Transformasi Gadis Manis

Di dunia akting, Julie Estelle keluar dari zona nyaman dengan mengambil peran-peran penuh risiko. Tapi, sebagai traveler, siapa dia sebenarnya?

Kolam renang privat di tipe Hillside Villa di Alila Villas Uluwatu, properti di bibir tebing selatan Bali. Syal, celana pendek, handuk pantai, dan tas cabas, seluruhnya dari Louis Vuitton.

Teks oleh Reza Idris
Foto Diego Vergés
Pengarah gaya: Peter Zewet

Dengan parasnya yang polos, Julie Estelle terlihat natural saat membintangi drama melankolis Alexandria dan Broken Hearts. Tapi wanita kelahiran 1989 ini sepertinya tak mau terjebak di zona nyaman peran protagonis. Dalam The Raid 2, dia berperan sebagai penjahat beringas yang bersenjatakan martil.

Di dunia sinema, Julie kini bukan lagi seorang “girl next door.” Dia aktris yang diperhitungkan. Dan dia juga gemar melancong, aktivitas yang dipupuknya sejak belia. Tumbuh di Bali, Julie punya banyak peluang untuk berdekatan dengan alam. “Orang tua sering sekali mengajak jalan-jalan ke pantai atau pulau-pulau,” kenangnya. Dengan jadwal syuting yang padat, hobinya melancong kini kerap tercampur dengan aktivitas kerja. Dara berdarah Manado, Tionghoa, dan Prancis ini melihat kesibukannya sebagai kesempatan untuk menyaksikan dunia. “Tidak cuma ketemu orang-orang baru di industri, kebetulan  kerja bisa sambil keliling,” ujarnya.

Kiri-kanan: Kolam utama yang menatap samudra. Bikini dan kacamata hitam dari Louis Vuitton; interior kabana, fitur unik yang dihasilkan dari penafsiran kreatif atas bale tradisional Bali. Topi fedora, gaun lilit, gelang, sandal, dan tas Neverfull, seluruhnya dari Louis Vuitton.

Dua destinasi yang meninggalkan kesan mendalam baginya adalah Mykonos dan Santorini. “Paling menyenangkan. Kombinasi warna putih dan birunya sangat indah. Lautnya bersih, dan saya suka sekali makanannya,” kenangnya. Julie juga memiliki punya destinasi andalan di Indonesia: Gili Trawangan. “Di sini bisa dapat semua. Pulau unik, pantai, budaya, dan makanan yang enak,” ujar wanita yang hobi memasak ini.

Tapi Julie bukanlah seorang solo traveler. Dia lebih memilih menikmati perjalanan bersama anggota keluarga atau teman. “Saat jalan dengan orang-orang yang kita cintai, trip selalu lebih menyenangkan.” Tahun ini, dia berencana menyambangi Raja Ampat. “Kebetulan karena kerjaan juga, tapi akhirnya bisa datang ke tempat yang terkenal akan dunia bawah lautnya,” ujarnya. Agenda ini sepertinya akan dilakoninya usai menuntaskan syuting The Night Comes for Us, film laga yang dirilis tahun depan dan turut dibintangi Joe Taslim.

Interior vila dengan elemen natural rancangan firma terpandang, WOHA. Atasan lengan pendek, celana pendek, sepatu wedges, dan tas Biface, seluruhnya dari Louis Vuitton.

Berjibaku di film penuh darah, lalu menjelajahi jantung Segitiga Karang Dunia; Julie memang bukan lagi gadis polos yang dulu kita kenal.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2014 (“Transisi Diri”).

Comments