Skotlandia di Simpang Jalan

Seorang wanita penumpang bus di Edinburgh, ibu kota Skotlandia.

Persatuan takhta antara Skotlandia dan Inggris memecahkan banyak problem institusional dalam pengurusan kawasan komersial bebas bea. Situasi itu bermanfaat dalam urusan bisnis, walau tidak serta-merta diterima secara kolektif. Skotlandia hidup dengan beban “religius”: menerima fakta mereka sekarang dipimpin oleh penganut Protestan. Selama satu setengah abad, hubungan diplomatik Skotlandia dan Inggris dinodai oleh ketidakstabilan sosial dan aksi kekerasan.

Produk kawin silang di masa lalu, sapi khas Skotlandia (highland cattle) dicirikan dengan bulu lebat yang berguna dalam menghadapi udara dingin.

Kondisinya mulai membaik pada awal abad ke-19 ketika Skotlandia kian terintegrasi secara politik. Negara ini menjadi bagian dari agenda Kerajaan Inggris melebarkan sayap imperiumnya dan menaklukkan dunia hingga ke Timur Jauh. Setelah itu, Skotlandia terus digandeng (juga tergandeng) dengan Inggris dalam beragam kancah, mulai dari perang, ekspor-impor, hingga Olimpiade.

Kompilasi foto perjalanan pada dinding sebuah rumah di Kirkwall, kepulauan Orkney.

Melihat riwayatnya, persatuan Skotlandia dan Inggris memang terasa dipaksakan. Pada hakikatnya, keduanya mengidap banyak perbedaan, mulai dari cara mengelola pendidikan, hukum, hingga aspek terkecil seperti dialek. Dengan menginduk pada Britania, tulis James O’Driscoll dalam Britain: The Country and its People, orang Skotlandia seperti “selalu memiliki sang liyan yang mengingatkan bahwa mereka sesungguhnya berbeda.”

Telepon umum teronggok di lahan antah-berantah di desa Ullapool.

Perbedaan itu pula yang menjelaskan hasil referendum 2016. Beberapa orang berspekulasi, keputusan Skotlandia menentang Brexit terpaut dengan kondisi geo-psikologi mereka, mulai dari tabiat, cuaca, lanskap, hingga selera desain bangunan. Dalam reportasenya, The Guardian menemukan betapa orang Eropa merasa lebih kerasan di Edinburgh ketimbang di London. Pasalnya, di Skotlandia, sebagaimana lazimnya di Eropa, orang-orang tinggal di lantai-lantai yang berbeda di dalam flat, sementara di Inggris warga menetap di rumah-rumah yang bertetangga. Kesimpulan senada ditarik oleh Robert Hodgart, pakar geografi perkotaan. Cara hidup orang Skotlandia, katanya kepada The Guardian, adalah “aspek visual yang mencolok dari kekhasan Skotlandia, yang membuat negara ini merasa lebih nyaman dengan Eropa.”

Tumpukan kotak lobster kosong di Kirkwall, ibu kota kepulauan Orkney.

Hantu Wallace masih bergentayangan. Pekik merdeka dari mulutnya masih bergema. Tapi semangat konfrontatif itu bukan jawaban yang dibutuhkan saat ini. Demi meninggalkan kebuntuan politik, Skotlandia mungkin harus terlebih dulu “berintrospeksi.” Mereka harus mencermati kembali negaranya, harus memahami ulang tanah airnya. Jawaban untuk memahami masa depan Skotlandia mungkin tersimpan di lembah-lembahnya yang berkabut, hutan-hutannya yang renta, atau tebing-tebingnya yang ajek diterjang gelombang.

Sebuah mural di St. Andrews, kota pesisir di utara Edinburgh.

Tabiat orang Skotlandia tak bisa dipisahkan dari karakter alam negeri ini. Sifat mereka ditempa oleh cuaca yang tak ramah. Imajinasi kolektif mereka dibentuk oleh lanskap yang evokatif. Tawa dan tangis mereka lahir dari malam-malam yang dihabiskan di reruntuhan di Kepulauan Skye, atau di hari-hari yang dilewati di antara gang batu kelabu di Aberdeen. Siapa tahu, kalimat cibiran dari Raja Edward I dalam Braveheart mungkin ada benarnya: “Masalah Skotlandia adalah: negeri ini dipenuhi orang Skotlandia.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November-Desember (“Merdeka atau Introspeksi”).



Comments

Related Posts

3182 Views

Book your hotel

Book your flight