Sawahlunto Usai Kejayaan Batu Bara

  • Sawahlunto di bawah selimut kabut pagi.

    Sawahlunto di bawah selimut kabut pagi.

  • Seorang pria yang siap menampilkan kesenian tari khas Jawa.

    Seorang pria yang siap menampilkan kesenian tari khas Jawa.

  • Pria uzur yang mahir memainkan pertunjukan Randai, seni tarian bela diri tradisional.

    Pria uzur yang mahir memainkan pertunjukan Randai, seni tarian bela diri tradisional.

  • Pemandangan di bekas tambang batu bara di Sawahlunto.

    Pemandangan di bekas tambang batu bara di Sawahlunto.

  • Persawahan dengan suasanan menenangkan.

    Persawahan dengan suasanan menenangkan.

  • Rumah adat Minangkabau tak berpenghuni di Talawi. Di dekatnya, berdiri pabrik batu bara.

    Rumah adat Minangkabau tak berpenghuni di Talawi. Di dekatnya, berdiri pabrik batu bara.

  • Kereta tua terlupakan di Stasiun Sawahlunto yang kini menjadi bagian dari Museum Kereta Api.

    Kereta tua terlupakan di Stasiun Sawahlunto yang kini menjadi bagian dari Museum Kereta Api.

  • Gedung pusat kebudayaan kuno di Sawahlunto.

    Gedung pusat kebudayaan kuno di Sawahlunto.

  • Salah satu bangunan pengolahan batu bara yang ditinggalkan para penambang.

    Salah satu bangunan pengolahan batu bara yang ditinggalkan para penambang.

  • Seorang penduduk dengan anjing pemburu miliknya.

    Seorang penduduk dengan anjing pemburu miliknya.

  • Rumah bergaya Tiongkok milik Pek Sin Kek.

    Rumah bergaya Tiongkok milik Pek Sin Kek.

  • Seorang pemandu di lorong batu bara yang kini diubah menjadi obyek wisata.

    Seorang pemandu di lorong batu bara yang kini diubah menjadi obyek wisata.

  • Pemandangan kota Sawahlunto.

    Pemandangan kota Sawahlunto.

  • Museum Gudang Ransoem di Sawahlunto.

    Museum Gudang Ransoem di Sawahlunto.

Click image to view full size

Berpaling dari kisah kelam, bermodalkan festival musik dan gedung-gedung sepuh, Sawahlunto bertransformasi dari kota tambang menjadi destinasi wisata. Sebuah peringatan bisnis batu bara bukanlah janji yang langgeng di Indonesia.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Muhammad Fadli

Sirene berdengung dari menara kantor perusahaan tambang terbesar di Sumatera pada abad lalu. Jam tua di puncak menara menunjukkan pukul 13, waktu istirahat bagi para pekerja, yang jumlahnya kini cuma seratusan orang dari beribu-ribu banyaknya dulu. Lantunan panjang sirene juga berpendar ke seantero kota, menjalar ke pucuk-pucuk pinus di perbukitan, seperti hendak menjaga masa silam yang terkantuk-kantuk. Perbukitan berbaris dan mengepung sebuah kota kecil bentukan Belanda. Kota yang dulunya hanya hamparan sawah di tengah cekungan lembah yang dialiri Sungai Lunto.

Salah satu bangunan pengolahan batu bara yang ditinggalkan para penambang.

Sudarma menekurkan kepala, seakan dengung sirene itu sebuah himne dari masa lalu yang datang mengusiknya. Perbincangan kami pun terhenti. Tidak berapa lama, azan zuhur dari menara masjid juga merambat. Masa lalu menghamburkan dirinya. Dulu, menara masjid itu adalah cerobong asap dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Listrik dari rahimnya menyirami Sawahlunto dengan cahaya. Setelah pembangkit pensiun, puncak cerobongnya  disemati corong masjid raya.

Saya duduk bersama Sudarma di bangku lusuh toko kue Pek Sin Kek. Usia yang hampir 80 tahun bukanlah kendala bagi Sudarma untuk mengobrol berjam-jam. “Saya tidak akan bisa lari dari sini. Sawahlunto lebih dari kampung bagi saya. Istri saya lahir di sini, meninggal di sini, dimakamkan di sini. Saya menikahinya tanpa membawa apa-apa, sebagaimana adat di sini (adat matrilineal Minangkabau),” kenangnya.

Sudarma tinggal di rumah keluarga istrinya. Namanya rumah Pek Sin Kek, bangunan sepuh yang dilabeli cagar budaya oleh pemerintah. Pek Sin Kek, mertuanya, adalah saudagar Tiongkok yang datang untuk beternak sapi dan menjual susu ke meneer Belanda. Itu dulu, dulu sekali, ketika emas hitam masih dikeruk, ketika ribuan pekerja masih menggali batu dari lorong gelap.

Lebih dari satu abad Sawahlunto berlimpah kemewahan, bermandikan cahaya di tengah pedalaman Sumatera yang masih “purba.” Dari Cornell University, sebuah berkala terkenal, Indonesia, pernah menurunkan artikel bertema gaya hidup mewah di Sawahlunto. Dalam A Nederlander Woman’s Recollections of Colonial and Wartime Sumatra: From Sawahlunto to Bangkinang Internment Camp, Susan Rodgers menulis tentang kolam-kolam pemandian di Muaro Kalaban pada masa kolonial, mobil-mobil kaum kaya yang menyesaki jalan-jalan yang lapang, juga rumah-rumah tempat tuan-tuan Belanda menghibur diri. Keluarga Pek Sin Kek juga hidup dalam kemewahan itu. “Tak hanya orang Tionghoa. Orang Jawa, Sunda, Minang, semua penduduk hidup makmur di sini,” kenang Sudarma. >>



Comments

Related Posts

9481 Views

Book your hotel

Book your flight