Tur Pesiar di Asia Bersama Genting Dream

Seorang turis tengah menikmati salah satu wahana Waterslide Park.

Kapal meninggalkan Saigon dan saya mengisi waktu dengan berkeliaran. Genting Dream mengoleksi fasilitas untuk semua anggota keluarga: kid’s club untuk anak, kelab malam untuk remaja, salon untuk ibu, pertunjukan striptease untuk ayah saat ibu terlelap di salon, serta kolam renang dan pentas teater untuk semua.

Itu pakem yang lumrah sebenarnya, karena itu tak lagi menjadi daya tarik utama. Ketika kini persaingan pesiar makin alot, operator pun berlomba-lomba menghadirkan wahana dan atraksi yang tak dimiliki pesaingnya. Di mata mereka, fasilitas lebih menjual ketimbang destinasi. Apalagi fasilitas bisa dimonopoli, tidak seperti destinasi wisata yang terbuka bagi semua kapal.

Dengan logika itulah Genting Dream menghadirkan Johnnie Walker House pertama di kapal pesiar, kelab malam Zouk pertama di kapal pesiar, juga kasino Resorts World at Sea pertama dalam sejarah. Minum, pesta, dan judi. Kapal rasa Asia yang menggiurkan memang.

Genting Dream menyisir tepian timur Vietnam dan mendekati pemberhentian keduanya, Nha Trang. Di tepi laut, resor dan hotel berkerumun. Di salah satu lereng bukit, kastel bergaya Disney menjulang kikuk dalam kesendirian. Dari kota perjuangan Saigon yang menutup babak perang, saya berpindah ke kota wisata yang merayakan hidup. Jangkar dilego. Getarannya mengguncang matras saya. Nha Trang tidak memiliki pelabuhan untuk kapal besar, sehingga Genting Dream terpaksa bersauh di tengah laut. Di sekitar kapal, perahu-perahu berseliweran. Para penumpangnya sibuk memotret.

Mural warna-warni kreasi Jacky Tsai yang menghiasi tubuh tambun kapal.

Tiap kali berlabuh, kapal ini memang senantiasa menyita perhatian. Bukan hanya karena posturnya yang gigantik, atau panjangnya yang melebihi tiga lapangan sepak bola, tapi lebih berkat tampilannya yang artistik. Kedua sisi lambung kapal dilapisi mural buatan Jacky Tsai, seniman yang pernah mendesain floral skull untuk Alexander McQueen. Jacky melukis ikan koi yang kalem, pesenam yang lentur, serta barisan pendayung perahu naga yang semangat. Mural dengan estetika oriental.

Di bawah siraman gerimis, penumpang melompat ke sekoci, lalu meluncur ke sebuah pelabuhan kusam. Dari sini, kami berpindah ke bus untuk kembali melakoni “tur lihat-lihat” yang ambisius: melompat dari satu objek ke objek lain, bertekad merangkum semua daya tarik sebuah kota dalam satu lawatan singkat. Sekali lagi, dalam bisnis pesiar, fasilitas kapal cenderung digarap lebih serius ketimbang tur-tur di darat. “Apa” lebih penting ketimbang “ke mana.”

Nha Trang sebenarnya tempat yang menyenangkan. Dibandingkan Saigon, jalan-jalannya lebih lapang dan lengang. Jalan di sini bahkan masih memberi ruang bagi xich lo, becak Vietnam yang kian langka. Tapi ini mungkin terakhir kalinya Genting Dream singgah di Nha Trang. Kelak, untuk pelayaran regulernya, kapal ini hanya mencakup rute Guangzhou, Hong Kong, serta Ha Long Bay dan Danang di Vietnam. Rute pendek yang disesuaikan dengan jatah cuti turis Asia.

Jangkar digulung dan matras saya kembali terguncang. Genting Dream meninggalkan Nha Trang untuk melanjutkan perjalanannya ke utara. Laut hari ini lumayan ganas. Angin bertiup kencang dan gelombang bergulung tinggi. Air menampar-nampar lambung, mengempas menjadi buih yang terlontar tinggi layaknya hujan yang mengucur dari bawah.

Kiri-kanan: Roland Standberg, staf keamanan asal Swedia bersiap menyambut penumpang di Terminal Tan Cang Cai Mep, gerbang laut untuk memasuki Ho Chi Minh City; para penumpang tengah memanfaatkan fasilitas lapangan basket di kapal.

Balkon saya di lantai 13 sampai basah kuyup. Di momen seperti itu, saya memilih menekuni hobi baru saya: keluyuran di kapal. “Terperangkap” seminggu di atas laut, saya mulai menikmati perjumpaan-perjumpaan acak yang menyenangkan. Suatu kali, saya bertemu butler asal Turki yang semringah karena berhasil menemui turis Muslim asal Indonesia. Di hari yang lain, saya tak sengaja melihat Surya Paloh sedang merenung di teras restoran. Hari yang lain lagi, seorang remaja tanggung asal Tiongkok berjalan-jalan dengan mengenakan singlet putih bertuliskan “SEX, GYM, PROTEINS, SHAKES.”

Pagi baru kembali dibuka. Seperti pagi-pagi lainnya, butler pria Eropa yang rupawan dan butler wanita Tiongkok yang ayu mengetuk pintu kabin untuk menghidangkan anggur dan jeruk, mengganti botol air minum, mengisi ulang kapsul-kapsul kopi. Selepas mereka biasanya muncul seorang gadis tambun yang bertugas merapikan seprai dan memungut semua cangkir kotor. Berbasa-basi dengan kelasi bagaikan hiburan saat saya terlalu malas beranjak dari kabin.

“Kapal ini bagus, tapi servisnya jauh di bawah standar,” ujar Charles, seorang kakek asal Singapura, yang berbagi meja dengan saya saat sarapan. “Mungkin karena ini pelayaran perdana dan kapal belum siap 100 persen.” Bersama istrinya, Charles mengaku rutin berpesiar beberapa kali per tahun, menggunakan kapal yang berbeda-beda. Sekitar sebulan sebelumnya, dia mengikuti pelayaran dengan kapal Royal Caribbean membelah perairan Selat Malaka.

“Saya pensiunan, sudah sepuh,” kata Charles lagi. “Dengan pesiar saya bisa berjalan-jalan menikmati hidup tanpa harus repot. Semuanya tersedia di dekat kamar.” Cruise memang sejatinya sebuah taman rekreasi dengan wahana-wahana yang disebar di sekitar kasur. Sebelum saya beranjak dari restoran, Charles mencolek saya, lalu berbisik: “Pembantu saya asal Indonesia. Tiap kali pamit cuti untuk mudik, dia selalu mencium tangan saya. Kenapa ya?”

Lama didominasi oleh Star Cruises, bisnis pesiar di Asia kini makin kompetitif. Pemainnya beragam. Tawarannya lebih variatif. Tentu saja, tren itu tak semata dipicu oleh pertumbuhan ekonomi. Gairah berpaling ke “Timur” sebenarnya juga didorong oleh melempemnya pasar di wilayah lain. Awal tahun lalu, majalah The Economist melaporkan bahwa bisnis pesiar di Eropa sedang kalut akibat terorisme, sementara pasar Amerika mengalami kejenuhan. Bagi banyak operator, berpaling ke Asia mungkin bukanlah sebuah pilihan, melainkan keharusan.

Kiri-kanan: Sebuah kafe di Kota Tua Hoi An, anggota Situs Warisan Dunia; turis berpose di depan bangunan bersejarah di Hoi An.

“Tapi kapal ini mungkin agak susah dijual di Indonesia,” ujar Michael, pakar pesiar dari deCruise, yang ikut serta dalam pelayaran perdana Genting Dream. Menurutnya, Genting Dream terlalu fokus pada kasino dan turis Tiongkok. “Fasilitasnya sih banyak, cocok untuk incentive group dan keluarga. Tapi ya itu tadi, mungkin enggak semua orang nyaman dengan gayanya.”

Kekhawatiran Michael beralasan, namun tak akan sirna dalam waktu singkat. Bisnis pesiar memang sedang merekah di Asia, tapi bagi banyak operator kapal, “Asia” sejatinya bersinonim dengan “Tiongkok.” Berstatus negeri pemasok turis terbanyak, Negeri Tirai Bambu adalah mesin kas utama bagi industri pariwisata dunia. Menurut Oxford Economics, jumlah keluarga di mainland dengan penghasilan lebih dari $350.000 per tahun—syarat dasar untuk berwisata ke luar negeri—tumbuh dari enam juta menjadi 27 juta dalam 10 tahun terakhir. Statistik itu tecermin pula dalam profil penumpang pesiar.

Dari 2,08 juta penumpang di Asia pada 2015, nyaris separuhnya berpaspor Tiongkok. Demi menjala klien Tiongkok, operator pesiar mesti memastikan kapalnya sesuai dengan selera mereka. Itu artinya: menyediakan banyak kru berbahasa Mandarin, restoran yang menghidangkan menu oriental, ruang khusus mahjong, serta pertokoan duty-free berisi merek-merek global. Dan yang disajikan bukan hanya hal-hal yang disukai. Segala yang membuat turis Tiongkok alergi juga mesti dihapus. Di Genting Dream misalnya, kita tak akan menemukan angka 14 di lift.

Suatu malam, saya singgah di teater untuk menonton pentas bertajuk Voyage of a Lover’s Dream, contoh lain dari keinginan Genting Dream memuaskan turis Tiongkok. Dengan panggung yang menyerupai properti film karya George Melies, pentas ini dibuka oleh barisan wanita seksi yang menari-nari lincah dan pria-pria kekar yang bergelantungan dengan tali. Lampu aneka warna ditembakkan ke panggung. Video sureal berseliweran di layar. Musik mengguncang kursi penonton.

Area kasino di Resorts World at Sea.

Di babak berikutnya, sejumlah pria melompat di atas trampolin, lalu bersalto di udara. Selanjutnya muncul dua pemain akrobat yang memeragakan keluwesan tubuh yang tak masuk akal bahkan bagi pecandu yoga sekalipun. Dalam tiap jeda antar-babak, seorang wanita kontet menuturkan narasi pentas dalam bahasa Mandarin.

Menurut brosur, pentas itu bercerita tentang seorang astronaut yang jatuh hati dengan seorang putri duyung. Tapi cerita agaknya bukan inti dari pertunjukan. Voyage of a Lover’s Dream adalah kabaret yang tak peduli dialog.

Pokoknya heboh dan kolosal. Dramatis dan mendebarkan. Banyak bekerja, minim bicara. Sebuah kombinasi antara sirkus Cirque du Soleil dan Acrobats Hebei. “Sebenarnya pentas ini menceritakan kisah yang romantis,” ujar Jasmine, seorang gadis asal Shanghai yang duduk di sebelah saya. “Tapi orang Tiongkok memang lebih menyukai atraksi yang seru. Banyak aksinya!”

Tontonan itu sejenak mengingatkan saya pada pengalaman menaiki Quantum of the Seas. Akhir 2014, dalam sebuah sesi “test-drive” di selatan Inggris, kapal milik Royal Caribbean itu menyuguhkan drama musikal Broadway Mamma Mia! Para penumpang menyukainya, tapi pihak operator kemudian memutuskan menghapusnya. Alasannya: kapal akan diboyong ke Tiongkok, dan turis Tiongkok, menurut keyakinan mereka, menggemari pentas yang royal aksi dan pelit narasi.

Kiri-kanan: Sun deck yang terletak di lantai 16; fasilitas video game untuk remaja dan anak-anak juga tersedia di dalam kapal.

Hari kelima, Genting Dream transit di kota Danang, lalu kembali berlayar menuju Guangzhou dengan melewati pelataran Pulau Hainan. Di etape terakhir ini, laut kembali beringas. Sekujur tubuh kapal berulang kali mengeluarkan suara berderak layaknya ranting yang patah. Tapi orang-orang masih menikmati jam-jam terakhirnya di atas kapal.

Kasino tetap ramai. Johnnie Walker House masih membuka botol-botol langka. Zouk Beach Club menggelar pesta di buritan. Dalam bisnis pesiar, angin memang sedang berembus ke Asia. Dulu, banyak operator memandang kawasan ini sebagai rute “ekstra” yang cukup dilayani memakai kapal lawas. Sekarang, mereka berlomba-lomba menghadirkan armada terbaru, terbaik, dan terbesarnya di Asia. Pada 2006, operator veteran Costa Cruises menempatkan kapal pertamanya di Tiongkok. Pada 2015, Royal Caribbean merambah Shanghai dan Singapura. Tahun ini, Princess Cruises dan Norwegian Cruise melabuhkan kapal barunya di Asia.

Perang tersengit di atas laut berlangsung di Asia. Turis Indonesia mungkin tak selalu cocok dengan tawaran para operator, tapi yang pasti bisa memetik berkahnya: kita bisa mencicipi kapal-kapal terbaik tanpa harus terbang jauh, tanpa menderita jet lag, kadang tanpa harus mengajukan aplikasi visa.

Panduan

—Informasi

Genting Dream, kapal baru yang dirakit di Jerman dan dikelola oleh Dream Cruises (dreamcruiseline.com), melayani rute regulernya mulai November 2016. Kapal berbobot 151.300 ton ini berbasis di Guangzhou dan Hong Kong dengan rute terjauh mencakup Ha Long Bay dan Danang di Vietnam.

Tarif tergantung periode dan rute perjalanan. Untuk trip dua malam dari dan ke Hong Kong sebelum 31 Maret 2017, harga pembukaan mulai dari HK D1.999 (sekitar Rp3,4 juta) per orang khusus kamar tanpa jendela. Untuk tur-tur darat saat transit, jika tidak nyaman dengan tur sightseeing yang padat bersama rombongan, Anda bisa memesan paket free & easy dari pihak operator.

Genting Dream berkapasitas 3.352 penumpang yang ditempatkan di 1.674 kabin dan dilayani oleh 2.016 kru. Ukuran kabin mulai dari 13 hingga 224 meter persegi, mayoritas dilengkapi balkon pribadi. Menginap di tipe suite, penthouse, atau vila, tamu bisa menikmati servis dari sekitar 60 orang Dream Butler.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2017 (“Rasa Asia”).



Comments

Related Posts

5754 Views

Book your hotel

Book your flight