Sebelum & Sesudah Cetak

Kian banyak fotografer Indonesia melahirkan buku foto. Seperti apa prosesnya? Apa saja yang perlu diketahui?

Gueari GaleriThe Sheltering Sky, salah satu buku foto yang ada di Gueari Galeri.

Oleh Andi Ari Setiadi & Caron Toshiko

“Saya punya banyak foto di hard disk, dan saya ingin mengemasnya menjadi buku foto. Apa yang harus dilakukan?” Pertanyaan itu kerap bergaung di Gueari Galeri, sebuah penerbit independen yang terletak di Pasar Santa, Jakarta. Sejak 2014, perusahaan yang kami dirikan ini mendorong setiap orang, terlepas ia seorang fotografer profesional maupun non-fotografer, untuk mau dan bisa menceritakan kisah personalnya melalui buku foto.

Buku foto merupakan media aktualisasi bagi seseorang untuk membagikan kisahnya melalui bentuk visual, yang mungkin tak bisa dituturkan secara lisan maupun tulisan. Untuk fungsi itu, penerbit independen memiliki keunggulan dalam aspek fleksibilitas: pemilik karya bisa mengeksplorasi lebih jauh tema ataupun rupa buku foto yang diinginkan. Keleluasaan ini sukar didapat dari penerbit besar yang kerap terbentur pada format ideal bentuk buku dan target pasar yang dirasanya bisa memberi lebih banyak keuntungan.

Kembali pada pertanyaan di awal, apa yang perlu dilakukan untuk merealisasikan buku foto, berikut beberapa kiat dari kami:

Apa yang ingin diceritakan?
Editor foto berperan dalam memilih dan merangkai foto, tapi yang tak kalah penting ialah peran si fotografer sendiri untuk tahu persis apa yang ingin diceritakan. Fotografer mesti melihat lebih dekat foto-foto koleksinya, lalu mencoba mengingat dan merangkai imaji momen personalnya. Usai pemilahan itu, editor foto akan bertindak sebagai mata orang ketiga yang membantu merangkai cerita, termasuk menilai apakah foto-foto yang disajikan cukup mengenyangkan bagi pemirsa nantinya. Tidak jarang ada perbedaan antara penilaian mata editor dan fotografer. Ini wajar, karena faktor latar belakang pendidikan, pengalaman, dan pengetahuan memang memengaruhi rasa dan emosi dalam penyeleksian foto.

Desain yang representatif
Dalam mendesain buku foto, titik beratnya tidak hanya pada tata letak foto, tapi juga bagaimana desain secara tersurat dan tersirat merepresentasikan topik yang diangkat. Baru-baru ini, Gueari Galeri menerbitkan Gelora Pekerja, buku foto berisi behind-the-scenes para pekerja yang merias Kompleks Gelora Bung Karno. Foto disusun kronologikal, dari tahap awal renovasi hingga ketika kompleks GBK menampakkan wajah barunya. Begitu pula dengan kemasan buku. Kami ingin sampul buku merepresentasikan subjek di dalamnya.

Baca juga: Mimpi Kota PintarTraveling Masa Kini

Gueari Galeri berada di pojok kios Pasar Modern Santa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Modal untuk mencetak
Banyak orang bertanya tentang modal yang dibutuhkan untuk mencetak buku foto. Jawaban kami selalu: “tergantung dari jenis bahan kertas isi dan sampul, ukuran buku, jumlah eksemplar, pilihan cetak digital printing atau offset.” Untuk saat ini, kami lebih sering mencetak di dalam negeri. Selain masih terjangkau untuk kuantitas yang minim, durasi cetaknya lebih singkat dan biaya pengirimannya terjangkau. Tapi semua itu tetap akan tergantung dari modal yang dimiliki oleh fotografer, dan agar modal bisa digunakan lebih efisien, kami menyarankan fotografer mencetak dumi terlebih dulu. Dari situ ia bisa memahami kekurangan dalam hal konten sekaligus menemukan jenis kertas dan ukuran buku yang lebih pas. Dari pengalaman kami, dumi biasanya dicetak beberapa kali dengan beragam perbedaan dalam hal ukuran maupun kertas. Trial and error ditempuh demi mencapai rasa sempurna.

Strategi harga
Fotografer haruslah mendapatkan keuntungan finansial dari penjualan bukunya. Anggap saja perhitungan konsinyasi untuk titip jual di toko berkisar 20-40 persen dari harga jual, maka fotografer perlu menaikkan harga jualnya untuk menutup setidaknya biaya produksi cetak buku dan komisi untuk toko buku. Tidak jarang pemilik karya justru mengorbankan keuntungan bagi dirinya. Alhasil, ia merugi secara materi, dan keengganan untuk memproduksi buku foto berikutnya kerap terjadi.

Temukan ceruk pasar sendiri
Terkait penjualan buku foto, kami mendorong teman-teman yang menerbitkan buku foto di Gueari Galeri untuk menitip-jualkan karyanya di berbagai toko dan berjualan sendiri. Itulah yang kami nilai sebagai kekuatan dalam membuat dan menjual buku foto secara independen. Fotografer memiliki kuasa penuh akan karya yang dihasilkannya. Kemudian, agar “napas” buku foto tetap panjang, kami merekomendasikan fotografer menggelar acara sebagai ruang untuk menceritakan karyanya, termasuk proses pembuatan dan kisah yang terkandung di dalamnya. Acara bisa dimulai dengan peluncuran buku, dilanjutkan pameran dan diskusi dari satu tempat ke tempat lainnya. Mungkin saja tema buku foto tidak cukup laris di dalam negeri, sehingga sang fotografer harus berani untuk mengirimkan karyanya ke luar negeri ataupun festival internasional demi menemukan ceruk pasar yang tepat.

 

Andi Ari Setiadi berprofesi fotografer dan desainer grafis, sementara Caron Toshiko menekuni therapeutic photography (menggunakan fotografi sebagai alat untuk mengeksplorasi pikiran dan emosi). Pada 2014, keduanya mendirikan Gueari Galeri (@guearigaleri), penerbit independen yang merangkap toko buku serta menyediakan ruang diskusi dan perpustakaan. Hingga 2018, penerbit yang berbasis di Jakarta ini sudah menerbitkan 23 judul buku foto.

Tags : column
Comments