Tur Kereta Wisata di Nusantara

KAI menyulap kereta kenegaraan menjadi kendaraan wisata premium. Terobosan cerdas yang terinspirasi masa lalu.

Oleh Reza Idris

Ruang privat untuk penumpang yang mendambakan privasi lebih.

Jika Eropa punya Eurail dan Jepang punya Nanatsuboshi, Indonesia kini memiliki Kereta Wisata. Interiornya mewah dan servisnya menyaingi kelas bisnis pesawat. Berkat respons positif dari publik, pihak operator kini berniat menambah jumlah gerbong dan rutenya. Pertumbuhan industri penerbangan memang mengancam eksistensi kereta.

Mirip kartu pos yang tenggelam akibat kehadiran telepon genggam, kereta kian kehilangan pamornya sebagai moda ekspress yang menghubungkan manusia dan tempat. Kendaraan ciptaan William Murdoch itu kini sepertinya hanya dipilih karena terpaksa: untuk menjangkau destinasi yang belum memiliki bandara atau saat tiket pesawat kelewat mahal.

Kondisi memprihatinkan tersebut ditanggapi PT. Kereta Api Indonesia (KAI) dengan meluncurkan sejumlah terobosan. Uniknya, salah satu gebrakannya yang menuai sukses justru didapat bukan dengan menatap masa depan, melainkan menggali masa lalu: menghidupkan kereta carter era 1990-an. Dulu, pengguna kereta carter hanyalah kalangan VIP, termasuk RI1 dan RI2. Ada tiga gerbong yang rutin mereka pakai. Namanya: Nusantara, Toraja, dan Bali. Pada 2009, seiring pembenahan di tubuh BUMN, KAI memutuskan untuk memberdayakan aset tuanya dengan menciptakan anak usaha baru, PT. Kereta Api Pariwisata (KAP). >>



Comments

Related Posts

12501 Views

Book your hotel

Book your flight