Seni Tumpah di Naoshima 

Tahun depan, Benesse Art Site Naoshima berusia tiga dekade. Pamornya sebagai destinasi seni belum mengendur.  

Beberapa karya seni dapat dinikmati tanpa harus membayar tiket museum. Misalnya saja sejumlah karya Niki de Saint Phalle yang dipasang di pelataran Benesse House.

Oleh Rosa Panggabean

Mendarat di Stasiun Uno, stasiun terakhir dalam perjalanan ke Naoshima, saya disambut bangunan berwarna belang hitam-putih layaknya tubuh Zebra, seolah menegaskan kepada pengunjung bahwa wisata seni sudah dimulai. Meninggalkan stasiun, saya berpindah ke kapal feri dan meluncur selama 20 menit menuju Pelabuhan Honmura.

Berhubung hanya punya waktu tak sampai 12 jam, saya memutuskan menyewa sepeda untuk mengarungi pulau. Namun, setibanya di tempat persewaan, tak seorang pun berjaga. Sebuah catatan menginstruksikan, “tinggalkan uang 500 yen [setara Rp66.000] dan catat nama Anda di kertas yang tersedia untuk menyewa sepeda.” Ragu-ragu, saya bertanya kepada seorang pria lokal, dan dia meminta saya mengikuti petunjuk tadi. Sepertinya tidak ada maling di sini. Belakangan saya menyadari sepeda sewaan saya bahkan tak dilengkapi kunci pengaman.

Suasana perkampungan di Naoshima yang terlihat dari pantulan cermin marka jalan.

Naoshima bersemayam di Seto Inland Sea, sekitar 670 kilometer dari Tokyo. Namanya mulai dikenal dunia pada 1989 saat proyek kolosal Benesse Art Site Naoshima digulirkan. Dimulai dengan pendirian Naoshima International Camp yang melibatkan arsitek ternama Tadao Ando, pulau ini bersama dua pulau tetangganya—Teshima dan Inujima—secara bertahap disulap menjadi destinasi bagi pencinta seni.

Museum pertama yang saya kunjungi adalah Ando Museum. Letaknya paling dekat dari Pelabuhan Honmura. Ando Museum merupakan pijakan awal yang ideal untuk mengenal Naoshima, karena koleksinya memang menjelaskan riwayat pulau ini. Banyak pengunjung juga mengenal Naoshima sebagai “Pulau Ando” lantaran Tadao Ando berandil besar dalam mendesain sejumlah museum di sini, termasuk Benesse House, Chichu Art Museum, dan Lee Ufan Museum.

Baca juga: Destinasi Wisata Baru di Selatan TokyoMelawan Penurunan Populasi Lewat Seni

Bus kota yang bermotif polkadot merah membawa wisatawan berkeliling Naoshima.

Setelah mengelilingi separuh pulau, saya mulai merasa Naoshima merupakan “one-stop destination” untuk melihat karya seni. Berbagai format karya tersaji, dari lukisan, instalasi, hingga multimedia. Ada karya yang tidak boleh disentuh dan tidak boleh difoto, walau ada pula yang justru boleh diduduki. Saya juga menemukan karya yang berukuran mini hingga berukuran tiga sampai empat kali manusia. Melihat beragam suguhannya, sulit membayangkan pulau ini dulu pernah kosong ditinggalkan penduduknya akibat urbanisasi di zaman modernisasi Jepang.

Karya-karya seniman kondang juga bertaburan di sini. Saya sempat menikmati cuplikan karya dari para legenda sekaliber Jean-Michel Basquiat, Andy Warhol, serta tentu saja Yayoi Kusama. Dari semua labu kuning polkadot kreasi Yayoi, Pumpkin di Naoshima merupakan yang paling diburu fotografer berkat latarnya yang fotogenik.

Karya seni bertajuk 100 Live and Die karya Bruce Nauman.

Karya-karya di sini disebar di dalam dan luar ruangan. Naoshima, pulau mungil seukuran Nusa Lembongan, sejatinya memang sebuah galeri terbuka. Di sini, seni seperti dibiarkan tumpah, melebar dan melebur, mengaburkan batas antara wilayah privat dan publik.

Tapi bukan itu saja alasan Naoshima dijuluki “pulau seni.” Banyak bagian pulau ini juga didesain artistik. Bus bermotif polkadot, tempat sampah warna-warni, dinding rumah berlapis mural, serta bunga-bunga mungil yang ditata di atas nisan, semua itu seakan dibuat oleh seniman dan diseleksi oleh kurator. Rasanya tidak berlebihan jika saya mengutip salah satu komentar pengunjung yang mengklaim bahwa “the art installation is the island itself!

Suasana jalanan di Naoshima dengan kontur tanah yang naik turun. Wisatawan menaiki tangga di kawasan Benesse House Naoshima, Jepang. Salah satu pengunjung berinteraksi dengan instalasi seni bertajuk "The Secret of The Sky" karya Kan Yasuda. Jembatan yang dibangun ke arah laut di Naoshima. Red Pumpkin karya Yayoi Kusama menyambut wisatawan di Pelabuhan Miyanoura, Pulau Naoshima. Pengunjung berfoto dengan latar labu kuning dengan bintik hitam (Pumpkin) karya Yayoi Kusama Wisatawan berkumpul di bangunan yang digunakan sebagai tempat parkir motor dan sepeda di Pelabuhan Honmura, Naoshima, Jepang. Instalasi gerbang kuil di pinggir pantai Gotanji di Naoshima. Tempat sampah di Naoshima Island yang bermotif kotak-kotak.
Salah satu pengunjung berinteraksi dengan instalasi seni bertajuk "The Secret of The Sky" karya Kan Yasuda. Beberapa instalasi seni memang dapat disentuh oleh pengunjung.

Rosa Panggabean
Setelah 10 tahun bekerja untuk Antara, Rosa memutuskan beralih ke jalur independen pada 2018. Fotografer yang berbasis di Jakarta ini pernah menerima penghargaan Anugerah Adiwarta dan Anugerah Pewarta Foto Indonesia, serta mengikuti Erasmus Huis Fellowship di Amsterdam. Buku foto karyanya, Exile, terbit pada 2014. rosapanggabean.com.

Comments