Sentra Batik Pekalongan

Kiri-kanan: Seniman batik Dudung Alie Sjahbana di rumahnya di daerah Pekajangan; para siswa madrasah mengikuti lokakarya membatik di Museum Batik Pekalongan.

Pada 2006, sebuah gudang gulden peninggalan VOC diubah menjadi Museum Batik. Koleksinya cukup lengkap, mulai dari batik klasik, lawasan, hingga kontemporer. Koleksi yang dipamerkan juga direvisi dua kali per tahun, sehingga menghindarkan pengunjung dari rasa jenuh sekaligus membuktikan kurator museum ini tidak makan gaji buta.

Museum Batik Pekalongan pernah diganjar penghargaan UNESCO berkat program-program edukatifnya yang mengajak siswa sekolah mengenal dan merasakan proses membatik. Di gedung bergaya Palladian ini, batik diwariskan sebagai budaya yang hidup, bukan sebagai artefak yang membeku dalam sejarah. Terinspirasi inisiatif itu pula, Pemkot Pekalongan menetapkan batik sebagai muatan lokal yang diajarkan di tiap tingkatan sekolah.

Interior museum menampung tiga ruang pamer utama. Ruang pertama menatap masa lalu: mengulas sejarah dan serba-serbi batik di Pekalongan. Ruang kedua memperlihatkan kemajemukan: memajang batik-batik Nusantara. Sementara ruang terakhir membayangkan masa depan: menampilkan batik hasil eksperimen, salah satunya dalam wujud lukisan batik karya Abbas Alibasjah.

Berkelana di ruang “masa depan,” mata saya tertuju pada sebidang papan yang dipasang pihak museum guna menampung aspi-rasi tentang batik dari pengunjung. Saya menyusuri tulisan-tulisan mereka, satu demi satu, lalu menemukan sebait tulisan karya seorang anak yang berbunyi “Cintailah Batik Seperti Engkau Mencintai Pacarmu!!!”

Jaringan Kota Kreatif diciptakan oleh UNESCO pada 2004. Hingga kini sudah 116 kota dari 54 negara yang tergabung di dalam-nya. Pekalongan masuk daftar ini di kategori “kriya dan seni rakyat.” Alasannya apa lagi kalau bukan batik. Tim UNESCO menilai, di Pekalongan, batik merupakan pilar ekonomi, bagian integral dari budaya, juga unsur vital dalam identitas kota.

Tapi Kota Kreatif bukanlah gelar yang berhenti usai upacara penobatan. Dengan menyandangnya, Pekalongan mesti memper-lihatkan ikhtiar yang sungguh-sungguh dalam merawat dan mengembangkan batik sebagai motor pertumbuhan kota. Dan Pekalongan melakukannya tak cuma lewat museum dan sekolah, tapi juga melalui tangan-tangan telaten para senimannya. Salah satunya saya temukan di Pekajangan.

Kelurahan Pekajangan, sekitar 10 kilome-ter dari pusat kota, pernah menikmati kemakmuran berkat industri kain mori. Bekas-bekas kekayaan para juragan masa silam masih melekat pada peninggalan arsitekturnya yang beragam, mulai dari rumah-rumah bergaya vernakular, kolonial, art deco, hingga jengki. Saya mampir di salah satu rumah yang berdesain eklektik. Pada bagian muka tertancap joglo sepuh yang bersanding dengan beberapa struktur bangunan khas Tionghoa. Sementara di sisi belakangnya terdapat rumah tinggal dan pranggok, sebuah bengkel batik yang menampung belasan pegawai.

Ibu-ibu pengrajin batik di pranggok (bengkel kerja) milik seniman batik Dudung Alie Syahbana.

Sang empunya rumah, Dudung Alie Sjahbana, adalah seniman batik yang cukup berpengaruh. Saya pertama kali mengenalnya dua tahun silam melalui sebuah pameran di Bromo. Karya-karya Dudung saat itu menyita perhatian. Dia menggunakan sebidang wastra sebagai medium ekspresi yang jujur, bukan hanya komoditas yang bernilai ekonomis. Lembar-lembar batik karyanya menyuarakan amarah dan pemberontakan. Menurut sang seniman, eksplorasinya itu dipicu rasa geram saat melihat kain bermotif sakral parang rusak dipakai sebagai taplak meja makan oleh Presiden Yudhoyono tatkala menjamu Barack Obama di Istana Negara. “Akhirnya saya bikin batik parang rusak banget. Kalau ini mau dipakai keset sekalipun ya monggo, asal jangan merendahkan motifnya Ngarso Dalem,” ujarnya.

Kritik semacam itu bukanlah sesuatu yang janggal. Bagi masyarakat Jawa, kain batik memang tak berfungsi sebagai sandang belaka, tapi juga simbol yang mewakili kehidupan itu sendiri. Perancang busana Edward Hutabarat menyebutnya “kain peradaban.” Ada tata makna yang mesti dijaga, sebab batik adalah elemen penting dalam banyak tahapan hidup manusia Jawa sejak dalam kandungan hingga liang lahad.

Di tempat-tempat di Jawa di mana budaya masih dipandang adiluhung, usia kehamilan tujuh bulan dirayakan lewat upacara mitoni yang melibatkan 10 jenis kain batik. Dalam ritual menyambut kedewasaan, seorang remaja mengenakan batik halus yang melambangkan harapan akan watak yang baik. Saat seorang pria melamar kekasihnya, keluarganya mengenakan batik parang yang mewakili ketajaman olah pikir dan rasa. Dan akhirnya, ketika ajal datang, orang Jawa sebelum dikuburkan akan dibalut batik kawung yang bermakna “kesunyian.”

Pekalongan mengamini semua mitologi tersebut, tapi di saat yang sama kota ini membuka celah bagi seniman untuk bereksperimen dengan batik. Kecuali untuk ritual-ritual sakral di mana aturan dikawal ketat oleh tradisi, batik tidaklah mengharamkan ekspresi dan modifikasi. Keterbukaan semacam inilah yang sebenarnya menyuntikkan elan kreatif dalam perjalanan batik Pekalongan.

Kiri-kanan: : Proses ‘popok’ pada batik tulis; salah satu karya kreatif seniman batik Dudung Alie Sjahbana.

Sejak ratusan tahun lalu, Pekalongan telah menjadi kuali yang mempertemukan dan melebur banyak kebudayaan. “Bahkan sejak kecil kami dikenalkan tradisi lisan berupa lagu yang menggambarkan keragaman kultural Pekalongan,” kenang Dudung. “Syairnya: encik cino londo tuan bombay singkek yapan.”

Dari proses silang budaya itulah lahir ragam hias dan pola warna batik yang kaya, terutama jika kita membandingkannya dengan batik Solo dan Yogyakarta. Batik jlamprang yang disebut asli Pekalongan misalnya, sangat dipengaruhi oleh motif patola asal India. Contoh lainnya, batik rifa’iyah, dikembangkan oleh sebuah tarekat Islam, karena itu tidak menampilkan citra makhluk hidup. Impak asing juga tampak pada batik buketan karya wanita blasteran yang membawa kultur Eropa; serta batik peranakan yang dihiasi simbol mitologis seperti liong dan phoenix.

Menurut Dudung, dengan atau tanpa pengakuan dari UNESCO, Pekalongan tetaplah kota kreatif. Pengakuan tersebut, baginya, hanyalah sebuah “legitimasi atas sejarah pan-jang kreativitas yang dimiliki Pekalongan.” Dan sejarah itu belum berhenti. Hingga hari ini, setiap perajin masih mengembangkan motifnya sendiri. Tidak ada pakem yang mengikat. Kain batik bagaikan kanvas yang terbuka bagi beragam ekspresi dari beragam kutub, persis seperti yang diperlihatkan Dudung, yang ketika saya datang tengah mengembangkan batik besurek yang ditaburi kaligrafi Arab Melayu. “Dua bulan lalu saya berpameran tunggal batik besurek di Bentara Budaya Jakarta,” kenangnya.

Seorang pekerja tengah menjemur kain tekstil dengan cetakan motif batik.

Dengan referensi visual yang kaya, Dudung kini bergerak luwes melebur batas antara Timur dan Barat, antara yang sakral dan profan. Di sudut rumahnya, dia menunjukkan beberapa ragam hias batik pada materi kulit dan kayu. Ada gunungan wayang bermotif kawung yang dikombinasikan dengan isen ala Starry Night-nya Van Gogh. Ada pula motif megamendung yang bersanding unik dengan ikonografi ombak ala Hokusai.

Upaya Dudung untuk memberi tafsir segar atas batik itu sempat menuai kritik dan cibiran, termasuk dari seniornya, Iwan Tirta, yang pernah mengatakan, “Kamu ini bikin apa sih, Dung?” Hari ini, di Pekalongan, sebuah kota yang bertekad menjadikan kreativitas mesin perubahan, pertanyaan yang lebih tepat diajukan barangkali: “Bikin apa lagi, Dung?”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei-Juni 2017 (“Kota Kriya”)



Comments

Related Posts

3992 Views

Book your hotel

Book your flight