Singapura yang Selalu Memikat

  • Rumah-rumah tua di Kampong Glam dengan latar belakang gedung pencakar langit.

    Rumah-rumah tua di Kampong Glam dengan latar belakang gedung pencakar langit.

  • Rak berisi buku-buku travel di Littered With Books.

    Rak berisi buku-buku travel di Littered With Books.

  • Coco pina, salah satu menu andalan restoran Spanyol Binomio.

    Coco pina, salah satu menu andalan restoran Spanyol Binomio.

  • Salah satu sajian yang bisa ditemukan di Binomio.

    Salah satu sajian yang bisa ditemukan di Binomio.

  • Pelang jalan dalam dua bahasa di Duxton Hill.

    Pelang jalan dalam dua bahasa di Duxton Hill.

  • Jasa pencucian karpet yang dilayani oleh Lotto Carpets Gallery.

    Jasa pencucian karpet yang dilayani oleh Lotto Carpets Gallery.

  • Mir bersaudara yang mengelola Lotto Carpets Gallery.

    Mir bersaudara yang mengelola Lotto Carpets Gallery.

  • Benjamin Tan, komandan di dapur The White Rabbit.

    Benjamin Tan, komandan di dapur The White Rabbit.

  • Pelataran Ion Orchard, mal yang dirancang oleh Benoy, otak di balik desain Bullring di Birmingham.

    Pelataran Ion Orchard, mal yang dirancang oleh Benoy, otak di balik desain Bullring di Birmingham.

  • Gereja yang disulap menjadi restoran The White Rabbit.

    Gereja yang disulap menjadi restoran The White Rabbit.

  • Lounge di The White Rabbit ini dulunya adalah altar.

    Lounge di The White Rabbit ini dulunya adalah altar.

  • Galeri di The White Rabbit.

    Galeri di The White Rabbit.

  • Kolam renang di The Fullerton Hotel, tempat tamu-tamu VIP F1 menginap.

    Kolam renang di The Fullerton Hotel, tempat tamu-tamu VIP F1 menginap.

  • The Fullerton Hotel dilihat dari seberang Singapore River.

    The Fullerton Hotel dilihat dari seberang Singapore River.

  • Bangunan yang dulunya barak militer Inggris disulap menjadi restoran.

    Bangunan yang dulunya barak militer Inggris disulap menjadi restoran.

Click image to view full size

Di antara belantara baja, jeritan mesin mobil Formula1, dan langkah-langkah gesit warganya, Singapura masih menyimpan rapi sudut-sudut bersejarah yang penuh warna. Beberapa telah direstorasi dan direinkarnasi menjadi restoran, toko, atau hotel—tempat-tempat yang menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini, antara nostalgia dan realitas modern.

Oleh Camilla Adindamaulani
Foto oleh Leonardus Depari & Iok Manggabarani

Desa Hijau
Studi yang dilakukan The Economist dan Siemens pada 2011 menetapkan Singapura sebagai “kota terhijau” di Asia. Tapi mungkin Anda tak akan menyangka, salah satu kantong hijau di negeri ini berlokasi hanya 10 menit dari Orchard Road, surga belanja yang hiruk-pikuk. Kawasan rindang Tanglin Village bertengger di perbukitan dan dihuni beragam properti, mulai dari restoran, bar, galeri, butik independen, brewery, hingga spa. Tiap akhir pekan, tempat ini rutin disatroni warga yang ingin mengambil jarak dari sentra-sentra turis. Sebagai area hijau, Tanglin Village tak cuma lebih “riil” dibandingkan Gardens by the Bay, tapi juga lebih kaya sejarah—walau kisahnya harus diakui tak selalu manis. Di awal abad ke-18, daerah ini merupakan perkebunan pala yang kerap diteror hama. Pada 1857, angkatan bersenjata Inggris menggunakan lahannya sebagai basis militer. Meski hanya sejenak, Jepang sempat menguasai kompleks ini pada 1942. Setelah Inggris mundur sepenuhnya dari Singapura di awal 60-an, pemerintah baru memanfaatkan properti militer di Tanglin Village sebagai Central Manpower Base, tempat kaum pria melaporkan diri sebelum memulai wajib militer. “Kakak saya datang ke sini untuk menyerahkan ‘KTP’-nya di awal 80-an,” kenang Kelvin Tay, General Manager The White Rabbit, salah satu restoran di Tanglin Village. “Dia dan yang lainnya berkumpul di atas bukit, dibagi-bagi ke dalam grup, selanjutnya diangkut menggunakan truk ke kamp-kamp pelatihan militer di berbagai pelosok.” Meski area sekitarnya tak lagi selebat belantara, Tanglin Village tetap memancarkan aura sejuk.

Pohon-pohon besar berusia ratusan tahun menaungi rumahrumah usaha di kakinya. Lapangan rumput luas terhampar bagi mereka yang ingin berolahraga atau berpiknik. Di akhir pekan, para pelari dan keluarga-keluarga bersepeda sekaligus mengisi ulang udara di paru-paru. “Tempat ini mungkin satu-satunya yang masih memiliki suasana pedesaan di tengah Singapura. Bayangkan, 10 menit dari Jalan Orchard, Anda masih bisa melihat pohon kelapa,” tambah Kelvin yang semasa kuliah hobi bermain sepak bola di sana. Aktivitas outdoor semacam sepak bola dan sepeda memang populer di Tanglin Village, tapi untuk kegiatan indoor, hanya ada satu cabang yang mendominasi dalam beberapa tahun terakhir: brunch. Di kalangan penggemar sesi makan di antara sarapan dan santap siang ini, The White Rabbit bagaikan situs suci yang wajib disambangi. Restoran ini menempati bekas gereja berusia 60 tahun lebih. Sekitar 70 persen struktur bangunan masih orisinal, walau fungsinya telah bergeser. Altar telah disulap menjadi lounge, sedangkan ruang pengakuan dosa bersalin peran menjadi gudang anggur. Tapi nama The White Rabbit tak memiliki korelasi secuil pun dengan hikayat bangunannya, melainkan diambil dari karakter dalam film Alice in Wonderland. Taman di sisi belakangnya menampilkan alfresco lounge bernuansa putih dengan tema The Rabbit Hole, lengkap dengan ayunan antik di sana-sini dan permainan lampu di malam hari.



Comments

Related Posts

10844 Views

Book your hotel

Book your flight