Rupa Rasa Potato Head Singapura

Mengandalkan formula bisnis yang sudah terbukti manjur di Bali, Potato Head menginvasi Singapura.

Interior Potato Head Folk dengan mural karya David Bromley.

Oleh Yohanes Sandy

Di Bali, Potato Head sukses menjaring banyak penggemar loyal dari kalangan turis lokal. Berdasarkan fakta ini saja, keputusannya untuk melebarkan sayap ke Singapura terasa masuk akal secara kalkulasi bisnis. Sudah lebih dari satu dekade Indonesia menjadi pemasok turis tersubur bagi negara tetangga itu. Tahun lalu, jumlahnya menembus tiga juta jiwa.

Fasad gedung kuno di Pecinan yang kini menjadi rumah bagi Potato Head Folk.

Potato Head Folk mengaplikasikan formula sukses saudara tuanya di Bali. Keduanya sama-sama mengusung desain urban kontemporer dan koktail yang diracik oleh mixologist Dre Masso. Konsep bisnis dasarnya juga serupa: kompleks multigerai yang menawarkan makanan, camilan, serta ruang hangout berdesain atraktif.

Kendati terkesan produk fotokopi, cabang internasional pertama Potato Head punya konten yang tetap memikat. Bahkan untuk standar Singapura, filosofinya lumayan unik. Dan berbeda dari Ku De Ta yang sempat tersandung isu hak cipta nama, kiprahnya di negeri tetangga relatif lebih mulus.

Sajian penutup mulut yang sederhana namun berkesan.

Potato Head Folk bersemayam di Distrik Chinatown, persisnya di sebuah bangunan empat lantai yang selama 74 tahun ditempati kedai kopi Tong Ah. Fasad uzurnya dipertahankan, tapi interiornya diremajakan. Jika cabang perdana di Jakarta menampilkan mural evokatif karya Eko Nugroho, cabang Singapura menyuguhkan figur-figur ceria yang digarap seniman asal Melbourne, David Bromley.

Di bangunan yang penuh memori itu, Potato Head Folk menampung tiga gerai. Lantai pertama dan kedua ditempati Three Buns, restoran burger artisan yang dipimpin Adam Penney, sosok penting di balik kesuksesan Patty & Bun di London. Saya mencicipi salah satu kreasi terbarunya, smokin’ b-boy, yakni burger berisi beef patty 150 gram, bacon, mayones, ditambah saus barbeku terlezat yang pernah saya cicipi. Pendampingnya adalah naughty fries, kentang goreng pedas yang disiram saus keju parmesan dan ditaburi bawang goreng. Untuk mengurangi rasa bersalah, saya memesan soda minim gula buatan dapur Three Buns.

Kiri-kanan: Warna-warna ceria yang menghiasi Potato Head Folk; Studio 1939, lounge yang hanya buka sesuai reservasi. Menu minumannya impresif!

Mendaki ke lantai tiga, atmosfer yang lebih bonafide dihadirkan oleh Studio 1939, lounge yang didesain menyerupai studio. Menu-menunya menggiurkan, sebut saja roti dengan hati angsa serta burger premium yang disusun dari wagyu, foie gras, empat jenis keju, dan truffle Prancis. Mendarat di atap gedung, saya menemukan The Rooftop yang bertindak layaknya mahkota pemikat. Inilah bar rooftop satu-satunya di Chinatown. Seraya mengagumi lanskap kota, tamu bisa menyeruput beragam koktail rancangan Dre Masso.

Smokin’ B-Boy, salah satu burger di dalam menu yang rasanya sangat memikat.

Grup Potato Head dicetuskan pada 2009 oleh duet pengusaha Ronald Akili (pemilik Ark Galerie) dan Jason Gunawan (Casa, Loewy, dan Canteen). Selain restoran dan beach club, imperium kuliner ini berniat merangsek bisnis hotel butik. Melihat trajektori itu, kita sepertinya sedang melihat cikal-bakal Nikki Beach versi Indonesia.

Keong Saik Road 36, Singapura; 65/6327-1939; pttheadfolk.com.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari-Februari 2015 (“Resep Ekspor”)

Comments