Surga di Kaki Myanmar

Mergui menaungi pulau-pulau hening yang selama ratusan tahun nyaris terisolasi dari modernisasi. Tapi kisahnya tak selalu semanis tampilannya.

Kapal Burma Boating yang melopori wisata pesiar di Mergui.

Oleh Kendall Hill
Foto oleh Christopher Wise

Pada abad ke-21, fakta berikut memang sulit dipercaya: Asia, salah satu benua terpadat di dunia, ternyata masih memiliki kawasan berisi 800-an pulau yang mayoritas tak berpenghuni. Pengunjungnya hanya ratusan orang per tahun, bukan ribuan. Dan karena pengunjungnya minim, saban pagi, terutama saat saya bangun paling awal, saya bisa berenang ke pulau terdekat, lalu meninggalkan jejak kaki pertama di atas pasir pantai.

Menginjakkan kaki di pulau tak bertuan. Begitulah cara saya membuka pagi selama enam hari mengarungi Mergui, kepulauan di selatan Myanmar. Rasanya seperti halusinasi. Sulit membayangkan tempat seindah ini masih berada di luar radar turis.

Di sudut dunia yang hening ini, pariwisata baru dirintis pada akhir 1990-an, dan baru beberapa tahun belakangan bisnis pesiar merekah, terutama setelah Myanmar membuka tabirnya pada dunia. Burma Boating, operator kapal saya, merupakan salah satu perintisnya. Situs reservasinya baru diluncurkan tiga tahun silam. Tamu pertama langsung didapat dua minggu setelah situs tayang. Dua bulan berselang, seluruh paket ekspedisinya ludes terjual. Terdorong permintaan yang tinggi, Burma Boating membeli kapal kedua di tahun pertamanya. Kini, mereka mengoleksi enam kapal.

Kiri-kanan: Saking bersihnya, peserta tur bisa langsung melompat langsung ke laut; Burma Boating juga dilengkapi perahu kecil untuk aktivitas island hoping.

Salah seorang pendiri Burma Boating, Christoph Schwanitz, mengaku menemukan Mergui secara kebetulan ketika dia dan rekan-rekannya mencarter sebuah kapal di Phuket untuk berlayar ke Kepulauan Andaman di India, sekitar 800 kilometer ke arah barat laut. Akibat visa mereka ditolak, mereka pun memilih mengalihkan rute ke Mergui yang berjarak hanya satu hari pelayaran.

“Saat itu, tak seorang pun mengenal Mergui,” kenang Schwanitz yang berdarah Jerman. Satu-satunya kapal yang terlihat selama seminggu mengarungi laut adalah Eclipse, superyacht milik miliarder Rusia Roman Abramovich.

Masa-masa itu memang sudah jauh dilewati. Kapal-kapal penyelam dan perahu nelayan kini kian mudah ditemukan. Kendati demikian, sensasi “terpencil” masih terasa kental. Petualangan saya bahkan sudah dimulai sebelum menginjakkan kaki di kapal. Pertama-tama, saya harus menjangkau Kawthaung, titik paling selatan di Myanmar sekaligus gerbang utama ke Mergui, dengan menaiki maskapai domestik dari Yangon atau dengan berkendara dari Phuket menuju kota perbatasan Ranong di utara, kemudian menyeberangi Sungai Pakchan menaiki longboat yang selalu bocor.

Tiba di Kawthaung, sosok cantik kapal kayu jati Meta IV yang dioperasikan Burma Boating langsung menghapus kecemasan saya bahwa petualangan ini akan selamanya dihantui keluhan dan sakit pinggang. Awak kapal hari ini adalah kapten asal Thailand, Ekachai Pongpaew; pamannya, Chet; koki Wa; serta pemandu kelahiran Myanmar, Aung Kyaw Kyaw (disingkat “AK”). Mereka mengatur rute secara presisi dengan mempertimbangkan arah angin dan siklus pasang-surut.

“Mergui relatif belum terpetakan,” ujar Schwanitz, “karena itulah kami selalu memiliki pemandu lokal. Mereka mengenal baik daerah ini.” >>