belum resmi dilansir, tapi menurut bocoran panitia angkanya tidak jauh dari raihan Nyoman Masriadi pada tahun lalu yang mencapai Rp4,5 miliar. >>

Comments