Surga Laut di Kota Kinabalu

  • Dermaga Gaya Island Resort yang menatap daratan utama Sabah di kejauhan.

    Dermaga Gaya Island Resort yang menatap daratan utama Sabah di kejauhan.

  • Gaya Island Resort dengat latar belakang hutan rimbun.

    Gaya Island Resort dengat latar belakang hutan rimbun.

  • Kolam renang di Gaya Island Resort yang menghadap laut lepas.

    Kolam renang di Gaya Island Resort yang menghadap laut lepas.

  • Area makan yang berada di tepi pantai.

    Area makan yang berada di tepi pantai.

  • Justin Juhun, sang pemandu tamu di Gaya Island Resort.

    Justin Juhun, sang pemandu tamu di Gaya Island Resort.

  • Salah satu sudut bersantai para tamu yang dikepung pepohonan hijau.

    Salah satu sudut bersantai para tamu yang dikepung pepohonan hijau.

  • Interior kamar tipe suite di Gaya Island Resort.

    Interior kamar tipe suite di Gaya Island Resort.

  • Menatap indahnya alam dari balkon privat.

    Menatap indahnya alam dari balkon privat.

  • Jalanan setapak di pulau yang bisa diakses tamu.

    Jalanan setapak di pulau yang bisa diakses tamu.

  • Kapal Lumba-Lumba yang siap mengajak tamu menyaksikan mentari terbenam.

    Kapal Lumba-Lumba yang siap mengajak tamu menyaksikan mentari terbenam.

  • Gaya Island Resort dengan pantai privatnya.

    Gaya Island Resort dengan pantai privatnya.

Click image to view full size

Meluncur sejenak dengan perahu dari Kota Kinabalu yang giat membangun, kita akan menemukan sebuah dunia yang sepenuhnya berbeda: kompleks terumbu karang dan belantara tua yang dipenuhi satwa liar. Keutuhan ekologisnya memang sedang terancam oleh limbah dan perikanan ilegal, tapi para pencinta lingkungan belum lelah menjaganya.

Oleh Sanjay Surana
Foto oleh Martin Westlake

Seekor babi hutan menggigit jempol. Sepenuhnya salah saya. Ketika sedang piknik pada siang bolong di pantai Gaya Island Resort, seekor babi hutan melenggang di pasir dan mendekat usai terpikat oleh bau makanan. Dengan imutnya ia mengendus kaki kiri saya, seolah hendak mengajak bermain. Lalu ia pindah ke kaki kanan, tapi kali ini untuk menggigit jempol saya.

Justin Juhun, sang pemandu tamu di Gaya Island Resort.

Haaa!” Saya berteriak dan sang babi melepaskan gigitannya. Jempol masih utuh, tapi kulitnya terkelupas. Saya berjalan tertatih ke air guna membersihkan luka, sementara si pelaku kabur dan menyelinap ke hutan.

Menyesal, tentu saja. Seharusnya saya mematuhi petuah Scott Mayback, pakar biologi kelautan yang bekerja untuk Gaya Island Resort. Sejam sebelumnya, dia menganjurkan saya untuk menjaga jarak dari babi hutan. Katanya, hewan ini kerap mengendus-endus di sekitar pantai. “Tepuk tangan Anda bersama-sama seraya berteriak,” sarannya tentang teknik mengusir babi. Di Borneo, memang ada perbedaan besar antara “satwa” dan “satwa liar.”

Dan satwa liar berlimpah di belantara Gaya, pulau seluas 15 kilometer persegi di dekat Kota Kinabalu, Sabah. Di pulau ini hanya ada tiga hotel (termasuk Gaya Island Resort yang berusia dua tahun), ditambah segelintir desa berisi rumah-rumah panggung. Selain babi hutan, warga pribuminya antara lain tupai terbang, kera, kelelawar tapal kuda, burung merbah belukar, serta lebah ungu dengan mandibula yang sanggup melubangi pohon.

Faunanya jelas spektakuler, tapi tawaran Gaya yang paling atraktif adalah lautnya yang kaya warna. Kecuali kawasan semenanjung timur tempat desa-desa tradisional berdiri, seluruh perairan Gaya berstatus dilindungi, bagian dari kawasan konservasi seluas 50 kilometer persegi Taman Nasional Tunku Abdul Rahman (TAR ). Taman nasional yang diresmikan pada 1974 ini mencakup Gaya dan sejumlah pulau tetangganya seperti Mamutik, Manukan, Sapi, dan Sulug.

Gaya Island Resort sepertinya bukan semata hadir untuk mengail uang dari turis. Menganut ambisi mulia untuk merawat lingkungan, properti ini mempekerjakan Mayback, pria 36 tahun yang mengurus pembukaan marine center tahun lalu, ditambah seorang naturalis. Dilihat dari lautan, resor ini seperti dusun tepi pantai yang rendah hati. Di dalamnya terdapat vila-vila yang bertengger di atas tiang pancang, bertaburan di antara pohon-pohon dipterocarp, dan menghadap perairan berwarna batu giok Teluk Malohom. Resor ini tidak besar. Di sisi depan ada ruang publik berisi area penerimaan tamu, kolam renang, dan restoran. Di belakangnya, vila berserakan. Semuanya ditata dalam formasi lingkaran yang bisa dikelilingi dalam waktu hanya 10 menit. >>>



Comments

Related Posts

6775 Views

Book your hotel

Book your flight