Shandy Aulia Jelajahi Chiang Mai

Chiang Mai, provinsi dataran tinggi di utara Thailand, masih menjadi rahasia segelintir orang. Shandy Aulia menyelami keindahannya.

DestinAsian Indonesia
Kolam renang yang membentang 34 meter di tepi Sungai Ping di Anantara Chiang Mai. Gaun dan ikat pinggang oleh Fendi.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto Irene Iskandar
Tata gaya oleh Koko Namara

Sebagian orang menjulukinya “permata yang tersembunyi.” Sebagian yang lain menyebutnya “biara batu curam” atau “kuil belantara.” Wat Pha Lat, kompleks sakral penganut Buddha, memang tempat yang mudah memicu kagum.

Wat Pha Lat bertengger di lereng bukit yang dikepung pepohonan rindang. Persis di kakinya, sepasang patung naga putih menjulur panjang, bersanding dengan sungai jernih yang mengalir deras dan menukik tajam ke dasar lembah. “Saya paling suka sungainya. Suara aliran sungai selalu membuat saya merasa lebih tenang,” kata Shandy Aulia.

Pada mulanya, Wat Pha Lat didirikan sebagai area meditasi dan rehat bagi para biksu dalam perjalanan menuju kuil-kuil di bukit yang lebih tinggi. Setelah pariwisata hadir di Chiang Mai, tamunya lebih beragam, mencakup pula turis dan petualang. Kuil ini digemari lantaran menyuguhkan sesuatu yang langka: kombinasi harmonis antara alam yang asri, jejak peradaban tua, serta tradisi Buddha. Dalam banyak aspek, kombinasi serupa bisa kita pakai untuk menggambarkan seantero Chiang Mai.

Chiang Mai, provinsi di utara Thailand, membentang di dataran tinggi yang berbatasan dengan Myanmar. Lanskapnya didominasi pegunungan dan hutan, dibelah-belah sungai dan ngarai. Di sini terdapat 13 suaka konservasi alam. Gunung tertinggi di Thailand, Doi Inthanon, menusuk langitnya. Di antara tempat- tempat tersebut, kita bisa menjumpai suku-suku pedalaman yang hidup memisahkan diri dari modernisasi—kekayaan budaya yang menjadikan Chiang Mai destinasi utama untuk aktivitas “hill tribe trekking.”

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan: Salah satu rumah ibadah di kompleks Wat Pha Lat, kuil Buddha yang dibangun sebagai wadah meditasi dan rehat bagi para biksu. Gaun maxi oleh Fendi; aula berdoa yang ditopang pilar-pilar mengilap di Wat Suan Dok. Kemeja dan rok oleh Michael Kors.

Shandy Aulia berkunjung ke sini November silam. Aktris berdarah Manado-Palembang ini awalnya kita kenal lewat Eiffel I’m in Love. Sekuel film box office itu akan diluncurkan bertepatan dengan Valentine’s Day, 14 Februari 2018. Di Chiang Mai, Shandy melakoni trip selama lima hari, melompat dari satu kuil ke kuil lain, menyusuri sungai, bertamu ke desa dan menyapa warganya. “Ini sisi Thailand yang belum pernah saya kenal,” ujarnya.

Chiang Mai memang belum dikenal oleh banyak orang Indonesia. Namanya kerap terdengar asing. Tempat ini masih berada di luar radar. Dalam daftar destinasi favorit pelancong Indonesia di Thailand, Bangkok masih bertengger di posisi puncak, disusul oleh kawasan pesisir di selatan negeri seperti Phuket dan Pattaya. “Pertama mendengar Chiang Mai, saya bahkan sempat mengiranya sebagai nama daerah di Bangkok,” tambah Shandy.

Kendati demikian, di atas peta wisata dunia, Chiang Mai sesungguhnya sudah tertulis jelas dalam sirkuit turis. Pada 2016, merujuk data Tourism Authority of Thailand, Chiang Mai sukses menjala 9,6 juta kunjungan turis, di mana 2,8 juta di antaranya bersumber dari mancanegara. Chiang Mai International Airport, bandara tersibuk keempat di Thailand, telah terkoneksi ke banyak kota, antara lain Kuala Lumpur, Singapura, Seoul, serta kota-kota besar di Tiongkok seperti Beijing dan Shanghai.

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan: Padong (wanita leher panjang) yang menetap di Desa Baan Tong Luang yang berjarak 50 menit dari pusat kota. Gaun bermotif bunga oleh Tory Burch; teras restoran di Anantara Chiang Mai Resort, properti elok yang bersemayam di tepi sungai. Gaun oleh Karen Millen.

Shandy memulai eksplorasinya di Kota Chiang Mai, Ibu Kota Provinsi Chiang Mai, sekitar 700 kilometer di utara Bangkok. Dikepung dataran tinggi, kota ini senantiasa dibalut suhu yang relatif sejuk, rata-rata 25 derajat sepanjang tahun. Shandy datang persis dua minggu setelah Chiang Mai menggelar Yee Peng, festival terbesar di Thailand Utara. Dalam ajang akbar ini, ribuan warga dan turis menerbangkan lentera ke angkasa, hingga memaksa 90 penerbangan dibatalkan selama dua hari.

Chiang Mai adalah kota terbesar kedua di Thailand setelah Bangkok. Hard Rock Cafe dan Starbucks sudah membuka cabangnya di sini. Sejumlah hotel waralaba, sebut saja Anantara dan Shangri-La, telah menancapkan kukunya. Tapi kota ini bukanlah ruang urban yang kosmopolitan. Ia bukan kota vertikal yang berjarak dan berkilau, di mana roda hidup berputar cepat dan tergesa-gesa. Alih-alih, Chiang Mai masih tampil amat bersahaja, masih setia merawat karisma lawasnya yang kaya nostalgia.

Mengarungi jalan-jalan kota ini, kita mungkin akan merasa sedang terlempar ke Bangkok 20 tahun silam. Pencakar langit bisa dihitung dengan jari. Distrik fesyen dan hipster nyaris nihil. Istilah third wave coffee movement masih sayup terdengar. Dan berhubung sistem trem baru akan dipasang pada 2025, moda transportasi publik utama di sini hanyalah tuk-tuk (bajaj biru), rod daeng (mikrolet merah), serta samlor (becak dengan pengayuh berada di depan).

Butik-butik internasional juga masih absen di Chiang Mai. Satu-satunya merek premium yang telah hadir adalah Jim Thompson, produsen busana sutra berkualitas tinggi, ibarat Iwan Tirta versi Thailand. Untuk saat ini, wisata belanja di Chiang Mai praktis hanya digerakkan oleh pasar-pasar rakyat yang semarak, bising, dan seru, contohnya Pasar Malam Anusarn yang menjajakan beragam kreasi lokal, mulai dari selendang tenun, ukiran gajah, manisan mangga, hingga celana Thai boxing.

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan: Tuk-tuk, moda transportasi utama selain rod daeng (mikrolet merah) dan samlor (becak). Atasan, rok, dan tas oleh Fendi; Wat Chedi Luang, candi bata yang somplak akibat gempa besar pada abad ke-16. Gaun bermotif bunga oleh Fendi.

Syahreza Ishwara, hotelier Indonesia yang telah lama bekerja di Chiang Mai, menyandingkan kota ini dengan Solo. Shandy, yang pernah berlibur di Prancis, menganalogikan Chiang Mai sebagai Nice versi Thailand. “Dibandingkan Bangkok, Chiang Mai lebih kalem, lebih tenang, dan lebih rapi,” tambah Shandy. “Satu lagi yang saya suka, kota ini bersih.”

Selasa sore, Shandy mencoba kegiatan terpopuler di Chiang Mai: pesiar sungai. Menaiki perahu yang digerakkan mesin tempel di bagian buritan, aktris asal Jakarta ini menyusuri Sungai Ping yang membelah kota. Perahu kayu membawanya melintasi sungai berwarna cokelat susu, menembus kolong-kolong jembatan, berpapasan dengan belasan remaja yang menghabiskan senja dengan bermain kayak.

Sungai Ping berhulu di Pegunungan Daen Lao, mengalir sepanjang 658 kilometer, hingga akhirnya melebur dengan Sungai Chao Phraya yang membasuh Bangkok. Walau tak lagi menjadi sentra kehidupan, sungai ini masih dirawat tekun oleh warga. Airnya resik dari sampah. Bau busuk tak tercium. Di sepanjang bantarannya, kita bisa menemukan beragam restoran, kafe, dan hotel, salah satunya Anantara Chiang Mai Resort, penginapan fotogenik yang ditinggali Shandy selama di Chiang Mai.

Chiang Mai menyimpan riwayat yang panjang. Pada abad ke-13, kota ini dinobatkan sebagai Ibu Kota Kerajaan Lanna, menggantikan tetangganya—Chiang Rai. (Secara etimologis “Chiang Mai” berarti “Kota Baru.”) Pada masa itu, kota ini dipagari benteng dan dikelilingi kanal. Sayang, benteng itu telah lama hancur dengan menyisakan hanya beberapa potong dinding bata yang tersebar di sudut-sudut kota.

Comments