Teluk Megah di Jantung Sumbawa

Area spa terbuka di Amanwana Resort.

Sebuah teluk megah di jantung Sumbawa menjadi episentrum pariwisata yang menghubungkan obyek-obyek atraktif, mulai dari kebun berisi kaum eksodus, Gunung Tambora, hingga Pulau Moyo dan Satonda.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Putu Sayoga

Bagaimana mungkin teluk seluas ini tak punya riwayat yang jelas? Di atas perahu yang membelah Teluk Saleh, saya bergumam dengan nada kesal. Angin September bertiup kencang, menabrak-nabrak geladak, membuat kayu-kayu di tubuh perahu bergesekan. Di kanan dan kiri, pulau-pulau kecil bertaburan. Jumlahnya lebih banyak dari yang tertera di peta saya.

“Mau ke mana, Pak?” teriak ABK dari buntut perahu. Deru angin menenggelamkan suaranya. Saya menunjuk tepian teluk, di mana bukit-bukit berbaris seperti raksasa yang bergandengan tangan. Bukit-bukit jangkung yang mengubur cakrawala dan membuat kita kerdil di hadapan alam.

Teluk Saleh menyayat Sumbawa dalam posisi diagonal. Hanya segaris daratan tersisa di ujungnya. Dalam peta-peta tua, teluk ini disebut Sallee. Siapa Saleh sebenarnya? Banyak orang Sumbawa menyandang nama Saleh. Tapi Bapak Saleh yang mana? Dalam babad kerajaan-kerajaan lawas di Sumbawa, tak ada raja bernama Saleh.

Teluk Saleh pernah memegang peran vital dalam sektor perdagangan. Perairan yang luasnya dua kali Jakarta ini menghubungkan kerajaan-kerajaan di bagian barat dan timur Sumbawa. Untuk menyambangi kedua wilayah itu, lebih praktis menaiki perahu ketimbang mengitarinya lewat darat. Pesisir yang membingkai teluk memiliki panjang hampir 300 kilometer.

Sebuah desa nelayan di Teluk Saleh.

Belanda mendarat di Sumbawa pada abad ke-17. Penjajah datang karena tergoda kekayaan alam pulau yang melegenda. J.D. Schelle dan J.H. Tobias, dua pejabat VOC, menggambarkannya penuh nada takjub: “Beras, kacang-kacangan, dan jagung berlimpah. Hutan menyediakan malam (wax) dan kayu berkualitas prima, terutama secang, yang kualitasnya tak ada duanya di seantero negeri kepulauan ini.” Di masa itu pula, kuda Sumbawa tersohor. Schelle dan Tobias kembali menulis: “Siapa yang tak pernah mendengar kuda-kuda hebat dari pulau ini, yang kualitasnya tak tertandingi?” Pamor Sumbawa, setidaknya dulu, melampaui bukit-bukit yang mengukir tanahnya.

Letusan dahsyat Tambora pada 1815 mengubur periode emas itu, tapi tidak untuk selamanya. Beberapa puluh tahun pascaerupsi, Sumbawa kembali merekah. Alamnya pulih dan semut-semut asing pun berdatangan. Kebun-kebun garapan dipulihkan, sektor perdagangan kembali bernyawa. Jepang juga singgah di Sumbawa, namun hanya sejenak. Salah satu kapal tentara Nippon karam di Teluk Saleh dan sempat menjadi situs selam, sampai akhirnya besi-besinya ludes dipereteli orang. >



Comments

Related Posts

15891 Views

Book your hotel

Book your flight