Tur Budaya Nan Menarik di Wina

  • Kamar tamu di Hotel Topazz.

    Kamar tamu di Hotel Topazz.

  • Cafe Sperl, kafe kesukaan Adolf Hitler. Restoran ini sudah berumur 120 tahun.

    Cafe Sperl, kafe kesukaan Adolf Hitler. Restoran ini sudah berumur 120 tahun.

  • Restoran di puncak Hotel Sofitel yang desainnya kreasi arsitek Prancis, Jean Nouvel.

    Restoran di puncak Hotel Sofitel yang desainnya kreasi arsitek Prancis, Jean Nouvel.

  • Seorang anak lelaki tengah mendengarkan musik di Haus der Musik.

    Seorang anak lelaki tengah mendengarkan musik di Haus der Musik.

  • Hiasan-hiasan terbuat dari porselen di Augarten Porcelain Factory. Pabrik ini juga menyediakan jasa tur di balik layar tradisi pembuatan porselen yang sudah berjalan selama tiga abad.

    Hiasan-hiasan terbuat dari porselen di Augarten Porcelain Factory. Pabrik ini juga menyediakan jasa tur di balik layar tradisi pembuatan porselen yang sudah berjalan selama tiga abad.

  • Suasana menjelang malam di MuseumsQuarter, Wina.

    Suasana menjelang malam di MuseumsQuarter, Wina.

  • Salah satu inspirasi desain Lena Hoschek, perancang dengan spesialisasi busana <i>dirndl</i>.

    Salah satu inspirasi desain Lena Hoschek, perancang dengan spesialisasi busana dirndl.

Click image to view full size

Menampilkan museum sakral, gedung konser, dan pentas kuda Lipizzaner, Wina kerap dianggap terlalu serius. Tapi itu hanyalah anggapan dari turis pembeli paket-paket tur, sebab kota ini punya dimensi berlapis yang hanya bisa dikupas dengan jiwa avonturir.
Oleh Brian Johnston

Hiasan-hiasan terbuat dari porselen di Augarten Porcelain Factory. Pabrik ini juga menyediakan jasa tur di balik layar tradisi pembuatan porselen yang sudah berjalan selama tiga abad.

Sorot mata takjub. Saya selalu melihatnya di wajah warga Wina usai saya mengaku pernah berkunjung ke kota ini empat hingga lima kali dalam beberapa tahun terakhir. Mereka mungkin berpikir saya pengidap sindrom Freudian, seorang maniak opera, atau pecandu museum yang kepincut kaum Secessionist (seniman yang menentang kemapanan dengan mendirikan aliran Secession).

Semua dugaan itu bisa dimengerti, sebab Wina memang membangun reputasinya dari musik klasik, galeri seni, dan teori-teori eksistensialisme. Namun trip saya ke sini juga berhasil menemukan dimensi lain yang turut membentuk identitas kota. Dimensi yang umumnya hanya dimasuki oleh warga lokal.

Bagi saya, sejujurnya, suguhan-suguhan kultural yang luhur itu kerap memicu sakit kepala. Untungnya, Wina menawarkan banyak alternatif yang lebih menyenangkan untuk menyerap peradabannya. Berikut salah satunya: Haus der Musik, tempat melihat warisan komponis-komponis berpengaruh sekaliber Mozart, Haydn, dan Beethoven.

Sebelum pulang, comot stik dirigen, lalu jadikan diri Anda pemimpin Vienna Philharmonic di depan layar interaktif. Di Kunsthistorisches Museum, saya menemukan Kunstkammer Wien, koleksi seni tak lazim yang dikumpulkan oleh Dinasti Habsburg selama ratusan tahun. Benda-benda eksentrik itu dilansir ke publik pada Februari silam. Menelusurinya membuat saya terbuai, apalagi ketika melihat goblet yang kerap muncul di serial Game of Thrones.

Tawaran yang juga atraktif datang dari Augarten Porcelain Manufactory: tur “di balik layar” yang memperlihatkan tradisi tiga abad pembuatan porselen di sebuah pabrik yang hingga kini masih melestarikannya. Dan Anda bukan cuma melihat, tapi merasakannya. Di Décor, restoran yang tersambung ke pabrik, saya menikmati daging sapi dan selada di atas barang pecah-belah buatan Augarten.



Comments

Related Posts

3727 Views

Book your hotel

Book your flight