Terbius Pesona Con Dao

Laut tenang di Con Dao.

Awalnya hendak dilupakan, Con Dao justru merekah menjadi destinasi pelesir di Laut Cina Selatan. Tapi kekhawatiran akan keutuhan ekologisnya kini mulai mengemuka di tengah melonjaknya arus turis. Melalui ekowisata, kepulauan di selatan Vietnam ini hendak memastikan masa depannya masih panjang.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Muhammad Fadli

Menghabiskan pagi di serambi Con Son Café, ingatan saya justru melayang ke foto-foto Kuba dalam esai dramatis buatan fotografer Joakim Eskildsen. Bangunan kolonial berwarna krem saling bergandengan tangan di depan trotoar yang membentang di tepian pantai. Angin laut berembus halus dan menyejukkan kopi pahit yang dicampur rum Havana. Orang-orang duduk termenung, kadang berjalan gontai, membuat bumi seakan berputar lebih pelan.

Beberapa hari sebelumnya, saya singgah di Saigon, di mana menyeberang jalan adalah tindakan yang sangat berbahaya. Hari ini, di depan Con Son Café, jalan justru begitu lengang. Anak-anak mengayuh sepeda sembari tertawa. Willys tua dengan stiker U.S. Army melintas pelan. Lebih mirip Kuba ketimbang Vietnam memang. Di samping saya, sebuah gapura menampilkan foto Paman Ho yang tersenyum penuh wibawa, seolah hendak mengingatkan bahwa saya sedang berada di negerinya. Pakaiannya serbaputih, seputih janggutnya yang miring tertiup angin. Dia melambaikan tangan ke arah dermaga tua yang dikonstruksi pada 1873.

“Paman Ho lahir pada 1890 dan meninggal pada 1969,” seorang pria paruh baya memancing diskusi dalam bahasa Inggris bercampur Vietnam. Kami mulai berbincang. Dia menawarkan rokoknya, lalu menunjukkan foto-foto anak dan istrinya. Berbeda dari Saigon di mana manusia bergerak gesit layaknya orang yang dikejar utang, penduduk Con Dao sepertinya selalu punya waktu untuk tersenyum dan berbicara.

Pagi mulai berlalu. Bus-bus turis mulai hilir-mudik mengangkut turis, sementara kawanan tentara berkeliaran mencari makan siang. Saya dan teman baru saya kini terdiam menatap laut dan perahu-perahu kayu yang bertaburan di laut pirus. Kopi saya telah kering hingga ke dasar cangkir. Detak jantung melambat. Tempat ini membuat mengobrol dan membisu sama nikmatnya. >>



Comments

Related Posts

9358 Views

Book your hotel

Book your flight