Serba-Serbi Birdwatching

Oka Dwi Prihatmoko yang selalu siap dengan binokular dan buku panduan identifikasi burung.

Mengamati burung-burung eksotis masih menjadi hobi segelintir orang. Oka Dwi Prihatmoko, alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada yang bekerja untuk Birding Indonesia, menjelaskan serba-serbi birdwatching, termasuk perkembangannya di Indonesia dan hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk melakoninya.

Wawancara oleh Karina Anandya

Awal mula menekuni birdwatching?

Pertama kali tertarik ketika diajak trekking di Taman Nasional Baluran pada 2002 oleh seorang pengamat burung senior dari Gelanggang Mahasiswa UGM. Saya terkesima saat melihat beliau bersiul menirukan suara burung, menunjukkan burung-burung yang berkamuflase, menyebutkan spesiesnya, bahkan jenis kelaminnya. Setelah itu saya membeli buku panduan identifikasi burung, meminjam teropong binokular, dan bergabung dalam Yayasan Kutilang Indonesia di Yogyakarta. Saya lalu mulai belajar cara menjadi pemandu birdwatching secara profesional di Indonesia Ecotourism Network. Klien pertama saya wisatawan asal Inggris yang ingin melihat burung endemis Jawa di Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta.

Tantangan terbesar bidang ini?

Pemasaran. Pasar utama wisata birdwatching adalah wisatawan asing. Tidak mudah membangun kepercayaan mereka, apalagi kami hanya berkomunikasi via surel dan media sosial. Salah satu upaya yang biasa saya lakukan adalah mengikuti birdfair di luar negeri, agar bisa berkenalan, bertemu, dan berdiskusi langsung dengan banyak klub pengamat burung.

Saat melintasi jalan pegunungan arfak yang baru diperlebar, kami melihat beberapa ekor Kakatua Koki melintas di atas pohon. (Foto: Oka Dwi Prihatmoko)

Peralatan yang dibutuhkan?

Berbekal mata yang sehat, semua orang bisa menikmati aktivitas ini. Namun, untuk lebih membantu proses pengamatan, alat yang dibutuhkan adalah binokular, buku panduan untuk identifikasi burung, serta kamera.

Perkembangan birdwatching di Indonesia?

Berkembang baik. Sudah mulai muncul kesadaran para pemburu burung—yang kemudian beralih menjadi pemandu lokal—dan fotografer wildlife untuk giat menyuarakan pentingnya pelestarian alam. Selain itu, sudah banyak jurnal ilmiah nasional maupun internasional yang ditulis oleh birdwatcher Indonesia; konferensi tahunan yang digelar khusus untuk mendiskusikan burung; hingga aplikasi Burungnesia yang sangat membantu kegiatan pengamatan burung di Indonesia.

Lokasi birdwatching di Indonesia?

Hampir seluruh wilayah di Indonesia merupakan lokasi birdwatching. Namun yang paling populer di kalangan wisatawan adalah Papua. Di sini terdapat lebih dari 26 spesies burung cenderawasih.

Antusias turis saat melihat ataupun mendengar suara burung endemis Indonesia. (Foto: Oka Dwi Prihatmoko)

Waktu terbaik untuk birdwatching?

Pagi dan sore hari. Meskipun birdwatching bisa dilakukan sepanjang tahun, tapi akan lebih nyaman melakukannya di musim kemarau, untuk memudahkan pengunjung mencapai lokasi pengamatan.

Keadaan habitat burung langka di Indonesia?

Untungnya, banyak lokasi sudah dijadikan kawasan yang dilindungi oleh pemerintah. Meskipun hal itu ternyata masih belum mencukupi.

Selain Birding Indonesia, Anda tergabung dengan organisasi lain?

Berhubung tinggal di Bali, saya bergabung juga dengan komunitas Satwa Alam Bali. Beberapa kegiatan yang rutin kami lakukan adalah memantau pergerakan migrasi ribuan elang dan burung air. Saat ini kami sedang fokus membuat buku panduan burung-burung yang ada di Bali.



Comments

Related Posts

1808 Views

Book your hotel

Book your flight