Sisi Lain Papua

Eksotisme Papua memikat banyak fotografer. Tapi Albertus Vembrianto lebih peduli pada sisi Papua yang jarang disimak: suara warganya.

Mengeksplorasi sisi lain Papua di mata Albertus Vembrianto.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Busur dan lembing dipegang. Noken diselempang. Wajahnya dicoreng dan ototnya meregang. Dalam foto itu, sang kesatria Papua tampil lengkap siap perang. Akan tetapi, jika dipelototi jeli, kita akan menemukan dua ornamen “impor” yang janggal: salib dan telepon genggam yang terkalung di leher.

“Papua bukanlah sebuah kawasan yang alami dan eksotik seperti yang biasa dikenali,” jelas Vembri (albertusvembrianto.com), tentang fotonya itu. “Papua sudah mengalami sejumlah perubahan, adaptasi, negosiasi dengan kebudayaan di luar Papua.”

Vembri, pria kelahiran Sumatera Selatan, mulai memotret Papua pada 2009. Dia sudah melawat sembilan dari total 29 kabupaten/kota di sini. Karyanya sudah beberapa kali dipamerkan, termasuk dalam Humanity Photo Awards 2018 di Beijing dan Reclaim Photography Festival 2017 di Birmingham.

Menggali banyak teks kelam seputar Papua, Vembri giat membongkar realitas di balik proyek modernisasi dan nasionalisme. Tapi yang lebih menarik dicerna dari karyanya ialah pendekatannya. Dia lebih mengutamakan sudut pandang subjeknya, bukan narasi sang fotografer. “Saya menceritakan pengalaman orang Papua, berdasarkan suara dan perspektif orang Papua,” jelasnya. Dalam karyanya, orang Papua adalah tokoh sentral, bukan cuma saksi dari kejadian besar.

Pekerjaan itu tentu tak mudah, juga tak murah. Di Papua, tiap reportase kerap bersinonim dengan petualangan. Banyak titik mustahil diakses kendaraan. Tiap kali terjun ke lapangan, Vembri juga mesti menyiapkan empat baterai kamera, karena listrik tak melulu tersedia. Satu bekal lain yang juga vital ialah makanan. “Jika terlambat makan, berisiko terkena malaria. Saya dua kali terkena malaria,” kenangnya.

Baca juga: Dokumentasi Perkembangan Islam di Indonesia; Proyek Dokumenter Umat Katolik

Tapi tantangan terbesar Vembri sebenarnya tindak kekerasan. Bukan hanya terhadap dirinya, tapi juga subjeknya. Dalam penggarapan cerita, kondisi itu menuntutnya ekstra sabar dalam membangun komunikasi. “Trauma kolektif masa lalu kadang membuat orang Papua enggan merelakan dirinya difoto.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2019 (“Suara Papua”).

Comments